Second Home

Second Home
Chap 24



Langit sudah mulai senja, namun Raya dan Angkasa tak kunjung pulang, mereka hanya duduk menatap langit yang siap mengupas petang menjadi malam.


Tak ada satupun kata yang keluar.


Angkasa sudah mendengar apa yang terjadi pada Raya, ia merasa bersalah karna membuat Raya terluka.


Mungkin mulut Raya mengatakan tak apa, tapi Angkasa yakin kalau Raya kecewa.


"Ya" Panggil Angkasa tanpa menoleh.


Mereka dalam posisi nyaman, duduk di sofa sambil bersandar.


Belum lagi di temani dengan semilir angin dan senja yang indah.


"Hm"


"Gue bener-bener minta maaf ya"


"Iya kak Asa...., bacot banget sumpah"


"Tapi kan_"


Raya berdecak kemudian menatap Angkasa yang ternyata sudah melihat ke arahnya, tak tahu sejak kapan.


"Lo minta maaf sekali lagi gue lempar ke bawah"


"Kayak bisa aja" tersenyum meremehkan.


"Kalo bisa lo kasih gue sejuta"


"Najis harga gue cuma sejuta, ntar satu milyar gue kasih!"


Raya memukul bahu Angkasa asal.


"Nggak ah mending gue jual lo ke tante girang dapet ada kali lima milyar, apalagi fisik lo oke juga" Sambil menatap Angkasa dari kepala sampai kaki.


"Lo belum jual gue juga udah gue mutilasi badan lo, liat aja!"


Raya tertawa kecil, kemudian kembali menatap langit, bahkan setelah merasa nyaman tubuhnya bergerak bersandar pada bahu Angkasa.


Angkasa jelas terkejut, namun ia tak terlalu mempermasalahkan hal itu, hatinya juga menyuruhnya untuk diam.


"Kak"


"Hm"


"Kalau seandainya kehidupan selanjutnya memang bener ada, lo mau jadi apa?"


Angkasa berpikir, tak ada yang enak di hidup ini.


"Eum..., gue sih akan minta sama tuhan untuk gak terlahir"


Raya bangun.


"Kenapa?"


Angkasa menatap wajah Raya yang penasaran, ntah mengapa ia selalu suka menatap wajah gadis di hadapannya.


Ia tersenyum tipis.


"Karna gue gak mau jadi penghalang siapapun dan apapun"


Raya mengerucutkan bibirnya, ia menaruh tangannya di dudukan sofa.


Menatap lurus kedepan.


"Lo mah gitu"


"Gitu gimana sih?!"


Angkasa heran dengan sikap Raya sekarang.


"Gak tau, kaya speechless aja denger jawaban lo"


Angkasa terkekeh kecil.


Raya kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Angkasa.


"Yang dapetin lo kayaknya beruntung banget ya kak"


"Iyalah!, secara gue udah ganteng kayak lagi"


Plak!


Raya reflex memukul dada Angkasa.


"Pede bat lo jadi manusia"


"Lah?!, kan kenyataannya gitu"


"Tau ah!, serah lo deh kak, heuh!, nyesel banget ngomong gitu" Raya beranjak.


"Mau keman woy?"


"Berburu ayam kaki empat biar kaya"


Celetuk Raya asal kemudian berjalan pergi tanpa peduli lagi pada teriakan Angkasa.


ㄱㄱㄱ


Brak!


Raya yang sedang duduk di ruang televisi langsung menoleh ke sumber gebrakkan.


Terlihat sang adik dekat kondisi yang berantakkan, menenteng tas dan rambut yang lepek di ambang pintu.


Ia jelas terkejut dan langsung berdiri.


"Lo kenap_"


"Ini semua gara-gara lo!" Teriak sang adik.


Raya tersentak kaget, ia tak penah melihat adiknya semarah itu.


Ia berjalan mendekat, berusaha mencari akar masalah.


"Kenapa sih?, dateng-dateng_"


"Diem lo!, jangan pegang-pegang gue anjing!"


Gina menepis kasar tangan Raya yang berusaha menyentuh pundaknya.


Mendengar kegaduhan yang terjadi sang mamah, adik kecil dan bang Ardhan keluar kamar.


"Ada apasi?" Tanya bang Ardhan pada Raya.


"Jangan belantem kak" Ucap sang adik yang masih berumur tiga tahun.


"Udah malem, jangan teriak-teriak ah, kenapa sih emangnya"


Raya hanya mengendikkan bahu untuk setiap pertanyaan.


"Gak usah sok lugu deh lo!, kemaren lo buat kakak kelas lo bonyokkan?!, gara-gara lo gue di undur dari lomba tau gak!!!"


Raya langsung terdiam mendengar hal itu.


Bugh!


"Eh!, gak boleh gitu kamu Gin"


"Biarin!, lagi pula kalau bukan karna dia juga adek gak bakal gini mah!, heuh!, minggir lo"


Gina mendorong kakaknya kasar untuk menyingkir dari jalannya kemudian berlalu dengan perasaan yang teramat kesal.


Raya hanya bisa diam memegang dadanya yang sakit akibat pukulan adiknya, semua ejekan, dan kata merendahkan orang tua dan keluarganya terputar jelas di pikirannya.


"Ayah lo tuh kayak kucing banget ya, padahal anaknya yang ini aja gak ke urus dah ngelahirin aja sama istri barunya"


"Kasian banget sih lo, jadi anak buangan, gue jadi ayah lo mah gak akan milih buat punya anak lagi sih, soalnya malu"


"Siapin duit yang banyak ya, nanti fasilitas pantinya bayar soalnya, atau... kalau lo mau biar gue yang buang ortu lo"


Raya mengepal tangannya kuat-kuat, hanya candaan katanya, namun itu terlalu berlebihan, ia harus bagaimana?.


"Kak, kamu berantem?"


"Nggak mah, kakak gak berantem"


"Kalau nggak terus itu kata si Gita apa?!"


"Nggak tau"


"Alah masa gak tau!, jangan bohong kamu sama orang tua!, durhaka kamu!"


Raya diam, ia marah, ingin sekalian meledakkan boom yang tersimpan, ia tak bisa menahannya lagi, namun...


"Udah mah, lagian Raya kam udah bilang nggak"


Saat mendengar suara bang Ardhan membelanya, amarahnya sedikit mereda.


"Lagian mau aku ngelakuin atau nggak juga kalau Gina yang ngomong mamah gak akan percaya sama aku"


Ucap Raya kepada bang Ardhan kemudian berlalu pergi meninggalkan abang dan mamahnya tanpa peduli ocehan mamahnya, tak peduli seberapa keras ia mencoba, lagi pula ia selalu salah.


"Kurang ajar kamu ya!, maksud kamu mamah jahat gitu!, mamah tuh sayang sam_"


Blam!


Raya menutup pintu sedikit membanting, ia mengunci pintu.


Tubuhnya perlahan merosot bersandar di pintu, menghela nafas ketika suara gedoran dan omelan terdengar.


ㄱㄱㄱ


Di rumah kediaman ayah Angkasa.


Angkasa yang sedang makan malam dengan sang ayah dan calon mamahnya hanya diam tak bersuara sama sekali.


"Gimana sekolahnya Angkasa?" Tanya Fara.


"B aja"


Fara menghela nafas, sedari tadi ia bicara calon anaknya itu hanya menjawab secara singkat, bahkan ada beberapa pertanyaan yang sama sekali di jawab.


Ayahnya yang tak tega pada wanitanya juga mulai geram, namun jika bukan karna wanitanya yang menenangkan ia pasti sudah memarahi Angkasa.


"Kan tinggal seminggu lagi tante sama ayah kamu menikah, nanti kamu libur aja dulu sekolahnya, soalnyakan itu hari sekolah"


Sama sekali Angkasa tak bergeming.


Prang!


Suara benturan piring dan sendok sang ayah menarik perhatian Angkasa dan Fara.


"Mas"


"Cukup Fara, cukup kamu belain dia, kamu kenapa sih?!, hargain tante Fara dikit aja!, susah ya emangnya hah?!"


Bukannya takut Angkasa justru tak bergeming ia malah melanjutkan aktivitas makannya.


Ayahnya semakin kesal melihatnya, kemudian dengan amarah yang meluap sang ayah beranjak dan menggenggam lengan Angkasa.


"Sini kamu!"


"Gak, Asa gak mau" Tolak Angkasa menahan tarikan tangan ayahnya.


Tiba-tiba...


Plak!!!


Sebuah tamparan tangan yang cukup keras di layangkan pada Angkasa karna saking kerasnya.


Angkasa yang menerima itu terkejut, ia mematung, pipinya terasa panas.


Ia bahkan tak percaya ayahnya melakukan hal itu.


Fara yang melihat hal itu bingung harus apa, ia menutup mulutnya saking tak percayanya.


"Kamu itu harusnya tau diri!, selama ini kamu di biayain sama ayah!, mami kamu itu udah gak mau kamu lagi Angkasa!!!"


Angkasa mengepal tangannya kuat-kuat, ia menatap sang ayah karna saking kesalnya mendengar hal tersebut.


Ia ingat terakhir kali maminya keluar rumah ini, ia bahkan masih menunggu maminya pulang, maminya berjanji akan menjemputnya walau ntah kapan.


"Apa kamu natap ayah begitu hah?!!, kalau bukan karna ayah sayang sama kamu, kamu mungkin udah jadi anak panti asuhan Angkasa!!"


Bugh!!


"Mas!"


Fara refleks mendekati calon suaminya yang tersungkur akibat pukulan Angkasa yang keras.


"Anak kurang ajar!" Geram sang Ayah ketika memegang pipinya yang terasa berdenyut.


Nafas Angkasa memburu, ia kesal, air mata memupuk, lagi pula siapa yang minta di lahirkan kedunia?!, tidak ada, semua anak tidak pernah minta di lahirkan.


"KALAU BUKAN KARNA LO GUE JUGA GAK AKAN LAHIR KEDUNIA INI TAU GAK!!"


Air matanya jatuh saat kalimat itu terlontar dari mulutnya.


"LO SENDIRI_,yang..., ayah sendiri yang mutusin buat hadirin Angkasa di hidup ayah" suaranya mulai serak.


Ia mengusap dadanya yang terasa sesak.


"Asa gak minta untuk di lahirkan yah, Asa..."


Angkasa tertawa lirih.


"Aaah..., Ayah Asa tau Asa adalah penyebab mami pergikan?, makannya Ayah gak suka sama Angkasa"


Angkasa menatap nanar sang ayah yang sepertinya mulai sadar.


"Ayah boleh benci sama Angkasa yah, boleh, boleh banget"


"Angkasa"


"Tapi ayah harus inget, ayah sendiri yang memutuskan untuk lahirin Angkasa kedunia ini".