
“Hm. Semoga benar-benar langgeng saja.”
Setelah beberapa lama perjalanan, mobil Alan tampak menepi perlahan di sebuah gang jalan kecil. Keduanya bergegas turun. Mulai berjalan beriringan menuju pantai, di mana sosok Reyhan terlihat jelas tengah berdiri sendirian.
“Apa Kak Rerey tidak akan marah jika tahu aku ikut?” tanya Atha ragu-ragu.
Alan menoleh. Menunduk sedikit, sembari menyempatkan untuk mengusap rambut Atha pelan. “Tidak akan. Tenang saja.”
Ponsel Alan yang tiba-tiba berdering membuat semua orang mengalihkan fokus, termasuk Reyhan sendiri.
“Iya, Sayang. Aku sudah di belak-“
“Lama sekali, Brengsek! Kau tahu ini sudah hampir gelap!” potong Reyhan langsung kesal, sebelum akhirnya kembali sibuk melubangi tanah lagi.
“Aku habis menjemput Atha. Tapi sebelum itu, aku juga membantunya berjualan, makanya lama,” jelas Alan sembari mulai bersiap bekerja juga.
Sementara Atha, Gadis itu kini berdiri memandangi keduanya bergantian.
“Lagian untuk apa juga kau menjemput Gadis ini? Memangnya bisa membantu, apa?!”
Alan yang kini tampak sibuk mengikat dua buah tongkat menoleh sekilas. “Berisik, deh, Rey! Memangnya apa lagi jika bukan untukmu? Kau merindukannya, buk- BRENGSEK! Kau mau membuat kepalaku pecah, ya?!”
Tanpa mengindahkan bagaiamana Alan meringis gara-gara sebuah lilin yang ia lemparkan ke kepala Pria itu tadi, Reyhan malah semakin berdecak kesal. “Masalahnya aku tidak bawa kacamata, Bodoh! Aku tidak akan sudi jika Gadis itu sampai lancang membaca pikiranku lagi!”
Atha ... menunduk. Merasa bimbang antara harus membalas, atau tetap diam saja atas perkataan Reyhan.
“Ck! Sudah, deh, Rey! Cepat selesaikan saja,” balas Alan mulai kesal.
Selanjutnya, kedua Pria itu kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tanpa pernah terjadi lagi pertengkaran atau perdebatan kecil. Karena melihat lilin-lilin masih terkumpul rapi di sampingnya, Atha berinisiatif untuk bangkit dari duduk, dan membantu meletakkan lilin-lilin itu ke lubang-lubang yang selesai Reyhan buat.
“Setidaknya aku bisa membantu dengan cara ini, Kak,” ujarnya tanpa melirik Reyhan.
Reyhan sendiri hanya menoleh sekilas, tidak niat menanggapi. Setelah merasa tugasnya selesai, ia lalu berjalan santai ke tepian pantai, lalu terduduk pelan menghadap ke arah matahari yang sebentar lagi tenggelam.
Diam-diam, Atha mengekori dari belakang. Bahkan, dengan tanpa ragu-ragunya, ia langsung mengambil tempat untuk duduk di samping Reyhan, lalu setelahnya ikut memandang ke arah matahari sembari tersenyum tipis.
“Mumpung perasaanmu sed- AW! Sakit, Kak Rerey!”
Bukannya merasa kasihan, Reyhan bahkan semakin mendorong wajah Atha menjauh saja, agar Gadis itu batal menoleh lalu menatapnya dengan lancang lagi. “Jangan berani menatapku!” gumamnya mengancam.
Atha meringis, sembari mendorong tangan kekar Reyhan menjauh. “Tapi apa harus sampai sebegitu sadisnya, ya?” desisnya kesal.
“Jangan merusak mood-ku, deh! Pindah saja jika kau tidak bisa diam!” bentak Reyhan mulai geram. Padahal, ia sudah sangat berbaik hati karena tidak sampai menendang Gadis Gila itu menyingkir dari sampingnya.
“Iya, Kak. Maafkan aku.” Atha berdehem sembari pandangannya yang ia lempar ke arah barat.
Sesaat, suasana jadi sangat tenang.
“Aku tahu, jika sejak hari di mana aku lancang membaca pikiranmu, mulai hari itu juga kau semakin berusaha menghindariku. Mulai sejak hari itu, kau mulai menampakkan perasaan bencimu secara terang-terangan, bahkan sampai menampakkannya lewat tindakan kasar.” Atha menjeda. “Sejak awal mendekatimu, aku tahu kau memang type manusia yang tidak suka basa-basi. Ketus. Cepat marah. Tapi kau tahu, Kak? Aku selalu merasa jika kau bisa jadi orang yang sebaliknya jika sudah berhasil disentuh. Cara bagaimana kau berusaha meredam emosi saat aku berceloteh, itu jelas membuktikan bahwa kau masih bisa mengendalikan diri dengan baik,” lanjutnya lagi.
“Sebabnya ..., aku ingin diberi kesempatan sekali saja. Diberi maaf atas semua kesalahan yang telah kuperbuat, ataupun kesempatan untuk mulai menata sikap.”
“Aku akan berusaha agar kau bisa menyayangiku, Kak. Aku akan berusaha menyentuh sisi bekumu, agar kau bisa memperlakukanku seperti Sella meski hanya seperempatnya.”
“Jika suatu hari berhasil, maka ..., aku akan berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan kalian bertiga. Aku akan mengganggap pertemuanku dengan kalian sebagai hal paling indah dalam hidup, yang cukup untuk menutupi segala takdir buruk yang kupunya.”
“Sekali lagi, aku akan berusaha membuatmu menyayangiku, seperti bagaimana kak Alan dan kak Johan memperlakukanku,” ucapnya sekali lagi, sembari napas yang perlahan ia tarik banyak. “Bisa, kan, K-“
“Atha? Apa yang kaulakukan di situ sendirian? Ayo, kita pulang sekarang. Sudah hampir gelap.”
Ha??
Atha mengerucutkan bibir tatkala mendapati kenyataan bahwa dirinya hanya duduk dan bicara sendiri sejak tadi. “Ish! Kak Rerey memang menyebalkan!” gerutunya sembari bangkit dari duduk, lalu meraih cepat uluran tangan Alan.
▪▪▪
Sesuai rencana, maka kini, kediaman keluarga Bamatara sudah dimuat oleh beberapa orang-orang spesial dalam hidup Halsey.
Ada banyak sekali balon. Bertebaran di lantai, dan lainnya lagi mengambang di udara. Di dinding juga banyak sekali yang tampak menggantung, bahkan rangkaian balon yang bertuliskan nama Halsey, tak lupa juga usia barunya.
“Aku tidak sabar lagi,” bisik Atha pada Alan.
Pria yang kini duduk tepat di sampingnya itu langsung menoleh. “Sebentar lagi, Sayang. Oh, ya. Kata Johan, dia ingin bicara denganmu. Ini.”
Atha menerima ponsel yang diulurkan Alan tadi, kemudian menempelkannya di kuping.
"Halo?"
"Halo, Kak! Aku merindukanmu!”
"Iya, Sayang? Ada apa?"
"Aku merindukanmu, Kak!” ulang Atha sekali lagi.
"Hah?! Astaga, Atha. Kau di mana sekarang?!"
Atha mengernyit bingung. “Kak Johan, kok, tidak nyambung, sih?"
"Baiklah. Tunggu kakak ke sana, ya!"
“Apa? Ke sana di ma-"
Tett!
Dengan perasaan bingung yang masih mendominasi, Atha mengembalikan ponsel Alan. “Kak Johan aneh. Dia berbicara tidak nyambung, tadi,” ungkapnya.
Alan terkekeh. “Hahah! Mungkin itu bagian dari rencananya juga.”
“Ah, iya juga. Mungkin,” gumam Atha kemudian.
Setelah itu, beberapa dari mereka mulai saling sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk berbincang, dan ada juga yang sibuk bermain ponsel, seperti Reyhan.
Sementara Atha yang sejak tadi hanya duduk diam saja, kini mengalihkan pandangannya ke arah sosok Pria yang tampak duduk terpisah dari yang lain. Pria itu melihat-lihat ke sekitar dengan senyum simpul.
Bahkan ....
“Siapa dia?” gumam Atha lagi, heran.
“Pria itu?” Alan menyahut. “Namanya Sam. Pacarnya Baila,” lanjutnya.
Meski sedikit penasaran, Atha memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi. Ia akan mengatakan hal ini pada Johan secepat mungkin. Secepat mungkin, agar hubungan mereka nanti tidak berpotensi dirusak oleh yang niat merusak.
“Sayang? Bukakan pintu untuk Johan. Dia sudah datang,” ujar Mahesa pada Shiren.
Setelah pintu terbuka, semua orang sontak melirik Johan yang kini terlihat gelagapan. Entah terlalu panik atau bingung hendak bagaimana, jelasnya ....
“Cep-cepat bersiap! Hale akan kemari sebentar lagi!” Ucapan Johan sontak membuat semua orang menoleh dan bergerak panik. Atha, Alan, Reyhan, juga Pria bernama Sam tadi langsung berdiri berjejer, di mana kue ulang tahun bermotif indah itu tergeletak.
Sementara Johan, ia sengaja bersembunyi sampai Halsey datang dulu. Lalu Mahesa dan Shiren, mereka bersiap mengejutkan di pintu, dengan balon bulat yang saling mereka genggam.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ceklek!
"HAPPY BIRTHDAY, HALEEEEE!"
Seperti dugaan, Halsey benar-benar terkejut. Gadis itu mungkin benar-benar tidak ingat dengan hari spesialnya sendiri.
"HAPPY BIRTHDAY, SAUDARIKU!" Baila berteriak sembari berhambur memeluk Halsey dari belakang.
"Happy birthday?" gumam Halsey masih tak percaya. Ia bahkan membiarkan Baila menariknya memasuki rumah seperti sapi.
Setelah tiba di dalam, semua orang langsung bertepuk tangan, lalu bersiap menyanyikan lagu ‘happy birthday’.
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU ... HAPPY BIRTHDAY TO YOU ... HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOU~"
"Terima kasih," balas Halsey dengan senyum bahagianya.
Sementara dari belakang, Johan tampak muncul dengan kekehannya yang siap lepas. "Dasar cuek! Ulang tahun sendiri saja tidak ingat."
Sontak saja Halsey menoleh ke arah suara. "Johan?"
Menyaksikan itu, Atha terikut mendongak menatap Alan dan Reyhan bergantian. Terlebih setelah Johan mulai mengusap pipi Halsey bergantian, sembari menatap Gadis itu dengan sorot bersalah.
“Mereka terlihat manis,” bisik Atha benar-benar bahagia.
"Maafkan aku, ya, Sayang? Aku sungguh tidak ada niat untuk membuatmu menangis," bisik Johan pelan.
"Kau jahat, Johan!" balas Halsey terdengar kesal, tapi lebih didominasi perasaan haru.
"Iya, Sayang. Maafkan aku. Aku sangat terpaksa melakukan ini."
"Jadi kau berbohong soal Atha?"
Atha terdiam. Lagi-lagi mendongak menatap Alan sekilas. “Mungkin kau benar, Kak,” ujarnya berbisik.
"Hehe iya. Kau tahu aku benar-benar tidak tenang saat kau langsung berlari keluar dari rumah. Untung saja aku teringat akan traumamu, makanya kupesankan taxi setelahnya."
"Pantas saja aku merasa heran, tadi."
"Kurasa cukup dulu bermesraannya. Hale? Cepat naik dan ganti pakaianmu." Baila langsung datang dan mengakhiri percakapan keduanya.
Atha terkekeh tatkala menyaksikan betapa merasa malunya Halsey. "Cepat, Kak Hale! Ganti pakaianmu, dan turun kemari," celetuknya tanpa malu.
Halsey menoleh kemudian melempar tatapan datar saja. Meski tahu jika dirinya lagi-lagi disebut sok akrab oleh dua orang berbeda --Reyhan dan Halsey--, Atha tetap saja betah tersenyum. Ia terlalu bahagia, jadi biarkan dulu saja.
"Cepat ganti pakaianmu, Sayang. Jangan lupa untuk mengenakan dress yang kubelikan di mall hari itu, ya?"
Setelah mendengar suara Johan juga, Halsey menoleh kemudian mengangguk. Detik berikutnya ia mulai berjalan ke arah juntaian tangga, melanjutkan langkahnya lagi hingga perlahan hilang di lantai dua.
Sembari menunggu Gadis itu kembali, Atha langsung menghampiri Johan dengan senyum mekar. “Selamat, Kak! Aku bahagia atas dirimu!” ujarnya sembari berhambur memeluk Johan.
“Terima kasih, Sayang. Ini juga berkat bantuanmu,” balas Johan tak kalah bahagianya.
Perlahan, Atha menarik tubuhnya dari dekapan Johan seolah hendak mengatakan sesuatu. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan, Kak. Tapi ... bukan sekarang.”
Johan mengangguk setuju. Setelah beberapa detik berikutnya, semua orang terdengar ramai gara-gara menyambut kedatangan Halsey yang kini mulai menyusuri anak-anak tangga dengan dress indah membalut tubuh rampingnya. Bahkan, Atha yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum kagum.
"Aku benar-benar penasaran dengan gaya kalian dulu saat membuat Hale. Astaga, calon istriku. Kau cantik sekali, Sayang.” Semua orang sontak menoleh tatkala mendengar penuturan Johan barusan. Entah sadar atau bagaimana, jelasnya Pria itu ditertawai geli.
"Johan? Jaga omonganmu," tegur Halsey merona.
Sementara Johan, Pria itu tampak baru saja sadar jika omongannya barusan terdengar tidak sopan. "Astaga maafkan aku, Om, Tante. Sungguh, tadi itu benar-benar refleks," ujarnya sembari menatap Mahesa dan Shiren bergantian.
"Iya, Nak. Jangan dipikirkan," balas Mahesa santai.
"Baiklah! Sekarang waktunya, Hale! Ayooo!" Teriakan Baila kembali membuat suasana bersemangat. Semua orang lantas berjalan mendekat, seolah tak ingin melewatkan moment di mana Halsey akan meniup lilin, lalu memotong kue.
"TIUP LILINNYA, TIUP LILINNYA, TIUP LILINNYA SEKARANG JUGA, SEKARANG JUGA, SEKARANG JUGA~"
Halsey memejam lalu mulai meniupi lilin-lilin di atas kuenya. Sorak dan tepuk tangan langsung saja terdengar memenuhi ruangan, hingga Mahesa yang terlalu terharu pun tak bisa menahan untuk segera mengecup puncak kepala Putri-nya. "Selamat ulang tahun, ya, Sayang. Semoga selalu bisa membanggakan Ayah dan Ibumu," ujarnya sembari menarik Halsey dalam dekapan.
Menyaksikan itu, Atha lagi-lagi tersenyum. Dari sekian hidup yang jauh lebih baik dari dirinya, ia akan selalu merasa lebih iri jika menyaksikan pemandangan serupa ini. Kasih sayang oleh kedua orang tua, ia berharap bisa merasakannya suatu saat nanti.
"Iya, Ayah. Terima kasih, aku menyayangimu," balas Halsey.
Setelah memotong kue, kini waktunya suap-suapan. Suapan pertama Halsey berikan pada Mahesa, lalu Shiren, Baila, dan ... Johan, tentunya, kemudian Alan, Reyhan, Sam, dan ... Atha.
Atha tetap betah tersenyum, meski merasa sedikit kecewa. "Wah, Aku mendapat suapan paling terakhir, ya. Tapi tidak masalah, Kak. Aku tahu kau sedikit membenciku karena kejadian di mall hari itu. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tak ada niat untuk membuatmu cemburu, tapi Kak Johan yang memaksa. Jadi sekali lagi, aku minta maaf, Kak. Selamat ulang tahun, ya. Semoga usiamu bisa membawa berkah, senantiasa dalam lindungan Allah, dan ... langgeng dengan Kak Johan sampai ajal menjemput." Atha berbicara panjang lebar kemudian berhambur memeluk Halsey.
Meski tahu jika Halsey tidak terlalu mengerti dengan ucapannya barusan, tetap saja, ia merasa bahagia hanya karena diberi kesempatan untuk bisa memeluknya.
"Iya, terima kasih, ya," balas Halsey terdengar ramah.
❀❀❀