
"Eungh..."
Suara rintihan keluar dari mulut Raya sepanjang malam, tubuhnya terasa tak nyaman.
Raya duduk karna terbangun, sudah beberapa kali ia bangun, mungkin ada lima belas menit sekali.
Ia mengelus bagia yang memar, berjalan sebentaar mengambil termos dan menuangkan air dingin di baskom kecil yang sengaja ia sediakan.
Raya kembali dan menaruh baskom di nakas.
Termenung sesaat, ia menghela nafas dalam.
"Jahat banget ya dunia buat lo"
Gumamnya sambil mengompres bagian yang memar, untung saja tak terjadi hal yang cukup serius.
Raya tertawa sumbang.
Padahal sepertinya baru saja dirinya tertawa dengan Angkasa.
Bahkan Angkasa tak mempedulikan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia mengusap kasar air mata yang mengalir, ia benci renungan, ia benci merasa sendiri, ia benci pengabaian, ia benci kesalah pahaman.
Karna pikirannya yang terus bercabang ia lebih memilih untuk tidur.
'Kalau gak ada Bulan yang selalu ada..., huff..'
ㄱㄱㄱ
Sekolah harapan bangsa.
pukul 09:30
Sosok Raya termenung menatap langit biru di rooftop, tak ada tanda-tanda kalau Angkasa akan datang juga ke atap.
Sejujurnya itu tak masalah baginya, namun ntah mengapa hatinya selalu membuat matanya melihat ke arah pintu.
Jelas saja hatinya menunggu Angkasa.
Raya menghela nafas, bahkan sedari pagi ia tak memiliki semangat untuk ke sekolah.
Krieet...
Yang tadinya ia ingin merebahkan tubuh langsung tak jadi karna mendengar suara pintu terbuka.
Sayangnya...
Bulan yang terlihat.
Ia tersenyum pada Raya.
"Hai"
Raya menunduk, ia kembali menghela nafas.
"Hai too Lan"
Jawabnya kemudian membaringkan tubuhnya, ia berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Bulan sadar kalau Raya sedang menunggu Angkasa, ia ikut sedih melihat Raya murung, baru kali ini Raya sedih hanya karna seseorang.
Tak tega rasanya, bahkan sebelumnya jika bermasalah dengan seseorang Raya tak pernah sekalut ini.
Apa mungkin Raya mencintai Angkasa?
Atau hanya karna Raya terbiasa selalu bersama Angkasa?
Atau Raya mulai nyaman?
Apapun itu ia tak bisa membiarkannya, ia yakin kalau apa yang Gita ucapkan berhubungan dengan keluarganya.
Raya sangat benci topik tersebut, segala hal tentang keluarganya adalah hal yang paling Raya tak sukai, namun... hal apa yang membuat Raya begitu marah?.
Bulan berjalan menghampiri Raya.
"Ikut gue yuk!"
Mau bagaimanapun ia tak bisa membiarkan Raya terus menerus kalut, itu tak baik bagi kesehatan temannya.
"Kemana?"
"Ck!, udah ayok..., kita bolos hari ini"
Bulan menarik Raya untuk bangun.
Raya sedikit meringis namun ia tak apa.
"Ouwh sorry"
"Its ok!"
"Jangan lupa tunjukin cara bolos"
Raya tersenyum tipis, sangat jarang temannya itu mengajaknya bolos.
"Ayok....!"
ㄱㄱㄱ
Bulan mengajak Raya ke timezone mall terdekat.
Sejujurnya Raya masih belum percaya temannya itu mengajak dirinya untuk bolos sekolah, tapi yasudahlah, mungkin anak itu sedang ingin.
"Nah!, ayok kita main!"
"Lo serius ini ngajak gue bolos begitu?"
"Serius lah!, emang gue punya muka-muka pembohong apa? "
Bulan menaik turunkan aliskan.
Raya terkekeh, ia mengusap wajah Raya dengan telapak.
"Ih!, skincare gue!"
"Alay lo!"
"Ck!, udah ayok main"
Pokoknya hari ini adalah milik Raya.
ㄱㄱㄱ
Setelah puas bermain tepat mereka sampai sekolah, bel jam pelajaran selesai terdengar Raya dan Bulan datang dengan wajah bahagia.
"Hahhh... Bisa-bisanya lo dapet skor satu tadi" Ujar Bulan pada Raya.
"Tau!, kalah ama bocil najis, tadi aja bocil sebelah kita dapet tamiya"
"Hahh kita dapet permen doang enam"
"Sama jepitan!"
"Lah iya ya, udah kepasang di rambut jadi lupa"
Lagi asiknya bercanda di lorong menuju kelas, tangan Raya di genggam seseorang.
Grep!
Raya spontan menoleh.
Melihat Angkasa dengan wajah yang datar memudarkan senyuman di wajahnya.
"Ikut gue"
Raya terdiaam sejenak, kemudian mengiyakan ajakan Angkasa.
Angkasa mengajaknya ke atap.
"Kemana lo tadi?"
"Lo nyariin gue tadi?"
Angkasa diam, ia memandang Raya begitu intens.
Tak mungkin Raya yang di tatap tak risih, namun Raya memilih tak memedulikan hal tersebut.
Tatapannya begitu menusuk.
"Tinggal jawab aja emang susah ya?"
Raya menghela nafas, ia sedang malas berdebat dan semacamnya.
"Tadi gue ke timezone"
"Lo emang gak peduli sama pendidikaan apa gimana sih?, lo taukan kalo itu masih jam belajar?!"
Angkasa mulai menaikan tone suaranya, raut dan naada bicara Raya membuatnya kesal.
"Gak usah sok peduli deh kak, itu semuakan urusan gue, lagi pula mau gue peduli atau nggak, itu semua urusan gue"
Angkasa berdecak, ingin sekali ia tak peduli, namun...
Ck!, ia tak bisa.
Angkasa menghela nafas dalam, mencoba untuk meredam emosinya, ia mengajak Raya untuk duduk di kursi.
"Coba liat yang kemarin kebentur"
Perkataan yang keluar dari mulut Angkasa membuatnya terkejut.
"Hah?"
Angkasa mengarahkan Raya untuk membelakanginya, ia bahkanencoba untuk menaikkan seragam Raya.
"Eh tar dulu, lo gila ya?!"
Raya jelas langsung mencegahnya, ini sudah di lewat batas.
"Tenang aja, gue cuma mau liat"
Angkasa menunggu persetujuan daari Raya, ia juga tak bisa asal, itu bisa membuat memar Raya tertekan, itu mungkin akan sakit.
"Janji, gue cuma mau liat aja"
Setelah berpikir beberapa saat ia akhirnya setuju.
Angkasa mulai mengangkat sedikit seragam Raya, hanya sekedar untuk melihat ruam karna benturan kemarin.
"Masih sakit?"
"Sssh!" Ringis Raya ketika Angkasa sedikit menekan ruamnya.
Tumbuh rasa bersalah dalam hati Angkasa, ia benar-benar tak sengaja.
Raya mulai membenarkan posisinya ketika Angkasa selesai memeriksanya, ia duduk bersebelahan dengan Angkasa.
Angkasa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Nih" menyodorkan sebuah salep pada Raya.
"Buat?"
Bahkan Raya tak menerimanya terlebih dahulu.
Angkasa mengambil tangan Raya dan meletakkannya di telapak tangannya.
"Pake dua sampe tiga kali sehari, lain kali jangan kaya gitu lagi"
"Maksud lo kayak gitu?"
Angkasa melihat Raya yang sudah menatapnya dengan mata yang mengkristal, ia mengalihkan pandangan.
"Gak bukan apa-apa, gue cuma gak mau lo di skors, kalau lo di bully, bilang aja sama gue, gak usah pake kekerasan dan main hakim sendiri"
Raya menunduk, mengapa rasanya dadanya sesak, ia tak menyangka kalau Angkasa masih bersi keras kalau hal tersebut adalah hal yang bisa dia tangani, seakan itu adalah hal sepele.
"Jadi maksud lo, kalau keluarga gue di rendahin, gue harus diem aja?"
"Hah?"
Raya kembali mengangkat pandangannya.
Netra mereka saling menatap.
"Sebenci-bencinya gue sama papah mamah gue, gue gak akan biarin mulut siapapun ngerendahin mereka".