
Angkasa menghela nafas, ia lapar.
"Mata gue..."
Gumamnya ketika melihat dirinya di pantulan kaca spion, bahkan ia memarkirkan motornya asal dan belum berubah sama sekali posisinya.
Beberapa hari kemarin ntah mengapa ia lebih memilih untuk berjalan kaki.
"kayaknya muka gue kuseman"
Ketika ia berjalan dan baru saja membuka pagar, ia terkejut karna Raya duduk bersandar dengan mata yang terpejam.
Bahkan ini sudah cukup larut, mengapa anak itu disini?.
Angkasa menghela nafas, ia bertumpu dengkul dan membangunkan Raya perlahan.
"Aya, bangun, bangun ya" menepuk-nepuk pelan bahu Raya.
Raya yang masih terjaga langsung terbangun.
"Eh lo kak, maaf ya soal tadi" Ucapnya spontan berdiri.
Angkasa ikut bangun.
Raya tersenyum canggung, ia merasa tak enak hati pada Angkasa, apa mungkin ia cukup keterlaluan karna menunggu seperti ini?, pikirnya, ia merasa tak sopan karna bertamu malam-malam.
Sejujurnya ia tadi mencoba untuk pulang, namun... Ia rasa ia harus meminta maaf terlebih dahulu, walau bisa besok, langkahnya tertahan oleh pikirannya.
"Gue minta maaf soal tadi, itu aja si kayaknya" Ulang Raya.
Bahkan saat ini Raya tak berani menatap mata Angkasa karna rasa bersalahnya, belum lagi Angkasa menatapnya tanpa bicara sedikitpun.
Raya yang merasa hajatnya sudah tersampaikan berniat untuk pulang.
Baru beberapa langkah ucapan Angkasa justru membuatnya berhenti.
"Temenin gue"
"Hah?"
Raya menoleh.
Tanpa berucap sama sekali Angkasa menghampirinya, menggenggam dan menuntunnya masuk.
Angkasa menuntun Raya ke tempat motornya di parkirkan.
"Nih pake" menyodorkan sebuah helm.
Raya jelas bingung, bukannya menerima ia justru malah menatap dalam helm tersebut.
"Pake" Titah Angkasa sekali lagi.
"I-iya"
Sebenarnya ia tak masalah dengan ajakan Angkasa, tapi bukankah seharusnya ia pulang sekarang.
Angkasa yang sudah mulai siap dengan motornya, menoleh ke arah Raya, anak itu termenung.
Tak tahu apa yang dipikirkan.
Ia jadi merasa bersalah, apa mungkin itu karnanya?, sepertinya tadi ia cukup keterlaluan.
"Aya"
"Hm?!"
"Ayo naik"
"oh?, iya"
Setelah memastikan Raya telah duduk dan siap, ia melajukan motornya.
Selama perjalanan tak ada perkapan di antara mereka.
Angkasa dan Raya saling sibuk menata hati mereka, perasaan bersalah menyelimutinya, belum lagi Raya yang bingung akan bilang apa pada mamahnya, Angkasa yang sibuk memikirkan cara meminta maaf.
Semuanya kalut dalam pikiran.
Sampai di tempat yang ingin Angkasa tuju.
Tadinya Angkasa hanya ingin memakan mie, tapi setelah melihat Raya ia berubah pikiran, ia mengajak Raya kesebuah tempat makan pinggir jalan.
Mereka duduk bersebelahan.
"Eung... lo mau apa?"
Raya menoleh.
"Eh, nggak usah lo aja"
Jawabnya, lagi pula ia tak merasa lapar sekarang.
"Lo belum makan juga, nanti mag lo kambuh"
"Udah tadi beli roti yang lewat"
Angkasa menghela nafas, ia berhasil membuat suasana diantara mereka jadi canggung.
"Mas, nasi gorengnya sama es tehnya dua ya" Ucap Angkasa lantang.
"Siap" sahut abang penjual.
Raya tak berkutik, ia tahu pasti Angkasa tak menerima penolakan darinya.
"Aya"
"Hm?!"
Si empunya nama menoleh.
"Eum... maaf ya soal tadi"
"Yang tadi?"
"Iya, kayaknya tadi ucapan gue keterlaluan, gue tadi_"
"Nggakpapa kak"
Angkasa diam, ia menoleh, menatap wajah Raya dari sisi samping, anak itu menunduk dengan sudut bibir sedikit naik.
Raya menoleh.
Netra mereka bertemu.
Angkasa menelan salivanya dengan susah payah.
Raya menaikkan sudut bibirnya dengan sempurna.
"Gue paham"
Bukannya merasa lega justru Angkasa semakin merasa bersalah, ia menunduk.
Raya sadar kalau Angkasa masih merasa bersalah, tangan kirinya terulur untuk membungkus tangan kanan Angkasa.
"Gakpapa kak..., setiap orang pasti pernah marah dan punya hak untuk marah, lo juga ada hak untuk nggak suka, keren kalau bisa ngutarain kalau lo nggak suka, karna nggak semua orang bisa kayak gitu kak"
Terangnya, ia rasa Angkasa terlalu keras pada dirinya.
Angkasa yang mendengar hal tersebut merasa lebih baik sekarang, ucapan Raya ada benarnya juga, tapi...
"Makasih" Ucapnya.
Raya tersenyum lebar.
"Sama-sama"
Tak lama makanan mereka datang.
ㄱㄱㄱ
"Aduh...., gimana nih kak?, bilang apa gue nanti sama ortu gue?"
Raya sibuk mundar mandir di hadapan Angkasa.
Mereka bahkan tadinya sedang menonton televisi sambil memakan cemilan, namun setelah ia melihat ada banyak panggilan yang masuk ia sedikit deg-degan.
"Lagian kenapa di matiin handphonenya?"
"Gak tau ih..., gue kan gak tau mereka bakal nyariin gue"
Raya yang sudah pusing dengan pikirannyapun menjatuhkan diri asal ke sofa.
"Tau ah pusing!"
Angkasa tertawa kecil sambil menyodorkan sebuah cokies ke mulut Raya.
Tentu Raya menerima, ia melahap cokie tersebut masuk.
"Lagi kok bisa-bisanya kepikiran gak bakal di cariin"
Raya menghela nafas, mengambil setoples kue dan membekapnya di pelukan, ia menatap layar televisi.
"Tau, lagian mau gue ada dan gak ada di rumah juga sama, kan gue juga cuma beban mereka"
Angkasa mengubah posisinya ke arah Raya, menunpu kepalanya dengan tangan di kepala sofa.
"Emang lo sebeban itu ya?"
Raya menoleh dengan tatapan sinis sekilas.
"Widih... Serem amat tu mata"
"lagian lo nya, seakan gue emang beban gitu" gerutu Raya kesal.
Eum!, kena lagi Angkasa.
Angkasa terkekeh kecil.
"Kan tadi lo yang bilang Aya..., lo yang cap diri lo beban"
Raya merengut.
"Emang gue se beban itu ya?"
"Eumh!, serah lo deh!, cape gue"
Raya tertawa kecil.
"Bodo lah, mau gue beban juga bukan gue yang nanggung"
Angkasa refleks menoyor pelan kepala Raya.
"Ih!"
"Kayaknya emang otak lo rada sengklek"
"Gak jelas lo" Raya mengusap bagian yang Angkasa toyor, kemudian melanjutkan ritual makannya.
"Lagian prinsip idup lo gak ada yang jelas, kemarin mau jadi yang terburuk, sekarang mau jadi beban"
Mendengar itu Raya langsung menatap Angkasa tajam.
"Ih!, gue gak bilang gitu ya!, gue bilangnya kalau gak bisa jadi yang terbaik"
"Tapi lo bilangkan kalo gak bisa apa?"
"Tapikan berusaha dulu jadi yang terbaik kak...!"
"Tapi bisa gak?!"
"Loh?!, lo ngeremehin gue hah!"
Angkasa berdecak, mengapa jadi nyambung kesini?.
"Kok ngeremehin sih!, bukan gitu loh..."
"Tau ah!, lo mah ngeremehin gue!, jahat lo" melempar bantal le arah Angkasa kemudian masuk ke dalam kamar.
Angkasa sengaja menyiapkan kamar tamu untuk Raya tadi, ia menghela nafas pasrah.
Ia berjalan menghampiri
"Aya..."
Brak!!
Suara bantingan pintu terdengar nyaring sampai Angkasa mendesis.
Ia menatap pintu yang tertutup rapat itu, tak menyangka kalau anak itu bisa merajuk sampai membanting pintu.
Angkasa berjalan mendekati pintu.
Tok-tok-tok!
"Aya..."
"Sono lo!"
"Gue gak niat ngeremehin lo kok"
Bruk!
Angkasa sedikit terkejut, sepertinya anak itu melempar bantal ke arah pintu, ia jarang mendapatkan kondisi ini, jadi sekarang ia harus apa?.
"Jangan lupa ganti baju ya, itu baju sama yang lainnya udah gue siapin"
Di sisi lain...
Raya dari dalam mendengar hal itu langsung terkejut.
Tunggu,
Apa yang Angkasa maksud dengan lainnya.
Ia beranjak turun dari kasur dan melihat di meja ada Tote bag, ia menghampiri dan membukanya.
Seperti apa yang ia pikirkan, ia terkejut melihat yang ada di dalamnya, wajahnya memerah seketika.
Ada pakaian tidur dan...., pakaian dalam di dalamnya.
"Aya..."
Raya menoleh ke pintu, ia berjalan dan membuka sedikit pintu tersebut, ia bahkan hanya melihat Angkasa dengan sebelah matanya.
"Lo besok sekolah kan?"
Angkasa tersenyum manis.
"Iya, nanti bareng sama lo, besok bangun pagi biar bisa pulang dulu ganti baju"
Raya mengangguk.
"Makasih" kemudian kembali menutup pintu kembali.
Di luar Angkasa cukup bertanya-tanya karna merasa ada yang salah dengan warna kulit Raya.
'Merah gak sih warnanya?, apa dia alergi?, ah tapi tadi kayaknya baik-baik aja'
Agak mengkhawatirkan sebenarnya, namun...
'Ah firasat gue doang kali ya'
Kemudian pergi dari sana, ia juga bersiap untuk tidur sekarang.
*
*
*
"Lagi-lagi karna dia, makasih udah bantu gue untuk sembuh dari keadaan".
*
*
*