
Seperti biasa, pagi ini, mobil Reyhan akan terlihat berhenti tepat di depan gerbang sekolah Sella.
“Kak? Sepulang sekolah nanti, tidak perlu menjemputku, ya?” ujar Sella.
Reyhan menoleh, sangat cepat. “Apa? Kenapa?”
“Karena ..., aku akan pulang bersama Fae saja. Papanya berulang tahun,” jelas Sella lagi.
“Tapi jangan pulang terlalu petang.”
Selepas mengangguk pelan, Sella pun bergegas keluar. Menutup pintu mobil pelan, lalu berjalan menjauh hingga lenyap di balik gerbang.
Tok ... tok!
“CK! Membuat kaget saja, deh!” gumam Reyhan kesal, sebelum akhirnya berpindah memandangi wajah Atha tersenyum lebar dari luar.
Lihat, kan? Baru juga kemarin diperlakukan dengan baik, tapi sekarang ... sikapnya sudah langsung melunjak lagi.
“Sial! Memangnya dia tidak sadar, apa, jika giginya sudah sampai menempel di kaca?!”
Dengan perasaan kesal yang semakin meluap, Reyhan memutuskan untuk langsung menurunkan kaca, hingga Atha pun sontak memundurkan wajah juga.
“Selamat pag-"
“Kau belum puas membuat mobilku lecet, ya?” sergah Reyhan cepat.
“Hm?” Atha bengong. “Memangnya aku membuat mobilmu lecet lagi, ya, Kak?” lanjutnya.
“Ya, iya, Bod- ARGH! Sudah, deh. Sebaiknya kau pindah sebelum aku benar-benar mar-"
“Kau lupa mengenakan kacamatamu, ya, Kak?” Atha terkekeh. “Aku tidak mau dibenci lagi, lho, hanya gara-gara membaca pikiranmu secara tidak sengaj- Kak Rerey? Turunkan kacanya, dong ...! Sebent- ISH! DASAR MENYEBALKAN!”
“Aku bahkan tidak pernah berhenti membencimu,” gumam Reyhan, sembari gas mobilnya yang semakin ia tancap santai.
▪▪▪
“Atha? Ke kantin, yuk!”
“Atha? Mau ke kantin, tidak?”
“Cepat, dong, Atha. Aku sudah lapar, nih!”
Sembari mengemasi buku-bukunya ke dalam tas, Atha melirik sekilas ke arah suara-suara teriakan itu terdengar menggema. “Iya, iya. Kalian duluan saja!” teriaknya kemudian.
Setelah selesai dengan acara mengemasnya, ia buru-buru melangkah keluar dari kelas, niat menyusul beberapa temannya yang mungkin sudah tiba duluan di kantin.
“Agatha?”
Atha berbalik. “Bu Laras?”
Wanita berwajah kalem itu tampak tersenyum sembari menghampiri Atha. “Selamat, ya. Kau berhasil meraih nilai tertinggi untuk pelajaran Fisika dari seluruh kelas seangkatan.”
“Alhamdulillah. Terima kasih, Bu!” balas Atha antusias, sembari tangan Bu Laras yang langsung ia tempelkan di kening.
“Iya, sama-sama. Dan ... jangan lupa datang ke ruangan Ibu setelah jam istirahat, ya.”
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Setelah menyaksikan Bu Laras berjalan menjauh, Atha lantas melanjutkan langkah menuju kantin dengan senyum bahagia yang semakin lebar mekar.
“Assalamualaikum!”
Meski tak ada yang menyahuti, ia tetap tak ambil pusing dan lebih memilih bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Ia Gadis yang netral. Karena kepribadiannya yang terlalu ceria, hampir semua orang dalam kelas, bahkan hingga satu sekolah ia jadikan teman dekat. Bukan teman dekat dalam artian sangat akrab, tapi saling mengenal dengan baik saja. Bagaimanapun, kemampuan membaca pikirannya selalu jadi penghambat untuk ia menaruh kepercayaan berlebih pada seseorang.
Byur!
“HEY! KALIAN BERDUA INI APA-APAAN, SIH?!”
“Atha?! Kau tidak apa-apa, kan?”
“Hey! Maksudmu apa, sih?! Jangan semena-mena, dong!”
“Ya, ampun. Seragammu kotor, Tha.”
Dengan senyum menenangkan, Atha bangkit berdiri lalu meraih beberapa lembar tisu. “Tidak, tidak masalah. Ini bisa dicuci lagi, kok,” ujarnya santai.
Setelah itu, para penghuni kantin pun sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
“Kalian pasti sengaja, kan?!” tanya Ziva kesal.
“Dasar sok!”
BRAK!
“SEKARANG KAU PUAS, KAN?!” teriak Sella berapi-api, sembari tatapan permusuhannya ia lemparkan pada Atha.
Atha sendiri hanya bisa mengerutkan kening. “Maksudmu apa?” tanyanya tenang.
“Malah pura-pura tidak tahu! Dasar tukang caper!” balas Fae muak. “Gara-gara kau, Sella jadi batal menjadi perwakilan sekolah untuk olimpiade Fisika! Gara-gara k-a-u!”
Setelah membaca kebenaran lewat mata Sella, Atha lantas berdiri perlahan. “Kenapa gara-gara aku? Bukannya ..., bu Laras yang memang memilihku? Lagi pula aku tidak pernah mengajukan diri, kok,” elaknya, masih dengan nada tenang.
“Jangan sok, ya! Kau bersekolah di sini itu karena dibiayai oleh pemerintah! Dasar tidak tahu diri!”
Atha serasa tertohok. Sangat.
“Apa ...?”
Tidak tahu diri?
“Mau mengelak?!” Fae terkekeh. “Semua orang di sini pasti juga tahu bahwa kau hanyalah anak dari seorang pria tukang judi, dan ibumu tukang pamer perhiasan palsu di pasar! Hahahahah! Benar, kan?”
Sella ikut terkekeh. Terlebih setelah menyadari jika semua orang dalam kantin itu hanya diam menontoni, dan tidak membela seperti biasa lagi. “Ayo, Fae. Tidak perlu mengurusi dia la-"
“Aku tidak tahu jelas alasan kalian sampai menghinaku dan membawa-bawa nama kedua orang tuaku, tapi ....” Atha berpindah menatap Fae dengan sorot datar. “Setidaknya, latar belakang bagaimana aku bisa bersekolah di sini jauh lebih berkelas daripada kau. Aku bersekolah di sini karena kepintaranku, bukan karena uang orang tuaku, seperti kau.”
Setelah melempar senyum perdamaian, Atha lantas berlalu pergi tanpa pernah menyentuh makanannya meski sekali.
“Dasar penjual gorengan!”
▪▪▪
Apa lagi sekarang?
“... bilang agar kau jangan terlalu banyak bermain! Sekarang?! Nilai ulanganmu jadi menurun, dan kau juga batal mengikuti olimpiade!”
“Hari ini bahkan kau pulang kesorean sekali, Sella! Bagaimana kau bisa punya waktu untuk belajar jika hampir semua waktumu saja kaugunakan untuk bersantai-san-"
“CUKUP, BUNDA! Berhenti memarahinya hanya gara-gara masalah sesepele itu!” Reyhan datang dan langsung memeluk Sella di lantai. “Sella juga perlu membahagiakan dirinya sendiri, dan aku tidak akan terima jika kalian sampai me-"
“Jadi maksudmu, kau ingin Sella mengikuti jejakmu juga?! Begitu?!” Abrisam menyela sembari ikut berdiri di samping Lavina. “Tidak, Rey! Ayah dan Bundamu akan selalu menuntut Sella untuk jadi yang terbaik, demi mengembalikan nama baik keluarga kita yang sempat kaucoreng dulu!”
Setelah balas meneriaki Reyhan, maka kini, Abrisam dan Lavina langsung membawa Sella pergi, kemudian mengurung Gadis itu di kamarnya untuk belajar lebih keras.
Lalu Reyhan? Pria itu hanya bisa melangkah lemah menuju kamarnya. Ia merasa bersalah karena Sella harus menanggung akibat dari perbuatannya, sekaligus merasa tidak berguna karena gagal melindungi Sella dari Abrisam dan Lavina.
“Aku benar-benar berharap keberanianku menentang mereka hari itu bisa datang kembali.”
Drrrt! Drrrt!
Dengan malas, Reyhan mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian memandangi label kontak yang tertera di balik layar. “Ada ap-"
“Rey?! Aku ada di depan rumahmu sekarang. Ayo, cepat! Johan Sialan itu berulah lagi!”
Tett!
“Dia bicara apa, sih?!”
Memang tidak terlalu jelas, tapi Reyhan masih bisa menyimpulkan jika Alan sedang berada di depan rumahnya sekarang.
Tanpa menunda lagi, ia lantas bergegas turun ke lantai satu, kemudian lanjut ke luar rumah, tepat di depan gerbang.
“Masuk, Rey! Jangan sampai kita datang telat!”
Belum sempat Reyhan menutup pintu, Alan bahkan sudah melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan yang luar biasa tinggi. Tapi tidak ada yang panik, sebab di mobil itu memang tidak ada manusia selebay Atha.
Setelah mobil Alan berhenti tepat di depan sebuah kelab di mana Johan berada, keduanya lantas bergegas keluar, kemudian berlari beriringan hingga tiba di dalam.
“Cepat, Rey! Kita berpencar, ya! Aku akan cari di sana!”
Reyhan mengangguk. Mulai bergegas mencari Johan di beberapa bagian kelab, sebelum akhirnya ....
“Aku membutuhkanmu.”
Benar. Suara itu terdengar dari arah sudut, tepat di belakang Reyhan yang kini sudah mentok berbalik. “Dasar tidak punya otak.”
BUGH!
BUGH!
Brak!
Reyhan melayangkan pukulan saat Johan sedang asik-asiknya berciuman. Makanya, kedua aksi manusia itu hanya berakhir dengan saling jatuh dan menimbrung di lantai, bukan di ranjang.
“ARGGHHHH! SAKIT, BRENGS-"
“WAH! ******** KAU, JOHAN!”
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
“DI MANA OTAKMU, BODOH?! HUH?!”
Plak!
“Ayo, bangun! Kita pulang sekar-"
“Bayar aku dulu, dong! Dia tadi sempat meremas bokong dan payu-"
“Diam kau, ******! Itu bukan urusanku!” sergah Reyhan tajam, sebelum akhirnya berlalu dan menyusul Alan juga Johan di mobil.
“... lupa, ya, betapa besar perjuanganmu hanya demi mendapatkan Hale?! Huh?!”
Setelah mendapati Alan masih sibuk mengomel, Reyhan memutuskan untuk duduk di jok kemudi saja, lalu melajukan mobilnya cepat.
“Kau mati-matian, Bodoh! Bagaimana jika Hale tahu mengenai ini?! Huh?! Bagaimana jika Hale meminta putus padamu saat hubungan kalian saja masih terja-"
“Diam, Alan ...! Kau ... kau tidak akan mengerti ...!” potong Johan parau, khas orang mabuk.
“Ingat daddy, tidak? Pria yang ... menyumbangkan benihnya hingga aku terbentuk, baru saja mengungkap kebenaran jika ia ... sudah punya istri juga anak sejak 4 tahun lalu.”
“4 tahun lalu, Rey, Alan. Tepat ... tepat saat ia mengusirku pergi dari rumahnya waktu itu ....”
Setelah mendengar itu, laju mobil mendadak pelan. Reyhan jelas saja shock. Matanya bahkan terpejam beberapa saat, saking kerasnya ia berusaha menetralkan deru napas.
“Dan kalian tahu ...?” Johan terkekeh sakit. “Selama 4 tahun itu juga daddy mengaku pada istrinya bahwa aku sudah lama meninggal."
“Apa ...?”
“Rasanya sakit. Aku tidak sanggup jika harus mengingatnya sepanjang malam.”
“Jadi ... kumohon. Aku ingin mati-"
BUGH!
Setelah meninju Johan sekali lagi hingga Pria itu berakhir pingsan, Alan lantas melempar pandangannya keluar jendela.
Menyedihkan.
Dan ia sungguh tidak yakin jika setelah Johan sadar, ia masih bisa bersikap biasa seolah penjelasan Pria itu tadi tidak turut membebaninya.
❀❀❀