
"Kak ih!, anjing lo ya!, lagi sakit juga, banyak tingkah lo ah kak!"
Angkasa hanya terkekeh menertawakan tumpahan jus di lantai, itu karnanya.
Sejujurnya tak ada niat, namun ntah mengapa ia bisa tak sengaja menyenggolnya saat mencoba untuk melompat ke atas sofa.
Raya mendengus.
"Tissue mana tissue?!"
"Biar gue aja, lagian gue yang numpahin"
"Ah lo mah sejam kemudian baru di lap" Omel Raya tak mau membiarkan Angkasa yang mengelap.
Ya, ini bukan kejadian yang pertama kalinya, tadi juga di dapur Angkasa tak sengaja menumpahkan air seteko saat mencoba menuangkannya ke gelas.
Jelas-jelas yang anak itu memegang teko yang tak memiliki tutup, bukannya fokus menuang anak itu malah bercanda.
Alamat air tumpah.
Disuruh mengelap iya-iya saja, sedang di laksakannya tidak.
"Kak Asa ih!, lo bukan anak kecil lagi ah, gak usah banyak tingkah, tadi aja makan minta suapin, bilangnya lemes, mana ada sekarang lemes-lemesnya hah!, ilang kemana coba?!"
Geram Raya ketika melihat Angkasa mulai menyalakan televisi untuk karaoke.
Padahal kan sebelumnya dia yang mengajak Raya sendiri untuk belajar, tapi mengapa malah karaoke sekarang?
"Ngomel mulu lo ah, awas ntar cepet tua"
"Serah lo ah, pokoknya tissue dulu dimana?"
"Kamar gue ada noh..., emang kagak keliatan apa tissue segede gaban gitu di nakas"
Tak berpikir lagi ia langsung ke kamar Angkasa dan segera mengambil tissue di atas nakas.
Sayangnya perjalanan menuju ruang televisi di cegat oleh ponsel Angkasa yang bergetar karna sebuah panggilan masuk.
Ia mengambil ponsel tersebut dan membawanya ke ruang televisi.
"Kak, telpon nih dari bokap lo"
Bukannya menjawab Angkasa justru malah menyalakan music keras-keras, bahkam saking kerasnya Raya sampai meringis karna pusing.
Kasihan juga jika tak diangkat, namun itu bukan urusannya, akhirnya ia memutuskan untuk meletakkannya kembali di tempat semula.
Angkasa yang melihat Raya kembali tanpa ponselnya mulai mematikkan music tersebut.
Mereka duduk berdampingan bersandar ke kaki sofa, belajar memang lebih enak di bawaah meleseh dengan meja belajar juga cemilan sebagai pendampingnya.
Raya sedikit mendorong pundak Angkasa.
"Lo tuh gak boleh gitu kak..., mau bagaimanapun dia tetep bokap lo"
Angkasa menghela nafas mendengar ucapan Raya.
"Tapi Ay, dia tuh, a-ah, ayah hehehh"
Karna merasa tak bagus memanggil orang tua dengan sebutan dia apalagi dengan orang lain, Angkasaa tertawa, tak enak pada Raya.
Raya juga ikut tertawa karna ia tahu pasti Angkasa kelepasan.
"Dia gak tuh!, hahhh..."
"Hey-hey, gak sengaja ya, dilarang menjadikan saya contoh"
"Lah kan!, larangan adalah?!"
Angkasa tersenyum, kemudian tertawa kecil.
"Nggak gitu lah Ay..."
"Ay-Ay mulu lo!, Ray kek Aya kek, liat aja lo manggil gue kaya gitu di tempat umum pasti di kira pacaran gila!"
Angkasa tertawa.
Mereka saling meledek, sampai saat..., suasana kembali hening.
"Lagian lo bisa sebut beliau apa aja kok, dia kek, ayah kek, apa aja boleh, asal gak melewati batas"
Ujar Raya meluruskan kakinya.
Angkasa termenung menatap kosong ke sembarang arah.
"Sejujurnya gue kecewa sama ayah, dulu... setiap gue butuh sesuatu gue harus bilang sama bibi, dari kecil, ayah gak pernah mau tau proses gue, dia cuma mau tau kalau gue belajar dengan baik dan menganggap semua materi yang dia kasih ke gue adalah cinta buat gue"
Raya tersenyum karna mengingat seesuatu.
"Mungkin love languagenya giving money kak"
Angkasa terkekeh kecil.
"Kebanyakan halu lo, mana ada love language kayak gitu"
Angkasa menghela nafas.
"Gue harap sih gitu, tapi sebenarnya gue selama ini dah coba buat ngedeketin tapi beliau bahkan gak ada niat sama sekali buat nyari topik, seenggaknya hanya untuk sekedar nanyain aja atau manggil doang deh abis tu gak jadi, its ok buat gue..."
Angkasa mulai geregetan dengan sikap ayahnya itu.
Raya ikut merasa sedih dalam hati, pengalaman yang hampir mirip, namun ia tak mengerti mengapa semua bisa terjadi.
"Tapi yaudah lah Ya, lagiankan orang dewasa juga bisa salah, guenya aja yang lahirnya kecepetan, jadi gue yang nemenin mereka untuk tumbuh dan belajar jadi ortu yang baik"
Tiba-tiba Angkasa menepuk-nepuk tangannya dan membuat Raya sedikit terkejut.
"Dah-dah belajar"
"Ck!, ngagetin aja lo"
Tanpa peduli Raya yang mengomel Angkasa mengambil alih buku yang berada tepat di depan Raya.
"Mana pr nya?"
Raya menyeringai, apa kalian pikir seorang Raya akan menurut begitu saja.
"Ntar aja lah kak...., lagiankan bisa nyontek besok" meregangkan otot-ototnya.
Stak!!
Angkasa menyentrik dahi Raya, yang membuat anak itu mengaduh.
"Aduh!!!"
"Uh!, bunyinya renyah banget gila"
Plak!!
Tak mau kalah Raya memukul paha Angkasa dengan keras.
"Sakit!"
"Ya lo duluan" Protes Raya sambil memegangi keningnya yang masih terasa berdenyut.
Mereka saling menatap, hening sejenak, kemudian tertawa.
"Peri lewat" celetuk Angkasa yang membuat suara semakin pecah.
"Peri!, lo kata pengkorbell"
"Hah?!'' Jelas Angkasa bingung.
"Ya?!" Bukannya menjelaskan si pembicara malah ikutan bingung.
"Tadi lo bilang apa?"
"Pengkorbell?, eh?"
Raya berpikir kemudian tertawa kembali.
Angkasa juga tertawa mendengarnya, dari mana lagi pengkorbell ini...
"Eh apa sih kak?"
"Tinkerbell dodol!"
"Lah iyaya, hahhh... dari mana pula ku dapat nama pengkor bell".
"Hahhh, serah lo deh, Aya.. Aya..."
ㄱㄱㄱ
Sore hari tepat saat hari mulai petang, waktu di mana ia biasa pulang, Raya pulang dengan wajah yang gembira.
Suasananya sedadang baik sekarang, namun...
Krieeet!
Sosok Papahnya duduk di ruang tamu dengan seragam lerja yang masih melekat di tubuhnya.
"Papah ngapain kesini?"
Sang papah tersenyum padanya.
"Gakpapa, pengen pulang aja"
Raya mengerutkan keningnya.
"Ouwh... Okei"
Ada firasat yang tak enak, namun ia juga tak mau berpikir panjang.
Namun ia lebih memilih diam dari pada bicara.