Second Home

Second Home
Chap 19



Angkasa mematikan mesin motornya, memarkirkan asal, ia menghela nafas sambil memperhatikan bangunan rumahnya.


Melepas helm, menyemangati diri, memberi hatinya kekuatan untuk kembali hidup dalam acuhan.


kemudain melangkah masuk.


"Malem den"


Angkasa hanya tersenyum mendengar sapaan dari salah satu Art.


"Yah..."


Panggilnya mencari keberadaan sang ayah.


Grasak-grusuk!


Matanya langsung tertuju ke ruang kerja sang ayah, suaranya berasal dari sana, kebetulan ruang kerja ayah tak jauh dari sana.


Ia melangkah menuju ruangan kerja dan berdiri depan pintu.


Tok-tok-tok!


"Ayah?"


Tak ada jawaban.


Tok-tok-tok!


Ketika kembali tak mendapat jawaban ia memutuskan untuk masuk.


Ceklek.


Sesuatu membuatnya tercengang.


Pakaian wanita dan pakaian ayahnya berceceran di lantai.


Tak lama, suara-suara lengguhan terdengar masuk keindranya.


Angkasa langsung terpaku dengan tangan yang masih memegang tuas pintu, pandangannya masih terpaku pada pakaian yang berada di lantai.


Jujur...


Perasaan Angkasa mulai tak tenang, jantungnya berdebar sangat keras, hawa panas merambat ke seluruh tubuhnya.


'Anjing!!'


Teriaknya dalam hati.


Matanya mulai panas dan tenggorokan tercekat, sekarang sangat sulit baginya untuk bernafas.


Ia tertawa sumbang.


"Seharusnya memang gue gak berharap apa-apa"


Angkasa menutup pintunya perlahan, berusaha untuk pergi dalam diam, ia tak mau aktivitas sang ayah terganggu olehnya.


Lagi pula...


Mau dia berteriak menyuarakan sekencang apapun juga pendapat dan ucapannya tak akan di dengar.


Seorang anak memang tak pernah bisa mengerti orang tua.


Tapi apa salahnya mencoba mengerti.


Namun sayangnya...


Percobaan itu kadang di patahkan oleh orang tua itu sendiri.


"Loh aden?, kapan pulang?!"


Tanya bibi dengan perasaan senang melihat anak majikannya pulang.


Angkasa melirik dan memberikan senyuman.


"Baru bi, oh iya, jangan bilang ayah ya kalo Asa pulang Bi, bilang aja Asa mau pulang besok"


Bibi yang mengerti langsung mengangguk.


"Sip den, emangnya aden gak mau makan dulu?, tadi tuan nyuruh nyiapin banyak makanan buat aden"


"Gak usah bi, Asa buru-buru"


"Yaudah hati-hati ya den"


ㄱㄱㄱ


"Terus kok bisa sampe masuk rumah sakit kenapa?"


Tanya Raya sambil memperhatikan beberapa perban yang melekat di anggota tubuh Angkasa.


"Biasa, gue bengong, jadinya gini"


Raya menghela nafas.


Angkasa termenung menatap lurus kedepan, ada perasaan lega setelah membagi cerita pada Raya, walau tak terlalu detail.


Hatinya merasa terbohongi.


Jadi...


Perannya dalam keluarga apa?.


Angkasa menghela nafas panjang.


"Kak"


"Hm?!" Angkasa menoleh.


"Lo yakin lo gakpapa?"


Angkasa tertawa kecil.


"Lo khawatir sama gue?"


"Kak, ih!"


Raya mendorong pelan bahu Angkasa yang membuat korbannya tergeser sedikit.


Melihat Angkasa..., jika dipikir-pikir... mungkin dirinya tak akan mungkin ada di dunia ini lagi.


Raya menyandarkan kepalanya pada bahu Angkasa.


"Lo boleh marah kak, lo boleh kecewa, lo boleh nangis, lo boleh teriak dan sebagainya"


"..."


Angkasa hanya diam tak membalas, tenggorokannya kembali tercekat.


"Terus berjuang buat dapetin perhatian yang lo mau, pertahanin prinsip lo"


"Thanks ya Ra".


ㄱㄱㄱ


"Lo yakin mau pulang ke rumah bokap lo?"


Tanya Travis sekali lagi, ia ragu membawa Angkasa kesana, sedang ia tahu apa yang sedang terjadi.


Motor Angkasa sedikit ringsek karna kecelakaan tadi.


"Bacot banget ya, jalan aja napa sih!, ntar gue bayar!" Ucap Angkasa yang langsung di serbu oleh teman-temannya.


"Eiii...." Ucap mereka serempak.


"Wis!, anak sultan mah bebas"


"Mentang-mentang banyak duit najis banget lo!"


"Tau nih!, nanti kalau susah awas aja ngemis di jalan" Serobot Juna.


Angkasa hanya tertawa.


"Jalan-jalan"


"Siap bos"


"Hati-hati kak" Ucap Raya yang di jawab senyuman oleh Angkasa.


Setelah memastikan semuanya beres Travis melajukan motornya.


Raya menatap punggung Angkasa yang mulai melaju pergi.


ㄱㄱㄱ


Malam yang hangat di meja makan.


Ini adalah momen yang jarang bagi Angkasa, yaitu satu meja dengan sang ayah.


Angkasa sedari tadi baru memasukkan beberapa suap saja ke dalam mulutnya, tak ada selera untuk memakan makanannya.


Ia sibuk termenung dan berkutat dalam pikirannya.


Fara sudah mencoba untuk berinteraksi dan memberikan beberapa lauk untuk Angkasa yang akan segera menjadi calon anaknya itu.


Sayangnya Angkasa tak sama sekali meliriknya.


"Eum..., nak" Panggil sang Ayah yang langsung membuat Angkasa menoleh.


"Ada yang mau ayah omongin sayang"


Angkasa menaruh sendok dan garpunya, kemudian fokus memperhatikan sang ayah yang akan berbicara.


"Iya yah, kenapa?"


"Jadi gini, ayah berencana akan menikah minggu depan"


Deg!


'Minggu depan?'


Udara mulai menyesak, tubuhnya kaku, tak mampu memberikan respon, jantungnya mulai kembali berdegup cepat.


Sekelibat bayangan suara tadi malam terngingang.


"Gini, tante sama ayah kamukan sudah lama berpacaran, tak baik juga jika_"


Brak!!


Angkasa menggebrak meja.


"Gak, pokoknya Asa gak setuju!" bentak Angkasa pada Fara, ia berdiri dengan sorot mata yang tajam pada Fara.


"Asa!!!".


Sang papa tiba-tiba bangun menghampirinya, dan,


Plak!


"Mas!" Fara langsung berdiri mematung, tak percaya bahwa akan terjadi hal ini.


Dengan nafas yang memburu sang ayah mulai sadar akan apa yang di lakukannya.


Angkasa jelas membeku, pipinya terasa panas, ia tak menyangka ayah akan menamparnya.


"Asa.."


Angkasa mundur ketika sang ayah ingin memegang tangannya.


"Ayah minta maaf nak, ayah nggak bermaksud_"


"Gakpapa yah, Angkasa akan selalu ngetiin ayah"


"Nggak, nggak nak, ayah_"


Angkasa kembali mundur ketika sang ayah ingin menyentuhnya.


"Angkasa mau ayah bahagia, Angkasa gak mau jadi penghalang ayah untuk mencapai apa yang ayah inginkan"


"Nak..."


Sang ayah kembali berniat untuk memegang tangannya, ia benar-benar tak sengaja, ia menyesal.


Namun hal yang sama tetap terjadi.


"Nak, maafin ayah"


"Ayah gak salah, buat apa minta maaf"


Angkasa mulai merasakan panas di matanya, ia masih setia menatap lantai dengan tatapan kosong.


Rasanya kecewa, marah, sedih, dan...


Huff...


Ia tak boleh egois, ia sudah besar, ia bukan anak kecil lagi yang harus minta di mengerti, jadi dewasa bukanlah hal yang mudah.


Angkasa berniat untuk pergi, namun sang ayah mencegahnya.


"Ayah minta maaf nak, ayah gak sengaja, ampuni ayah nak"


Angkasa melepas tangan ayahnya yang terkait di pergelangan tangan perlahan.


"Ayah gak ada salah, Angkasa pamit pulang"


Angkasa melangkah.


"Oh iya, tante, tolong jaga ayah dengan baik".


Kemudian kembali melangkah maju tanpa menoleh kembali kebelakang.


Kali ini...


Dirinya pasrah.