Reytha's Destiny

Reytha's Destiny
Aksi Balas Dendam



Pagi ini, meja makan itu tampak diramaikan oleh keluarga besar Alejandra. Reyhan duduk di samping Abrisam --Ayahnya, sementara di seberangnya ada Sella --Adiknya, dan di samping Gadis itu ada Lavina --Bundanya.


Mereka sibuk menikmati sarapan masing-masing, tanpa lupa juga diselingi beberapa percakapan ringan.


"Baik, Ayah. Hari ini, aku mungkin akan ikut olimpiade lagi," balas Sella sembari kembali memasukkan potongan roti ke mulutnya.


"Hm. Pertahankan selalu. Ayah akan menambah jajan bulananmu jika kau berhasil meraih juara," ujar Abrisam tersenyum bangga. "Bagaimana denganmu, Rey? Apa kau sudah sedikit mengurangi kebiasaan membolosmu?" tanyanya lagi, sembari berpindah melirik Reyhan.


Reyhan menoleh kemudian menggeleng pelan. "Selalu masih."


"Rey? Ayah dan Bunda sudah sering bilang agar kau menguranginya, kan? Jangan terlalu menyepelekan, Sayang. Tidak ada yang tahu bagaimana hidupmu di masa depan jika kau terlalu santai dalam mengambil tindakan."


Reyhan langsung meneguk segelas susu di tangannya tatkala Lavina mulai mengoceh. Jika sudah seperti ini, maka ia harus segera berangkat saja agar kupingnya tidak sampai penuh dan panas. "Iya, Bunda. Akan kuusahakan," balasnya kemudian. "Sella? Cepatlah. Kita harus segera berangkat," lanjutnya lagi.


Setelah saling bersalaman dengan Abrisam dan Lavina, Reyhan lantas merangkul Sella hingga tiba di sisi mobil.


"Kak Rey? Sepulang sekolah nanti, kita pergi nonton bersama, ya? Ada film horror baru yang akan tayang!" ujar Sella bersemangat.


Reyhan menoleh sekilas sembari mulai melajukan mobilnya. "Tidak bisa. Kakak ada urusan sore nanti."


"Tapi ... eum, iya. Aku akan mengajak Fae saja." Sella menghela napas.


"Tidak usah. Kita akan pergi bersama nanti, tapi bukan hari ini," cegah Reyhan cepat.


"Aku maunya hari ini saja. Lagi pula bersama Fae, kok. Aku tidak akan pulang terlalu mal-"


"Jangan bandel, Gisella. Sekali tidak, tetap tidak."


Sella menghela napas. Nada suaranya memang terdengar datar, tapi ... itulah Reyhan. Jika Pria itu sudah sampai menyebut nama panggilannya secara lengkap, maka artinya memang sudah mutlak. Andai saja tidak sedang berangkat ke sekolah, maka ia akan menggunakan senjata menangisnya saja agar bisa dibiarkan.


Beberapa menit berlalu, Reyhan menepikan mobilnya tepat di depan gerbang Sekolah Menengah Pertama unggulan tersebut. Setelah membiarkan Sella mencium punggung tangannya, ia menyaksikan Gadis itu bergegas keluar dari mobil hingga benar-benar lenyap dari pandangan. Tapi, saat baru niat melajukan mobil kembali, sesuatu di seberang sana berhasil menarik perhatiannya.


Reyhan terdiam beberapa saat. Berusaha mengingat-ingat tentang Gadis yang merasa pernah ia temui sebelumnya itu.


"Kak Rerey?!"


Selain merutuk dan langsung menaikkan kaca mobilnya, Reyhan tak bisa apa-apa. Salahnya juga, sih, menyempatkan untuk mengingat Gadis gila yang bahkan sudah repot-repot menghampirinya ini.


"Kak Rey?! Kak?! Jangan naikkan kacanya, dong! Sebagai orang yang saling mengenal, kita itu harus selalu menyempatkan untuk bersapa!" teriak Atha dari luar jendela.


Reyhan memerhatikan raut memelas Atha dari dalam mobil. Gadis ini ... mengapa terlalu bersusah payah, sih? Sudah tahu tubuhnya pendek, masih juga berusaha berjinjit dan mengintip begitu.


"KAK?! Ayolah! Turunkan kacanya!"


"Bel sudah hampir bunyi, tahu! Setidaknya kita bisa saling menyapa saja, dan setelah itu kau bisa pergi!" Atha kembali berteriak dan mengetuk-ngetuk jendela dari luar.


Merasa tidak tega, Reyhan akhirnya menurunkan kaca mobil hingga setengah.


"Lagi, dong, Kak! Masa, sih, aku hanya melihat rambutmu saja? Kita perlu bertatap mata jika akan saling menyapa!" teriak Atha untuk yang ke sekian kalinya lagi.


Karena muak sekaligus merasa membuang waktu, Reyhan akhirnya menurunkan kaca hingga tak tersisa. Pemandangan wajah ceria Atha dari luar langsung saja menyambut, dan itu sungguh membuat risih hingga ia tak bisa menahan gairah untuk tidak mendorong kepala Gadis itu menjauh.


"Aw, Kak! Sakit, tahu!" keluh Atha sembari menyentuh keningnya sekilas.


"Sudah, kan? Sana, menjauh. Jangan membuang waktuku." Reyhan berniat menaikkan kaca mobilnya lagi, tapi jari-jari mungil Atha langsung datang menghalangi.


"Ck! Gadis ini ...."


Atha menampakkan cengiran. "Jangan terlalu sombong, dong, Kak! Membuang muka saat bertemu kerabat atau kenalan itu adalah sebuah perbuatan yang tid- KAK REREY?! BERHENTI MENGATAIKU GADIS GI-"


Dengan sigap, Reyhan mendorong kepala Atha ke belakang, hingga tubuh Gadis itu ikut terdorong juga. Ini kesempatan, makanya, ia langsung melajukan mobilnya pergi, tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Kau memang gadis gila," gumamnya cepat.


"Kak Rerey, Kak Rerey. Sella saja bahkan tidak sampai selancang itu untuk mengubah-ubah namaku yang sudah terlalu keren," gumamnya lagi.


▪▪▪


Dengan tubuh yang saling berdiri di sisi mobil, Reyhan dan Alan tampak berbincang beberapa kali sembari menunggu Johan datang.


"Astaga! Ada apa dengan pipimu?" tanya Alan langsung.


Johan tersadar seraya langsung memegangi pipinya. "Benarkah? Aku tak merasakan apa-apa," balasnya.


"Memangnya kau habis apa?" tanya Alan lagi.


"Hale menampariku karena sudah lancang menciumnya," balas Johan menampakkan cengiran.


Alan telah tertawa. "Astaga! Hale benar-benar seperti kucing galak. Tanganmu saja bahkan sudah penuh cakaran."


"Ish! Diam kau, Sialan!" bentak Johan seraya menoyor kepala Alan pelan.


"Jadi Hale tidak ikut, ya?" celetuk Reyhan juga. Akhirnya.


"Dia tidak ingin menurut, jadi aku memutuskan untuk menyuruh orang-ku saja agar terus mengawasinya," jelas Johan seraya menyusul masuk ke mobil.


"Pastikan Pria itu benar-benar kapok mencari masalah denganmu." Reyhan mulai melajukan mobilnya.


Setelah beberapa lama membelah jalan, ia tampak membelokkan mobilnya di sebuah jalan menuju gedung-gedung tua. Mereka sudah berjanji akan bertemu di sana, dan sungguh, demi apa pun Reyhan benar-benar tak sabar lagi untuk segera melampiaskan dendam tertahannya.


"Ekhem. Bersiaplah," ujar Reyhan sembari mulai menepikan mobilnya tepat di depan salah satu gedung tua tersebut.


Selanjutnya, mereka bertiga bergegas keluar bersamaan. Johan, si Pria Sejati yang narsis, menyempatkan untuk berkaca dan menata rambutnya lebih dulu. Alan, si Pria sok tapi memang jago, membuka kancing seragamnya, kemudian ikut bercermin berusaha memasang tampang seram di wajah kalemnya. Lalu Reyhan sendiri, si Pria dingin yang memang sudah keren meski tidak harus berusaha, hanya memandangi keduanya dengan napas berat yang beberapa kali ia embuskan. "Apa kalian berdua hanya kemari untuk terlihat keren begitu? Hey, Johan?! Kau yang harusnya paling antusi-"


Bugh!


"Iya, Sayang. Aku sudah siap, kok. Ayo!"


Reyhan memegangi tulang pipinya pelan, sembari menyaksikan kedua Pria tadi berjalan lebih dulu. "Brengsek!" teriaknya kesal, kemudian ikut menyusul berlari juga.


Selanjutnya, mereka bertiga mulai menyusuri anak-anak tangga menuju lantai dua. Kemudian tiga, empat, lima, hingga akhirnya ... rooftop.


"Fito dan sampah-sampahnya, ayo keluar, BRENGSEK! Tunjukkan nyali kalian! Whoooooo!" Alan berteriak lantang, sembari tubuhnya yang berputar-putar dan kepalan tangannya melayang-layang di udara.


"KELUAR, BRENGSEK!" teriak Johan juga. Untuk suasana ini, raut wajah Pria itu tampak sangat serius. Netra coklat gelapnya ia sapukan ke seluruh penjuru rooftop, sembari kedua tangannya tampak mengepal di sisi tubuh.


Reyhan masih betah berdiri di pintu pembatas dan hanya mengedarkan pandangan ke sekitar dengan sorot datar. Hingga tiba-tiba ... sebuah tendangan keras langsung menghantam punggungnya dari belakang.


Alan dan Johan berbalik bersamaan. Meski sedikit kaget dengan posisi Reyhan yang sudah tersungkur di lantai, mereka berdua tetap lebih memilih langsung menghajar kelima Pria-pria pengecut sialan itu dengan emosi yang memang sudah menggebu-gebu.


Johan melawan tiga Pria sekaligus, sedangkan Alan adalah sisanya. Mereka saling menghantam. Melayangkan kepalan tangan, menendang, dan menyempatkan untuk mengelak dari serangan.


Menyaksikan itu, Reyhan berusaha bangkit agar kedua sahabatnya tidak terlalu kesusahan lagi. Terlebih setelah mendapati salah satu musuhnya mengeluarkan benda tajam, ia langsung berlari, kemudian menendang tangan Pria itu hingga pisau tadi terlempar jauh.


"DASAR BRENGSEK! DI MANA MALUMU SEBAGAI SEORANG PRIA?! HUH?! BANCI SIALAN!" Alan kembali berteriak lantang, kemudian menendang dada Pria yang memegang pisau itu hingga tubuhnya terpental jauh. "KAU TIDAK TERLALU KUAT UNTUK MELAWAN KAMI, YA?! HUH?! MAKANYA HARUS PAKAI SENJATA TAJAM BEGITU?!" teriak Alan lagi.


Kelima Pria tadi sudah berhasil mereka buat terkapar. Johan sibuk menangani tiga orang Pria dengan tendangan. Lalu Reyhan sibuk meninjui wajah Fito dengan segenap kekuatan, dan Alan sendiri masih tampak sibuk menoyor-noyor kepala Pria tadi dengan mulut yang menggerutu.


"Johan?"


Semua Pria di atap gedung itu menoleh sekaligus. Terlebih dengan Johan, tentu saja. Bagaimana bisa Hale-nya ada di sana di waktu yang bahkan sedang sangat buruk-buruknya itu? Belum lagi dengan Fito dan keempat temannya yang kini telah mereka buat terkapar. Sungguh, ia yakin semuanya adalah jebakan. Fito sialan itu pasti sengaja menyusun semuanya hanya agar ia dan Halsey jadi bermasalah.


"Kau benar-benar mengabaikan janjimu." Halsey langsung berbalik pergi dari sana.


Sedangkan Johan, Pria itu kini sudah mengeluarkan berbagai macam umpatan seraya terus menggeram gemas. Tak sampai di situ, matanya juga ia alihkan hingga menggapai Fito, menghampiri lalu menginjakkan kaki berbalut sepatunya pada tubuh Pria itu dengan sangat brutal. "SIALAN! SIALAN! ********, KAU


BRENGSEK!" Johan membungkuk lalu mencengkram kerah seragam Fito. "Aku masih akan memukulimu nanti, mengerti?"


Bugh!


Setelah melayangkan sekali pukulan, Johan berlari menyusul Halsey yang entah telah tiba di mana. Sementara Alan dan Reyhan, kedua Pria itu kembali melanjutkan serangan masing-masing. Kembali menendang, menginjak, lalu meninju berkali-kali, dan baru berhenti setelah mendapati kelima korbannya sudah memar-memar dan berdarah-darah.


"Ingat, ya, Brengsek! Kalian semua belum bebas!" teriak Alan menggebu-gebu, sebelum akhirnya langsung menarik Reyhan pergi dan menyusul Johan.


❀❀❀