Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 11



Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sebagai isyarat kecurigaan Viona kepadaku salah. Berbeda dengan Kanaya, ternyata tatapan Viona mampu membuat Kanaya salah tingkah. Aku hanya bisa melihat Kanaya dan Viona seakan berbicara dengan isyarat mata.


"Dari Kanaya?", Viona mendekat dan berbisik, melihat kotak bekal di mejaku.


"Hooh!", jawabku singkat karena aku masih merangkum, hanya tinggal sedikit lagi selesai sudah tugasku.


"Ciyeeee...", Viona menggodaku.


"Apaan dah?"


"Gak usah pura-pura bego deh!"


"Woy! Lu berdua kasak-kusuk mulu! Ngapain sih?", tanya Jojo memang tepat duduk di belakangku.


"Iiihhh... Kepo...!", ejek Viona.


"Akhirnya... kelar juga!", aku mengangkat kedua tangan sambil meluruskan pinggangku yang terasa kaku.


Saat jam istirahat kedua, sebelum menyusul teman-temanku ke kantin, aku meletakkan buku catatan sejarahku dan kotak bekal di meja Kanaya.


"Buset, abis bertapa pak?", sindir Yosi ketika aku baru saja sampai di kantin.


"Bawel lu!", aku menimpuk Yosi dengan gulungan tisu.


"Tadi gua disuru ke ruangannya Bu Gita.", jawabku.


"Ngapain?", tanya Billy penasaran.


"Ya, biasalah, masalah uang sekolah!", jawabku lesu.


"Emang nunggak berapa bulan?", tanya Jojo.


"Hmm... 2 bulan Jo!"


"Sabar ya Van!", Yosi mengusap punggungku.


Seminggu kemudian...


"Van, ini buat bayar uang sekolah kamu!", Mama menyerahkan sebuah amplop padaku.


"Emang mama udah ada uangnya?", tanyaku iba.


Aku tahu mama selalu lembur di tempat kerjanya, membuatnya pulang selalu tengah malam. Semua itu dilakukan hanya untuk menyekolahkan aku.


"Ma, apa Revan pindah aja ke sekolah negeri? Kan biayanya pasti lebih murah.", aku memberikan usul.


"Udah, kamu enggak usah mikirin masalah biaya! Itu urusan mama. Kamu tau kan mama sengaja memilih sekolah itu karena mama ingin kamu lulus dari sekolah yang bagus. Kamu fokus aja belajarnya.", ucap mama.


"Hmm... Makasih ya ma!", aku memeluk mama.


Pagi harinya aku yang bersemangat begitu terkejut karena saat aku membayarkan tunggakan uang spp, Bu Gita mengatakan sudah ada yang membayarkan uang spp ku. Namun orang itu minta dirahasiakan identitasnya.


"Siapa yang bayarin coba?", aku berbicara sendiri ketika berjalan ke kelasku.


Bugh


Karena asik melamun aku menabrak Jojo yang baru saja nongol dari tangga.


"Yaelah, pake nabrak-nabrak segala!"


"Sorry sorry Jo!"


"Lu kenapa kaya orang bingung gitu?"


"Iya, kan semalem emak gua ngasih uang buat bayar uang sekolah gua. Tapi tadi pas gua mau bayar, kata Bu Gita udah ada yang bayarin."


"Siapa yang bayarin?"


"Nah, itu juga gua bingung. Soalnya orangnya itu minta dirahasiain."


"Siapa ya?", tanya Jojo dengan gaya berpikir.


"Woy, kalo mau ngobrol jangan ditengah jalan kenapa?", Viona sudah bertolak pinggang.


"Yailah, pagi-pagi udah galak aja!", celetuk Jojo pelan.


"Apa lu bilang?", Viona menjewer kuping Jojo.


"Aduh sakit Vi! Ampun Vi... Ampun!", teriak Jojo.


"Lebay lu!", Viona melepaskan jewerannya dan berjalan ke kelas.


Sebenarnya kecurigaanku tertuju pada Billy. Namun sampai pulang sekolah tidak ada gelagat yang mencurigakan dari Billy.


"Lu kenapa dari tadi kaya orang lagi mikir?", tanya Billy.


"Gua masih penasaran siapa yang bayarin uang spp gua?", jawabku.


"Hah? Seriusan lu?", tanya Billy dari raut wajahnya terlihat dia memang terkejut.


"Lha, kita aja baru pada mau patungan buat bantu lu.", sahut Yosi.


"Awalnya gua pikir lu yang bayarin Bil.", ucapku pada Billy.


"Yeeehhhh, kaga seriusan dah. Kita emang lagi rundingan mau bantu lu.", jawab Billy.


Aku, Billy, Jojo dan Yosi tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Aku menatap teman-temanku satu per satu. Tidak ada kebohongan di mata mereka.


"Woooooyyyyyyy!", suara Viona mengejutkan kami.


"Dodol! Kaget gua!", Yosi mengusap-usap dadanya.


"Lagian lu kaya lagi kambing conge, pada bengong semua!", sahut Grace.


"Kalian kenapa?", tanya Kanaya.


"Ini ada yang bayarin uang spp nya si Revan. Tapi yang bayarin enggak mau disebutin identitasnya.", jawab Billy.


"Ooohhhh! Ya, bagus dong kalo udah ada yang bayarin. Jadi Revan bisa tenang belajarnya. Itu namanya rezeki tau ga? Nah, uang spp yang dikasih emak lu kan bisa digunain buat kebutuhan yang lain.", sahut Kanaya santai.


"Ya iya sih, tapi kan seenggaknya gua bisa berterimakasih kalo gua tau orangnya.", ucapku.


"Ya, berarti orang itu tulus bantu lu! Dia enggak mau ada yang tau.", Kanaya menepuk pundakku.


"Udah sih pada kaya bapak-bapak lu semua!", ejek Lia.


"Suwe lu!", Yosi memanyunkan bibirnya.


"Makan mi ayam yuk! Laper gua nih!", ajak Lia.


"Kalo lu gak laper, gua baru ngerasa aneh.", sahut Kanaya.


"Kalian aja deh!", jawabku.


"Iya, kita-kita mau main bola soalnya!", ucap Billy.


Saat sedang bermain bola, aku tak sengaja melihat Helen cs sedang duduk di pinggir lapangan. Ya, sebenarnya itu hak mereka mau duduk dimana aja. Tetapi selalu saja ada perdebatan ketika Helen cs bertemu dengan Viona dan Kanaya. Dari kejauhan aku melihat Kanaya dan yang lainnya sedang berjalan ke arah lapangan.


"Perasaan gua mulai gak enak nih!", aku berbisik pada Billy.


"Hahaha! Udah santai aja! Mereka tuh palingan debat doang!", sahut Billy.


Ketika permainan berakhir, aku dan yang lainnya menghampiri Kanaya dan yang lainnya. Kanaya memberikan aku sebotol air mineral.


"Revan doang nih yang dikasih?", sindir Billy.


"Itu sih ada, tinggal ambil!", jawab Kanaya sambil menunjuk beberapa botol air mineral yang ada disitu.


"Caper tuh!", sindir Helen yang memang duduk tidak jauh dari tempat kami.


"Apa lu bilang?", Viona langsung berdiri dan bertolak pinggang.


"Eh, ada yang kesinggung tuh!", kali ini Sheila yang menyindir.


"Gua bilang apa kan Bil!", bisikku.


"Ya, kita liatin aja dulu!", sahut Billy.


"Udah Vi, biarin aja sih!", Kanaya menarik Viona untuk duduk.


"Cemen!", Helen kembali menyindir ketika Kanaya menarik Viona.


"Sorry ya! Gua bukannya cemen, cuma gua males aja ribut sama orang kaya lu gara-gara permasalahan yang enggak jelas!", kali ini Kanaya yang berbicara.


Entah kenapa Kanaya memang jarang merespon jika Helen menyindirnya. Tetapi sekalinya berbicara langsung pas kena sasaran.


"Halah, kalo cemen ya cemen aja, gak usah banyak alesan!"


Kejadian selanjutnya sungguh diluar perkiraan aku dan anak-anak yang lain. Kanaya berdiri lalu berjalan ke tempat Helen cs duduk.


"Waduh!", Yosi menepuk keningnya.


"Lu semua pada enggak ada yang narik dia?", tanyaku heran.


"Biarin aja! Biar si Helen tuh kaga ngebacot mulu!", sahut Lia.


"Gua gak pernah takut sama siapapun termasuk lu karna gua gak pernah ngerasa punya salah atau ngerugiin lu! Jadi lu gak usah bilang gua itu takut atau cemen!", ucap Kanaya pada Helen lalu berjalan kembali.


Namun saat Kanaya berbalik tiba-tiba saja Helen berdiri lalu menarik tangan Kanaya. Dan membisikkan sesuatu yang membuat Kanaya terdiam dan menatapku.