Reytha's Destiny

Reytha's Destiny
Pelukan Lancang



Seperti biasa, saat sedang membolos, Johan, Alan, dan Reyhan akan duduk di lantai rooftop sekolah sembari menyibukkan diri sekaligus mendengarkan curhatan Johan yang seolah tidak pernah ada habisnya. Pria itu sejak tadi terus sibuk berceloteh. Mengatakan bahwa ia merindukan Halsey, sekaligus juga perasaan kecewanya karena tak lagi dilarang untuk membolos.


"Berhenti merokok dulu, Rey! Cepat berikan saran!" Johan kembali merengek kesal sembari mencegah Reyhan menghisap rokok di jemarinya.


Sementara Reyhan, ia berdecak muak, bahkan sembari langsung menepis tangan Johan begitu saja. "Aku tidak tahu, Bodoh! Turuti saran Alan saja. Lagi pula memang harus seperti itu. Kau perlu berjuang dari awal lagi jika serius ingin mendapatkan Halsey kembali."


Johan merengut masam.


Masa iya, sih, ia harus kembali berjuang?


Masalahnya adalah, Halsey benar-benar kembali bersikap dingin padanya. Tadi saja, Gadis itu sudah sempat melayangkannya tamparan sebanyak tiga kali hanya karena ia modus ingin berpegangan tangan. Malang memang. "Aku bersedia saja, tapi ...."


"JOHAN?! Aku ada ide!"


Meski kaget setengah jiwa, Reyhan tetap ikut menoleh pada Alan yang baru saja berteriak.


"Apa, Sayang? Cepat katakan!" pinta Johan antusias.


"Tapi sebaiknya rencana ini kita jalankan nanti malam saja," balas Alan kemudian.


"Kalau begitu cepat katakan!" teriak Johan kesal, benar-benar tidak sanggup untuk menunggu lagi.


"Hubungi Sam dan kawan-kawannya, kemudian minta mereka datang di taman kota nanti malam.”


"Lalu?"


Alan berdecak. "Lalu kau harus menghadapi mereka semua sendirian, sementara itu, aku akan datang ke rumah Hale dan memintanya untuk menjengukmu di tempat kejadian,” balasnya lagi.


Johan mengangguk-angguk mengerti. "Jadi maksudmu ... aku meminta mereka memukuliku, begitu?"


"Hm. Begitu!" balas Alan bersemangat.


Sementara Alan dan Johan sibuk berbicara, Reyhan tetap betah menyimak sembari otaknya yang turut ia gunakan.


"Tapi ... bagaimana jika mereka benar-benar memukuliku sampai mati?" tanya Johan lagi.


"Itu bagus."


Johan merengut. "Kalau aku mati, lalu bagaimana nasib para pembaca cerita ini? Mereka tidak mungkin rela kehilanganku.”


"Berisik!"


"Aku serius, Alan. Kalau mereka memukuliku sampai mati, lalu siapa yang akan berpacaran dengan Hale? Semua rencana ini jadi sia-sia saja."


Mendengar perdebatan itu semakin jauh melenceng, maka Reyhan buru-buru berdehem. "Bagaimana jika pengeroyokannya kita rekayasa saja?"


Johan dan Alan sontak berbalik kemudian menatapnya bingung.


"Rekayasa?"


"Iya, rekayasa. Aku dan Alan saja yang akan memukulimu," balas Reyhan serius.


"Bukankah itu terdengar sangat konyol?" tanya Johan tak bersemangat.


Reyhan bungkam. Bagaimana, ya, caranya meyakinkan Johan? “Ah, iya.”


"Cinta itu memang butuh perjuangan, Johan. Lagi pula ini salahmu sendiri, kan? Kalau kau serius ingin mendapatkan Halsey kembali, maka turuti rencana ini saja. Atau jika kau merasa keberatan, silakan berjuang dari awal lagi," jelasnya kemudian.


Setelah beberapa lama tampak berpikir, akhirnya, Johan mendesah kasar sembari bangkit berdiri. "Baiklah. Aku akan ke kelas Hale dulu," balasnya sembari mulai berjalan menjauh.


Setelah menyaksikan Johan benar-benar berlalu, maka Alan lantas ikut bangkit berdiri kemudian meloncat-loncat kegirangan. “BAGUS, SAYANG! IDE BAGUS!”


“Berarti ... nanti malam, aku akan punya tepat pelampiasan kepalan tangan. Yashhhh! ****** kau, Johan Brengsek! Whoooooww!”


“Aku duluan, ya, Rey! Ada siswi baru sexy di kelas sepuluh!”


Reyhan mendesah berat.


Senikmat apa, sih, sebenarnya jatuh cinta itu?


Mengapa Johan benar-benar tak terkendali?


Dan mengapa dirinya sampai sekarang belum tahu rasanya mencintai?


“Kira-kira ..., jika aku berubah jadi playboy seperti Alan, apa hari-hariku tidak akan setidak-berwarna ini lagi, ya?”


Plak!


Reyhan memegangi bekas tamparannya sendiri. “Jangan pernah khilaf, demi Sella!” gumamnya pelan, sebelum akhirnya ikut bangkit berdiri dan bergegas pergi.


▪▪▪


Selepas meninggalkan pelataran sekolah, maka kini, Reyhan lanjut melajukan mobilnya menuju sekolah Sella.


“Halo? Sudah pulang, kan?”


“Iya. Aku sudah menunggumu dari tadi, kok, Kak,” sahut Sella dari seberang.


“Baiklah. Tutup teleponnya.”


Waktu berlalu, dan mobilnya sudah tampak menepi di depan gerbang sekolah Sella. Awalnya, Reyhan memutuskan untuk menunggu di dalam saja, tapi semakin lama, Sella yang tak kunjung muncul membuatnya terpaksa bergegas keluar, kemudian menumpukan bokong di kap bagian depan mobil.


Merokok.


Tindakan yang  biasanya ia ambil saat merasa jengah, seperti sekarang.


Dengan perlahan, Reyhan membakar sebatang gelungan tembakau yang baru saja dikeluarkannya dari saku seragam. Menghisapnya dalam, kemudian membuang asapnya perlahan tanpa lupa menjentikkannya tenang.


Setelah melirik sekali ke arah gerbang yang belum juga menampakkan tanda-tanda kehadiran Sella, ia putuskan untuk mengirimkan pesan singkat mengenai keberadaannya sekarang.


Jujur saja, suasana hatinya masih sesekali memburuk jika mengingat bagaimana Sella dibentak, bahkan sampai dikurung di kamar hanya gara-gara nilai sialan yang tidak terlalu maksimal. Padahal, adiknya itu sudah terlalu berusaha keras, bahkan sampai merelakan waktu yang seharusnya ia gunakan bersenang-senang, hanya habis sia-sia karena mengejar nilai maksim-


“Merokok membunuhmu.”


Reyhan memandangi sebungkus eskrim yang terulur di hadapannya, kemudian lanjut menatap sesosok Gadis yang kini sudah sibuk tersenyum lebar ke arahnya. “Kau berjualan eskrim juga?”


Atha terkekeh pelan, sembari sepedanya yang ia parkirkan rapi di tepi jalan. Setelah selesai, Gadis itu lalu berjalan mendekat ke arah Reyhan, kemudian ikut menumpukan bokongnya di kap bagian depan mobil. “Cuacanya sedang panas, Kak. Lebih baik, rokok itu kauganti dengan eskrim dulu saja. Hm? Ini, ambillah.”


Sembari menggeleng tidak sudi, Reyhan mendorong eskrim yang diulurkan Atha cepat, kemudian lanjut menikmati rokoknya lagi. “Tidak butuh, dan tidak terima kasih.”


“Aku membeli ini dengan uang, Kak. Bagimu ..., yang seharga ini mungkin tidak berharga, tapi tidak untukku. Aku harus bekerja keras. Berjualan sepanjang siang, agar bisa mendapatkan uang dan membe-“


“Iya, deh! Sini, kemarikan!”


Dengan senyum yang mekar, Atha pun mengulurkan sebungkus eskrim tadi pada Reyhan, hingga Pria itu meraih lalu membuka bungkusannya cepat.


“Terima kasih, Kak Rerey Tampan! Ngomong-ngomong ..., kau menunggu Sella, kan? Dia sepertinya mengambil kelas tambahan lagi,” ujar Atha sembari eskrimnya yang ia jilat sekilas.


“Sejak nilai ulangannya menurun dan gagal ikut olimpiade, Sella terlihat lebih berusaha keras belajar. Jam istrahat ia gunakan untuk belajar di perpustakaan, bahkan mungkin beberapa organisasi pengembangan dirinya ia tinggalkan untuk beberapa pekan.” Atha menoleh kemudian mendongak menatap Reyhan dari samping. “Sebenarnya ... aku selalu ingin menasehatinya agar tidak terlalu seserius itu, tapi ... Sella sepertinya tidak menyukaiku. Jadi, sebaiknya kau saja, Kak, yang menasehatinya. Aku takut ia mengalami hal serius karena terlalu keseringan belajar.”


Entah sadar atau tidak, yang jelasnya, kini, Reyhan sudah balas menatap Atha tanpa kacamata yang bertengger di hidungnya. “Tidak suka kenap-"


Drrrttt! Drrrrtt!


Setelah melirik label kontak di balik layar, maka Reyhan buru-buru mendekatkan ponselnya ke kuping, kemudian, “Kakak sudah menunggumu sejak tadi, Gisella. Mengapa belum keluar juga?”


“Maafkan aku, Kak, tapi ... aku masih harus menyelesaikan beberapa lembar soal lagi.”


“Tidak! Sekarang cepat kemari, dan-"


“Ini kesempatan, Kak! Kau tahu aku tidak betah melihat kecanggungan antara kau dan ayah juga bunda di rumah. Jadi, dengan cara ini, aku berharap semuanya bisa teratasi. Aku akan menjawab beberapa pertanyaan lagi, agar kesertaanku untuk lomba olimpiade itu bisa dipertimbangkan.”


“Tapi, Sell-"


“Kumohon, Kak. Aku menyayangimu. Dah!”


Setelah sambungan telepon terputus, Reyhan mendesah berat.


“Ada apa, Kak?” tanya Atha hati-hati. Ia menyaksikan Reyhan tampak melahap habis eskrimnya dengan rahang mengetat, seolah ada perasaan amarah yang berusaha ia redam kuat-kuat.


Dengan ragu, Atha mengulurkan tangannya hingga menyentuh pundak Reyhan. “Kak Rerey?”


“Jangan lancang!” bentak Reyhan datar, sembari tangan mungil Atha yang langsung ia tepis jauh.


Setelah selesai dengan eskrimnya tadi, ia lantas beranjak berdiri, tapi tangan mungil Atha di lengannya lagi-lagi mencegahnya berbalik.


“Aku ... aku tahu sebuah tempat yang mungkin bisa memperbaiki suasana hatimu, Kak. Kita ke sana, ya? Bonceng aku dengan seped-" Meski Reyhan lagi-lagi menyentakkan tangannya keras, tapi, Atha tidak menyerah. Gadis itu tetap berusaha mencegah, bahkan hingga kedua lengannya sudah menggelung sempurna di pinggang kekar Reyhan.


Benar.


Atha memeluk Reyhan dari belakang, dengan sangat-sangat lancang dan tak pikir panjangnya. “Kumohon ....”


Suara lirih itu ... membuat Reyhan membeku. Jantungnya terasa lebih keras berdegup. Dan hampir seluruh tubuhnya bergetar karena gugup.


Hal gila apa ini? Mengapa tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan? Ini bukan pelukan yang pertama dari manusia lawan jenis. Ia bahkan beberapa kali pernah melakukan hal yang lebih jauh daripada sekedar ‘ini’, tapi ....


Brugh!


“Sudah kukatakan untuk jangan bersikap lancang!”


Atha meringis pelan. Meski merasakan nyeri luar biasa pada bokongnya yang baru saja berciuman dengan aspal, tapi ... ia takkan membiarkan hal itu jadi kelemahan. Ia berani, dan ia akan memanfaatkan situasi.


“HUWAAAAAAAA! AKU AKAN MENGADUKAN PERBUATANMU INI PADA KAK ALAN DAN KAK JOH-"


Brak!


“GADIS GILA! DIAM KAU!” teriak Reyhan keras, setelah pintu mobilnya ia tutup kembali dengan perasaan muak. Entah apa maksud Gadis di hadapannya itu, yang jelas ..., perasaanya sekarang benar-benar terasa menggado-gado. Malu, marah, bingung, semuanya!


“Dan ucapanmu yang barusan juga! Aku akan mengadukan semua ini pada kak Alan dan kak Johan jika kau tid-“


“Apa sebenarnya maumu?! Huh?! Jangan main-main denganku-"


“Kau hanya perlu bersedia pergi denganku, Kak. Aku janji akan merahasiakan semuanya, hm?”


❀❀❀


Halo! Maaf baru sempat update lagi. Semoga suka. 🖤