Reytha's Destiny

Reytha's Destiny
Gara-Gara Sam



“Baiklah,” balas Atha akhirnya.


Setelah berjalan menjauh dari kedua manusia tadi, ia menyempatkan untuk sesekali menoleh. Perasaannya tidak enak. Gerak-gerik Sam tadi terkesan mencurigakan, tapi tetap, ia tak bisa membaca apa-apa gara-gara kaca mata yang pria itu kenakan.


“Tidak, tidak. Aku tidak akan meninggalkan Kak Hale bersama Pria itu,” putusnya mantap.


Atha lantas berlari untuk mencari tempat bersembunyi agar bisa mengintip sekaligus menguping percakapan antara Halsey dan Sam.


“Kita perlu bicara,” ujar Sam setelah beberapa lamanya mereka saling diam.


“Pergi. Jangan membuat masalah di tempat ini,” balas Halsey tanpa melirik.


Tapi, Sam terlihat tidak peduli. Pria itu bahkan langsung berjongkok di depan Halsey, kemudian mengulurkan tangan untuk membelai wajah Gad-


“KAU GILA, SAM! Jangan menyentuhku!” teriak Halsey cepat, sembari tubuhnya yang langsung ia bawa bangkit.


“Aku hanya ingin bicara, Hale. Kau tahu aku merindukanmu.”


“Pergi, Sam. Kumohon jangan membuat masa-"


"Aku sudah terlalu sabar, Hale. Kau tahu, 'kan? Telah sejak lama aku mencintaimu? Tapi kau ... kau bahkan memilih pindah sekolah hanya untuk menghindariku,” potong Sam dengan nada suara yang sarat akan sakit.


Sementara Atha yang mendengar itu hanya bisa bergumam tidak percaya. Maksudnya ... mengapa ia harus memacari Baila jika Halsey yang ia cinta-


“Aku sudah melakukan segala cara, Hale. Aku bahkan rela memacari saudarimu sendiri hanya agar kita bisa tetap bertemu."


“APA ...?!” Atha menutup kedua mulutnya shock. Tidak, tidak. Ia harus segera bertindak sebelum ada orang lain yang datang.


"Kau gila! Lepaskan tanganku!" Halsey kembali berteriak.


"Jika aku tak bisa memilikimu, maka pria mana pun juga takkan kubiarkan memilikimu!"


"Aku sangat mencintaimu, Hale. Lalu mengapa kau tak pernah berusaha untuk berlaku sama? Apa yang kurang dariku, huh?! Apa yang Johan sialan itu miliki dan aku tak memilikinya?"


Plak!


"Jangan menyebut Johan dengan sebutan itu! Kau lebih cocok menyandangnya," balas Halsey dingin sembari menyentak tangan Sam kasar kemudian berbalik pergi.


"Dan ... oh, ya." Halsey kembali berbalik menatap Sam. "Kau hanya terobsesi padaku, jadi jangan pernah menyebutnya 'cinta'. Aku jijik!"


“Hale?! Dengarkan-"


“Cukup, Kak Sam! Apa yang kaulakukan?!” Atha langsung datang menginterupsi, sembari menatap keduanya bergantian dengan sorot kecewa.


“Atha ...? Ini ... kumohon jangan salah paham du-"


“Tenang, Kak Hale. Aku mendengar semuanya, kok,” potong Atha cepat. “Aku hanya tidak tega jika kak Baila sampai tahu mengena-"


Bugh!


Keduanya hanya bisa bertampang shock tatkala menyaksikan tubuh Sam terpental ke tanah karena tendangan yang Johan daratkan di punggungnya.


"Shit! Apa yang kau la-"


Bugh!


Johan mendudukkan dirinya di atas perut Sam kemudian menarik kerah kemeja Pria itu erat. "Akhirnya kebohonganmu terungkap juga. Dasar ********, kau!"


Bugh!


"Pukulan tadi itu karena kau telah berani menyukai Hale-ku."


Bugh!


Bugh!


"Yang barusan adalah karena kau telah menyakiti Baila. Dia tulus mencintaimu, Bodoh! Kau harusnya bersyukur banyak karena mendapatkan Gadis secantik itu dengan tampangmu yang pas-pasan!"


"Jaga ucapanmu, Sialan! Lepaskan aku!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Johan?! Apa yang kaulakukan?!" teriak Halsey panik, tapi tetap tak punya keberanian untuk mendekati keduanya.


Hampir semua orang sudah berkumpul mengelilingi perkelahian kedua Pria itu. Tak satu pun yang berniat melerai, bahkan hanya diam saja menyaksikan.


"Dan yang barusan lagi ... karena aku ingin kau mengenalku lebih. Aku tahu kau adalah temannya Fito, dan aku tahu bahwa kau juga termasuk salah satu Pria yang ikut mengeroyokku dulu. Benar, tidak?"


Bugh!


"BENAR, TIDAK?! JAWAB PERTANYAANKU, BRENGSEK!"


Saking tidak pernahnya ia mendengar Johan berteriak, Atha sampai menangis ketakutan sebelum akhirnya Alan datang kemudian mendekapnya erat.


“Kak Alan ...? Hiks. Kak Johan ....”


“Iya, Sayang. Jangan menangis,” balas Alan berusaha menenangkan.


"Johan ... kumohon ... hiks. Cukup. Berhenti memukulinya ...," lirih Baila sembari berhambur memeluk Johan dari belakang.


Perlahan, Johan melepas cengkeraman tangannya di kerah kemeja Sam kemudian berbalik menghadap Baila. Tangannya terulur mengusap pipi Gadis itu pelan. Memberikan senyum hangat yang menenangkan, kemudian menuntun agar Baila berdiri dari posisinya. "Kau itu cantik, Baila. Coba temukan pria yang bisa menghargai segalamu, jangan dengan Sialan itu."


Setelah itu, Johan tampak berbalik lalu membopong tubuh Halsey dan berjalan menjauh. "Sebaiknya batalkan perayaan ini dulu. Ayo kita pulang.”


“Ekhem.” Alan melepas dekapannya dari Atha, kemudian, “sekarang susul Johan dan Hale dulu, ya? Rey?! Ini, bawa Atha ke mobil.”


Tanpa memberi protes lagi, Atha langsung menurut kemudian memeluk lengan Reyhan erat. Ia tahu jelas apa tujuan Alan memintanya pergi lebih dulu. Pria itu tidak akan bisa puas jika bukan dirinya sendiri yang memukuli Sam secara langsung.


“Cepat lap air matamu,” ujar Reyhan datar.


“Hm? I-iy-“


“Lap saja, dan tidak perlu berbicara apa-apa. Mengerti?”


Dengan wajah polosnya, Atha lagi-lagi mengangguk. Ia menoleh ke belakang setelah merasakan derap kaki seseorang yang terdengar mengikuti. “Kak Alan?”


Alan mengangguk kemudian mendekat dan merangkul Atha. Setelah tiba di mobil, mereka mendapati Johan sibuk membasuh pergelangan tangan Halsey dengan sebotol air mineral. Tapi, ketiganya tidak ingin ambil pusing dulu. Mereka memutuskan untuk langsung duduk di jok masing-masing saja, sembari menunggu Johan selesai dengan kegiatannya.


"Selesai. Bergeserlah."


Setelah tersengar suara pintu mobil tertutup, Alan lantas melajukan mobilnya perlahan.


Suasana terasa sangat canggung. Hanya membiarkan lagu dari radio terdengar, begitu pun deru mobil yang mengalun pelan.


Cup!


"Maafkan aku, Sayang," bisik Johan setelah mendaratkan kecupan dalam di puncak kepala Halsey, hingga Atha pun turut menoleh sekilas juga.


"Setelah tiba nanti, kau langsung istirahat, ya? Lain kali jangan memaksakan diri lagi."


Halsey mengangguk pelan, sementara Atha yang masih diam-diam menyaksikan itu hanya bisa menelan saliva berat. Siapa pun memang akan luluh oleh sikap Johan. Terlalu lembut, dan romantis.


"Johan?"


"Ya, Sayang?"


Aduh! Atha jadi ikut baper.


"Sejak kapan kau tahu bahwa Sam juga ikut mengeroyokmu?"


"Sejak pertama kali bertemu dengannya di rumahmu."


"Tapi mengapa kau tak bilang?"


"Sama sepertimu. Aku juga berusaha menjaga perasaan Baila."


"Memangnya aku kenapa?"


"Jangan dipikirkan. Sekarang tidurlah. Sini." Johan menarik Halsey hingga bersandar di dadanya.


Setelah itu, tak pernah terdengar suara lagi sepanjang jalan. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing, bahkan hingga mobil Reyhan sudah mentok berhenti tepat di depan gerbang kediaman keluarga Bamatara.


▪▪▪


Brak! Brak! Brak!


“Buka! Buka pintunya!”


Dengan panik, Atha langsung bergegas mengenakan pakaiannya, kemudian lekas membuka pintu.


“Lama sekali, sih?! Sini, berikan uangmu!” Arman langsung menyambut, sembari telapak tangannya yang sudah terulur.


“Tidak ada, Pak. Ibu sudah mengambilnya kemarin,” balas Atha pelan.


“Kau mau jadi anak durhaka, ya?! Kau mau Bapak dikeroyok lalu mati hanya gara-gara utang?!” bentak Arman lagi.


“Tapi aku tidak berbohong, Pak. Ibu memang sudah mengambil-"


“CK! BERISIK KAU!” sergah Arman cepat, sebelum akhirnya mendorong Atha dan menerobos masuk ke kamar Gadis itu.


Atha berusaha bangkit. Mencegah Arman agar tidak jadi menggeledah lemari pakaiannya, sembari, “kumohon, Pak. Jangan mengambil uang itu! Aku janji akan memberi Bapak uang besok, tapi tidak sekarang! Itu modal untuk berjual-"


“Jadi anak itu jangan pelit-pelit! Dasar tidak tahu diri! Minggir!” Setelah mendorong Atha hingga terjatuh ke lantai semen, Arman lantas berlalu pergi tanpa rasa bersalah. 


‘Dasar tidak tahu diri!’


Entah mengapa ..., Atha merasa luar biasa sakit setiap mendengar kata itu dilontarkan orang lain untuknya.


Tidak tahu diri?


Bagaimana sebenarnya definisi tidak tahu diri itu? Harus seperti apa lagi ia menunjukkan bahwa ia tahu, mengerti, dan paham betul mengenai kedudukan dirinya?


“Aku tahu diri. Aku tahu jika kedudukanku dalam keluarga ini memang hanya sebagai anak pungut ...,” lirihnya tersenyum kecut.


Apa, sih, yang bisa ia tidak tahu? Kemampuan untuk bisa membaca pikiran orang lain bahkan sudah ia dapatkan sejak kecil. Kebenaran bahwa dirinya hanya anak pungut juga ia ketahui dari kedua orang tuanya sendiri. Lalu kurang tahu diri apa lagi? Ia bahkan rela jadi tulang punggung keluarga meski statusnya sendiri masih sebagai seorang pelajar.


“Kau ini tidak adil sekali, sih? Mana?! Kasih Ibu uang juga, dong! Masa hanya bapakmu saja?!”


Atha tetap terdiam di tempatnya. Menyaksikan dengan tenang bagaimana Salma menggeledah lalu mengambil beberapa lembar uang dari lemarinya, tanpa sedikit pun berniat untuk beranjak dan mencegah.


Biar saja. Setidaknya ..., ia masih punya beberapa sisa uang tabungan untuk modal dagangan besok. “Aku hanya berharap mereka bisa menaruh belas kasihan padaku meski sedikit, hiks ....”


❀❀❀