Second Home

Second Home
Chap nine



Tok-tok-tok!


Hari sudah mulai gelap, namun anak perempuan dengan rambut coklat yang menjuntai sepinggang itu baru saja sampai ke rumah.


matanya menatap lurus kedepan, tak ada sesuatu yang ia pikirkan.


Ceklek!


"Bagus..., dari mana aja kamu?!"


Raya menghela nafas panjang, ia sedang malas berdebat sekarang.


"Tadi abis kerkom sama Bulan"


Jelas Raya, toh memang sebelumnya ia habis kerja kelompok bersama Bulan, lagi pula tak hanya dengan Bulan, ada beberapa teman lainnya yang juga termasuk dalam kelompok.


"Bulan, Bulan, Bulan!, Bulan aja terus!, kayaknya emang dia pengaruh buruk ya, dulu kan juga kamu kecelakaan amnesia juga gara-gara dia!, sebenarnya dia maunya apasih?!"


"Mah, Raya ngantuk mau istirahat"


"Kan!, selalu... aja kayak gini!, heran mamah!, semenjak kamu main sama dia kerjaannya jawab terus ucapan mamah, kalo nggak, nyela, maunya apa sih kamu kak?!"


Raya terdiam, ia menggertakkan giginya, lagi-lagi mamahnya menyalahkan Bulan.


"Kaya bang Ardhan dong!, contoh kakaknya... nurut, nggak pernah keluar kalo gak di izinin, nilai bagus, gak pernah bolos, disuruh mau, kamu?!, susahnya... minta ampun!"


"Bang Ardhan tuh disuruh sekali langsung jalan, nggak kayak kamu, bilangnya inisiatif tapi di kerjain nggak!"


Raya menghembuskan nafas dalam, tenggorokkannya sudah mulai tercekat, air mata sudah memupuk di pelupuk mata.


"iya-iya, Raya yang salah, maaf"


Kemudian berlalu masuk tanpa mempedulikkan sang mamah yang masih terus mengomel.


Sayangnya sang mamah yang masih kesal terus mengomel dan mengikuti Raya hingga kedepan pintu kamarnya.


"Raya!, kamu tuh beruntung punya mamah yang bawel karna sayang sama kamu!, coba kalo mamah anak-anak lain!, mau anaknya keluyuran kenapa-napa juga gak peduli!, kamu tuh harusnya bersyukur!!"


Raya yang mulai kehabisan kesabaran mencegah mamahnya dengan berdiri di ambang pintu, dia tersenyum.


"Stop mah, iya Raya bersyukur kok, udah ya, Raya cape abis kerkom"


Tanpa menunggu balasan dari mamahnya Raya menutup pintu dan menguncinya.


ㄱㄱㄱ


Sekolah, 06.00 am.


Tubuh gadis berambut coklat gelap itu terbaring di atas sofa sambil termenung menatapa awan, ia bersenandung dengan earphone yang melekat di telinganya.


"Raya?"


samar-samar terdengar suara seseorang yang memanggil namanya, ia bangun dan melepas earphonenya.


"Hai kak Asa" Sapa Raya dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


Angkasa hanya bisa mengheran atas sikap Raya.


"Eh!"


"Kenapa?"


"Tumben ramah?!"


Raya berdecak.


"Salah mulu gue, oh iya btw... buat kemarin makasih ya"


Mendengar hal tersebut Angkasa jadi teringat sesuatu, ia berjalan menghampiri Raya dan duduk di sebelahnya.


"Tadi ke rumah lo, tapi katanya lo udah berangkat"


Raya langsung menaruh atensinya pada Angkasa, ia terkejut.


"Lo kerumah gue?, tau dari mana?!"


Angkasa memberikan senyuman miring.


"Gue gituloh, apasih yang nggak bisa gue dapetin"


"Najis...!, pede gila lo, palingan nyogok"


"Mulut lo mulus banget ya..., enak aja ngatain gue nyogok!"


Raya terkekeh.


"Oh iya Ay, lo kemaren kemana?, gue ke kamar mandi lo nya dah nggak ada"


Raya mengerutkan keningnya.


"Lah malah gue kira lo lagi sibuk, gue malah nyariin lo"


"Gue dateng, tapi kata Gita lo dah keluar"


"Ck!, itu gue masih di dalem kak" kemudian bersandar ke sofa, melemaskan tubuhnya, raut wajahnya menunjukan kalau dia kesal.


Angkasa jelas terkejut, berarti apa yang ia dengar kemarin itu benar suara Raya, firasatnya mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi


"Lo diapain sama dia?"


"Ah... diamah modal nekat doang, di bantai juga mati"


Angkasa tertawa kecil, ia paham apa yang Raya maksud.


"Gue kira lo bakal ciut"


Ucapa Angkasa mengingat telah banyak korban bully Gita, dan kebanyakan adalah siswi yang berani mengakui kalau sedang menyukainya, apalagi sampai berani menyatakan cinta.


"Nggaklah!, enak aja!, belum tau gue dia!"


"Di tabok gak ama dia?"


"Iya!, tapi gue tabok baliklah!, masa iya gue diam aja!"


Mendengar penuturan Raya yang disertai emosi ia tergelak.


"Ketawa lo kak!, cuma gara-gara baju lo nih!"


"Hahhh..., tapi untungnya lo gakpapa"


Raya yang kesal melihat Angkasa.


"Enak aja gakpapa, sakit tau punggung gue kebentur washtufle" Menunjuk punggunya.


Angkasa yang sedang tertawa langsung menghentikan tawanya.


Pasalnya washtufle di sekolah itu memiliki ujung yang lu mayan runcing, pasti rasanya sakit, apalagi jika membentur dengan keras.


"Maksud lo?"


Raya terdiam, ia kelepasan, padahal tak ada niat untuk berbagi.


"Iya... dia dorong gue sampe mentok washtufle"


"Lo di dorong sama dia?"


Raya melihat ekspresi Angkasa yang serius, ia memiliki firasat yang buruk.


"Tapi lo gakpapa kan?"


"Nggakpapa sih..., cuma masih sakit aja, kayaknya biru deh, soalnya gue nabrak ujungnya kenceng, hehe tapi gakpapa, kemarin udah ke UKS juga"


Gita selalu seperti itu, bahkan ada beberapa korban yang menderita gangguan mental, tak ada yang berani memarahinya, bahkan guru sekalipun.


Hal itu di sebabkan karena ayah Gita merupakan seorang donatur sekolah terbesar kedua setelah ayahnya.


ㄱㄱㄱ


Selama jam pelajaran berlangsung ia hanya sibuk mengatur matanya agar tidak terpejam, tak tahu mengapa rasanya begitu berat, mungkin karna jam tidurnya yang tepotong.


Triiing!!


Bel berbunyi yang menandakan bahwa jam pelajaran telah usai.


"Baik anak-anak, sampai disini dulu pelajaran kita hari ini, jangan lupa untuk halaman 32 dikerjakkan di rumah ya"


"Baik bu..." Jawab seisi kelas.


Saat itu juga Raya tumbang.


"Gila!!!, ngantuk banget gue Lan"


"Hahhh... inget banget gue komuk lo"


"Aib itu... aib..."


Raya terkekeh pelan, kesadarannya mulai menipis, namun...


"Aduh!, gue mules lagi ah!"


Dengan rasa malas Rayapun beranjak, agak terburu-buru karna perutnya tak bisa diajak untuk santai.


"Misi-misi..."


Sesampainya di toilet iapun langsung mengerjakan apa yang di butuhkan.


Aktivitas tersebut berjalan kurang lebih sepuluh menit, iapun keluar dengan lega, saat baru saja ia melangkah keluar seorang siswi datang.


"De kamu Raya bukan?!"


Wajahnya terlihat ketakutan.


Raya jelas heran.


"Iya, kenapa kak?"


"Temen k-kamu, Bulan"


Mendengar nama Bulan di sebut ia mulai serius mendengarkan.


"Hah?!, Bulan kenapa?!"


"G-Gita, di gudang belakang"


Tanpa mau berbasa-basi lagi ia melesat, berlari sekencang mungkin, ia tak bisa membiarkan temannya, ia khawatir, ia panik, bagaimana jika terjadi sesuatu, Bulan bukan tipikal orang yang mau melawan.


BRAK!!


"Bulan?!"


Raya melihat Gita diujung ruangan tertawa, dia tak sendiri, ada beberapa dua siswi dan satu siswa lagi.


Mereka tertawa.


Raya mengerti sekarang, ia yakin yang tadi datang hanyalah anak bullyan mereka yang disuruh untuk memanggilnya.


Tak ingin membuang waktu iapun berbalik, berniat ingin pergi, sayangnya satu siswa yang baru saja datang menghadang dan mendorongnya masuk lebih dalam.


Raya terkekeh pelan.


"Beraninya keroyokan"


"Siapa yang keroyokan, mereka cuma lagi nemenin gue aja tuh" Ucap Gita tenang sambil memperhatikan kuku-kukunya yang mengkilap karna di menikure.


Gita turun dari atas meja dan mendekat ke arah Raya.


"Oh iya, gue denger... keluarga lo toxic ya" Gina memutarkan tubuh Raya.


Raya merasakan ada sesuatu yang membekap hatinya, mengapa orang dihadapannya itu bisa tahu hal yang begitu sensitif untuknya.


"Abang lo keren ya, penurut, pinter, pas sekolah juga part time"


"Maksud lo apa?!"


"Adek lo juga pinter, rajin, dapet beasiswa lagi!, tahun depan katanya pindah keluar negri ya?!, waaw... gila!, beda banget sama lo"


Raya menunduk, mengapa ucapannya begitu menusuk, padahal itu hal yang benar.


"Nggak kok, gue gak akan apa-apain lo, tenang aja..., kasian sama lo, lo tuh gak di sayang Raya"


Gita menepuk-nepuk pundak Raya, memberikan sedikit elusan.


Raya menepisnya.


"Nggak ada orang tua yang nggak sayang_"


"Ssst...., gue tau lo cuma ngehibur diri lo, semua orang dewasa bilang kayak gitu"


Dadanya semakin sesak, hatinya tak bisa membahas tentang itu, ia tak suka, seberusaha mungkin ia menahan semuanya.


"lo tuh nggak di inginkan Raya"


"Gaak mungkin"


"Mungkin, buktinya lo di minta buat ngertiin orang tua lo kan?, mamah lo juga bilang setiap lo minta uang jajan selalu cerita tentang ekonomi keluarga lo kan, itu berarti lo nyusahin"


Deg!


Kali ini Raya bungkam, ia termenung, dari mana dia mengetahui hal itu?, ia membencinya, ia mengepal tangannya kuat-kuat


Tiba-tiba...


Blam!


Raya tersadar, di hadapannya sudah tak ada siapapun, ia berlari ke arah pintu.


Dar-dar-dar!


"Kak buka pintunya!"


Raya menggedor pintunya kuat-kuat, nafasnya memburu, belum lagi gudang tersebut minim pencahayaan, jendelanya di gembok, ia panik.


"Kak...!!"


Tersengar suara tawa dari luar.


Raya menghela nafas panjang, ia juga menyalahkan dirinya yang bisa-bisanya tak sadar kalau mereka telah pergi dari pengawasannya.


"Ck!, handphone gue di tas lagi"


Raya mencari sudut yang paling terang, ia mengalaskannya dengan kardus dan duduk di atasnya, lagi pula tak ada gunanya juga ia berteriak-teriak.


Raya menghela nafas panjang, ia kesal sekarang.


"Lo sih!, begi banget, pake segala kebawa perasaan, cengeng!"


Raya tertawa.


"Lanjut tidur aja kali ya!, mumpung ada waktu".