Reytha's Destiny

Reytha's Destiny
Oleng Berujung Muntah



Dan ... di sinilah Atha sekarang.


Berkat komunikasinya dengan Halsey, ia berhasil tiba di rumah sakit, tepat di mana Johan sedang dirawat. Tujuan utamanya memang untuk menjenguk Johan, tapi di balik itu ... ia juga berencana akan mencari kesempatan untuk membujuk Reyhan nantinya. Doakan ... lancar!


“Bismillah!”


Ceklek!


Semua orang dalam ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu dan saling memandangi Atha beberapa saat. Atha jelas saja gugup. Napasnya bahkan semakin terengah-engah, sampai-sampai peluh mengucuri sekujur keningnya.


"Atha? Ayo, masuk," ujar Halsey kemudian.


Atha mengangguk pelan.


"Biasakan mengetuk pintu dulu."


Siapa lagi jika bukan Reyhan? Oke, tahan sebentar lagi. Setidaknya, Atha akan berusaha bersikap biasa dulu.


"Maafkan aku, Kak. Aku hanya sangat panik setelah mendengar kabar bahwa Kak Johan dirawat di rumah sakit ...," lirihnya pelan.


"Tidak masalah, Sayang. Sini, masuklah." Johan langsung menenangkan.


Detik berikutnya, Atha mulai berjalan mendekat ke sisi ranjang Johan. "Bagaimana bisa kau terluka parah begini, Kak?" tanyanya.


"Kakak dikeroyok oleh Sam dan teman-temannya, Sayang," balas Johan. Tapi ..., perkataannya barusan ternyata bertentangan dengan isi kepalanya. Bersamaan dengan itu, ia membatin tentang kejadian sebenarnya sembari tetap balas menatap Atha. ‘Ini rekayasa. Kakak hanya dipukuli oleh Alan dan Reyhan, bukan dikeroyok. Jangan bilang pada Kak Hale, ya.’


"A-APA?!"


"Johan dikeroyok bukan lagi hal yang asing, Atha. Johan? Ini." Halsey menarik dagu Johan hingga menghadapnya, kemudian menyuapi Pria itu lagi.


Sementara Atha, ia hanya bisa terdiam bungkam tatkala mengetahui kebenarannya. Ah, benar-benar, ya. Cinta Johan pada Halsey memang tidak main-main.


"Atha? Sini duduk dengan Kakak!"


Atha menoleh dengan senyum mekar. Tanpa menunda lagi, langsung saja ia berjalan menghampiri Alan, kemudian duduk di sisi kirinya.


"Alan? Sini, berikan kaca mataku," ujar Reyhan dingin, tanpa lupa pula mengambil posisi duduk lebih jauh dari Atha.


Atha mendesah. Dugaannya ternyata benar-benar terjadi.


“Hey? Kau ke sini dengan siapa?”


“Eum ... dengan ojek, hehe,” balas Atha terkekeh. Memang naik ojek, dan itu tentu saja disengaja. Di kepala Atha sekarang hanya dipenuhi tentang bagaimana caranya mencari kesempatan untuk bisa membujuk Reyhan, termasuk membuat Pria itu mengantarnya pulang setelah ini.


“Kenapa begitu?! Padahal kau bisa minta tolong untuk dijemput,” balas Alan terdengar kesal.


“Tidak. Tidak masalah, Kak. Lagi pula aku mengerti jika kalian sedang sibuk,” ujar Atha lagi.


Selanjutnya, mereka pun saling diam dan duduk tenang. Atha juga Alan memandang ke arah Johan dan Halsey, sekaligus menguping pembicaraan antara sepasang kekasih itu.


"Bukan, Sayang. Aku hanya tidak mau merepotkanmu. Dan ... tidak perlu menjengukku lagi. Aku akan memaksa dokter untuk membiarkanku keluar besok pagi," jelas Johan.


"Aku tidak suka kau mengatakan dirimu merepotkan! Pokoknya aku akan kemari lagi kapan pun aku mau. Kau tidak berhak mengatur." Halsey kembali menyuapkan suapan terkahir ke mulut Johan kemudian bangkit berdiri.


Alan berdehem, sementara Atha sendiri hanya bisa terkekeh.


"Sudah, Hale."


Setelah meletakkan gelas minum Johan tadi, Halsey tampak berpindah memandangi wajah Pria itu beberapa saat.


Cup!


Cup!


Cup!


"Cepat sembuh.”


“Cih! Dasar Johan brengsek!” gumam Alan lagi.


Sementara itu, Johan hanya bisa membeku seraya memegangi beberapa luka di wajahnya, tepat di mana bibir Halsey mendarat tadi. Jangan heran. Pria itu sudah dari sananya dramatis. "Aaaaaaaa Hale ...?! Pokoknya kau harus tanggung jawab! Aku baper, Hale! Aku bapeerrr!"


“Ya, ampun, Kak Johan hahahahah!” Atha tertawa lepas.


“Rey? Antar Hale pulang, ya?”


Reyhan yang sejak tadi hanya fokus dengan ponselnya sontak menoleh pada Johan. “Sekarang?”


“Ya, iyalah!” balas Johan gemas.


Reyhan bangkit berdiri, sembari melepas kacamatanya. “Baiklah. Ayo.”


Sementara Atha, Gadis itu tentu saja kebingungan luar biasa. Sebenarnya ia masih ingin tetap tinggal dan merawat Johan, tapi untuk situasi ini ....


“Aku ... aku juga ingin pulang sekarang!” teriaknya panik, hingga semua orang langsung menoleh bersamaan.


“Kenapa cepat sekali, Sayang?” tanya Johan heran.


Atha bangkit berdiri. “Aku lupa memasak untuk makan malam nanti, Kak. Bapak dan Ibu bisa marah jika mereka pulang dan tidak ada makanan,” balasnya dengan kekehan tak enak. Tidak, ia tidak sedang berbohong. Ia memang belum sempat memasak tadi, dan Arman juga Salma memang akan marah jika tidak ada makanan di rumah.


“Kalau begitu, kau ikut dengan kami saja. Ayo!”


Atha tersenyum antusias sembari langsung berhambur menghampiri Halsey. Sementara Reyhan sendiri, ia tak bisa apa-apa selain memaki sepuas-puasnya di dalam hati. “Gadis Gila sialan!” gumamnya seraya kembali meraih dan mengenakan kacamatanya.


“Satu orang duduk di depan,” ujar Reyhan setibanya mereka di sisi mobil.


“Hm. Baik!” balas Atha tanpa beban.


Setelah itu, ketiganya berhasil duduk di jok masing-masing. Reyhan melirik Atha sekilas karena Gadis itu tak kunjung memasang sabuk pengaman, tapi setelah mendapatinya tersenyum dengan mata dikedip-kedipkan, maka ia langsung saja melajukan mobilnya tanpa ampun.


“Kak Hale?! Harap maklum, ya. Kak Rerey memang hobi balap-balap!” teriak Atha di tengah kegugupannya. Tidak mengenakan sabuk pengaman jelas saja membuat tubuhnya terhuyung-huyung ke kiri-kanan.


“Iya, tidak masalah,” sahut Halsey dari belakang.


Entah sekitar berapa menit Reyhan melajukan mobil gila-gilaan begitu, yang jelasnya, mereka sekarang sudah berhasil sampai tepat di depan gerbang rumah Halsey.


“WOAH! Aku menakjubkan!” teriak Atha masih terengah-engah.


“Tidak mampir dulu?” tanya Halsey basa-basi. Kalau Atha, ia mungkin masih fine-fine saja, tapi Reyhan ...? Demi apa pun, ia tidak ingin disaingi sebagai manusia menyebalkan!


“Lain kali saja, Kak,” sahut Atha terdengar lemah.


“Baiklah. Hati-hati, ya. Maaf lagi karena harus merepotkan.” Dan Halsey langsung menutup pintu, kemudian berlalu dari sana.


“Kak Rerey? Pasangkan aku sabuk pengaman, dong! Kepalaku terasa ... pus-“


“Sebelum aku benar-benar muak, sebaiknya pasang sekarang!” sergah Reyhan tegas. Kan? Sisi macannya bangkit lagi.


“Tapi pasangkan ...! Kak Alan dan kak Johan juga biasanya begitu, kok, bahkan meski aku tidak-"


“PASANG!”


Atha tersentak kaget. “Wah! Suaramu benar-benar bagus saat berteriak, Kak! Kau cocok jadi tentara atau-"


Dengan tanpa bebannya, mobil Reyhan kembali melaju gila-gilaan. Atha panik, tentu saja. Sebab laju mobil Reyhan kali ini bukan lagi semain-main tadi. Sangat brutal, dan ia benar-benar ketakutan dibuatnya.


“Kak Rerey! Kumohon jangan terlalu berlebihan!”


“Kak Rerey?! Sadar, Kak! Dosamu masih terlalu banyak untuk mati sekarang!”


“Kak Rerey?! Ayolah! Kita bisa mati kalau begini! Aku belum sempat salat taubat, nih!”


“Kumohoooonnn!”


“Kasihani aku ...!”


“Kak Rerey?! Pleaseeeeeeee!”


“Kak Re ....” Kepala Atha tampak luruh membentur dashboard mobil. “Aku ... kepalaku terasa ol ... eng ...!” gumamnya lemah.


Sayangnya, Reyhan tetap bersikap tidak peduli. Laju mobilnya bahkan semakin bertambah saja, dan raut wajahnya juga tak kalah tanpa ekspresinya. Maklumlah. Manusia santuy.


“Kak Rerey ...?” Atha berujar semakin lemah. Rambut ekor kuda Gadis itu tampak berserakan hingga menghalangi sisi kanan dan kiri wajahnya. “Kak Rerey, kumohon ...! Aku ... aku ....”


Tadi memang masih santuy, tapi setelah mendapati wajah pucat Atha yang kian mendongak, Reyhan panik! Mobilnya langsung ia tepikan asal, tak peduli betapa banyaknya pengemudi lain yang mengomel bahkan mengklaksoninya dengan geram.


Setelah berhasil meraih kantong plastik dari kantong belakang jok, ia mengulurkannya pada Atha. Menarik Gadis itu lebih dekat, kemudian mengusap belakangnya pelan-pelan.


“Wuek!”


“Wuek!” Isi perut Atha sudah semakin ia muntahkan ke dalam kantong plastik.


“Tenang. Muntahkan saja,” bisik Reyhan pelan.


“Wuek!” Atha terisak. “Kak Rerey ...? Hiks, hiks.”


“Ya, Tuhan. Muntah saja. Menangisnya tunda dulu,” balas Reyhan tanpa menghentikan pijatannya di punggung Atha.


Setelah beberapa lama, Atha pun selesai. Air mata Gadis itu tampak bercampur dengan lelehan liurnya di sudut bibir. Tubuhnya bersandar lemah. Napasnya berembus terengah, dan matanya memejam erat.


Pintu mobil sebelahnya yang baru saja terbuka membuat Atha sontak menoleh dan mendapati Reyhan dengan sebotol air di tangannya.


“Kak Rer-" Atha bungkam saat Reyhan sudah langsung mengelapi sudut bibirnya yang basah dengan tisu. Entah sejak kapan kacamata itu terlepas, yang jelasnya ..., Atha benar-benar bahagia tatkala mendapati kenyataan bahwa Reyhan panik dan khawatir karena dirinya. Bahkan, dari matanya yang tajam itu, bisa ia dapati jelas jika Reyhan melalukan semuanya dengan tulus. Tak ada perasaan jijik yang manusiawi, ataupun perasaan terpaksa dan merasa direpotkan.


“Minum ini,” ujar Reyhan sembari mengulurkan sebotol air tadi pada Atha.


“Terima kasih ....”


Begitu mendapati Atha selesai meminum beberapa teguk air, Reyhan langsung memejam sembari  napasnya yang ia tarik dan embuskan kasar.


“Kak Rer-"


“Mengapa, sih, kau benar-benar gemar merepotkan orang?! Huh?!” sergah Reyhan penuh emosi, sembari rambut ekor kuda Atha yang langsung ia tarik. Jambak! Erat!


Bukannya meringis, Atha malah terkekeh tanpa dosa. “Kenakan kacamatamu, Kak. Aku hanya tidak ingin mendapatimu mengganti kata ‘khawatir’ dengan ‘rep-"


“Diam!” sergah Reyhan lagi, sembari kacamatanya yang langsung ia kenakan asal. “Pasang sabuk pengamanmu!” bentaknya lagi.


“Baik, Tuan.”


Tanpa mau repot-repot menoleh dan harus mendapati wajah sok imut itu lagi, Reyhan langsung melajukan mobilnya pergi, dengan kecepatan yang jauh lebih sedang dari sebelumnya.


❀❀❀


Hai, Semuanyaaaa! **Maaf kalau update belakangan ini agak jarang. Gak tau ini salah apa gimana ya, tapi kayaknya harus jujur sm kalian-kalian.


Jadi sejak lama sebenernya mama enggak terlalu dukung aku nulis. Terus belakangan ini kan libur, makanya ngetik terus. Mama protes soalnya mata aku hampir gak pernah istirahat dari layar. Alasan lain juga katanya semenjak aku terjun nulis, aku belum bisa ngasilin apa-apa(uang dsb). Sebenernya suka malu juga, tapi aku udah berusaha keras nyari cara sana-sini. Maaf kalau keterusan curhat, tapi doain ya biar Zep bisa cepet2 dapet sesuatu dari hasil nulis. 😌 Alhamdulilah seneng banget masih ada yang nyariin tulisan ini. Pokoknya makasih banyak buat yang selalu dukung. Semoga kalian semua sehat2 terus, dan puasanya lancar.


Maaf cuma bisa up satu part dulu, ya. See u next part. 🤗**