Second Home

Second Home
Chap 20



Raya termenung.


Bulan juga hanya bisa pasrah dengan sahabatnya yang sudah beberapa hari ini murung.


Mungkin ada kali tiga hari, empat harian Raya murung dan sering termenung kapanpun dan dimanapun.


"Ya.."


Panggilnya menyenggol lengan Raya yang menjadi tumpuan, mengakibatkan kepala Raya hampir jatuh.


"Hm?!"


Si empunya nama menoleh.


"Lo kenapa sih?!'


"Nggakpapa gue, bete aja"


"Masa bete doang tiga hari!"


Raya tertawa.


Bahkan cara Raya tertawa saat ini terlihat tidak normal, seakan sedang memaksakan keadaan.


"Cerita dong..., berasa gak guna gue jadi temen"


Raya berpikir sejenak.


"Eum... Gimana ya Lan, sebenarnya gue juga masih heran kenapa gue khawatir sama dia" Jelasnya yang bahkan mulai kembali termenung, pikirannya mungkin sudah jauh melayang sekarang.


"Dia?"


"Hm" kembali menumpu kepalanya dengan tangan kirinya.


"Kak Asa?"


Raya mengangguk.


"Dia belum keliatan sejak tiga hari yang lalu, hari ini bahkan udah hari yang keempat"


"Oh iya juga!, gue juga belum liat, pantes tadi gue ngeliat sircle kak Awan kok ada yang kurang, ternyata kak Asa toh.."


Bulan meletakan ibu jari dan telunjuknya di dagu, manggut-manggut sambil mengingat-ingat.


"Iya, bahkan gue makan gak tenang"


Raya mengingat tentang kejadian di atap minggu kemarin, walau ia tahu Angkasa tak ada niat untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia tahu kalau Angkasa sedang melalui hari yang berat.


Apalagi setelah Angkasa memberitahunya.


Raya menghela nafas panjang, atensinya mengarah ke objek yang selama beberapa menit.


"Kira-kira kak Asa kemana ya?" gumamnya.


"Mana gue tau!, kalau gue pikir-pikir mungkin di rumah?"


Mendengar hal tersebut ia menatap ke arah Bulan, begitupun sebaliknya.


"Apa?!"


Tanya Bulan, ia rasa akan ada hal yang terjadi.


Dan...


Benar saja Raya tersenyum penuh arti.


"Nggak!, nggak ada ya!"


Raya terkekeh, ia bahkan berusaha menggenggam tangan Bulan meski anak itu menghindar.


"Ayolah..., sekali ini aja"


"Nggak!, gak ada ya Raya, lo udah punya nama baik di depan semua orang di kelas minggu ini, dateng cepet, gak pernah bolos, masa mau bolos lagi si Ra..."


"Perasaan gak sampe seminggu, baru empat hari"


"Yakan sama aja Aya...."


Raya menampilkan wajah sedihnya.


"Lucu lo begitu hah?!, gak ada ya!, pokoknya gue gak mau izinin"


"Ck!, nanti lo gue beliin novel deh!, asal lo mau izinin"


"Gue gak akan tergoda ya!"


Hatinya langsung beryes ria, ia pikir ini akan berhasil jika lebih berusaha.


Seorang Bulan meski anak orang punya, dia masih menyukai barang gratisan, apa lagi jika itu audah menyangkut sebuah novel.


Mungkin jika kalian ingin tahu, dua perempat buku di lemari koleksi novel milik Bulan adalah novel sogokan darinya.


Hehe...


"Gue beliin buku yang baru launcing tuh, gimana?"


Bulan menghela, ia menyedekapkan tangan, menatap Raya lelah, anak itu tak pernah berubah.


"Gue beliin langsung tiga serius" menyodorkan telapak tangan.


Jika Bulan menyentuh tangannya berarti perjanjian di mulai.


Awalnnya...


Ia pikir ini akan gagal, namun...


"Kali ini aja ya.." menunjuk Raya.


Raya menyeringai.


ㄱㄱㄱ


Tingnong!!


Raya mengintip ke dalam pagar, ia bahkan melompat hanya untuk tahu keadaan di alik pagar yang sangat tertutup dan menjulang.


"Mana sih kak Asa?!"


Bahkan jika bisa di hitung ia sekarang akan memencet bell untuk yang ke lima kali.


"KAK ASA!!, INI GUE RAYA!!"


Tak ada sahutan, ingin menyerah saja rasanya.


Raya pikir mungkin Angkasa benar-benar tak di rumah.


Namun saat ia berbalik, ia melihat punggung yang tak asing berjalan menjauh.


"Kak Asa!"


Dengan cepat ia berlari menghampiri manusia berbungkus jaket zipper dengan masker.


Butuh perjuangan mengejar hingga bisa sejajar, bahkan walau sudah sejajar ia masih susah mengimbanginya.


"Kak lo kemana aja?, sekolah sepi gak ada lo tau"


Angkasa hanya diam, terus berjalanan tanpa mempedulikan keberadaan Raya.


"Oh iya kak, lo laper gak?, makan yuk bareng gue?"


Masih tak ada jawaban.


"Kak hari ini jalan-jalan lagi yuk!, gue bete tau"


"Kak, hari ini katanya bakal cerah, gimana kalau kita ke jembatan yang kemarin?"


"Kak..."


"Kak Asa..."


"Lo mau makan apa?, nanti kita ngeojol pesen makanan mau?!"


"Kak jangan sedih dong!, kita ke time zoon mau gak?, healing, nanti gue yang bayar koinnya deh, lo boleh main sepuasnya, giman?"


Berbagai topik ia keluarkan, berusaha mengajak berbicara Angkasa yang ia ketahui sedang tak baik-baik saja.


"Oh iya kak, gue kan udah tiga hari ini_"


"Raya!!!" Bentak Angkasa secara tiba-tiba mengejuttkan Raya.


Bahkan saking terkejutnya Raya sampai merasakan degup jantungnya.


"Lo tuh bisa gak sih ngehargain privasi orang hah?!, jangan mentang-mentang karna lo ngerasa deket sama gue lo bisa seenaknya!, jangan jadi orang gak beretika!"


Ucapan Angkasa berhasil masuk ke lubuk hatinya.


Ia tak ekspek kalau semuanya menganggu.


Sejujurnya ada rasa sesak di hati, namun kesalahan tetaplah kesalahan.


"Maaf"


"Cukup!!, cukup sampe sini, lo harus inget, lo sama gue itu punya batesan!, jangan jadi orang gak tau diri" Kata Angkasa dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Raya hanya diam menatap mata Angkasa yang begitu mengintimidasinya.


Setelah itu Angkasa pergi memutar dan berjalan masuk ke rumahnya.


Sedang Raya hanya bisa diam menatap punggung Angkasa menjauh dan tertelan pagar.


*


*


*


"Maafin gue kalau gue mengganggu lo kak, lain kali gue gak akan kayak gitu lagi"


*


*


*


"Aaaargh!, kenapa gue selalu buat orang yang gue sayang terluka!!!!!"


BRAK!


Prang!


"ssh!, maaf, ini semua salah gue".


*


*


*


Haiii(^^)/


Makasih ya yang udah komen dan like, walau suatu hal kecil, tapi percaya deh komen dan like kalian itu berharga banger buat aku, kalian semua penyemangat aku.


Kalau ada kesalahan atau kurang tepatnya kalimat dan kata, aku minta maaf sebesar-besarnya, kalau kalian berkenan silahkan komen, insyaallah aku akan perbaiki.


Itu aja, aku sayang kalian, bahagia terus, and saranghae (^ㅅ^)3