Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 9



"Ayo Van!", Jojo menarikku ketika pulang sekolah.


"Mau kemana?"


"Udah, ikut aja!", Jojo berjalan merangkulku.


Di parkiran sudah ada Billy dan Yosi yang memang menunggu aku dan Jojo. Mereka bertiga masuk ke dalam mobilnya Billy.


"Yah, malah bengong! Ayo naik buruan!", Jojo kembali menarikku agar aku ikut masuk ke dalam mobil.


Ternyata Billy mengajak kita bertiga ke rumahnya. Rumahnya terbilang sangat mewah.


"Santai aja bonyok gua lagi enggak di rumah!", ucap Billy ketika sudah berada di dalam.


"Mau minum apa?", tanya Billy.


"Apaan aja yang seger, haus banget gua!", sahut Yosi.


Beberapa menit kemudian, datanglah seorang ibu-ibu membawa 4 gelas jus jeruk.


"Makasih ya mbok!", ucap Billy.


"Mau mbok bikinin makanan sekalian gak?"


"Mau, nasgor aja!", pinta Billy.


"Van, cerita dong! Kita udah siap nih!", pinta Jojo.


Aku menghela nafas panjang dan mulai menceritakan kejadian kemarin sewaktu di rumah.


"Trus nyokap lu gimana?", tanya Jojo.


"Ya, lebih parah dari gua. Matanya biru sebelah.", jawabku dengan suara bergetar.


"Anjirrrr! Mungkin kalo gua jadi elu, gua udah gila kali.", ucap Jojo


"Gua gak tega liat emak gua, selama ini gua liat babe gua cuma bisa nyakitin emak gua. Kalo gak inget dia babe gua, udah gua b*nuh kali tuh manusia!"


"Lu fokus aja sekolah! Gua yakin suatu saat elu bisa bahagiain nyokap lu.", ucap Billy.


"Bil, berenang boleh gak?", tanya Yosi ketika melihat kolam renang di rumah Billy.


"Ayo dah, biar gak bete lagi nih sohib kita!", jawab Billy sambil melirikku.


Yosi dan Jojo segera menarik tanganku dan menceburkan aku ke kolam renang. Akhirnya mereka berhasil membuatku tertawa lagi. Beberapa saat kemudian si mbok membawakan 1 baskom berisi nasi goreng pesanan Billy.


"Tuh, kalo mau makan nasgornya udah jadi!", Billy menunjuk ke meja dekat kolam renang.


"Bil, gua pindah aja deh ke rumah lu!", sahut Yosi.


"Maap gua gak nerima korban ungsian!", jawab Billy.


"Suwe lu!"


"Eh, bonyok lu emang jarang pulang?", tanya Yosi.


"Ya, gitulah! Kadang gua iri sama anak yang orangtuanya bisa nemenin anaknya belajar atau pergi liburan bareng." dari nadanya terdengar Billy seperti menahan kecewa karena orangtuanya selalu sibuk.


"Jangan mulai sedih-sedihan gini lagi deh!", pinta Jojo.


"Gimana kalo hari minggu entar kita ke Dufan? Kayanya seru tuh!", usul Billy.


"Nah, gitu dong! Gua ikut!", sahut Jojo cepat.


"Entar gua ngomong sama bokap gua dulu.", ucap Billy.


"Emangnya bokap lu bakal ngizinin?", tanyaku.


"Tenang aja! Bokap gua mah yang penting ada yang jagain kita pasti ngasih izin.", jawab Billy santai.


"Entar hari sabtunya pada nginep aja di rumah gua, biar besoknya tinggal berangkat!", usul Billy lagi.


"Tapi Bil..."


"Udah tenang aja nanti semua gua yang bayar! Kaga inget duit bokap gua banyak?", Billy menepuk pundakku.


"Iya, babenya kan yang punya bank!", jawab Jojo.


"Seriusan lu?", aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku.


"Hahaha...!", semua tertawa melihat saat melihat wajahku.


"Jojo tuh sesat, jangan lu dengerin!", jawab Billy.


"Nah, gini kan enak ketawa-ketawa bareng! Sepi tau Van, lu kemaren diem aja!", ucap Yosi.


"Ya, kan kemaren gua masih shock!", jawabku.


"Makasih ya, lu semua udah ngehibur gua!", ucapku tulus.


"Itu gunanya sahabat Van!", jawab Billy sambil tersenyum tulus.


Setelah makan, kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.


***


Hari minggu yang ditunggu akhirnya tiba. Namun sesampainya disana aku melihat Viona melambaikan tangannya saat melihat aku dan yang lainnya berjalan menuju loket. Ternyata tanpa sepengetahuan ku mereka sudah janjian untuk pergi bersama.


"Masih bete?", tanya Kanaya yang berjalan disampingku.


"Udah enggak kok."


"Eh, kita naik ini yuk!", Jojo menunjuk wahana kora-kora.


"Boleh, tapi duduknya di ujung ya!", jawab Billy.


"Siapa takut!", dengan pede Kanaya menyanggupi tantangan Billy.


Berbeda dengan Grace, Lia dan Viona yang sudah kasak-kusuk saling berbisik.


"Eh, gimana kalo kita di tengah aja?", pinta Lia.


"Enggak bisa! Harus diujung duduknya barengan gua!", jawab Kanaya.


"Liat tuh mukanya Viona udah pucet gitu!", Jojo menunjuk Viona dan anak-anak ceweknya yang duduk di ujung bersebrangan dengan kita.


"Hahahaha! Mukanya Grace sama Lia juga!", sahut Yosi.


Akhirnya wahana pun dimulai. Awalnya aku hanya diam tetapi saat semakin lama perahu itu mengayun tinggi dan semakin cepat, aku yang sudah tidak bisa menahan rasa geli di perutku langsung berteriak sekuat tenaga.


"Anjiiiiirrrrrrrr!", Yosi berteriak saat perahu itu mengayun turun.


Namun semakin lama akhirnya ayunannya pun melambat hingga berhenti.


"Hahahaha! Lu kenapa?", Jojo meledek Viona, Grace dan Lia yang sedang jongkok.


"Kaki gua kaya mau lepas nih!", jawab Lia.


"Gila sih, gua gak mau naik itu lagi!", Viona menggelengkan kepalanya.


"Ih, seru tau! Entar naik lagi ya!", pinta Kanaya.


"Gila ye, si Kanaya di sekolah doang kalem, disini bar-bar!", celetuk Grace.


"Ayo dah! Jongkoknya jangan kelamaan! Kan mau naik yang lain lagi.", ajak Jojo.


Kami pun berjalan kembali. Ada satu wahana yang menarik perhatianku.


"Cobain itu yuk!", aku menunjuk wahana halilintar.


"Ayo!", Kanaya menarik tanganku.


"Mampus gua!", Lia menepuk keningnya.


"Takut gak?", tanya Kanaya yang duduk bersamaku di rangkaian paling belakang.


"Enggak, malah penasaran!", jawabku.


"Kenapa kita duduknya di paling belakang lagi?", tanyaku penasaran karena Kanaya langsung menarikku tadi.


"Kalo naik wahana kaya gini milihnya yang paling belakang lebih seru!", jawab Kanaya.


Akhirnya kereta pun berjalan perlahan hingga kereta meluncur dari ketinggian. Aku dan Kanaya berteriak namun aku terkejut karena Kanaya tiba-tiba menggenggam tanganku tepat saat kereta meluncur dan berputar dengan cepatnya. Aku tersenyum memperhatikan Kanaya yang berteriak dengan mata terpejam.


"Lama-lama bisa mati berdiri gua ngikutin kalian!", Viona berjalan dengan memegangi dadanya.


"Beli minum dulu deh! Abis nih suara gua gara-gara kebanyakan tereak.", pinta Grace.


"Gua malah laper!", celetuk Jojo.


"Ya udah, kita makan dulu aja!", ajak Billy.


Billy memilih untuk makan di salah satu resto cepat saji. Setelah memilih menu Billy langsung membayar makanan yang dipesan anak-anak. Untuk sesaat aku merasa bertemu dan memiliki mereka di hidupku.