Reytha's Destiny

Reytha's Destiny
Danau



“Kau hanya perlu bersedia pergi denganku, Kak. Aku janji akan merahasiakan semuanya, hm?” Atha perlahan bangkit berdiri. “Mau, ya, Kak? Aku janji akan merahasiakan semuanya, kok. Termasuk jika kau bersedia mengunjungi tempat itu!” lanjutnya lagi


.


Reyhan terdiam. Ah, sial! Ia tidak mengira jika Gadis ini bisa bersikap licik juga. Semuanya benar-benar di luar perkiraan, dan ia tidak tahu harus mengambil tindakan apa.


“Kak Rerey? Mau, tidak? Kalau perlu, aku akan mengatakan padamu bahwa ini hanya rahasia kita berdua. Aku janji tidak akan menga- Kak Rerey ...?” Dengan perasaan kecewa, Atha terdiam memandangi Reyhan sudah kembali berbalik dan mendudukkan diri di jok mobilnya.


Ternyata ... memang tidak semudah perkiraan. Sangat perlu banyak tenaga dan korban perasaan untuk bisa masuk dan menampakkan sisi lain dari seorang Reyhan.


Brak!


“Ayo.”


Memang menakjubkan. Saking menakjubkannya, Atha sampai membeku di tempat, seolah sosok Reyhan yang tengah mengenakan kacamata itu bukanlah hal nyata yang bisa dipercaya.


Ayolah.


Sosok yang menyerupai Reyhan itu bukan genderuwo, kan?


“Woy?! Mau, tidak, sih?!”


Atha meloncat-loncat kegirangan. “Mau, Kak! Sang- mmmph!”


“Jangan berisik!” Setelah melepas bekapannya di mulut Atha, maka kini, Reyhan sudah terduduk sempurna di jok sepeda Gadis itu. “Kau jalan kaki saja, ya? Sepeda ini terlalu kecil untuk dimuat dua orang,” ujarnya.


“Ish! Mana bisa begitu?! Kata kak Johan, sebisa mungkin, pria itu harus selalu mengalah dan berkorban demi perempu-"


“CK! Gadis ini. Kau mau naik atau-” Ucapan Reyhan menggantung tatkala Atha sudah terduduk sempurna di jok belakang, bahkan sembari memeluk pinggangnya lagi. “Lepaskan tanganmu, sebelum aku yang patahkan.”


“Iya, iya. Aku lepaskan!” pasrah Atha kemudian.


Karena ukuran sepeda tersebut cukup mungil untuk tubuh kekarnya, maka Reyhan pun mulai mengayuh dengan kaku. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak lepas fokus, dan terus menjaga keseimbangan agar mereka tidak berakhir lalu jatuh bersama. Ah, sial. Tidak akan ada hal lebih konyol daripada itu, demi apa pun!


“CK! Lepaskan tanganmu, Bodoh! Jangan membuatku mengulangi kalimat yang sama!” bentak Reyhan mulai kesal, tatkala merasakan lengan Atha yang kembali menggelung di pinggangnya.


“Tapi aku bisa jatuh jika tidak pegang-"


“Ya pegangan di belakang saja! Tidak perlu modus-modus memeluk-“


“Tapi aku suka. Apalagi ....” Atha meraba perut Reyhan beberapa saat. “Perutmu ada roti-rotinya, Kak. Di *******, Pria yang punya roti kotak-kotak di perutnya itu, katanya seksi. Itu benar-"


“Gadis Gila Bodoh! Kau mau kita jatuh, ya?! Cepat, lepaskan tangan-"


“KAK REREYYYYY?! ADA BATU DI DEP- ARGHHHHH!”


BRUGH!


Dan ... ketakutannya benar-benar terjadi. Sebenarnya tidak juga, tapi Gadis gila itu ..., ia membuang dirinya duluan di belakang sana, hingga Reyhan pun turut lepas kendali dan menabrak sebuah batu besar lalu ikut terhempas.


“Dasar Gadis Bodoh! Mengapa kau harus membuang tubuhmu, sih?! Huh?! Jika saja kau tid- Gadis gila? Kau pingsan, ya?” Dengan panik, Reyhan bangkit dan menghampiri tubuh Atha yang sudah telentang di aspal jalan. Meski ada beberapa orang berlalu-lalang, tetap saja, semuanya hanya lewat dan menontoni. Tidak ada yang niat menolong, sama sekali.


“Gadis Gila? Bangun,” bisik Reyhan pelan.


“Hey? Kau bisa mendengarku, kan?” bisiknya lagi, tapi tetap tak ada tanggapan.


Reyhan mendesah sesal.


Memperbaiki suasana hati?!


Memperbaiki sialan?! Andai saja tahu jika semuanya hanya akan berakhir begini, maka ia sudah pasti menolak sejak awal saja.


“Gadis Gila? Ayo, bangun. Jangan pingsan, dong ...!” bisiknya lagi, sembari tangannya yang menepuk-nepuk pipi Atha pelan.


“Hey? Bangun!”


“Bangun, Gadis Gi-"


“Kak Rerey ...? Kepalaku pusing ...!”


Reyhan membuang napas lega. “Baiklah. Kau sudah sadar, kan? Aku pulang duluan, ya. Itu, sepedamu. Pulang sendiri sa-"


“Kita tidak jadi ke tempat itu, ya?” potong Atha kecewa.


“Kepalamu pusing, bukan? Aku benci direpot-"


“Kalau begitu aku akan mengadu pada-"


“Tutup mulutmu, Gadis Sialan!”


Meski baru saja dimaki, Atha tetap tersenyum penuh kemenangan. Membiarkan Reyhan membantunya bangkit berdiri, bahkan sampai modus pura-pura hampir jatuh, hanya agar Reyhan semakin menariknya erat. “Jangan keseringan memanggilku dengan sebutan ‘gadis’ saja, dong, Kak. Aku, kan, punya nama. Cantik, lagi,” celotehnya.


Entah sudah terlalu muak atau bagaimana, yang jelasnya, Reyhan tak lagi menanggapi. Pria itu bahkan langsung saja mengayuhkan sepeda, tanpa mau mengindahkan tangan Atha yang lagi-lagi memeluknya erat, bahkan menumpukan kepala di punggungnya dengan nyaman.


Katakan saja ia bodoh. Tapi ..., apa yang bisa ia lakukan? Sayangnya ... Gadis Gila itu tak lagi sepenurut sebelumnya. Dulu, menatap matanya saja sudah tidak berani, tapi sekarang?


“Kak Rerey? Belok kiri di depan sana, ya!”


Kan? Gadis itu bahkan sudah memerintah seenaknya. “Sialan kau.”


“Aku si Atha. Bukan si Alan. Ahehehe!”


Setelah beberapa jauh mengayuh, maka kini, perasaan kesal Reyhan seolah terhapuskan oleh pemandangan yang sudah menyambut. Sebuah danau. Penuh kesan hijau, dengan jembatan-jembatan kayu yang menghubungkan tepi jalan dengan rumah pohon di sisi kanannya.


“Menurutmu?” balas Reyhan ketus.


Setelah memarkirkan sepeda dengan baik, Reyhan bergegas turun. Mulai berbalik dan hendak berjalan duluan, tapi tertahan karena Atha langsung menarik lengannya erat.


“Aku, kan, masih pusing, Kak. Gendong aku ke san-"


“Apa?! Kau bilang apa tadi?! Huh?!”


Atha terkekeh. “Gendong aku ke sana,” balasnya menyengir.


Pletak!


“Mati saja sekalian!” sinis Reyhan tajam, sebelum akhirnya benar-benar berlalu dan meninggalkan Atha di tepi jalan sendirian.


“Kak Rerey?! Ish, dasar jahat! Ayolah. Jika tidak mau menggendong, setidaknya papah tubuhku saja. Aku bisa jatuh ke dalam danau jika nekat menyusuri jembatan kecil itu sendirian,” celoteh Atha panjang lebar, sembari keningnya yang baru saja dijitak Reyhan ia usap pelan.


“Kak Rerey?! Ayo-"


“Diam, atau aku pulang sekarang!” Dan teriakan Reyhan barusan benar-benar mempan membuat Atha diam.


“I-iya. Maafkan aku, hiks."


“Dasar Gadis cengeng! Merepotkan!” teriak Reyhan lagi.


Sembari mengusap pipi pelan, Atha bergerak turun dari sepedanya. Melangkah gontai menyusuri jembatan kecil itu, seraya melirik Reyhan sesekali seolah berharap jika Pria itu akan berbalik dan berbaik hati ingin membantunya. Tapi ... tidak sama sekali. Reyhan bahkan sudah semakin sibuk menikmati keindahan danau dari atas rumah pohon, dan tak mengindahkan dirinya sedikit pun.


Setelah meniti naik melalui tangga, ia pun ikut berdiri tepat di samping Reyhan, kemudian menumpukan kedua sikunya di pagar kayu. Memandangi wajah tenang Pria itu beberapa saat, sebelum akhirnya membuang napas, dan lanjut menumpukan kepala di lengan Reyhan. “Aku pus-"


“Jangan merusak mood-ku dulu, mengerti?”


Meski Reyhan mendorong kepalanya kasar, tetap saja ..., suara lembut Pria itu lebih membuat Atha terharu. Ah, astaga. Apa yang bisa lebih membahagiakan dari ini?


“Kak Rerey?”


Reyhan terlihat sangat menikmati pemandangan, bahkan meski kacamata hitam yang bertengger di hidungnya itu jelas saja menghalangi.


“Kak Rerey?” panggil Atha lagi.


“Hm?”


“Apa ... kau sudah bisa menyayangiku?”


Reyhan menoleh. “Selalu tidak.”


“Kalau berhenti membenciku?” tanya Atha lagi.


“Eum ... ekhem. Masih berusaha kulakukan.”


Atha terharu. “Benarkah?!” teriaknya histeris.


“Tapi akan kubatalkan jika kau masih sering bersikap sok imut.”


“Tapi aku memang imut, Kak. Itu, kan, bukan kesalah-"


“Apalagi jika kau semakin berani memprotes ucapanku.”


“Kak Rer-"


“Termasuk bersikap cerewet, dan memanggilku dengan sebutan ‘barusan’,” potong Reyhan lagi.


Atha mendesah berat. “Iya, baiklah. Meski mustahil, aku akan berusaha tidak melakukan hal-hal tadi, kecuali mengganti nama sebutan. Bahkan meski kau sampai mengancam akan membunuhmu sekalian, aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan ‘Kak Rerey’, Kak. Itu tidak akan berubah, hm?”


Entah jijik atau muak, tapi Reyhan lagi-lagi mendorong wajah Atha yang masih sempat-sempatnya lagi tersenyum sok imut. “Sudah kubilang jangan bersikap sok imut! Malah berkedip-kedip, juga. Matamu mau kucolok, ya?”


Atha menyengir. “Iya, iya. Aku khilaf, hehe,” kekehnya. “Tapi, Kak, beritahu aku juga, dong, harus berbuat apa agar kau mau menyayangiku.”


“Aku tidak pernah bilang ingin menyayangimu,” balas Reyhan ketus.


“Ish! Mana bisa begitu?! Ayolah, Kak. Beritahu aku setidaknya satu,” rengek Atha lagi.


“Ck! Apa, sih, Bodoh?! Menjauh!”


“Beritahu aku ...!”


“Menjauh, tidak?!”


“Ayolah, Kak ....!”


“Kak Rerey?!”


“Beritahu aku ...!”


“Please ...!”


“Please, please! Satuuuuuuuuu saj-"


“Selalu ingatkan aku untuk mengenakan kacamata saat kita bertemu,” potong Reyhan datar, sebelum akhirnya berbalik menuruni rumah pohon, dan meninggalkan Atha menangis penuh haru di sana sendirian.


"Astaga. Demi apa Gadis itu benar-benar dramatis?" gumam Reyhan tak habis pikir.


❀❀❀