
"Iya, terima kasih, ya."
Setelah acara suap-suapan tadi selesai, kini, Atha sudah tampak duduk berdua dengan Halsey di sofa, bersama beberapa orang lainnya juga.
"Iya, Kak. Aku masih siswi SMP, kelas 9," balas Atha sembari terkekeh pelan. Ia benar-benar senang bisa sedekat itu dengan Halsey. Apalagi setelah membaca isi pikirannya yang menyebut bahwa ia ceria, sekaligus memuji kulit kecoklatan, lesung pipi, juga gigi kelincinya. "Terima kasih, Kak Hale. Aku sangat bahagia bisa sedekat ini denganmu," balas Atha sembari memeluk Halsey dari samping.
"Astaga aku lupa kalau kau bisa membaca pikiran," gumam Halsey.
Atha hanya terkekeh kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Setelah berhenti tepat pada sosok Johan, langsung saja Gadis itu melambai dengan sangat riang.
Johan berjalan mendekat kemudian duduk di sisi kanan Atha.
"Sini duduk dengan Kak Hale, Kak. Aku tahu sejak tadi kau sangat ingin mendekatinya," ujar Atha sembari bangkit berdiri.
Setelahnya, ia tampak berjalan mendekat ke arah Alan dan Reyhan, kemudian duduk di antara kedua Pria itu. “Kak Rerey? Sudah ambil minuman di sana, tid-"
“Sejak kap- ck! Pindah, Gadis Bodoh! Kata siapa aku memberimu izin untuk duduk di si-“
“Dia Adik bersama kita, bukan? Malam itu, kau juga mengiya-"
“Berisik!” sergah Reyhan kesal, sembari langsung bangkit berdiri dan duduk di sofa lain.
Adik bersama, adik bersama.
Baru tadi sore saja ia sedikit memberi hati pada Gadis itu, tapi sikapnya sekarang bahkan sudah sangat melunjak lebih lancang lagi.
Sementara di sisi Atha, Gadis itu hanya bisa tersenyum kecut. Meski Reyhan sulit sekali tersentuh, ia tetap akan berusaha.
“Sayang? Jangan mempedulikan sikap Rey, ya?” ujar Alan sembari memeluk Atha dari samping.
Atha mengangguk cepat. “Tidak akan, Kak. Aku janji bisa meluluhkan Kak Rerey, kok. Aku akan berusaha membuatnya menyayangiku juga, seperti bagaimana kau dan kak Johan,” balasnya penuh semangat.
“Hm. Jangan putus asa. Kakak akan selalu mendukung dan melindungimu dari Brengsek itu,” hibur Alan lagi, sembari menyempatkan untuk melirik Reyhan sekilas.
“Terima kasih!” seru Atha penuh haru, sebelum akhirnya langsung berhambur memeluk Alan erat.
Setelah acara selesai, semuanya bergegas berpamitan, lalu pulang setelahnya.
Tapi, Reyhan dan Alan lagi-lagi berdebat saling menyuruh untuk mengantar Atha pulang. Lalu Reyhan? Jelas saja ia protes dan tidak mau. Memang dirinya yang menjemput Gadis itu, apa?!
“Mengapa, sih, kau selalu saja mencipta perdebatan?! Huh?! Siapa suruh menjemputnya jika tidak bisa mengantarnya pulang juga?!”
“Baiklah. Kau memang menyimpan perasaan untuk Atha kalau begitu.” Ucapan Alan barusan berhasil mencegah Reyhan untuk segera masuk ke mobil. Pria itu tampak memejam geram seolah tidak tahan lagi dengan tuduhan sialan tak beralasan yang selalu Alan lemparkan.
“Maksudmu apa, sih, Alan?! Aku muak, ya! AKU MU-"
“Aku hanya membantumu, Sayang. Memangnya kau mau seperti Hale ju-"
“Apa hubungan dengan Halsey?! Huh?!” sergah Reyhan semakin kesal. Bahkan, pintu mobilnya langsung ia tutup keras, kemudian langkahnya ia tuntun mendekat ke arah Alan.
Alan sendiri semakin terkekeh tatkala Reyhan mencengkeram kerah kemejanya erat.
Hadeh!
Mengapa, sih, Pria itu benar-benar keras kepala? Wajar, bukan, jika perasaan bencinya pada Atha ia anggap sebagai perasaan suka? Di mana-mana juga orang tahu kalau benci dan cinta itu beda tipis.
“Memangnya mengapa kau sangat tidak sudi mengantar Atha pulang? Takut khilaf, ya, jika harus berdua-duaan dengan-“
“BRENGSEK KAU, ALAN! MATI SAJA SEKALIAN!” maki Reyhan berteriak, sebelum akhirnya mendorong Alan ke aspal, lalu berbalik pergi begitu saja.
Sementara Atha yang menyaksikan itu pun langsung bergerak panik. Ia benar-benar merasa bersalah karena terus saja menjadi alasan kedua Pria itu bertengkar sepanjang hari. “Ya, ampun, Kak?! Kau tid-"
“Lalu mengapa kau selalu bersedia mengantar Hale pulang tanpa protes? Jawab, Rey!” teriak Alan sekali lagi, hingga Reyhan sontak menghentikan langkah.
“Karena kau tidak merasakan apa-apa. Kau hanya menganggap kedekatanmu dengan Hale biasa saja, berbeda dengan Atha,” lanjut Alan lagi.
“Benci dan cinta itu beda tip-"
“Lalu apa maumu, Alan Sialan?! Huh?! APA MAUMU?!” teriak Reyhan mulai frustrasi. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ingin mengelak tidak punya perasaan sudah sangat sering, tapi yang ada ..., dua kunyuk sialan itu malah semakin sering saja meledekinya.
Sementara Alan, Pria itu kini bangkit berdiri sembari bokongnya yang ia tepuk-tepuk santai. “Seperti kataku sebelum-sebelumnya, aku hanya akan percaya jika kau bisa bersikap biasa pad-“
“AKU TIDAK PERNAH MEMPERLAKUKANNYA SECARA SPESIAL, ALAN! TIDAK PER-"
“Memangnya aku bilang begitu, ya?” Alan terkekeh. “Atau ... kau memang punya niat untuk memperlakukannya secara spes-"
“Mulai malam ini, jika kau masih berani mengataiku punya perasaan dengannya, maka ....” Reyhan mencengkeram erat pergelangan tangan Atha, kemudian, “Gadis ini akan kubunuh sekalian!” lanjutnya lagi, sebelum akhirnya langsung menarik dan mendorong Atha ke dalam mobil secara kasar.
Sembari mengusap pergelangan tangannya pelan, Atha sesekali melirik Reyhan takut-takut seolah Pria itu bisa mengamuk dan memakannya sewaktu-waktu.
Suasana sangat canggung, dan ia sungguh takut setengah mati meski hanya membiarkan hembusan napasnya terdengar sedikit saja. Aura Reyhan benar-benar menyeramkan, dan ia tidak tahu harus berbuat apa selain tetap membungkam mulut agar tidak sampai berbicara.
Terlebih setelah merasakan laju mobil yang kian cepat, Atha menggigit bibir bawahnya panik, sembari menutup mata kuat-kuat seolah tidak mau melihat apa-apa di depan sana. Jantungnya berdegup kencang, sangat. Deru napasnya bahkan sudah semakin berembus keras seolah tengah bersaing dengan deru mobil yang turut menjerit halus.
“Tidak, tidak. Tenang, Atha. Kau tidak merasakan apa-apa,” bisiknya berusaha tenang.
Tapi itu tidak berpengaruh. Sebab degup jantung dan deru napasnya bahkan semakin berlomba lebih cepat saja. “Kau akan baik-baik saja. Percayalah. Kau bersama seseorang yang hebat, sekarang,” bisiknya sekali lagi, bersamaan dengan tangisnya yang berangsur pecah. Gadis itu terisak ketakutan, tapi tetap saja, ia masih berusaha bersikap tenang.
“Aku tidak ketakutan, kok. Tid- hiks. Tidak, aku tidak ketakut-"
Criiiiit!
Brugh!
“A-AWW!” Atha berteriak tatkala merasakan nyeri di keningnya yang baru saja membentur dashboard mobil.
Tapi Reyhan, Pria itu tidak peduli sama sekali. Suara Atha membuatnya muak setengah mati. Benar-benar muak setengah mati, sampai-sampai acara mengerem brutalnya barusan saja tidak ia sadari sama sekali.
“Ma-maafkan aku, K-"
“Jika kau tidak bisa menutup mulutmu sepanjang jalan, maka turun saja,” sergah Reyhan datar, sembari wajahnya yang ia palingkan pada Atha. “Bisa atau tidak?”
Atha terdiam. Menunduk dalam, seolah tengah berusaha keras untuk menyembunyikan tangisnya yang semakin meronta pecah. Turun di tempat seperti ini? Itu tentu pilihan gila. Terlalu sepi, dan ia pasti bisa pingsan gara-gara ketakutan. “A-aku akan berusaha,” balasnya kemudian.
“Bagus.” Perlahan, Reyhan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih sedang.
Tanpa pernah terdengar suara satu sama lain lagi, Reyhan menepikan mobilnya tepat di depan rumah Atha. Menunggu Gadis itu bergegas keluar, sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya lagi.
Tapi ..., seperti malam terakhir di mana ia mengantar Gadis itu pulang, Reyhan tampak memundurkan mobilnya ke belakang lagi, kemudian meraih beberapa lembar tisu dan menyodorkannya lewat jendela mobil. “Untuk ingus hijaumu.”
❀❀❀