
Kelas lX.1 Ips sedang ramai karna kedatangan murid baru, semuanya sibuk berkumpul di depan siswa baru untuk menanyakan banyak hal, terutama para siswi.
Desas-desus yang terdengar adalah siswa tersebut sebelumnya belajar di Australia.
"Ay, Aya"
Bulan menyikut Raya yang sedang membungkuk mengistirahatkan dirinya di meja, mencoba membangunkan Raya.
Lagi pula bisa-bisanya dengan suara yang begitu ribut Raya tak terusik sama sekali.
"Aya..." menggoyang-goyangkan tubuh Raya.
Raya berdecak, ia tak suka tidurnya terganggu, moodnya sedang turun hari ini.
"Apasih Lan?!"
"Yaampun, masih pagi dah marah-marah aja kenapa sih neng?"
Raya membetulkan posisi duduknya, termenung sejenak, pikirannya sedang penuh sejak sore kemarin.
Ayahnya memang tak bilang apa-apa, tapi matanya yang tak bisa berbohong mengatakan kalau ada sesuatu yang membuatnya pulang.
Raya menghela nafas.
"Kantin yok, gue laper nih"
Ajak Raya yang tak biasanya mengajak terlebih dahulu.
"Tumben lo, ayok dah"
Raya berlalu diikuti dengan Bulan.
Tanpa sadar..., seseorang memperhatikan mereka.
"Oh iya masa anak baru yang tadi pindahan Australia"
"Hah masa?" Tanya Raya percaya tak percaya.
"Najis!, dari mana aja lo maemunah!, dah dari kemaren bahkan, eh?"
"Yeee, dah tau maren gue gak masuk, gimana sih lo?!"
Bulan terkekeh mengusap tengkuknya.
Raya melihat Angkasa dan teman-temannya disana, ia tersenyum senang sambil melambai pada Angkasa yang kebetulan melihat kearahnya.
Tanpa aba-aba ia menarik Bulan juga untuk ikut menghampiri Angkasa.
"Hai brodi!, wedeeeh apa kabar mas bro?"
Raya menepuk pundak Angkasa sebagai tanda pertemuan, atau mungkin sebagai salam.
Bulan mengutuk Raya dalam hati, ia malu sebenarnya berada disini.
Apalagi sekarang Travis dan Awan sama-sama melihat ke arahnya.
"Lan duduk!" Titah Raya yang sudah duduk di samping Angkasa.
Bulan menoleh ke Juna yang sedang duduk tepat di samping Awan.
Raya yang sadar langsung memberitahu Juna.
"Woy!, peka dong boss, masa Bulan di suruh duduk samping kak Travis"
Juna langsung membulatkan matanya, dengan beraninya Raya meninggikan suara padanya.
"Sa!, wah parah Sa ni cewe!, gila..." Juna bertebuk tangan tepat di depan Raya yang langsung di tepis cewe tersebut.
Angkasa hanya terkekeh.
"Gausah gue aja yang gantian ama dia" Ucap Awan.
Awan beranjak berniat untuk bertukar tempat dengan Travis.
Namun...
"Bangun" Titah Awan pada Travis.
Raya menggigit bibir bawahnya sesaat, roman-romannya seperti akan ada perkelahian.
Angkasa dan Raya saling menatap.
Bulan juga sudah berpirasat tak enak, apalagi wajah Travis yang menunjukan bahwa anak itu tak menyukainya.
"Kalau gue gak mau gimana?"
Untungnya saja Juna bangun.
"Udah-udah, lo duduk sini aja Wan, biar gue yang pindah"
Raya menghela nafas lega, masalah tentang Bulan, Awan dan Travis memang masih berlanjut sampai sekarang.
Awalnya ia juga pikir Travis hanya sekedar tertarik lalu akan biasa saja kembali seperti yang sebelum-sebelumnya.
Tapi ia salah, bahkan Travis masih mencoba mendekati Bulan sampai sekarang.
"Eh kak"Bisik Raya pada Angkasa.
"Hm" Sahut Angkasa sebelum menyeruput minuman.
"Kak Travis kira-kira kapan nyerah ya?, pusing gue liat temen gue"
Angkasa tersenyum dengan deretan gigi atas yang terlihat, ia mengendikkan bahunya.
Iapun tak tahu, ia baru melihat fenomena ini selama ia berteman dengan Travis.
"Oh iya!, Lan, makan sepuas lo, kak Juna traktir!"
"Dih!"
Jelas saja empunya nama terkejut.
"Lah!, sesuai janji lo lah, kan lo bilang sepuasnya gue, nah gue pasti gak bakal makan banyak-banyak, jadi gue serahin ke Bulan"
Jelas Raya mengingat ia pasti hanya memesan minuman jika sedang ke kantin, ia jarang makan di kanti selama ia sekolah disini.
Untuk alasannya ia tak tahu, tapi ia selalu was-was berada di kantin.
Mungkin itu karna masa lalunya, ia pun tak tahu.
"Ya tapi gak bisa gitu lah njing!, nggak ada nggak ada!"
Raya tersenyum kemenangan.
"Bodo, lo nggak mau bayar, utangnya atas nama lo pokoknya"
"Ck!, nggak bisa gitu lah" Bantah Juna tak terima.
Sayangnya janji Juna tak bisa diingkari menurut Raya.
Raya menatap sini Juna yang membuat Juna tertawa.
"Apa lo?!, lo kata serem begitu hah?!"
Raya menatap Bulan.
"Lo harus pesen yang banyak Lan, biar gue bisa balas dendam sama kak Juna"
ㄱㄱㄱ
BRAK!!
Ketika sedang asyik-asyiknya bersenda gurau dengan Angkasa dan yang lainnya, seseorang tiba-tiba menggebrak meja mereka.
Raya menoleh.
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Raya.
Yang lain jelas terkejut bahkan langsung berdiri.
"Lo_"
Menunjuk wajah Raya.
Raya menghela nafas, ia berdiri dan menatap sosok Gita yang terlihat marah.
"Dasar gak tau malu, lo kemarin sehariankan sama Angkasa!"
Raya tersenyum smirk, perutnya terasa tergelitik, ia tak peduli pada orang-orang sekitar yang menatapnya tak percaya.
"Heh?, gak usah sok suci deh lo"
"Maksud lo apa hah?!" mendorong bahu Raya yang membuat Raya mundur selangkah.
Raya terkekeh kecil.
"Lo pikir gak tau, lo pernah bawa kak Asa ke kamar pas dia lagi mabukkan?, dan parahnya lo cabul ke kak Asa?" Ucap Raya sedikit berbisik pada Gita.
Gita diam, dia jelas terkejut, itu masalah lama, dari mana anak itu tahu.
"Lo inget ya kak, gue tau masalah lo, bahkan yang terburuk, jadi jangan macem-macem" lanjut Raya.
Raya tersenyum miring.
Gita kali ini hanya bisa mundur dan pergi, ia yakin bahwa Raya memang tahu segalanya, ia takut apa yang ia selama ini takuti akan terjadi.
Tapi apa benar Raya tahu segalanya, ntahlah, tapi lebih baik ia waspada.
Juna memberi tepuk tangan kecil, ia memiringkan kepalanya 30 derajat sesaat.
"Woa, ngomong apa lo sama dia, baru liat gue Gita mundur"
"Kepo lo"
"Dih nyolot mulu lo!"
Raya menjulurkan lidahnya meledek.
"Bodo"
"Eh Jun, katanya nanti malem ada balapan tuh, mau ikut gak" Ucap Travis pada Juna.
"Balapan?!, ikit dong, kak Asa, bawa gue ikut liat balapan dong, gue penasaran tau"
Raya dengan antusias meminta pada Angkasa.
"Apaansi lo?!, masih bocil juga ntar marahin mamah loh"
Raya menautkan kedua alisnya, ia menatap Travis tak suka.
"Apaan sih kak?!, guekan gak ngomong sama lo ya"
Angkasa tersenyum, tak tahu sejak kapan ia jadi suka memperhatikan raut wajah Raya yang setiap saat berganti.
Mungkin sejak kemarin.
*
*
*
Angkasa yang meraa tubuhnya tak enak terbangun, waktu menunjukkan pukul tiga malam.
"Sejak kapan gue di rumah?"
Angkasa melihat Raya yang terlelep, wajahnya terlihat begitu tenang.
'Jadi tadi malem itu bukan khayalan'
Ia berniat mengusap pipi Raya namun anak itu tiba-tiba menduselkan kepalanya ke bantal dan mengeluh.
Senyum di wajahnya langsung tercipta.
Ia tak sangka Raya terlihat begitu manja jika seperti ini.
Ia terkekeh kecil.
Tak di sangka hal tersebut mengusik Raya, dan saat ia ingin melanjutkan aksinya untuk mengusap pipi Raya.
Raya terbangun dan langsung mundur, ia terkejut.
"Ngapain lo?, jangan pegang-pegang gue"
Angkasa langsung menyangkal hal tersebut.
Raya hanya mendelik.
"Bangun lo!, gara-gara lo gue jadi bolos sekolah nih" mengingat yang terjadi tadi pagi, aggak malu sebenarnya, namun ia tak ingin menunjukkan hal tersebut.
Raya melempar bantal padanya dan mulai beranjak pergi.
*
*
*
"Heh!"
Raya menyenggol Angkasa membuat anak itu tersadar.
"Ngapain lo liatin gue begitu?"
Angkasa melihat sekitar, Juna dan Travis sudah settia memandang ke arahnya.
"Yang mulai bucin" Sidir Juna.
"Saran gue lo hati-hati sih Ya" sahut Travis
"Heeuh, ngeri di caplok lo nya, lo liat sendiri tampangnya psikopat gitu"
"Diem lo pada, ganggu aja, kaya Awan ama Bulan noh diem aja ngebucin, sana lo pada. Cari pacar, biar kagak ganggu"
"Yaelah, gak boleh gitu loh sesama jomblo juga"
Juna tertawa.
"Anjirlah, hahahh, iya juga, sampe gak sadar gue si Asa jomblo"
Raya berdecak, ia tak mau tahu bercanda mereka.
"Kak, pokoknya gue harus ikut liat balapan"
"Ngotot amat lo, emangnya lo boleh jam 12 malem keluar?" Tanya Travis.
"Buktinya kemaren boleh"
"Emang iya?, gue mah yakinnya lo kabur yakan?" Sahut Juna yang juga ikut meremehkan.
"Udah-udah, iya nanti gue ajak, dimana emang balapannya?"
"Sirkuit lah biasa"
Jawab Travis.
"Wan, lo ikut?" Tanya Angkasa.
"Ikut kayaknya mah, kaya biasa lumayan soalnya hadiahnya"
Angkasa manggut-manggut.
Tanpa Raya sadar minumannya telah tandas, ia melihat ke arah Bulan, bakso yang Bulan pesan juga sepertinya telah habis lebih dahulu, ia branjak.
"Selesai!, kak Jun jangan lupa bayar ya, ayok Lan"
"Dih!, Aya!!!, oy!!"
Bahkan tanpa peduli pada Juna yang mengutuknyya ia pergi mmerangkul Raya.
Angkasa hanya bisa menggeleng melihat keduanya.
ㄱㄱㄱ
Setelah pelajaran selesai, dengan rutinitasnya Raya termenung menatap langit senja dari dalam kelasnya.
"Ayah kenapa ya?"
Tak tahu mengapa ia jadi kepikiran, padahal bisa saja memang sedang libur.
"Hai"
Sapa seseorang mengalihkan atensinya.
Raya menatap orang tersebut asing, ia tak mengenalinya.
siswa tersebut tersenyum.
"Raya kan?"
"Iya, kenapa?"
Siswa tersebut tersenyum padanya.
"Kenalin, gue Gilang"
Teraang siswa tersebut menjulutrkan tangannya.
Raya tersenyum tipis lalu membalas uluran tersebut.
"Oh, anak baru itu ya?"
"Iya"
"Ngapain masih disini?, lo gak pulang"
Tanya Raya yang heran dengan keberadaannya, karna biasanya ia hanya sendiri di tempat ini, mungkin paling ramai hanya berdua dengan Angkasa.
"Aaah... gini, gue sebenarnya anak kepala sekolah jadi gue nunggu bokap balik, biar sekalian"
Raya manggut-manggut.
"Oh iyaa, kalau lo anak kepala sekolah berarti lo kenal kak Nathan dong, dia anak pemilik sekolah"
Gilang tertawa kecil.
"Anak kepala sekolah gk harus kenal sama anak pemilik sekolah deh kayaknya"
Raya terkekeh, ia juga baru sadar akan hal itu.
"Ya kali!, kan setau gue pasti biasanya kepala sekolah sama pemilik sekolah, soalnya kan apa-apa yang ada di sekolah pemilik harus tau"
"Hahh, nggak, tapi kalau lo mau tahu dia sepupu gue"
"Oalah..., eh kak Asa"
Fokus mereka teralihkan ketika Angkasa datang.
"Eh Lan!, gimana tadi kelasnya?"
"Loh udah kenal?" Tanya Raya heran.
"Ya jelas lah..., kan dia sepupunya Nathan gimana sih lo, Nathan temmen gue ya jelas kenal"
"Yaudah sih!"
Angkasa terkeekeh, ia melirik ke arah Gilang.
"Gue balik dulu ya, yuk Ray"
Ajak Nathan yang di angguki oleh Raya.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan Gilang memanggil.
"Eh Raya"
"Ya?"
Raya menoleh.
"Salam kenal ya"
Angkasa melunturkaan senyumnya, ntah mengapa ia tak suka dengan cara Gilang tersemyum pada Raya.
Raya tersenyum lebar.
"Yok!, salam kenal juga, semoga betah ya di kelas kita"
"Hm, thanks"
Angkasa menggenggam tangan Raya.
"Gue sama Raya duluan"
Tanpa menunggu Gilang menjawab Angkasa menuntunnya pergi dari sana.