Second Home

Second Home
Chap 25



"Eungh..."


Mata gadis itu terbangun ketika mendengar suara deringan ponselnya berkali-kali.


Ia mulai duduk dan mengangkat ponselnya.


Ini masih gelap, siapa juga yang menelpon seseorang malam-malam.


"Halo"


Panggilnya dengan suara khas seseorang bangun tidur.


"Halo Ray"


"Siapa ya?"


Raya memutar posisi tidurnya, saat ini matanya sangat berat.


"Ini gue Juna, maaf ganggu malem-malem, gue mau mintol boleh gak"


Ia berdecak.


"Mintol apaan?!"


"Ini si Asa mabok nih!, gue gak bisa anter, yang lain juga masih pada ada urusan"


Mendengar hal itu ia langsung terduduk.


"Hah?!, mabok?, kok bisa mabok?"


"Ya bisalah!, udah kesini aja dulu, jangan banyak tanya"


Raya menghela nafas, kalau begitu sekalian saja ia bawa mata pelajaran da seragam besok, lagi pula mau ia ada atau tidak, mamahnya tak akan sadar.


Dengan ogah-ogahan ia beranjak.


"Emang harus gue banget apa?"


"Terus siapa?, bokapnya?, di gebugin dia nanti dia!"


"Yaudah iya-iya tungguin ya, kirim aja alamatnya"


"Yo, jangan lama-lama"


Raya mematikan telpon lebih awal.


Dengan langkah ogah-ogahan iapun turun dan mulai membereskan pakaian dan buku-bukunya.


Ia masih tak habis pikir, mengapa bisa anak di bawah umur meminum alkohol, apalagi Angkasa adalah ketua osis.


Ia mengunci kamar dan segera pergi.


ㄱㄱㄱ


Tak tanggung-tanggung Angkasa dan temannya mabuk di bar pribadi, mereka bahkan menyewa bar tersebut semalaman.


Ntah siapa yang memutuskan dan membayar, intinya tempat ini sepi.


Tak ada music Dj, hanya ada bartender dan ruangan berwarna magenta.


"Ray!"


Raya menoleh ke arah suara.


Ia sedikit terkejut melihat Angkasa telah tepar.


"Busseeet... mau ngapain neng bawa-bawa tas?" Goda Travis yang kebetulan juga ikut menemani Juna.


Raya hanya mendelik pada Travis, ia masih kesal tentang masalah kaka kelasnya itu dengan temannya.


"Hahh... galak amat" Ujar Travis.


Juna hanya diam tak ikut campur.


"Udah ya, lo anterin aja ke rumahnya, gue sama Travis duluan"


Baru saja Juna ingin mengajak Travis untuk pergi...


"Uang ojolnya mana?, masa pake duit gue!" Protes Raya.


Lagi pula uangnya sudah mulai menipis, ini hanya pas untuk jajannya sampai akhir pekan.


"Khawatir amat neng, cari aja di sakunya Asa, banyak duit dia"


"Eh tapi gakpapa?"


"Gakpapa elah, yaudah udah ya, buru-buru nih!"


"Ck!, kalian yang minum ngapa gue yang repot dah"


Juna dan Travis cengengesan.


"Yaelah, nanti besok gue jajanin di kantin deh gimana?" Tawar Juna yang juga merasa tak enak.


Raya mengeringai.


"Janji ya?"


"Iya!, yaudah ah!, gue buru-buru bay!" kemudian pergi meninggalkang Raya sendiri.


Raya menghela nafas pelan, tak tega melihat Angkasa dengan wajah yang terlihat begitu lelah.


"Kak... Kak..." menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mengusap peluh yang mengalir di dahinya.


"Eungh..."


Suara keluhan itu menarik perhatian Raya.


"Gak nyaman ya kak tidur di sofa" Gumam Raya menebak-nebak.


Tak mau berlama-lama lagi ia berada di tempat berbahaya, dengan segera ia memesan ojol roda empat.


ㄱㄱㄱ


"Belok-belok kak, aduh-aduh, eh-eh, sebelah sini kak sebelah sini"


Bruk!


"Aaah... sampe kasur juga"


Raya meregangkan otot-ototnya, mulai dari bahu yang pegal sampai pinggang.


Ia membetulkan posisi Angkasa.


Melepas sepatu, kaos kaki, dan seluruh benda yang melekat di tubuh Angkasa yang sekiranya tak pantas di bawa tidur.


Karna ia juga tak biasa dengan wajah kotor, dengan telaten ia membawa air hangat dan lap untuk membasuh wajah Angkasa.


"Huff..., sehat-sehat ya kak..."


Ia yakin Angkasa sedang memiliki masalah di luar kemampuannya sekarang, walau ia sendiri tak tau apa, namun mengingat wajah Angkasa hari itu, saat bertemu di jembatan, ia benar-benar tak tega.


Setelah selesai dengan aktivitasnya, ia menatap wajah Angkasa, ia mengusap lebut kepala Angkasa.


"Kalau liat dia begini, jantung gue berdebar, ntah sejak kapan"


Keluar perlahan dari ruangan Angkasa karna tak mau membangunkannya.


ㄱㄱㄱ


Drrrt!


Suara getaran ponselnya yang tepat berada di samping tempat tidurnya membangunkan Raya.


Namun,


Siapa yang menyalakan alarm ponselnya?.


Dan...


"Kak Asa?"


Ia sedikit terkejut ketika baru saja bangun Angkasa sudah tidur di sebelahnya, belum lagi tangan Angkasa melingkar kokoh di pinggangnya.


Tak ingin mengganggu, ia perlahan melepaskan tautan tangan tersebut.


Ketika sedikit lagi ingin lepas, tiba-tiba...


Srek!


Raya tersentak kaget karna, bukannya malah lepas, justru Angkasa malah semakin mendekapnya, sekarang justru semakin teruk.


Hembusan nafas Angkasa yang mengenai leher Raya membuat Raya begidik.


Tapi, ada satu hal yang membuat Raya sedikit khawatir.


Suhu tubuh Angkasa hangat.


"Kak..."


Puk-puk-puk.


Ia menepuk-nepuk pelan tangan Angkasa, mencoba membangunkan Angkasa.


"Hm"


Sahut Angkasa yang mulai terusik.


"Kak tolong lepasin dong, ini gue Raya bukan guling lo"


Tak ada respon dari Angkasa.


Bagaimana ini?.


Sangat tidak nyaman.


"Kak...."


Ia melihat jam di ponselnya, ini sudah waktunya bersiap untuk sekolah.


Namun sepertinya Angkasa jugatak bisa ia biarkan begitu saja.


Karna tak mau orang tuanya di panggil, ia pun mencoba mengabari Bulan.


Me


|Lan, lo bisa tolong izinin gue gak?


Kebetulan Bulan aktif beberapa detik setelahnya, terlihat lawan bicaranya mulai mengetik.


Raya menghela nafas pasrah, ia mengelus tangan Angkasa yang melingkar sempurna di pinggangnya.


Lan🌙


|Lo kenapa beb?


Me


|Nanti bilang aja gue di rumah lo ya, bilang aja gue sakit jadi gak bisa masuk.


Lan🌙


|pinter amat bodongnya neng


Me


|^\=^


|Tolonglah temanmu ini


Lan🌙


|Tapi lo ngajarin gue boong mulu buset


Me


|Ayolah, nanti minggu kita jeling-jelong bareng deh


Lan🌙


|-_-


|Emang kenapa si?!


Raya terkekeh kecil, tentu saja tanpa suara ia tak ingin membangunkan Angkasa.


Me


|Kak Asa sakit beb, tolongin ya


|Gak bisa di tinggal nih kayaknya


Lan🌙


|Anjirlah


|Lo kayaknya utang cerita sama gue


Me


|Iya nanti


|Pokoknya jangan lupa izinin, terus sekalian bilang ama nyokap kalo ngariin ya, bilang aja nginep rumah lo


Setelahnya Bulan mengirim emot ibu jari padanya.


Raya menghela nafas, akhirnya tenang juga.


Merasa lebih longgar dari sebelumnya, ia membalikkan badan menghadap Angkasa.


Ia menatap wajah polos Angkasa yang begitu tenang.


Terlihat air mata menetes dari mata Angkasa


Ia mengelapnya.


'Sabar ya kak, ada gue disini'


Tubuh Angkasa sedikit menggigil.


Raya mulai mempuk-puk punggung Angkasa dan mulai kembali tidur.