
Siang ini, Reyhan dan Alan sudah tampak duduk berdampingan di tepi rooftop, dengan tangan yang saling sibuk menjentikkan rokok masing-masing. Jangan tanyakan tentang Johan. Pria itu semakin gemar meninggalkan kedua sahabatnya semenjak berbaikan dengan Halsey.
“Memangnya siapa lagi yang akan menganiayaku begini selain Gabbie?” balas Alan tak bersemangat. “Tapi ini sudah lebih mendingan. Semalam saja, aku sampai kesal bukan main gara-gara Indomie itu menggunakan spidol permanent dan mencorat-coreti wajahku,” lanjutnya lagi.
Reyhan yang mendengar itu hanya bisa terkekeh. Menyedihkan memang jika harus hidup dan dikaruniai adik seperti Gabbie, pikirnya.
“EH! Ngomong-ngomong ....” Alan membuang puntung rokoknya sembarang. “Kau tidak menganiaya Atha di jalan, kan?” lanjutnya.
Dengan malas, Reyhan menoleh sekilas. “Aku hampir memerkosanya, sih. Tapi ..., dia menangis dan bilang tidak mau,” balasnya santai.
Alan terkekeh. “Itu terdengar mustahil, Sayang. Berurusan dengannya saja kau sangat ogah-ogahan, apalagi sampai harus ber-
“Aku datang!”
Keduanya sontak menoleh, dan mendapati sosok Johan sudah berjalan mendekat. Raut Pria itu benar-benar sarat akan kebahagiaan.
“Hey, Brengsek. Dari mana saja?” tanya Alan kemudian.
Setelah terduduk tepat di tengah-tengah Alan dan Reyhan, Johan tidak langsung membalas. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku seragamnya dulu, kemudian meraih dan membakar sebatangnya santai.
“Johan sudah berbaikan dengan Halsey. Makanya ia akan kemari setelah menghabiskan waktu dengan gadis itu dulu,” sindir Reyhan tanpa beban. Ia ikut membakar sebatang rokok lagi, kemudian mengisapnya perlahan.
“Ya, iyalah! Pacar dulu baru sahabat. Kan, Sayang?!” balas Johan sembari telinga Alan yang ia sentil-sentil manja.
“Pacar pantatmu?! Kalian, kan, belum resmi jadian,” protes Alan juga.
Johan mengangguk membenarkan. Karena merasa akan berbicara serius setelah ini, makanya ia putuskan untuk membuang puntung rokoknya dulu, kemudian berpindah menatap Alan dan Reyhan bergantian. “Justru itu, Sayang ...! Sebenarnya, aku tadi berniat membuang kalian saja. Tapi karena sedang butuh bantuan, makanya ... tidak jadi dulu. Aku menun-"
“Berisik! Langsung inti saja!” potong Reyhan cepat.
Johan berdehem. “Jadi ..., hari ini, Hale berulang tahun.”
“Terus?” Alan bersuara.
“Aku ingin menembaknya sekalian saja, supaya lebih berkesan,” lanjut Johan lagi.
“And then?”
“And then aku butuh bantuan kalian.” Johan langsung memasang tampang sok imut.
“Bantuan apa? Membeli pistol atau senapan untuk menembak Hale?” celetuk Reyhan.
Johan merengut menggeleng. “Jadi, ada sebuah pantai yang sebelumnya sudah pernah kukunjungi berdua dengan Hale. Pantai itu ingin kujadikan tempat untuk menyatakan cinta saja. Makanya ..., aku butuh bantuan kalian untuk menghias tempat itu seromantis mungkin, sementara aku dan Hale akan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari ini,” jelasnya panjang lebar.
Alan mual. Ingin muntah di wajah Johan, tapi tidak bisa karena memang mualnya hanya pura-pura. “Enak saja mulut baumu itu bicara! Tidak, tidak akan! Mana bisa aku dan Rey yang susah payah bekerja, tapi kau malah enak-enak pacaran berdua?!” protesnya tidak terima, hingga Johan yang mendengarnya pun kembali merengut-rengut manja.
“Kan belum pacaran, Alan ...! Lagi pula, kalian juga sudah membantu dari awal, kan? Jangan setengah-setengah, dong, ah! Ih! Abang syebel, nih!”
Meski geli mendengar bagaimana Johan mengikuti logat-logat berbicaranya saat bersama Gabbie, Alan tetap berusaha meredam. Ia merasa Johan semakin keterlaluan sejak menjelma jadi siluman bucin. “Tapi tetap saja aku tid-"
“Selama masa teraktiran ditambah sebulan lagi, aku dan Alan akan setuju. Bagaimana?” Reyhan memotong.
Mendengar itu, Alan sontak terkekeh, sementara Johan hanya bisa menghela pasrah. “Baiklah. Ayo, kembali ke kelas. Aku suka pelajaran Bahasa Indonesia,” sahutnya kemudian.
Selanjutnya, ketiga Pria itu pun beranjak dari lantai rooftop sekolah, kemudian menuntun langkah menuju kelas mereka di lantai tiga.
▪▪▪
Seperti biasa, sore ini, Atha sudah tampak mendorong gerobak gorengannya menyusuri sepanjang gang kecil menuju taman di ujung kompleks perumahan. Bibir Gadis itu melengkung lebar sepanjang langkah, tanpa lupa beberapa kenalannya yang turut ia sapa.
Setelah tiba di taman dan memarkirkan gerobak gorengannya di samping pedagang lain, Atha menyempatkan untuk mengedarkan pandangan ke sekitar beberapa saat dulu.
Seperti biasa, taman itu sudah kembali ramai. Ramai oleh anak-anak yang bermain, muda-mudi yang pacaran, juga beberapa lainnya lagi yang tampak sibuk lari-lari sorean.
Atha menghela napas bersemangat. Mulai bersiap untuk menggoreng adonan gorengannya dengan lihai, sembari bibirnya yang perlahan bergerak bersenandung kecil.
Di sela-sela kesibukannya, tanpa sengaja, ia jadi teringat pada kejadian tadi malam, di mana Salma menghantaminya dengan sapu lidi, dan Arman yang merebut paksa modal untuk berjualannya. Itu sudah sangat sering terjadi.
Meski kadang sedih, pada akhirnya, ia tetap berusaha menerima saja. Menerima kenyataan jika kedua orang tua angkatnya itu sangat menuntut agar ia mencari uang banyak, atau bahkan sampai membuatnya rela menarik uang tabungan gara-gara kehabisan modal.
“Wah, Atha? Kemarin kenapa tidak muncul, Nak?”
Suara lembut khas Pria paruh baya memaksa Atha mengalihkan fokus sebentar. “Atha sedang ada urusan, Pak,” balasnya sembari menampakkan deretan gigi.
“Ah, ya, sudah. Lanjutkan gorenganmu saja,” ujar Pria paruh baya itu lagi, dan dibalas anggukan cepat oleh Atha.
“Atha? Kau di sini ternyata.”
Atha kembali menoleh heran, terlebih setelah mendapati sosok Alan sudah berdiri tak jauh dari tempatnya. “Kak Alan? Sejak kapan di situ?” tanyanya dengan raut antusias.
Setelah gorengan pertamanya selesai, Atha memutuskan untuk mengambil kursi lain lagi, lalu duduk tepat di samping Alan. “Jadi ..., Kakak ingin apa? Mau beli gorenganku, ya?” kekehnya basa-basi.
Alan ikut terkekeh. “Anggap saja begitu, tapi sebenarnya ..., Kakak punya tujuan utama yang lain.”
“Hm? Apa?”
Alan berdehem pelan. “Johan sedang minta tolong dibuatkan tempat kencan bersama Hale. Kakak ke sini untuk mengajakmu juga,” jelasnya sembari menggigit sedikit gorengan yang Atha ulurkan di sebuah piring.
Atha terlihat berpikir. “Sekarang?”
“Iya, dong, Sayang. Sekarang,” balas Alan lagi.
Setelah menghela napas panjang, Atha bangkit berdiri dengan raut tak bersemangat. “Tapi aku harus berjualan dulu, Kak. Beberapa hari ke depan, pemilik kontrakan rumah pasti akan datang menagih,” jelasnya kemudian.
“Kalau begitu, Kakak akan membantumu berjualan.”
Atha menoleh cepat. Mendapati raut Alan yang tanpa beban, sekaligus senyum tulusnya yang meyakinkan. “Aku senang, Kak, tapi kurasa ... ini akan merepotkan. Kau lebih baik pergi saja, dan jangan khawatir tentangku. Aku bisa ikut merayakan kapan-kapan, kok.”
“Tidak bisa begitu, Atha. Johan juga pasti tidak akan setuju,” balas Alan mulai kukuh.
“Tap-"
“Kau turut berperan penting dalam membaiknya hubungan Johan dan Hale. Jadi, tidak ada tapi-tapian lagi. Ayo, mulai menggoreng,” sergah Alan cepat.
Pada akhirnya, Atha memilih menurut saja. Ia mulai sibuk menggoreng, sementara Alan berteriak memanggil pembeli.
“Gorengan rasa kiko?! Enak, tahu!” Alan kembali berteriak.
“AYO, SEMUANYA! YANG BELI GORENGAN INI OTOMATIS JADI MANTANKU!”
“BELI, YUKKKK! GORENGANNYA MASIH HANGAT-HANGAT, LHO! SEPERTI HUBUNGAN KITA!”
Setelah berteriak dengan kalimat yang sama, beberapa orang mulai berdatangan memesan. Atha langsung melayani, sementara Alan sibuk menggombali dengan kalimat receh ala-ala dirinya.
Alan mencolek lengan salah satu Gadis yang tengah ikut memesan. “Hey, Cantik? Tahu, tidak, hari ini hari apa?” tanyanya menggoda.
Gadis berlesung pipi itu tampak berpikir. “Eum ... hari Sabtu,” balasnya bersemangat, tapi langsung dibalas gelengan oleh Alan. “Lalu hari apa?”
“Hari ini ...." Alan tersenyum genit. "Kau cantik,” lanjutnya sembari menyapu setengah rambutnya ke belakang. Sok ganteng tapi memang ganteng.
Setelah beberapa lama sibuk melayani pembeli, kini, Alan dan Atha sudah tampak terduduk lelah sekaligus lega.
“Jadi ... bagaimana? Kita bisa pergi, kan?” tanya Alan kemudian.
Atha beranjak sebentar, hendak melihat sisa-sisa dagangannya yang tak lagi banyak. “Tentu saja, Kak, tapi ... kita harus kembali ke rumah dulu dan meminta izin pada ibu,” balasnya.
Alan mengangguk mengerti, hingga secepat mungkin, mereka mulai berberes dan pulang ke rumah Atha.
Sesampainya di sana, Salma langsung menyambut di pintu. Awalnya dengan raut tak suka, tapi setelah mendapati Gadis itu tengah bersama seorang Pria, ia lantas menggantinya dengan tampang senang yang meyakinkan. Apalagi jika dinilai dari penampilan, Pria itu jelas saja berduit. Toh, ia sendiri juga yang akan untung jika punya menantu kaya. “Bagaimana, Nak? Apa daganganmu habis?” tanyanya terdengar hangat.
“Habis, dong, Bu! Kan saya yang bantu berjualan,” sahut Alan bersemangat.
Salma tersenyum. “Kalau begitu, ayo, masuk,” ujarnya sembari meraih pundak Atha, kemudian merangkul Gadis itu ke dalam rumah.
Setelah ketiganya terduduk di sofa tak empuk ruang tamu, Atha lantas memerhatikan saksama betapa terlihat baik sikap Salma padanya di depan Alan. Andai saja benar-benar seperti itu, ia sungguh akan merasa bahagia, bahkan sangat.
“Saya ingin mengajak Atha keluar sebentar, Bu. Mungkin sampai malam,” jelas Alan kemudian.
Atha sontak menunduk. Meremas kedua jarinya yang ia letakkan di atas paha, seolah balasan Salma setelah ini bisa membuatnya menangis sewaktu-waktu.
“Tentu saja Ibu biarkan,” balas Salma sembari berpindah menatap Atha. “Atha? Uang hasil jualanmu tadi, biar Ibu yang pegang, ya, untuk membeli bahan makanan. Sini,” lanjutnya sembari mengulurkan telapak tangan.
Atha terdiam.
Membeli bahan makanan?
Seperti biasa, uang itu pasti akan Salma gunakan untuk membeli pakaian atau perhiasan palsu di pasar, lalu selanjutnya dipamer ke tetangga-tetangga. Tapi, demi melancarkan sikap sok baik Ibunya, ia akan memberi saja meski tidak seluruhnya. “Iya, Bu. Ini,” balasnya.
Setelah acara minta izin tadi, Alan dan Atha pun mulai bergegas menuju pantai yang sudah ditunjukkan oleh Johan sebelumnya.
“Aku senang atas hubungan mereka. Kak Johan dan kak Hale memang cocok,” balas Atha melengking senang.
“Hm. Semoga benar-benar langgeng saja,” balas Alan seadanya.
❀❀❀