
Setelah membersihkan rumah sekaligus menyiapkan makanan tadi subuh, kini, Atha baru saja selesai mandi saat matahari sudah sangat meninggi. Ia bangun lebih telat hari ini, tapi meski begitu, tugasnya tetap ia kedepankan lebih dulu. Bagaimanapun, pukulan Arman saat ia lupa memasak hari itu sudah cukup untuk membuatnya benar-benar jera.
Setelah selesai berpakaian, Atha buru-buru mengambil sepedanya di samping rumah, kemudian mengayuhnya sekuat tenaga. Tidak ada berpamitan kepada kedua orang tua, sebab di jam begini, Salma dan Arman masih betah terlelap, dan hanya akan bangun setelah siang tiba.
"Ya, Allah! Buat Pak Ilham berhalangan datang hari ini agar kepalaku tidak sampai diblender! Aamiin. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri sendiri!"
Mengingat jarak rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah, maka kini, Atha sudah berhasil tiba tepat di depan gerbang.
"Selamat pagi, Kak Rerey! Maaf, ya. Hari ini aku tidak bisa menyapa panjang-panjang dulu! Aku sudah hampir tel-"
"Tunggu!"
Atha berhenti, kemudian menoleh pada Reyhan lagi. "Aku sedang buru-buru, Kak! Jika hanya untuk minta maaf, tidak perlu dipikirkan. Aku orang baik- mmmpphhh!"
"Kau harus menolongku, mengerti?" potong Reyhan cepat, sembari mulut Atha yang langsung ia bekap dengan sebelah tangan.
Sementara itu, Atha hanya bisa mengernyit. Aneh. Padahal, di mana-mana, orang yang meminta tolong itu mengajukan, bukan memutlakkan.
Setelah melirik sebuah tas mungil di genggaman Reyhan, Atha pun buru-buru mendorong tangan Pria itu, kemudian, "maafkan aku, Kak. Aku harus pergi dulu, ya. Pak Ilham bisa memblender kepalaku jika aku sampai terlam-"
"Jadi kau sudah berani membantah Kakakmu sendiri? Huh?!"
"Kakak ...?"
Reyhan mengangguk cepat. Berusaha tidak peduli lagi. "Iya. Aku Kakakmu, bukan? Ini. Bawakan ke kelas Sella, ya?"
Sembari menerima tas mungil yang disodorkan Reyhan barusan, Atha kembali mendongak guna membaca isi pikiran Pria itu sembunyi-sembunyi.
Panik. Reyhan hanya sedang panik, dan itu karena Sella. "Baiklah. Tapi ..., suatu hari nanti, setelah aku sudah berhasil membuatmu menyayangiku, tolong bersikap begini juga, ya, Kak. Bersikap panik dan rela melakukan apa pun, hanya demi diriku, aamiin."
Setelah menyaksikan Atha berlari menjauh dengan senyum riang, Reyhan buru-buru berbalik dan menghampiri mobilnya secepat mungkin. "Semoga saja ... gadis gila itu bisa amnesia, aamiin."
▪▪▪
"Dasar sialan! Memangnya kalian memukuliku berapa kali, sih? Ketampananku jadi berkurang, sekarang." Johan terus saja sibuk memandangi wajahnya di kamera ponsel, menggerutu kesal sejak tadi tanpa henti-henti.
Alan dan Reyhan yang mendengar itu hanya memilih tak menjawab bahkan telah berdecak kesal beberapa kali. Siapa juga yang sudi menjawab pertanyaan yang sama terus menerus? Melelahkan diri saja.
"Jika aku menebak Hale marah karena luka ini, sepertinya itu salah. Dia bahkan tak pernah melirikku barang sekali saja sejak tadi."
Ketiga Pria itu tengah berada di lantai rooftop, seperti biasa. Menghabiskan waktu bersama, atau mungkin merokok bersama-sama.
"Kalau begitu apa alasan Hale marah? Tidak mungkin hanya karena aku telat menjemputnya. Dia bukan type manusia seperti itu." Johan kembali bermonolog dengan aktivitasnya bercerminnya yang terhenti.
Alan dan Reyhan tidak ada yang menanggapi. Keduanya tetap sibuk menikmati rokok masing-masing.
"Argh! Ini benar-benar membuatku merasa gila. Kalian, sih! Mengapa juga harus memukuliku sampai separah ini?!"
"Hey, Bodoh?! Apa kau sadar sudah berbicara sendiri sejak tadi?!" teriak Alan benar-benar muak. Sejak tadi ia sudah sangat berusaha memendam, padahal.
"Kalau aku berbicara sendiri itu artinya kalian tak kuanggap ada. Aku masih waras, ya. Tutup mulutmu sebelum aku khilaf dan merobeknya!"
"Robek pantatmu?! Dasar Pria bodoh!"
Johan menggeram kesal sembari melempari kepala Alan dengan korek gas di tangannya. Entah mengapa kedua Pria di hadapannya itu sejak tadi sangat gemar mengabaikannya. Tak merasa bersalah sama sekali, padahal sudah jelas telah memukuli. Benar-benar sialan.
"Kau memang bodoh, Johan." Akhirnya, Reyhan pun menimbrungi.
"Kalian kenapa, sih?! Mengapa menyebalkan sekali?!" Karena kesal melamapaui batas, Johan memilih bangkit berdiri kemudian berlalu dari sana.
Sementara itu, Alan dan Reyhan langsung berpindah saling menatap. Keduanya juga terlihat pusing, tidak tahu harus bagaimana. Ingin menyalahkan kecerobohan Johan ..., tidak tega juga. Kalaupun mereka berada di posisi pria itu, pasti tindakan yang diambilnya juga persis sama. Mabuk.
"Bersikap saja seolah kita tidak tahu kebenaran tentang om Harris," ujar Reyhan kemudian.
Alan mengangguk. "Tapi aku tidak habis pikir, Rey. Om Harris terlalu keterlaluan."
"Hm. Poor Johan."
Setelah itu, keduanya betah menghening. Entah saling memikirkan apa, jelasnya, rokok yang dihisap dalam dan perlahan itu menampakkan jelas bahwa mereka sedang saling sibuk berpikir keras.
"Alan? Rey?!"
Suara Johan terdengar hingga Alan dan Reyhan sontak berbalik.
"Ada apa?"
Johan mengambil posisi duduk di sisi kanan Reyhan kemudian berpindah menatap Pria itu serius. "Apa yang aku lakukan saat kau mendapatiku di kelab semalam?" tanyanya.
"Kau sedang bercumbu dengan wanita."
"Astaga, Rey ...." Johan mengusap wajahnya gusar. "Jadi kau mengirimkan fotoku tengah bercumbu pada Hale?"
Reyhan jelas saja protes, tidak terima dituduh. "Kau gila, ya? Tentu saja tidak!"
Johan menoleh pada Alan. "Apa kau yang melakukan itu?"
"Demi junior-mu yang lotong itu, aku bersumpah tidak melakukannya," balas Alan tak kalah tajamnya.
"Kalau begitu siapa?!"
Tapi beberapa detik setelah itu, Reyhan langsung teringat sesuatu. Benar. Ia mengingat nama seseorang yang pantas dicurigai. "Atau ... Sam?"
"Benar-benar pria brengsek! Itu sudah pasti perbuatannya, Rey!" teriak Johan histeris, sembari tangannya yang mengguncang-guncangkan bahu Reyhan, kemudian lanjut ke Alan juga. "Satu-satunya yang menginginkan aku putus dengan Hale hanya brengsek itu. AARGHH!"
Plak!
"Kalau kesal, kesal saja! Jangan ikut memukuliku!" teriak Alan kesal.
Johan memegangi pipi kanannya lesu. Bagaimana sekarang?
"Itu salahmu, sih. Siapa suruh nekat mengunjungi tempat itu?" ujar Reyhan kemudian.
"Aku menyesal, Rey. Kau tahu perasaanku sangat kacau, semalam. Jadi bagaimana sekarang?"
Reyhan mengedikkan bahu. "Padahal kau mendapatkan Halsey itu sangat penuh perjuangan," balasnya santai.
"Benar. Hubungan kalian bahkan masih berjalan selama beberapa hari," timbrung Alan juga.
"Ayolah, jangan berkata seperti itu. Cepat berikan solusi, Rey! Alan?!"
Alan menghisap rokok yang terselip di jemarinya dalam kemudian menjentikkannya santai. "Cara satu-satunya adalah ... kau harus mengejar Hale lagi. Berjuang dari awal lagi, dan berjanjilah padanya untuk tidak mengulangi hal yang sama lagi."
Memangnya ada jalan lain?
▪▪▪
"Lagian ... kenapa sampai mabuk dan bercumbu, sih, Kak?!" Atha memandangi Johan dengan sorot sedih.
Seperti biasa, Gadis itu kini tengah berada di apartemen Johan bersama dua orang Pria lainnya. Duduk di antara Alan dan Johan, sementara Reyhan duduk terpisah di sofa sebelahnya.
Karena mendengar pertanyaan Atha bisa saja menambah suasana hati yang buruk bagi Johan, maka Reyhan pun buru-buru bangkit berdiri, kemudian, "aku pulang duluan dulu, ya. Sella sedang sendirian di rumah."
Johan mengangguk. "Baiklah. Hati-hati, ya. Aku ke kamar dulu," balasnya sembari berlalu pergi.
"Antar Atha sekalian, ya, Rey. Aku akan menginap di sini dulu," celetuk Alan juga, kemudian ikut menyusul Johan di kamarnya.
Sehingga ... jadilah kini tinggal tersisa Reyhan dan Atha yang hanya bisa terdiam bungkam.
"Masa iya, sih, aku harus mengantar Gadis Gila itu lagi?!" bisik Reyhan frustrasi. Saking frustrasinya, ia bahkan sudah kembali terduduk di sofa sembari rambutnya yang ia acak-acak kesal.
Ingin protes, tapi takut dituduh macam-macam lagi. Bagaimanapun, belakangan ini, hidupnya terasa lebih tenang karena tak pernah diledek punya perasakan pada Gadis itu. Hanya saja ... pantangannya terlalu sulit. Ia jadi tidak bisa memaki dan bersikap kasar lebih bebas lagi. Itu sulit, demi apa pun! "Memangnya orang tuamu tidak marah, ya, meski tahu kau pulang malam dan diantarkan oleh Pria terus?! Aku jadi berpikir kau ini Gadis tidak beres!"
Mendengar itu, Atha mengerucutkan bibir. "Kak Rerey jangan berkata seperti itu pada Adik sendiri," balasnya kesal. "Lagian ... aku menganggap kalian bertiga sebagai Kakak, kok. Lalu apa masalah- AW! RAMBUTKU KAK RER-"
"Sepanjang perjalanan nanti, jangan berani cerewet apalagi sampai menangis lagi, mengerti?" potong Reyhan cepat, sembari rambut ekor kuda Atha yang langsung ia tarik hingga Gadis itu ikut terseret.
Setelah masuk ke lift, Atha langsung mengangguk antusias tanpa protes. "Itu artinya ... kau menyayangiku, kan, Kak? Seperti kak Alan dan kak Johan, mereka juga tidak suka jika aku mena-"
"Diam, sebelum aku membenturkan kepalamu ke pintu lift!" ancam Reyhan sembari jambakannya di rambut Atha yang ia eratkan.
"Tapi kacamatamu ketinggalan di apartemen kak Johan, Kak. Aku bisa membaca pikiran-"
"CK, DIAM! Cepat, masuk!"
Brak!
Setelah menutup pintu dengan keras, Reyhan lantas mengitari mobil kemudian ikut duduk di jok kemudi.
"Kak Rerey? Pasangkan aku sabuk pengaman, dong! Kak Alan dan kak Johan biasa- AARGGHHHH! PELAN-PELAN, KAK RER- MMMPPPPPHHH!"
"Diam, atau aku tidak akan lepaskan!" Setelah mendapati Atha mengangguk keras, Reyhan lantas melepas bekapannya dari mulut Gadis itu, kemudian lanjut mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Atas dasar kepercayaan diri berlapis berapa, sih, hingga Gadis itu sampai lancang minta dipasangkan sabuk pengaman? Sella yang notabenenya adalah adiknya saja tidak pernah sampai sememuakkan itu!
"Kak Rerey?! Aku belum mau mati ...!" teriak Atha bergetar. "Pelan-pelan saja, Kak. Aku lebih suka yang pelan!"
Lagi-lagi, Reyhan menggeram kesal. "Kau serius mau membangkitkan sisi lainku, ya?! Sekali lagi kaubicara, aku serius tidak akan segan-segan membuangmu di jalan!" teriaknya muak.
"Tapi jangan balap-balap, Kak. Aku takut, hiks. Aku tak-"
"Astaga! Mengapa lagi kau menangis, Bodoh?! Cepat, telan isakanmu atau aku menepikan mobil sekarang!" potong Reyhan lagi, benar-benar sudah muak.
"Ya, Allah. Sadisnya ..., hiks," balas Atha pelan, meski pada akhirnya tetap menurut juga.
Setelah itu, tak ada lagi suara yang terdengar. Reyhan betah terdiam, dan Atha berusaha untuk tetap bungkam. Bagaimanapun ..., dibuang di tengah jalan terlalu mengerikan meski hanya dibayangkan. Atha tidak ingin pingsan atau sampai kencing di celana hanya gara-gara ketakutan.
Criiit!
Brak!
"Ya, Allah. Pasti benjol," gumam Atha pasrah. Setelah beberapa saat mengusap dahinya yang sempat terbentur ke dashboard mobil saat Reyhan mengerem brutal tadi, maka kini, Gadis itu sudah membalikkan badan perlahan, sembari tangan kanannya yang ia sodorkan. "Sebelum bergegas turun dari mobil, biasanya, aku akan menyalami kak Alan atau kak Joh-"
"Tidak perlu. Lebih baik keluar saja, dan lap ingus hijau menjijikkanmu itu!"
Dengan lesu, Atha menurut dan segera bergegas turun lagi. Memandangi beberapa lembar tisu di tangannya beberapa saat, kemudian berpindah pada mobil Reyhan yang kian melesat. "Kak Rerey memang gengsian. Ingin menyuruhku mengelap air mata saja harus sampai beralasan mengelap ingus hijau."
❀❀❀