Reytha's Destiny

Reytha's Destiny
Wanita Sombong Berbaju Mahal



Dengan kening berkerut, Reyhan mengedarkan pandangannya ke sekitar, sembari perlahan bergegas turun dari mobil. “Apa yang akan kita lakukan di sini?” tanyanya melirik Alan.


“Atha di sini,” balas Alan santai.


Sementara Alan berjalan menjauh, Reyhan masih terpaku di samping pintu, sembari letak kacamatanya yang sesekali ia perbaiki. “Baiklah, Rey. Ayo. Sabarkan dirimu,” gumamnya pada diri sendiri.


Setelah menyusul Alan yang sudah tampak sibuk berteriak memanggil pembeli, Reyhan terkekeh. Yang benar saja, deh! Itu serius Alan, kan?!


“Kak Rerey?! Ayo, sini!” Teriakan ceria itu sontak membuat Reyhan menoleh, sekaligus mulai melanjutkan langkah lagi.


“Aku senang kau datang, Kak,” lanjut Atha lagi, sembari menarikkan sebuah kursi untuk Reyhan duduk.


“Tunggu sebentar, ya. Aku akan ambilkan gorengan sekaligus minumannya.”


Tanpa pernah melirik atau memberi sahutan, Reyhan lantas memandangi beberapa pembeli sekaligus Alan yang semakin sibuk melontarkan mereka gombalan-gombalan tak jelas.


“Sepertinya, aku akan lebih rajin membeli di sini jika bisa bertemu Pria-pria tampan itu,” ujar salah satunya.


“Iya, aku juga. Lumayan, bisa digombali terus.”


“Tapi yang itu tatapannya terlalu tajam. Padahal ..., kalau senyum pasti sangat menawan.”


“Halahhh! Tidak perlu peduli tentang itu. Yang penting, kan, kita bisa cuci-cuci mat-"


“Hey, Rey?! Kau mau cepat pergi, tidak?! Ayo! Bantu aku berjualan!” Teriakan Alan membuat Reyhan sontak berdiri, lalu melihat ke sekitar seolah tidak tahu akan berbuat apa. “Baiklah. Aku akan menggoreng saja,” gumamnya kemudian.


Sementara Reyhan sibuk menggoreng, kini, Alan lagi-lagi mencolek lengan salah satu Gadis yang sibuk mengantri. “Hey, hey!”


Gadis itu menoleh. Tapi ... dengan tampang datar.


“Hari ini ... langit terlihat mendung, ya?” tanya Alan terdengar serius.


Baru saja Gadis itu berusaha menoleh ke atas, Alan buru-buru mencegah, sembari, “tidak perlu menoleh ke atas, Sayang. Aku, kan, hanya ingin menggombal saja,” lanjutnya.


“Sayang!” Setelah saling menoleh dan mendapati sosok Pria jangkung tengah menatap mereka, maka Alan dan Gadis tadi tampak saling memandang lagi.


“Dia pacarku. Aku sering pingsan hanya gara-gara digombali olehnya,” ungkap Gadis itu santai.


Selain mencibir sewot, Alan tak bisa apa-apa.


Pingsan?!


Cih! Terlalu lebay!


Daripada repot-repot menyaksikan kedua pasangan tadi saling bergandengan, ia memutuskan untuk menoleh ke belakang gara-gara mendengar keributan.


“Maaf, Kak. Saya benar-benar tidak senga-"


“Tahu, tidak, sih, berapa harga bajuku?! Huh?! Bahkan meski kau menjual gerobak dan semua gorengan-"


“PERGI KAU, WANITA SOMBONG! Tidak ada yang menanyakan harga bajumu di sini!” Dengan sangat kasarnya, Reyhan langsung menarik Wanita itu dari sana, bahkan mengantarnya langsung hingga keluar dari taman.


“Dasar Pria Sialan! Aku benar-benar menyesal telah datang ke tempat orang-orang miskin in-"


“PERGI, SEBELUM AKU YANG MENJAMBAK RAMBUTMU, LALU MENYERETMU LANGSUNG DARI SINI!” sergah Reyhan berteriak, benar-benar penuh ancaman dan amarah.


Setelah menyaksikan wanita tadi berlalu dengan mobil mewahnya, ia lantas berbalik dan langsung mendapati sosok Atha menangis di belakangnya. Gadis itu tampak mengusapi lengannya yang sempat menyenggol panci saat wanita sombong tadi mendorongnya.


Reyhan menarik napas panjang beberapa saat. Memejam menahan gejolak amarah, sebelum akhirnya menarik Atha mendekat, dan, “tak bisakah kau berhenti bersikap seperti tadi?! Mengapa kau sangat gemar membuat orang lain terlihat jahat gara-gara sikap memuakkanmu itu?! JAWAB PERTANYA-"


“S-sakit, Kak Rerey! Maafkan ak-"


“BERHENTI MENGUCAPKAN MAAF JIKA KAU TIDAK PUNYA KESALAHAN, BODOH! Kau sadar, kan, jika kecelakaan tadi bukan karena kesalahanmu?!” tanya Reyhan lagi.


“T-tidak, Kak. Itu memang salah-"


“Diam! Tidak ada gunanya berbicara dengan manusia lemah sepertimu!” sergah Reyhan muak, sebelum akhirnya langsung berlalu meninggalkan Atha, dan menghampiri Alan.


“Aku akan pulang duluan saj-"


“Kira-kira bagaimana perasaanmu jika seorang pria membentak dan meneriaki Sella seperti bagaimana kau pada Atha tadi?” potong Alan dengan nada tenang khasnya, hingga Reyhan langsung  menoleh dengan raut tak suka.


“Apa maksud-"


“Aku senang kau marah saat wanita tadi menghina Atha, tapi maksudku ... tak bisakah kau mengobati lukanya dulu, lalu nanti setelah itu lanjut membentak dan memarahinya?” Alan menjeda.


“Kau tahu, Rey, jika Johan sekarang sudah hampir tak punya siapa-siapa lagi sejak kematian mommy Hanum. Tapi setelah bertemu Atha, ia langsung menyayangi Gadis itu, bahkan benar-benar menganggapnya sebagai adik. Aku bahagia, sangat. Aku bahagia karena kupikir ..., Johan akan punya lebih banyak alasan untuk tetap melanjutkan hidup dengan baik. Keberadaan kita, Hale, dan Atha, merupakan sebuah kebahagiaan bagi Johan.” Alan kembali menjeda.


“Aku akan selalu berusaha melakukan apa pun untuk mengembalikan kebahagian Johan, begitujuga dengan kau. Entah itu membuat Hale berada di sisinya, ataupun ikut menyayangi Atha agar Gadis itu betah dan tidak akan meninggalkannya.”


Dengan sorot mata tak terbaca, Reyhan balas menatap Alan tatkala Pria itu menyentuh pundaknya pelan.


“Aku tahu kita bertiga saling menyayangi, tapi, Rey ..., kuharap kau bisa sadar jika sikapmu pada Atha bisa membuat Johan kehilangan sewaktu-waktu. Setidaknya untuk Johan. Hanya untuk Johan.”


Reyhan mengangguk. “Oke. Aku akan berusaha bersikap lebih baik lagi, sepanjang kau dan Johan bisa berhenti meledek dan menjodoh-jodohkanku dengan Gadis itu.”


▪▪▪


Dua buah mobil mewah baru saja melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga Bamatara. Johan, Malik, Halsey, Baila, dan Sam berangkat dalam satu mobil, sementara Reyhan, Alan, dan Atha memilih untuk memisahkan diri karena keterbatasan muatan.


“Kak Johan sudah resmi punya pacar. Bagaimana dengan kalian, Kak?” tanya Atha dari jok tengah. Gadis itu kini menumpukan siku di kepala jok Reyhan dan Alan.


“Wah. Masa, sih, kau tidak tahu jika pacar Kakak ada di mana-mana?” tanya Alan tak percaya. “Kakak ini tampan, lho, Sayang. Tidak akan ada gadis mana pun yang bisa menolak,” lanjutnya lagi.


Atha terkekeh. “Ah, iya juga. Tapi, Kak, tidak baik, tahu, jika terlalu gemar mempermainkan perempuan begitu. Kata temanku, suatu hari, kita bisa diberi balasan, entah berdampak pada diri sendiri, atau bisa juga keluarga terdekat,” jelasnya.


Atha mengangguk setuju. “Hm. Semoga segera jatuh cinta.”


“Hey! Jangan segera, dong. Kakak masih harus menikmati ini lebih lama,” balas Alan lagi.


“Iya, baiklah. Semoga bisa jatuh cinta setelah siap.” Atha berpindah melirik Reyhan. “Lalu Kak Rerey? Bagaimana dengan-"


“Beri tahu dia untuk tidak terlalu kepo dengan kehidupan orang lain,” sergah Reyhan datar, hingga Alan pun sontak terkekeh.


“Sudah, Sayang. Berdoa yang terbaik saja untuk Kak Rerey-mu,” ujarnya sembari mengusap rambut Atha pelan.


Terakhir, Reyhan tampak menepikan mobilnya, tepat di belakang mobil Sam. Ketiganya bergegas turun. Berjalan beriringan, menyusul beberapa orang yang sudah berjalan di depan.


“Kak Sam? Kak Malik? Kalian ingin ke mana?” tanya Atha sembari berlari kecil menghampiri kedua Pria itu.


“Membeli beberapa makanan untuk bakar-bakar ikan nanti,” sahut Malik.


Atha mengangguk mengerti sembari berpindah melirik Sam. “Hai, Kak. Kita belum sempat berkenalan, bukan?” sapanya sembari mengulurkan tangan kanan. “Namaku Agatha Qyara. Panggil Atha atau Agatha saja,” lanjutnya lagi.


Meski awalnya tidak langsung menanggapi, tapi Sam langsung membalas uluran tangan Atha dengan senyum hangat. “Hm. Kau terlihat sangat ceria,” balasnya.


“Atha? Kau menyusul Johan dan Hale saja, ya. Kakak akan pergi bersama mereka,” celetuk Alan dari belakang.


“Ah, baik. Kalian hati-hati, ya! Aku duluan dulu.”


Setelah berlalu dari hadapan keempat Pria tadi, Atha kembali melanjutkan langkah dan tak sengaja berpapasan dengan Baila juga. “Kak? Mau ke mana?” tanyanya kemudian.


Sementara Reyhan yang masih sempat menyaksikan itu hanya bisa memutar bola mata muak. Gadis itu ... apa ia akan menyapa semua orang yang dilaluinya sepanjang jalan?


“Atha? Eum ... menyusul Sam dan Malik,” balas Baila.


“Lalu di mana kak Hale dan kak Johan?” tanya Atha lagi.


“Mungkin sudah tiba di pantai. Kau bisa menyusul mereka, kok.”


Atha mengangguk mengerti. “Terima kasih, Kak. Aku duluan, ya,” pamitnya kemudian, sembari mulai berlari kecil hingga berhasil menapakkan kaki di pasir pantai.


Kedatangannya langsung disapa oleh sejuknya angin yang berhembus, ditambah dengan deru ombak yang mencipta suara gemuruh.


Atha menolehkan kepalanya ke kanan kiri, seolah berusaha mendapati jejak Johan dan Hale. Dari kejauhan, ia memicingkan mata. Berusaha melihat jelas jika kedua sosok manusia itu memang Halsey dan Johan.


“Hm. Itu mereka,” gumamnya sembari lanjut berlari lagi. "KAK JOHAN?! KAK HALE?!"


Halsey dan Johan sontak menoleh dengan mata yang sedikit menyipit.


"Atha? Di mana yang lain, Sayang?" tanya Johan begitu Atha sampai.


Atha langsung mendudukkan dirinya sembari berusaha mengatur napas. "Kak Alan dan kak Rerey ikut pergi bersama kak Malik dan kak Sam. Katanya mereka pergi mencari bahan untuk bakar-bakar ikan nanti," jelasnya.


"Benarkah? Johan? Kau sebaiknya menyusul mereka. Aku akan di sini saja dengan Atha," ujar Halsey sembari menoleh pada Johan.


"Tapi, Sayang ... kau-"


"Aku baik-baik saja, Johan," potong Halsey cepat.


Sementara keduanya berdebat, Atha memutuskan untuk membaca lewat mata Halsey saja, guna mengakhiri rasa penasaran sekaligus kebingungannya. "Kak Hale sedang kedatangan tamu bulanan, ya? Astaga itu memang sangat sakit, Kak," celetuknya kemudian.


"Lagi pula ada Atha, Johan. Kau menyusul mereka saja. Tidak enak jika kau tetap tinggal di sini denganku sementara yang lain-"


"Sssstt! Iya, Sayang. Baiklah," potong Johan sembari bangkit dari posisinya.


Cup!


Setelah mengecup kening Halsey sekilas, ia berpindah menatap Atha. "Jagakan Kak Hale, ya, Sayang. Kakak akan menyusul yang lain."


Atha mengangguk senang, hingga selanjutnya, ia berbalik dan menyaksikan Johan berjalan menjauh. Setelah Pria itu tak lagi nampak, maka ia berbalik dan berpindah menatap Halsey lagi.


“Kak? Apa kau perlu sesuatu? Katakan saja. Aku akan ambilkan,” ujarnya.


Halsey tampak menggeleng pelan. “Tidak ada, kok. Ayo, duduk di sini.”


Atha mengangguk kemudian duduk tepat di samping Halsey. Sesaat, suasana menjadi tenang. Halsey sibuk melempar pandangan ke arah pantai, sementara Atha memandangnya dari samping dengan sorot kagum. “Aku berharap hubungan kalian bisa bertahan lama hingga akhir. Kak Johan sangat mencintaimu, Kak,” ujarnya pelan.


“Hm. Terima kasih,” balas Halsey tersenyum tipis.


“Tapi, Kak ....” Atha berdehem, kemudian berpindah menatap Halsey serius. “Apa ... apa kau tahu jika Kak Sam mencintaimu?” lanjutnya ragu-ragu.


Halsey sempat terdiam lama, tapi detik berikutnya lagi, ia mengangguk. “Hm. Jauh sebelum Kakak bertemu Johan.”


“Maafkan aku karena harus mengatakan ini, Kak, tapi semalam ..., aku tidak sengaja memba-"


“Atha?”


Keduanya sontak menoleh, dan mendapati sosok Sam dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. “Baila mencarimu,” lanjut Pria itu lagi.


Atha terdiam sesaat. Melirik Halsey sebentar, lalu berpindah pada Sam lagi.


“Pergi saja. Hm?” bisik Halsey sembari tersenyum meyakinkan.


“Baiklah,” balas Atha akhirnya.


❀❀❀