
Dan ... di sinilah mereka sekarang. Di tepi jalanan yang sepi, dengan Reyhan, Alan, dan Johan, beserta rencana gila mereka yang akan segera diselenggarakan.
“Bersiaplah, Sayang,” bisik Alan terkekeh sadis, sembari kedua kepalan tangannya yang ia tiup-tiup keras.
Reyhan yang menyaksikan itu jelas saja terkekeh, terlebih setelah mendapati raut pasrah Johan yang hanya bisa memejam berusaha ikhlas.
“Alan? Sayang? Pelan-pelan, ya. Kau suka yang pelan-pelan saja, kan?”
Mendengar ucapan Johan barusan, Reyhan jadi berpikir jika omongan Atha semalam terinspirasi dari Pria itu. Pelan-pelan saja, katanya.
“Pelan memang nikmat, Sayang, tapi ....”
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
“Keras dan berirama jauh lebih nikmat! BWAHAHAHAHAHHAHAHAHA!” Dengan tanpa rasa bersalahnya, Alan menertawai Johan yang kini sudah tengkurap sempurna di tanah.
“Bibirku sobek, Sialan! Bagaimana jika setelah ini aku dan Hale akan berciuman?” gumam Johan parau.
“Jangan mimpi!” kekeh Alan lagi.
“Mengapa tidak? Hale juga manusia biasa yang punya nafsu. Doakan saja semoga ia bisa khilaf dan kami-"
“Berisik! Ayo, cepat! Sekarang giliranku,” potong Reyhan, sembari tubuh Johan yang langsung ia tarik hingga berdiri. “Tegakkan tubuhmu,” lanjutnya.
Johan menggeleng. “Rey Sayang? Pelan-pel-"
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
“ASTAGFIRULLAH, YA ALLAH?! KAU MEMBUAT HIDUNGKU BERDARAH, REY!” teriak Johan histeris.
“Supaya terlihat natural, Bodoh! Kau mau Halsey curiga, ya? Ayo, bangun!”
Dengan saksama, Alan dan Reyhan memandangi wajah Johan yang sudah bonyok, tapi belum seluruhnya.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Alan melirik Reyhan.
“Belum cukup.”
Bugh!
Bugh!
“Giliranmu, Rey,” ujar Alan lagi.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
“Oke, cukup!” susul Reyhan mantap.
“Sekarang, aku akan menjemput Hale. Jangan lupa mengacaukan pakaiannya, ya, supaya terlihat lebih natural!”
Selepas berlalunya Alan, Reyhan buru-buru menyeret tubuh Johan ke tepi jalan, kemudian memandangi wajah Pria itu lagi beberapa saat. “Sabar saja. Demi cinta,” kekehnya.
“Tapi ... bagaimana jika Hale tetap tidak mau menerimaku?” tanya Johan lemah.
“Tidak perlu khawatir dengan hasilnya. Kau hanya perlu berusaha,” balas Reyhan sembari mulai sibuk dengan rokoknya.
Setelah itu, percakapan singkat hanya sesekali terjadi di antara keduanya. Johan sibuk meringis, dan Reyhan sibuk berpikir.
Memikirkan apa?
Jangan bertanya. Itu rahasia.
“Johan? Mereka sudah datang! Ayo, cepat!” Sesigap mungkin, Reyhan langsung melempar puntung rokoknya, kemudian lanjut merebahkan tubuh Johan ke atas tanah. “Katakan apa pun yang bisa meyakinkan Halsey, mengerti?”
"Johan ...?" Halsey tampak keluar dari mobil dengan tergesa-gesa kemudian berlari menghampiri tubuh Johan yang sudah terkapar lemah. "Johan ... mengapa bisa seperti ini ...? Hiks, hiks ...."
"Hale ...." Johan berlirih sembari tangannya terulur mengusap pipi Halsey pelan. "Jangan menangis, Sayang ...," bisiknya lagi.
"Bertahanlah, Johan! REY? ALAN?! CEPAT BAWA JOHAN KE MOBIL! KITA HARUS KE RUMAH SAKIT!"
Alan dan Reyhan langsung mengangguk bersamaan. Memapah tubuh Johan hingga tiba di mobil, tanpa lupa pula saling melirik kemudian terkekeh sembunyi-sembunyi.
"Mengapa kalian tak membawanya sejak tadi, sih?! Bagaimana jika Johan benar-benar mati?! HAH?!" Halsey berteriak sembari menarik kepala Johan ke pangkuannya.
"Hale ... sakit sekali ...," rengek Johan manja.
Reyhan dan Alan yang mendengar itu langsung saja memutar bola mata jijik. Semoga saja ..., sepanjang perjalanan nanti, mereka tidak sampai muntah hanya karena menyaksikan kedramatisan Johan.
"Cepat lajukan mobilnya, Alan! Mengapa kau selalu menunda waktu?!"
Reyhan mengulurkan tangannya ke bahu Alan, seolah meminta Pria itu untuk tetap sabar atas segala cobaan yang ada.
"Jangan menyentuhku, Sialan!" maki Alan sembari mulai melajukan mobilnya kesal.
"Johan? Bertahanlah. Aku yakin kau akan baik-baik saja," bisik Halsey pelan.
Dari kaca depan, Reyhan menyaksikan Gadis itu membelai wajah Johan pelan, dengan tangis yang tak lupa mengiringi.
Dari sorot wajah khawatirnya sekarang, Halsey sudah jelas mencintai Johan. Tidak ada yang bisa menyangkalnya, bahkan meski Gadis itu tetap berusaha menolak dan mengatakan tidak.
"Sakit, Hale ...."
"Iya, Johan. Aku tahu kau kuat."
"Tapi ini sangat sakit, Hale ...."
"Bersabarlah. Lukamu akan diobati setelah kita tiba di rumah sakit."
"Tidak mau .... Aku tidak butuh dokter!"
"Lalu apa, Johan? Jangan bicara lagi!"
"Sakit, Hale .... Sepertinya kau harus mencium luka di wajahku ini.”
Reyhan dan Alan mendesah pelan, bersamaan.
"Diam! Jangan bicara lagi."
"Tapi aku kesakitan, Hale .... Bagaimana jika luka ini membuatku mati? Memangnya kau rela kehilanganku, ya?"
"Joh-"
"Pokoknya cium!"
"Ayolah, Johan. Kau pasti ingat bahwa ada aku dan Rey di sini." Alan akhirnya benar-benar bersuara, bahkan terdengar sangat muak sekaligus kesal.
Sayangnya ..., Johan tak mengindahkan ucapannya. Ia tetap saja sibuk memandangi wajah Halsey dari bawah sembari mengeratkan dekapannya di tangan Gadis itu. "Hale ...?"
"Sepertinya hidupku tidak akan lama la-"
Plak!
"Jangan bicara sembarangan, Johan!"
Selain menertawai, Alan dan Reyhan tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, Pria itu memang terlalu memuakkan dan menjijikkan.
"Aku serius, Hale .... Sepertinya luka di wajahku inilah yang akan merenggut nyawaku secara perlahan," rengek Johan lagi.
"Sudah, Johan. Jangan bicara lagi!"
"Kalau aku benar-benar mati setelah ini, maukah kau mengabulkan permintaanku, Hale? Aku tidak mau gentayangan nantinya hanya karena satu keinginanku tak sempat terpenuhi."
Reyhan menggeleng-geleng.
Gentayangan?
Johan pasti sudah hampir gila.
"Sudah, Joh-"
"Lihat aku, Hale."
"Untuk cium tadi, aku hanya bercanda. Tapi kali ini ... aku benar-benar serius, Hale."
"Serius apa?"
"Kembalilah denganku. Aku ingin menghabiskan sisa-sisa hidupku bersamamu. Mencipta banyak kenangan, saling mengisi kekurangan. Beri aku kesempatan kedua, Hale."
Meski belum bisa mengalahkan Alan, tetap saja ... Johan sudah bisa disebut hebat dalam urusan meluluhkan dengan ucapan.
"Hale ...?"
"Maaf, Johan. Aku- aku ...."
"Kumohon, Hale ...."
"Tapi berjanji dulu bahwa kau tak akan mencari masalah dan membahayakan dirimu sendiri lagi."
"Iya, Hale. Aku janji."
Meski harus dirawat di rumah sakit, tetap saja ..., semua itu terdengar tidak penting lagi selama Halsey berhasil direngkuh Johan kembali.
▪▪▪
“Nah, begitu, dong, Sayang. Ayah dan Bundamu, kan, akan merasa bangga jika kau bisa mempertahankan prestasimu terus-menerus,” ujar Abrisam di tengah-tengah aktivitas menyantap sarapannya.
“Iya, Ayah. Aku akan berusaha lebih keras lagi,” balas Sella tak kalah bahagianya.
“Ini, Sayang. Habiskan susunya, ya?” ujar Lavina juga.
Sementara Reyhan yang menyaksikan itu hanya bisa menggigit rotinya tak berselera. Diperlakukan seperti itu juga pernah ia rasakan dulu, tapi ... bukannya membahagiakan, ia malah lebih merasa terbebani. Meski Sella terlihat bahagia menanggapi Abrisam dan Lavina, tetap saja, ia lebih bisa tahu betapa merasa tertekan Adiknya itu menjalani hari-harinya. Ingin mengakhiri, tapi tidak bisa. Ia takut jika tindakannya hanya akan berakhir tidak sesuai pengharapan. Berakhir tidak seperti saat ia memperjuangkan kebebasannya dulu.
“Kita harus berangkat,” ujarnya sembari bangkit dari duduk.
Sella mengangguk. Langsung mengekori aktivitas Reyhan yang sudah sibuk menyalami Abrisam dan Lavina bergantian.
Setelah saling terduduk di jok masing-masing, Reyhan melajukan mobilnya. Melintasi jalan yang agak berbeda dari biasanya, hingga Sella yang menyadari itu sontak menoleh dengan kening berkerut.
“Ini bukan jalan menuju sekolahku, Kak. Kita akan ke mana?”
“Kakak ingin menjemput Halsey dulu. Pacarnya Johan,” balas Reyhan tanpa menoleh.
Sella mengangguk mengerti, kemudian mulai sibuk mempelajari beberapa materi dalam buku di genggamannya.
“Sebaiknya ... jangan terlalu berlebihan dalam belajar. Otakmu juga perlu istirahat,” tegur Reyhan.
“Iya, Kak,” balas Sella menoleh sekilas.
“Kapan-kapan, kita jalan-jalan, ya. Tapi setelah kau mengikuti olimpiade, dan meraih juara, oke?” ujar Reyhan lagi sembari mengusap rambut Sella pelan.
“Hm. Kau terlalu sibuk dengan kak Alan dan kak Johan belakangan ini,” balas Sella juga.
“Iya, Sayang. Maaf, ya.”
Setelahnya, tak lagi terjadi percakapan, bahkan hingga mobil Reyhan sudah menepi sempurna di depan gerbang kediaman keluarga Bamatara. Halsey sudah terlihat menunggu, hingga tanpa membuang waktu lagi, Gadis itu langsung masuk ke jok tengah, dan Reyhan kembali melajukan mobilnya.
“Maaf telah merepotkanmu,” ujar Halsey dari belakang.
“Jangan dipikirkan,” balas Reyhan tanpa menoleh.
Kian menit berlalu, hanya ada keheningan yang mengisi suasana di antara ketiganya. Mobil Reyhan kembali menepi. Berhenti tepat di depan gerbang sekolah Sella, hingga Gadis itu pun sontak mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.
“Pastikan lagi kau tidak melupakan apa-apa,” ujar Reyhan.
“Hm. Tidak ada, kok,” balas Sella setelah selesai. Selanjutnya, ia menyalami Reyhan. Menoleh ke jok tengah, kemudian ikut menyalami Halsey juga. “Aku duluan!”
Setelah Sella bergegas keluar, Reyhan langsung menoleh ke jok belakang juga. “Duduk di depan saja.”
“Kenapa?”
“Karena aku sahabatnya pacarmu, bukan sopirmu.”
Setelah menggerutu dalam hati, Halsey pun menurut. Andai sedang tidak merasa berutang budi, maka ... ia pasti akan membalas tak kalah sadisnya juga. Tapi lupakan. Mood bertengkarnya juga sedang tidak hidup.
“Kak Hale?!”
Niat Halsey bergegas masuk ke mobil langsung tertahan tatkala mendengar teriakan familiar itu. “Atha?”
“Kakak sedang apa di sini?” tanya Atha setelah sampai tepat di depan Halsey.
“Eum ... mengantar adiknya Reyhan,” balas Halsey tersenyum tipis.
Reyhan?
Ah, benar juga. Atha tidak menyadari jika mobil di hadapannya sekarang sangatlah familiar. “Hai, Kak Rerey! Kenakan kacamatamu, Kak. Seperti katamu kemarin, aku akan selalu mengingatkan, agar kau bisa menyayangiku.”
Reyhan ... memalingkan wajah.
Apa-apaan maksudnya itu?!
Dasar Gadis Gila! Katanya akan menjaga baik-baik, tapi barusan?
Mempermalukan saja!
“Masuk sekarang, Halsey. Jangan meladeni Gadis Gila itu. Membuang waktu saja,” ujarnya tanpa menoleh.
Malu sekaligus kesal. Siapa, sih, yang tidak akan merasakan kedua hal itu jika berada di posisinya? Tentang segala niat baiknya untuk berhenti bersikap kasar, ataupun mulai mau menyayangi, LUPAKAN SAJA! LUPAKAN, MENGERTI?!
“Kakak duluan dulu. Oh, ya. Johan sekarang diopname di rumah sakit. Kau bisa datang dan menjenguknya sore nanti,” ujar Halsey sebelum benar-benar masuk ke mobil, dan menutup pintu setelahnya.
Sementara Atha, Gadis itu hanya bisa terdiam memandangi mobil Reyhan yang kian melaju pergi.
Astaga ... mulutnya itu.
“Kak Rerey pasti akan bersikap ketus lagi ....”
“Dasar bodoh! Mengapa aku benar-benar bodoh?!”
“Padahal kemarin, aku jelas-jelas sudah berjanji padanya, lagi!”
Atha mendesah pasrah. “Itu artinya ... aku akan berjuang lagi. Tenang saja. Kita pikirkan mengenai idenya nanti!” gumamnya lagi, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah lesu memasuki gerbang sekolah.
❀❀❀