
Wush!
Pagi-pagi buta mobil Angkasa melaju kencang menuju rumah Raya.
Raya yang bahkan masih mengantuk karna di bangunkan jam 5 pagi.
*
*
*
"Bangun-bangun, heh!"
Angkasa langsung menarik Raya untuk duduk, bahkan sudah lima kali ia bulak-balik untung membangunkan Raya setiap lima menit sekali.
Sebelumnya ia masih bisa bersabar, tapi untuk kali ini ia tak akan memberi Raya kesempatan lagi.
"Aaa!, berisik banget sih lo!"
Raya yang terkejut karna cara Angkasa membangunkan misuh-misuh.
"Bangun..., kitakan mau pulang dulu, ganti baju dulu"
"Ya tapi ini masih pagi..."
Angkasa berkacak pinggang, terlihat Raya berbicara dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.
"Udah sana mandi, cepet!"
Raya mengacak rambutnya asal.
"Dingin ah, gak mau gue!" melempar bantal pada Angkasa.
Untung saja tangan korban gesit hingga berhasil menangkis bantal tersebut agar tidak mengenai wajahnya.
"Ada keran air panas"
"Gue gak bilang mau mandi pake air panaskan..."
Angkasa merotasikan matanya.
"Gue hitung sampe tiga, liat aja apa yang bakal gue lakuin"
Mendengar kata hitung Raya semakin kesal, ingin menangis saja rasanya, ia menendang-nendang seprai.
"Iiih!, iya-iya!!"
Dengan langkah yang ogah-ogahan iapun beranjak.
"Nyalain aja keran yang merah, biar gak dingin"
"Iya!"
*
*
*
"Hoam"
Raya menggeliat, tubuhnya terbungkus oleh selimut, ia sengaja membawanya karna sekarang masih pukul setengah enam, cuaca masih cukup dingin.
Hanya butuh waktu sebentar untuk sampai di rumah Raya.
Angkasa menghela nafas sejenak, waktu masih menunjukan pukul 05:45, ia menatap wajah Raya, raut wajahnya terlihat sangat nyaman, tumbuh di hatinya rasa iba.
Apa mungkin ia terlalu berlebihan?.
Raya pasti kesulitan karnanya, bagi orang yang seperti Raya mungkin hal ini terlalu sulit.
Tanpa Angkasa sadari tangannya mulai mengelus surai Raya dan menyelipkan beberapa helai yang menghalangi wajahnya ke sela daun telinga.
Ia memutuskan untuk memberi Raya 15 menit lagi, tak ada salahnya juga memberi waktu, selagi menunggu ia bisa memutar music menggunakan headphone untuk menenangkan fikiran yang masih berseliweran memori tak mengenakan.
15 menit berlalu cepat
Angkasa menepuk-nepuk bahu Raya.
"Aya, bangun Ya"
Puk-puk-puk!
Sayangnya tak semudah itu membangunkan Raya.
Puk-puk-puk!
Angkasa mulai emosi sekarang, ia menepuk-nepuk bahu Raya bahkan menggoyangkan tubuh gadis itu, namun tak kunjung bangun.
'Eum!, salah kayaknya gue ngasih waktu buat dia'
Gerutu Angkasa dalam hati.
Angkasa memikirkan cara, dan...
TIIN!!!
Raya sontak terbangun karna terkejut.
"Nah!, bangun juga lo!"
Melihat wajah Angkasa memamerkan wajah kemenangan Raya mendecak, jelas saja ia kesal, memangnya ada orang yang ingin di kejutkan saat tidur?!.
"Ih..!, lo gitu mulu ih!, waktu itu juga lo bangunin gue pake seng!, tadi pagi juga lo narik gue!" Omel Raya yang sudah terlampau emosi.
Angkasa terkekeh.
"Lagian gak bangun-bangun"
"Tapi lo kan bisa pelan-pelan!"
"Dari tadi gue udah pelan-pelan ya, mau sepelan apa lagi gue Aya...?, apa gak sekalian pencabut nyawa aja yang bangunin lo hah?"
Plak!
"Kok jadi pencabut nyawa sih!, lo doain gue mati?!'
"Kan lo bilang pelan-pelan, kan si pencabut nyawa banguninnya pelan tuh saking pelannya sampe gak ada yang tau selain lo"
"Ck!, tau ah!"
Raya yang berniat untuk tidur kembali langsung di cegah oleh Angkasa, bahkan selimut yang tadi membungkus langsung di tarik dan di lempar ke banguku belakang.
"Kak...!"
"Ini udah jam enam Aya, sana ganti baju!, gue kasih sepuluh waktu menit"
"Ih bentar banget!"
"Gc nanti gue beliin jajan"
Mendengar itu mata Raya langsung berbinar, siapa juga yang akan menolak umpan.
"Beneran?!"
Angkasa tersenyum.
"Iya!, udah sana cepetan"
"Okei bro" Kemudian keluar dan memberi horman sebelum menutup pintu.
Angkasa yang menunggu hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Raya.
Bahkan Raya berjalan aneh masuk kedalam rumah, ntah apa yang sedang anak itu pikirkan.
Semakin ia mengenal Raya sikap perempuan itu sudah seperti anak kecil saja.
ㄱㄱㄱ
"Sa, Asa!!"
Juna berlari masuk ke dalam kelas bagai orang kesetanan.
"Asa!"
Angkasa menatap Juna yang berhenti di samping meja nya sambil membungkuk.
"Sah, tadih, sih_"
"Apaan?!, napas dulu baru ngomong coba"
Juna diam mengatur nafasnya beberapa saat, ia bangun dan menaruh tangan kanannya di pinggang, ia masih terengah namun lebih baik.
"Apa?" Tanya Angkasa.
"Si Aya Sa!"
Mendengar nama Raya di sebut Angkasa berdiri seketika.
Bahkan Juna juga tak sangka kalau Angkasa akan bereaksi secepat itu.
"Kenapa Aya?!"
"Gina_"
Wush!
Bahkan belum juga Juna bicara, Angkasa sudah berlari melesat pergi, padahal ia saja belum memberi tahu keberadaan mereka.
ㄱㄱㄱ
Ia bahkan rela naik ke atap.
Sampai akhirnya ia menemukan gerombolan siswa-siswi di pojok.
Bahkan ada suara ribut yang berasal dari baliknya.
"Sini lo!!"
Teriakkan dan suara aduhan Gina membuatnya bergegas menerobos masuk.
"Minggur lo pada!"
Teriaknya yang membuat para siswa dan siswi menyingkir memberi jalan.
Terlihat Bulan yang sudah tersungkur dan Raya yang duduk di atas tubuh Gita sambil memukul wajah Gita.
Angkasa yang melihat hal itu marah, sangat marah.
Angkasa menatap Bulan, netra Bulan bahkan seakan memberi isyarat bahwa dia menyerah.
"RAYA STOP!!!"
Sayangnya Raya tak kunjung berhenti.
Gita terlihat melawan dan mencoba membalikkan keadaan, sayangnya Raya yang sudah buta tak mau menyarah.
Dengan geram ia mendekat, mencengkram kerah Raya dan menghempaskan gadis itu asal.
Bruk!
Tulang belakang pinggangnya terbentur meja.
Raya jelas langsung lemas karna kesakitan.
"Lo gakpapa?"
Tanya Angkasa memastikan, ia bahkan mengulurkan tangannya.
Gita menyambut uluran tangan Angkasa dengan senang hati.
"Gue gakpapa"
Raya mengusap tulang belakang pinggulnya , bagian yang terbentur terasa begitu nyeri, air matanya mulai membendung.
"BUBAR-BUBAR LO SEMUA!!"
Teriak Angkasa membuat semuanya lecewa, padahal mereka sangat menikmati tontonan.
Raya meringis.
Matanya menatap geram Angkasa yang melihat ke arahnya.
"Ayok gue anter ke UKS"
Ajak Angkasa tanpa peduli oleh Raya yang kesakitan karnanya.
"Aya..., lo gakpapa?" Tanya Bulan menghampiri Raya yang tak terlihat baik-baik saja.
Bulan mengelus pipi Raya, rasanya ia tak tega, ia tahu sekarang Raya sedang menahan tangis.
Mata Raya mengikuti kemana Angkasa menuntun Gita pergi, tak tahu mengapa rasa sakitnya bertambah dua kali lipat.
"Hey... Lo gakpapa?, mana yang sakit, bagian sini hah?, sini!"
Raya meringis ketika Bulan menyentuh bagian yang terbentur.
"Aduh maaf"
Raya menatap Bulan dengan begitu sendu.
Bahkan saat ini Bulanpun tak tega melihatnya, ini mungkin adalah kali pertamanya ia melihat Raya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
"Kita ke UKS yuk"
Raya tak menjawab, perlahan air mata yang beberapa menit ia tahan mulai mengalir.
"Sini gue bantu ya"
Dengan hati-hati Bulan membantu Raya untuk berjalan ke UKS.
ㄱㄱㄱ
Langit mulai senja, namun Raya tak kunjung pulang, ia termenung menatap siklus perubahan siang dan malam itu.
"Aya..., ibu pulang duluan ya"
Ucap Guru penjaga ruang kesehatan sekolah, ia hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Jangan lupa olesin salep memarnya ya"
"Iya bu makasih"
Setelah kepergian Guru ia kembali melanjutkan lamunannya.
Ia sendiri sekarang.
Sebetulnya tadi ada Bulan juga yang menemaninya sampai jam sekolah berakhir, namun... karna ayahnya ada urusan keluar dan harus buru-buru pulang...
Bulan bahkan tadinya tak ingin pulang, tapi ia membujuknya agar anak itu ingin ikut dengan ayahnya.
Huff...
Hari ini cukup melelahkan, ia mengelap air mata yang masih tak kunjung usai membuat pipinya basah.
Tak lama...
Gita datang dengan wajah penuh kemenangan.
"Halo..., kesepian yah?, kacian.."
Raya hanya menoleh sesaat guna untuk memastikan siapa yang datang.
"Beruntung lo gue bilang sama guru BK buat gak skorsing lo, harusnya lo tuh bersyukur"
Gita terkekeh.
"Gita..."
Suara panggilan itu membuat Gita menoleh, ia tersenyum lalu berpamitan pada Raya.
"Eh!, kayaknya Angkasa dah nyariin gue tuh!, gue duluan ya, bye..."
Raya menghela nafas panjang.
Bahkan ia tak menyangka kalau tadi Angkasa akan berkata seperti itu di atap.
Awalnya ia pikir Angkasa memanggilnya hanya akan menasehatinya ternyata...
*
"Kak tadi..."
"Gak usah di jelasin lagi deh!, langsung aja, gue pikir lo anak baik-baik yang namanya jelek cuma karna sering bolos dan terlambat"
Angkasa yang tadinya memunggungi Raya berbalik manghadap gadis itu.
Raya menatap wajah Angkasa yang dingin.
"Lo itu kenapa sih?, harus banget ya kayak gitu?, haus perhatian lo?"
"Maksud lo?"
"Gita itu kakak kelas lo Raya, gue tau lo gak suka sama dia, gue tau lo marah sama dia, tapi gak pake kekerasan juga kali!"
Raya mengepal tangannya kuat-kuat, bahkan Angkasa tak tahu apa yang terjadi di lapangan.
"Lo kalau gak tau diem aja deh"
"Tau!, gue tau Raya!, dia ngebully lo kan?!, dia mojokin lo!, tapi kekerasan juga bukan jalannya!"
Mendengar hal tersebut Raya kembali berkaca-kaca.
'Bahkan itu lebih nyakitin dari itu' batin Raya.
"Terserah lo deh"
Raya berbalik berniat pergi dari sana.
"Besok lo bersihin halaman belakang dan seluruh toilet sekolah, itu hukuman lo, ngerti?!" Ucap Angkasa yang membuat langkah Raya terhenti.
Raya menghela nafas.
"Iya..., lo gak perlu ulangin, gue inget kok"
Raya pun pergi meninggalkan Angkasa yang masih dengan perasaan kesalnya, diam-diam ia mengusap air matanya yang masih nakal karna ingin keluar.
*
Raya turun dari atas ranjang dan segera bersiap untuk pulang.
Selama perjalanan pulang ia juga terus melamun, ia masih tak bisa menerima apa yang terjadi padanya hari ini.
"Raya pulang..."
Ucapnya diambang pintu, kemudian masuk dan langsung pergi ke kamarnya, ia mengurung dirinya sendiri.
'Gue harap hari esok akan lebih baik'.