Second Home

Second Home
Chap five



Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, namun Raya belum juga bangun, ketika jam alarm mulai berdering kembali...


TRING!!!!


Seketika itu juga Raya bangkit.


"Jam berapa ini?!"


Dengan keadaan setengah sadar ia pannik, mengambil Jam nya dan melihat kalau jam sudah lebih dari setengah delapan.


Siapa lagi kalau bukan Raya, ia memukul jidatnya.


"Mampus!"


Dengan langkah terburu-buru ia bangkit dan lari masuk ke kamar mandinya.


Tak ada kepikiran untuk mandi, ia hanya menyikat gigi asal, berkumur dan mencuci wajah.


"Tapi gue belum make skincare, aduh..., skip deh!"


Raya begitu panik, bahkan memakai bajunya saja tidak benar, tapi ia tak peduli, yang ia pikirkan sekarang adalah, ia harus jalan sekarang juga.


Grasak-grusuk!


"Ngapain sih kak?!, gak bisa pelan-pelan aja apa?"


"Gak bisa dah telat, Raya berangkat!"


"Hm"


Dengan sekuat tenaga ia berlari sekencang mungkin, sesekali ia merapihkan rambut dan melirik ke tempat jamnya bertengger.


"Anjinrlah!, kenapa harus di buat peraturan baru lagi sih, kayak gini kan gue yang repot!"


Sampai di depan jalanan, beruntungnya sebuah bis yang mengarah kesekolah lewat, ia dengan cepat memberhentikkan bis tersebut.


"Huff..., semoga aja kak Asa sama kak Travis dah masuk kelas deh".


ㄱㄱㄱ


Tok-tok-tok!


"Siapa?!"


"Raya bu" Jawabnya sembari membuka pintu kelas, ia menyeringai.


"Abis dari mana kamu?!, kenapa baru masuk?, baru dateng ya!"


"Aish si ibu nething aja!, saya habis dari kamar mandi bu" Memberi kode pada temannya melalui jari.


Teman-temannya hanya bisa tersenyum menahan tawa, ada saja idenya teman mereka satu ini, untunglah Bulan bergerak cepat saat Raya memberi kode.


"Bohong kamu"


"Bu" Bulan berdiri.


"Ya Bulan?"


"Eum... tadi Raya memang habis dari kamar mandi, dia izin ke saya tapi saya lupa sampein"


Guru tersebut melihat ke arah Raya dengan tatapan menyelidik, kemudian mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, lain kali ke kamar mandi jangan lama-lama"


"Siap bu"


Setelah mendapat izin iapun berjalan ke tempat duduknya.


Raya menghela nafas dalam, sekarang ia sudah bisa bernafas lega, tadi sebelum kemari ia meenuju kamar mandi terlebih dahulu untuk menaruh tasnya.


Hatinya mengucap syukur berkali-kali karna ia masuk dengan selamat.


"Gak ada kak Asa tadi mangnya?" Bisik Bulan.


Raya hanya mengangguk sebagai jawaban, tak lama setelahnya bel berbunyi, dan guru tersebut keluar kelas.


"Huuh!, gila!, deg-degan banget gue pas bangun liat jam"


Bulan menghela nafas.


"Mana yang kemarin bangga dateng jam setengah tujuh?" Sindir Bulan yang membuat Raya menyeringai.


"Herannya ada aja... gitu alasannya si Aya" Celetuk salah satu teman yang duduk di barisan depan.


"Iyalah!, kreatip berarti gue"


"Ea..., kreatip gak tuh"


"Nanti juga besok pengumuman nih di depan kelas gara-gara berangkat pagi lagi"


"Hahhh..., eh gue gak gitu ya"


"Ah udah nggak aneh Lah buat si Aya mah..!"


Disaat sedang asyik berbincang dan bercanda, salah satu siswa yang baru datang berlari masuk.


"Eh Aya!"


"Yo!, kenapa?"


"Lo di panggil bu Yuli noh"


"Hah?!" Kejut Raya yang jelas membuat jantungnya bersenam seketika, bagaimana tidak!, bu Yuli merupakan guru bimbingan konseling di sekolah harapan bangsa ini.


"Kenapa dah emangnya?"


"Gak tau, sana cepetan, bu Yuli bilang kalau dalam lima belas menit gak dateng wali lo di panggil"


Mendengar kata tersebut ia langsung beranjak dan berlari menuju tempatnya.


Di ruang Bk


Raya hanya menunduk karna di nasehati, agak kapok sebenarnya masuk ke dalam ruangan tersebut, apalagi sang guru akan menasehatinya dalam keadaan dirinya berdiri, tak ada kata mempersilahkan untuk duduk padanya.


Raya menghela nafas dalam, mungkin lain kali ia akan lebih berhati-hati lagi, namun... setahunya ia tak menemukan adanya orang ketika dirinya masuk melalui tembok belakang.


Lalu siapa yang memergokinya?.


"Kamu saya hukum, berdiri lapangan dan hormat ke arah tiang bendera, jangan bergerak sebelum waktu pulang sekolah tiba"


"Tapi bu, bukannya itu terlalu lama?, apalagi inikan untuk pertama kalinya buat saya"


Raya mencoba protes secara baik-baik, ia tak beerpikir akan di hukum selama itu.


"Kamu ini mencoba membodohi saya atau gimana?, jelas-jelas kamu langganan telat di sekolah ini"


"Ya tapi kan bu_"


"Sudah jangan banyak ngeluh, bergerak kelapangan sekarang!"


"Baik bu..."


ㄱㄱㄱ


"Semangat ya Aya!"


Ejek Fahri kemudian berlari pergi.


Raya tak berniat untuk membalas, selain karna panas, gerah, juga haus, ia juga perlu bersabar sekarang.


Matanya mulaai menelusur mencari sosok Bulan, beberapa menit yang lalu bulan datang membawakan tissue, ia sudah bilang pada Bulan untuk membelikkannya minumm karna ia sangat haus.


"Ehem!!"


Kehadiran seseorang langsung membuat pertahanannya runtuh, ntah mengapa jika sudah berada dekat dengan orang tersebut hatinya selalu di selimuti dengan amarah.


"Ngaapain lo?!" Ketus Raya.


"Ngapain lagi?!, jenguk hasil panggangan gue, mau mastiin dah mateng belum"


Ucapan Angkasa langsung membuat otak Raya bekerja lebih keras.


"Tai lah!" Runtuk Raya.


Raya paham, pantas saja ada yang aneh, ia lupa akan cctv sekolah yang terhubung dalam handphone Angkasa.


"Eh... mulutnya"


"Siapa lo ngatur gue?!"


Angkasa tekekeh.


"Gue ketua osis di sekolah ini, kenapa lo?"


"Cih!, cuma ketos doang bangga, sana ah!, gak usah nambah manas-manasin, ngapain juga lo di sini sih?!"


Raya mengusir Angkasa dengan kakinya, ia mencoba untuk membuatnya pergi, tak peduli akan mendapat cap apapun dari pandangan orang, intinya tujuan utamanya adalah membuat Angkasa pergi dari hadapannya.


"Sopan dikit kek!"


"Emangnya lo siapa?!, harus banget gue sopan?!, gila hormat lo!, dah sono ah!"


Dengan susah payah akhirnya Angkasapun pergi dari hadapannya, ia mengipas-kipas wajahnya. Dengan sebelah tangan.


Angkasa benar-benar membuatnya kesal, untunglah tak lama Bulan datang.


"Aduh..., maaf ya beib tadi kak Awan ngajak gue ngobrol bentar"


Ucap Bulan sambil membuka sebuah tutup air kemasan dan menarih sedotan ke dalamnya, tak lupa ia membantu Raya untuk menyedot air tersebut.


Raya menunjukkan senyum segaris.


"Gakpapa bagus malah!, berkat lo kak Angkasa bisa dateng buat ngasih emosi di hati gue, kan lumayan latihan emosi gratis buat gue"


"Kan!, lumayan melatih kesabaran"


"Iya deh serah lo, oh iya!, nanti malam lo mau dateng ke acaranya Cellin gak?"


Raya mengernyitkan dahinya, ia berpikir sejenak.


"Cellin?"


Bulan menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia lupa akan suatu hal.


"Itu loh!, temen sekelas kita pas SMP"


"Ouwh, boleh deh"


"Tapi nanti lo jangan jauh-jauh dari gue ya"


"Loh kenapa?"


Tanya Raya yang tak dapat Bulan jawab, ia hanya memberikkan senyuman.


"Intinya, jangan jauh-jauh dari gue, apapun urusannya jangan jauh-jauh, inget!"


Raya tertawa.


"Iya-iya"


Setelha hal itu bel sekolah berrbunyi, menandakan bahwa istirahat telah usai.


Bulan pun pergi meninggalkan Raya sendiri.


"Semangat ya adik"


Ucap seseorang yang tiba-tiba lewat di hadapannya, jelas saja Raya emosi, siapa lagi kalau bukan Angkasa.


Raya memberikkan tatapan sinis, ia menarik nafas dalam, mencoba mengontrol emosi, lagi pula tak ada gunanya untuk merespon, ia sudah terlalu lelah.


ㄱㄱㄱ


Seperti biasanya seorang Raya tak akan pulang cepat setiap harinya, hari ini ia tak duduk memandang langit dari kelas lagi, melainkan duduk di pinggiran atap.


Duduk bersenandung sambil mengayun-ayunkan kakinya.


Krieet...


Suara pintu rooftop terdengar.


"Belum balik lagi lo kak?"


Angkasa tersenyum, ia kagum karna Raya mampu mengetahui kalau itu ulahnya.


Prok-prok-prok...


"Widih...!, hebat juga lo, tau dari mana kalau ini gue?"


Raya merotasikan bola matanya.


"Ya taulah!, siapa lagi coba yang suka muncul pas gue lagi sendiri selain lo kak"


Lagi-lagi Angkasa hanya tertawa, ia berjalan dan duduk di samping Raya.


"Lo suka banget sih pulang akhiran"


Raya menunduk sejenak, senyuman pahit tanpa sadar tercipta.


"Iya, gue suka, kenapa emangnya?"


"Gakpapa, emangnya kalau pulang sorean lo gak takut?, apalagikan sekolah sepi"


"Hahh... ngerasa sendirian lebih nyeremin kak"


"Hehe... iya juga yah!"


Raya terkekeh, tak sangka kalau Angkasa menyetujui ucapannya, ia pikir ketua osis itu akan menyangkal.


"Oh iya, besok ada waktu gak?" Tanya Angkasa yang jelas membuat Raya terkejut, bukannya menjawab Raya menunjukkan raut wajah yang aneh.


"Ei... Jangan salah paham ya, gue cuma mau minta temenin ke toko buku aja, jangan gr dulu deh"


"Ih, siapa yang bilang gue gr?, orang gue cuma penasaran mau kemana!"


Raya diam sejenak, kemudian menunjuk Angkasa dengan seringai mengejek.


"Apa jangan-jangan... lo pikir gue mikir lo ngajak gue kencan ya?!, yakan!"


Angkasa terlihat gelagapan, bukan salahnya juga karna raut wajah Raya yang membingungkan, lagi pula ini untuk pertama kalinya juga ia menghadapi perempuan seperti Raya.


Karna biasanya ketika ia mengajak seorang perempuan, tanpa mengeluarkan banyak kata juga ajakannya pasti diiyakan, apapun itu, bahkan sepertinya juga mereka mengiyakan jika ia mengajak untuk memungut sampah di jalan.


"Jadi lo mau apa nggak?!"


"Hahhh, cie... Salting"


"Apaansih Ay?!"


"Iy ay kenapa?" Ejek Raya yang semakin gencar karna Angkasa menunjukkan bahwa dirinya salah tingkah terlalu jelas.


"Ck!, gak jelas lo ah!"


Angkasa beranjak dan berjalan menuju sofa, diikuti dengan Raya yang masih terus-menerus mengejek.


"Hahhh... Iya deh maap"


"Hmm"


Raya duduk dan mengeluarkan sebungkus coklat dari dalam tasnya, ia memoteknya menjadi dua bagian.


"Nih ambil"


"Dih!, maksudnya apa nih?" Tanya Angkasa sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Anggep aja sogokan"


Angkasa tertawa.


"Thanks deh"


Raya mengangguk, ia mulai menyilangkan kakinya sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa ketika mulai merasa nyaman dengan sekitar.


"Emangnya di toko buku mau ngapain?" Tanya Raya di sela-sela memakan cemilannya.


"Gue mau nyari buku buat UN nanti"


"Buset!, udah mikirin UN aja lo kak"


Angkasa mendorong pelan bahu Raya yang membuat tubuh Raya miring.


"Ih..., dah pw banget padahal"


"Lagian, setidaknya kita itu harus berusaha jadi yang terbaik Raya, walau belum tentu dapat yang terbaik"


"Anjir..." Raya menggeleng kecil sambil menepuk tangannya beberapa kali.


"Gila juga kata-kata lo kak, tapi sayangnya prinsip gue kalau nggak bisa jadi yang terbaik jadi aja yang terburuk kak, gimana dong?!" Lanjut Raya.


Angkasa tertawa, ia menyentil kening Raya yang membuat anak itu mengaduh.


"Sakit kak, bego ya!"


Raya jelas tak terima, ia memukul Angkasa dengan telapak tangannya keras, benturan itu membentuk suara yang nyaring.


"Hahh... apaan pukulan lo!, ya... Ini mah nggak sakit!"


Angkasa menunjukkan raut wajah mengejek sembari memukul-mukul spot yang tadi di pukul oleh Raya.


Raya berdecak.


"Tau ah!"


"Prinsip lo jelek banget"


"Lah bodo, lagian buat apa terus jadi yang terbaik kalo lo nggak dianggep"


"Hahh... Bener juga, tapikan setidaknya kita berusaha Raya..."


Raya membetulkan posisi duduknya, di dalam hatinya masih menolak semua ucapan Angkasa.


"Terlalu lelah kak, berjuang itu cuma buat orang yang kuat"


Angkasa tersenyum, ia mengerti semua ucapa Raya, ia mendengar suara Raya sedikit bergetar tadi, mungkin ini adalah topik yang sensitif untuknya.


"Yang penting jangan patah semangat"


Deg!


Raya mematung ketika tangan Angkasa mengelus rambutnya dengan lembut.


Plak!


Raya menepis tangan Angkasa kasar lalu berlari meninggalkan Angkasa sendiri.


Ntah apa yang membuatnya pergi, namun Angkasa hanya bisa membeku di tempatnya, ia berpikir apakah ada yang salah dengan dirinya.


"Apa tangan gue bau ya?"


Angkasa mencium tangannya.


Snif!


"Iuh!, iya bau ikan" Refleks menjauhkan tangan dari hidungnya.


Lantas Angkasa tertawa berjalan turun meninggalkan rooftop.