Second Home

Second Home
Chap seven



Kelas XI.2 IPS pagi ini ramai karna anak yang biasanya datang terlambat, hari ini justru datang lebih awal.


"Si anjir!!, dateng pagi lo!" Ucap Gala yang merupakan salah satu siswa kelas yang sedang berdiri di dekat pintu.


Raya meraih tangan Gala dan melakukan salam ala kelas mereka.


"Yoi nih!"


"Gila!, ada tragedi apa nih?!"


Satu kelas. Ribut di buatnya, tak semua memang, namun walau itu hanya sebagian, itu sudah seramai taman hiburan.


"Apaansih?!, sirik aja lo"


"Ei... What's up bro?!"


"Yo... man!"


Sampai di tempat duduknya juga Bulan menutup mulutnya tak percaya.


"Biasa aja kali!, kayak abis liat musang betelor aja lo!" Menepuk pundak Bulan sedikit keras.


Bulan terkekeh.


"Lagian gak biasanya lo berangkat pagi-pagi, mana masih lama lagi, masih tujuh belas menit lagi"


Raya mengibaskan rambutnya, merasa bangga pada diri sendiri karena telah mencapai reward tersebut.


"Oh iya!, tadi ada kak Asa sama kak Travis gak?"


Tanya Bulan membuat Raya yang sedang mengeluarkan beberapa isi tasnya melirik sekilas.


"Dimana?, gerbang?"


"Iyalah!, dimana lagi"


"Ouwh..., nggak, tadi gue ketemu aja"


"Terus?"


"Terus gimana?"


Bulan menghela nafas panjang.


"Maksud gue pas dia liat lo gak telat... Raya"


Raya mengoh ria sambil memangut-mangutkan kepalanya, ia tak melihat ke arah Bulan karna sembari menyalin jawaban PR Matematika.


"Dia biasa ajalah!, lagiankan gue ke tangkep sama dia aja baru berapa kali... gitu, terus kan gue juga gak pernah kena masalah kalo razia!"


"Eh tapi kan lo nyatok, masa gak kena?"


"Lah!, orang kata kak Travis yang kena cuma yang pake make up, bawa make up, bawa catokan, udah!"


"Hahh..., bersih ya walau sering telat"


"Iya dong"


Raya dan Bulan berbincang santai menunggu pelajaran di mulai, selama itu juga Raya mengerjakan PR sambil menggibah.


"Dah gak dendam ya berarti sama kak Asa"


"Enak aja!, kalo gue ada kesempatan juga gue bales, liat aja"


"Awas... nanti dendam jadi cinta lagi"


"Lebay lo kayak film ikan terbang".


ㄱㄱㄱ


Ketika embun sejuk membelai wajah Raya yang terbaring di atas sofa dengan mata yang tertutup, Angkasa datang membuka pintu rooftop.


Angkasa yang sadar bahwa Raya tertidur tersenyum, ia mendekat.


"Sst!"


Suara tersebut berhasil mengusik alam bawah sadar Raya, ia mengeluh, namun bukannya bangun, anak itu justru hanya mengubah posisinya.


"Sst!"


Karna tak kunjung membuat Raya bangun, Angkasapun langsung duduk begitu saja di kaki Raya.


Bruk!


Sontak saja Raya bangun dan terduduk, dengan suara khas orang yang baru bangun ia pun mengomel.


"Ih, kak Asa...!, sakit tau"


Raya menepuk-nepuk lengan Angkasa dan sesekali mendorong agar kakak kelasnya itu pindah sejenak, memberinya ruang untuk menurunkan kakinya.


"Awas kak"


Angkasa tersenyum miring.


"Gimana bilangnya?"


"Awas"


"Tolongnya mana?"


Raya mendengus sebal, karna malas berdebat iapun akhirnya menurut saja.


"Permisi kakak Asa... Raya mau nurunin kaki, bisa tolong bangun dulu gak?"


Angkasa tersenyum menang, ia merasa puas, ternyata Raya bisa nurut juga tanpa di paksa.


Angkasapun beranjak membiarkan Raya mengubah posisinya, kemudian duduk di samping setelahnya.


Raya mengusak matanya.


"Kayaknya sehari gak ganggu gue lo demam ya kak, gabut banget lo anjir" Raya menyedekapkan tangan demi menghalau rasa sejuk dingin yang menyeruak.


Apalagi sehabis bangun tidur suhu tubuhnya meningkat swedikit lebih hangat dari biasanya, dan rasa sejuk membuatnya kedinginan.


Aangkasa terkekeh.


"Oh iya, nanti sore jadikan?"


Tanya Angkasa memastikan.


Raya mengernyyitkan alisnya lalu mengarahkan wajahnya ke tempat Angkasa.


"Yang mana?"


"Kok yang mana sih?!, yang kemarin sore itu loh!"


Raya sedikit mendongakkan kepala dengan mulut yang terbuka, 'Ouwh... yang itu...', kemudian menatap Angkasa dengan senyuman aneh yang mengghias wajah.


"Apa?, heum..., mulai deh!"


"Ouwh... Yang lo ngajak gue ngedate itu..."


"Ck!, nggak loh, orang gue cuma males aja, gak enak kalo sendiri"


"Ah masa!, kalau kaya gitu harusnya masih bisa berangkat sama yang lain dong?!, kenapa harus sama gue coba?"


"Pede banget sih lo!, tanya aja temen-temen kelas lo, ada juga kok yang gue ajak!"


"Terus kenapa lo salting kemarin pas gue bilang lo ajak gue date?!, hayooo... ngaku aja deh lo mendingan"


"Salting apaansih?!, gue cuma kesel aja sumpah deh!"


Raya manggut-manggut dengan tatapan tak percaya.


Rasanya ia ingin terus mengejek Angkasa dengan melemparkan argumen simple yang memojokkannya, namun ketika Angkasa bangkit, ia menahannya.


"Eh iya-iya, duduk-duduk, bercanda doang gue, hehe...jangan ngambek dong..." Raya terkekeh.


"Jadinya mau nggak nih!, kalau nggak juga gakpapa"


"Buset, belum juga gue jawab, sabar napa... Duduk dulu makannya"


Raya terkekeh melihat wajah Angkasa yang terlihat kesal, tak tega juga, namun, ntah mengapa ia menyukainya.


Angkasa duduk tanpa melihat ke arah Raya sedikitpun.


"Yah... Kok lo gitu sih!, jutek banget, sorry deh sorry, ya?!"


Raya mencoba membujuk Angkasa sekarang, namun Angkasa tak menjawabnya sama sekali, ia menyenderkan kepalanya ke bahu Angkasa, tapi Angkasa menolaknya.


Baru saat itulah Raya mulai panik, yang tadinya ia membujuk dengan main-main, sekarang ia mulai serius, ia sedikit takut juga melihat wajah Angkasa yang memerah dengan rahang yang mengeras.


Bahkan ia mencoba mendekap lengan Angkasa dan mengusel juga di tolaknya.


"Kak Asa..., ayolah..., ih masa lo beneran marah sih?!, kak Asa ih"


Raya merengut sambil mencolek-colek lengan Angkasa, dari tadi skinshipnya di tolak oleh Angkasa, padahal ia ingin membujuknya.


Rasa bersalah mulai tumbuh di hati Raya.


"Ah gak asik lo ah kak, iya deh maaf gue tau salah, maaf ya kak, gak lagi deh ngejek lo kayak gitu"


Disaat Raya di kerubungi Rasa bersalah karna hal itu.


Angkasa justru sedang melawan emosi yang membuat hatinya hampir meletup-letup.


'Ayolah Asa..., apa yang salah sama diri lo!!' Batin Angkasa sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.


"Ehem!, tunggu gue di kelas, nanti gue kesana jemput lo" Ucap Angkasa kemudian pergi.


Raya menghela nafas, ia kalut dalam. Pikirannya sekarang.


'Aduh... kira-kira kalau besok gue telat bakal di lepas gak ya sama kak Asa?!, haduuh... Lo sih Ra!, bikin masalah aja, hadeuh...'


Raya menggacak rambutnya asal, sibuk menyalahkan dirinya sendiri.


ㄱㄱㄱ


Sesuai dengan apa yang Angkasa suruh, Raya mengemas barang dan langsung kembali duduk saat pelajaran selesai.


"Hadeuh... nyendiri lagi nih bocah" Ucap Raya sambil melampirkan tasnya ke bahu.


"Tau, dah kayak petapa lo" tambah Fahri.


Raya hanya tertawa, ia tak mau terang-terangan bicara soal acaranya bersama Angkasa, takutnya nanti gak jadi dan yang malu ia juga.


Tak lama setelahnya, Angkasa jalan melewati kelasnya.


"Eh kak!" Raya melambai sayangnya Angkasa tak menoleh sama sekali.


Rayapun memutuskan untuk bangun dan menyusul.


"Gue duluan ya gaes!"


"Yo!"


Raya berlari mengejar Angkasa.


"Kak Asa!"


Walaupun Raya sudah bisa menyusul Angkasa, namun, langkah Angkasa yang cepat dan panjang membuatnya sedikit kesusahan.


"Ck!" Angkasa yang mulai kesal dengan suara nyaring Raya menepis tangan raya yang mencoba meraih tangannya.


Hal tersebut berhasil membuat Raya menciut.


"Lo bisa gak sih diem dulu, berisik tau gak?!"


Raya mengangguk, setelah Angkasa kembali berjalan, iapun ikut membuntut, dalam pikirannya ia baru menyadari satu hal.


'Eh kok gue kayak anjing njir?!'


Raya mematap tajam Angkasa dari belakang dan mulai mengutuk sosok itu tanpa suara.


'Nurut aja lagi gue, dasar bego!'


"Jaga mulut lo"


Ucap Angkasa yang berhasil membuatnya tersentak.


"Maksud lo?"


Angkasa menghentikan langkah yang kemudian diikuti oleh Raya, mereka berada di jalan menuju parkiran sekarang.


Angkasa berbalik, menatap Raya intens.


Raya tak mau kalah, ia tak mau lagi di buat Angkasa untuk menunduk, lagi pula mengapa bisa-bisanya ia menciut sebelumnya?!.


"Apa?!, ngapain lo natap gue kayak gitu!"


Angkasa tak membalas, ia hanya menatap Raya tanpa bicara, ia tahu pasti ada titik dimana Raya akan memyerah.


"Ck!, rencana lo sebenarnya apa sih?!, jadi gak ini!"


"Kak Asa!"


Angkasa tersenyum miring, ia tahu sekarang Raya mulai terganggu, terlihat dari gerakannya yang mulai tak nyaman.


Raya yang mulai gerampun meninju perut Angkasa dan itu membuatnya meringis.


"Ayok pergi!, kalau gak mau yaudah!"


"Eh ok-ok..." Angkasa tetawa kecil sambil meraih tangan Raya yang ingin berbalik pergi.


Tanpa berkata lagi Raya berjalan masuk ke dalam mobil Angkasa.


ㄱㄱㄱ


Selama perjalanan Raya sama sekali tak mau buka suara walau Angkasa terus mengajaknya bicara.


Kesal, rasanya ingin membalikkan semua perlakuan Angkasa.


Namun,


Sepertinya itu tak akan terjadi, karna ia juga malas melakukannya, hanya sedang malas membalas saja.


Sesampainya di sana Angkasa langsung menarik tangan Raya yang berjalan lebih lambat darinya.


"Peelan-pelan dong kak jalannya, gak bakal abis juga bukunya"


"Hemat waktu"


"Nyenyenye"


Tanpa sadar senyuman tercipta di wajah Angkasa.


Sampai di stan buku yang Angkasa cari, ia mulai memilah-milah, membaca setiap deskripsi agar ia tak salah memilih.


Raya yang tak pernah tertarik akan semua hal yang ada di hadapannya, hanya mengambil, melihat dan menaruhnya kembali, siklus tersebut terus terulang sampai lima kali.


"Kak"


"Hm"


"Jangan lama-lama dong..., bosen nih!"


"Ke stan novel sana, lo bisa baca buku sambil nunggu"


Raya menghela nafas, saat ini ia tak sedang ingin membaca buku, namun karna jenuh iapun berjalan menuju tempat dimana semua alat lukis berada.


"Wah...komplit banget" Gumamnya.


Mata Raya membola melihat cat yang berwarna-warni, mulai dari yang kecil sampai yang terbesar, yang mahal sampai yang murah, selain itu ada berbagai macam ukuran canvas disana, belum lagi kuas-kuas dan lain-lain.


"Gue gak boleh sia-siain ini!".


ㄱㄱㄱ


"Raya"


Angkasa memutar-mutar mencari sosok Raya yang ntah dimana, sudah lebih dari lima belas menit ia mencari.


"Kak Asa!"


Suara Raya yang keras menarik atensi sekitar, namun hal tersebut membantunya untuk menemukannya, terlihat Raya yang muncul dari balik rak ujung.


Raya melambai dengan wajah yang terlihat senang, di tangannya juga penuh dengan beberapa barang.


"Kak Asa udah?"


"Udah, sebanyak itu buat apa aja?"


Raya melihat apa yang ia bawa sekilas, ia menunjukkannya pada Angkasa.


"Canvas, cat, cat lagi..., sketchbook, pallet, pisau pallet..., udah" Kemudian menyeringai.


Angkasa tersenyum dengan deret gigi atas yang terlihat, ia menggelengkan kepalanya.


"Yaudah ayok, udah selesaikan?"


"Udah, yuk!"


Raya berlalu mendahului Angkasa menuju kasir.


"Ada lagi kak?"


"Nggak mba itu aja"


Angkasa yang malas mengantri langsung menaruh buku pilihannya di kasir.


"Eh!"


"Sekalian aja nih kak"


Raya menghela nafas, iapun pasrah dengan apa yang Angkasa lakukan.


"Totalnya jadi satu juta dua ratus kak"


Raya menyerahkan kartu creditnya, namun, Angkasa langsung menepis tangan Raya dan menyerahkan kartu cresit miliknya.


"Pake ini aja kak"


"Baik, tunggu sebentar"


Raya menatap Angkasa tajam.


"Apa-apaansih lo kak?!"


"Udah biar gue yang bayar"


Raya menautkan alisnya, ia kesal, ia tak terlalu suka merepotkan orang lain, cukup Bulan saja yang ia repotkan, ia tak mau merepotkan siapapun lagi, ada Bulan saja ia sudah pusing.


"Ini kak barangnya"


Ketika Raya hendak mengambil, lagi-lagi Angkasa merebutnya.


"Kak Asa apaansih?!, lo Gj banget sumpah"


"Gue cuma mau berterima kasih emang gak boleh?!"


Raya yang berjalan di belakang Angkasa menahannya dan membuat Angkasa berbalik ke arahnya.


"Gue gak suka ya kak, sini no-rek lo, biar gue transfer"


"Gak usah, udah ayok jalan"


"Kak ih, atau nggak ini deh"


Raya menyampinhkan tasnya berusaha mencari dompetnya, kalau dirinya tak salah tebak ia punya sedikit uang di dompetnya.


"Nggak usah Aya...., batu lo!, udah ayok!"


Angkasa menggenggam tangan Raya dan memaksa agar anak itu mengikutinya.


Sampai di mobil Raya memukul lengan Angkasa.


Raya mengubak tasnya melanjutkan pencarian dompet.


"Bangsat!, gue gak suka punya utang, nih duit lo!"


Melempar lima lembar uang kertas ke tempat Angkasa duduk, itu semua uang yang tersisa di dalam dompetnya.


"Belagu banget sih lo, udah gue bilang gak usah juga..."


Angkasa memungut semua uang milik Raya.


"Udah gue bilang juga anggep aja sebagai tanda terima kasih gue"


"Tapi itu banyak banget masalahnya, lo kira duit segitu nyarinya gampang?!, kalau cuma ceban mah gakpapa gue"


"Gini aja deh!, anggep aja lo tadi kerja nemenin gue, jadi selama lo masih sama gue, semua yang lo beli kebutuhan lo gue bayar gimana?"


Raya diam, ia berpikir sejenak.


"Ck!, serah lo lah!"


"Kok terserah gue?!, masalahnya kan waktu lo jadinya kepotong buat gue, lain kali kalau gue butuh temen ntar gue hubungin lo gimana?"


Raya menelan salivanya, ia tak bisa seperti itu, kedepannya mungkin dirinya akan terikat dengan Angkasa bukan?, ia pasti akan tak enak sepanjang waktu.


Raya menunduk.


"Nggak deh kak, makasih tawarannya, tapi gue kurang suka merasa berhutang, sisanya nanti gue bayar kalo gue udah ada duit aja deh ya"


Angkasa mengela nafasnya, ia tak mau membuat siapapun susah juga karenanya.


"Yaudah gini aja, ni duit ada lima ratus kan?" Tanya Angkasa yang di jawab anggukan oleh Raya.


"Gue ambil dua ratus sisanya buat lo anggep aja sisanya gak ada"


"Tapi kak_"


"Sst!, stop, gue gak mau ada perdebatan lagi ok?!"


"Yaudah deh" pasrah Raya, lagi pula tak ada gunanya berdebat lagi.


Angkasa tersenyum tipis, mengacak rambut Raya asal yang membuat anak itu membeku.


"Good girl".