
Kami terus berjalan ke arah kampus. Sekolahanku memang dekat dengan kampus. Hingga kami tiba di warung tenda yang menjual nasi goreng. Walaupun hanya menggunakan tenda tapi nasi gorengnya terkenal dengan rasanya yang enak.
"Gua heran sama lu berdua sebenernya jadian apa kaga sih?", tanya Viona saat sedang menunggu nasi goreng.
"Tau nih anak berdua aneh!", celetuk Grace.
"Apaan dah?", seperti biasa aku pura-pura bego.
"Lagu lama kaset kusut lu! Kebiasaan kalo ditanya pura-pura bego.", kali ini Yosi bersuara.
"Nay?", Lia memanggil Kanaya tetapi tidak dijawab karena Kanaya sedang asik dengan lamunannya.
"Kanaya Putri Anjani!", Lia memanggil nama lengkap Kanaya karena merasa dicuekin.
"Hah? apa? kenapa?", jawab Kanaya gelagapan.
"Jehhhhh gimana sih malah bengong!", protes Grace.
"Kaga jadi... Nasi goreng gua udah jadi. Hehehe!", Lia terkekeh.
Aku memang tidak berpacaran dengan Kanaya. Untuk saat ini aku baru mengagumi saja. Lagipula aku harus fokus belajar karena teringat mama yang sudah bersusah payah menyekolahkan aku.
"Cobain boleh enggak?", pinta Kanaya, aku menganggukan kepala sambil mengunyah kwetiau goreng pesananku lalu menyodorkan piringku ke Kanaya.
"Ehem ehem...!", Grace berdehem melihat aku dan Kanaya.
"Gua juga mau dong!", seru Viona.
"Nggak! gua laper!", aku segera menarik piringku kembali ke hadapanku.
"Pelit lu! Kanaya aja dikasih.", protes Viona.
"Ya kan bedaaaaa Vi... nih punya gua aja mau nggak?", Daniel menyodorkan piringnya ke Viona.
"Nggak Ah! ya kan bedaaaaaa niel!", Viona membalas ucapan Daniel.
Aku celingak-celinguk mencari teko air putih. Biasanya Si Bapak menyediakan di meja.
"Nyari apa Van?", tanya Kanaya.
"Biasanya ada teko air disini."
"Nih!", Kanaya memberikan botol air minumnya.
Aku yang merasa haus segera mengambil botol minuman Kanaya lalu menenggaknya hingga tandas isinya.
"Dunia serasa milik berdua ye!", sindir Lia.
"Aduduhh aduh...!", jerit Lia karena Kanaya mencubit pinggangnya.
"Woy makan aja rame bener sih!", seru Billy.
"Iya lu, cepetan makannya nggak enak tar kalo ada yang mau makan juga kaga kebagian bangku.", sahut Kevin.
Akhirnya semua buru-buru menghabiskan makanannya. Anak-anak mulai mengeluarkan uang untuk membayar pesanan masing-masing.
"Gua aja yang bayar!", ucap Billy yang memang anak orang kaya.
Anak-anak bersorak kegirangan karena ditraktir Billy. Sebenarnya mereka mempuyai uang untuk membayar tapi namanya anak usia SMP akan senang jika ada temannya yang mentraktir makan.
"Guys... Gua duluan ya! Babe gua udah jemput di sekolahan.", Kanaya berpamitan.
"Bye!", Kanaya melambaikan tangannya.
Aku dan yang lainnya pun berpisah menuju rumah masing-masing. Aku sangat beruntung dikelilingi teman-teman yang menyayangiku. Walaupun aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi mereka tidak membully atau merendahkan aku.
3 hari kemudian...
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu semua anak SMP di sekolahku. Setelah upacara saatnya pengumuman pemenang lomba peragaan busana koran. Dan ternyata kelasku juara 1 karena busana yang begitu rapi dan bagus hasilnya.
"Ah... Gila sih ini... Juara satunya diborong kelas 1A!", ucap salah satu anak kelas 1B. Aku tak sengaja mendengarnya saat jam istirahat ketika beberapa anak kelas 1B melewatiku yang sedang berdiri di pintu kelas. Tiba-tiba Kanaya datang dan menarik tanganku. Ia terus berjalan ke mejaku.
"Makan yuu...!", Kanaya mengeluarkan dua kotak bekal makanan.
"Tapi Nay..."
"Udah cepetan nggak usah kebanyakan alesan!", Kanaya menarikku duduk disebelahnya.
Begitu kubuka tutupnya tercium aroma nasi goreng yang begitu menggugah selera. Membuat perutku demo meminta untuk segera diisi.
"Enak nggak?", tanya Kanaya saat suapan pertama masuk ke mulutku.
"Enak banget Nay!", jawabku dengan mulut penuh dengan nasi goreng.
"Syukur deh kalo enak!"
"Lu yang masak?", aku menoleh dan bertanya padanya, Kanaya menganggukan kepalanya lalu tersenyum malu.
"Abisin yaa...!", pinta Kanaya padaku.
"Siappp!"
Aku melahap nasi goreng buatan Kanaya hingga tak tersisa 1 butir pun di kotak bekal. Lalu Kanaya memberikanku botol minumnya.
"Nay... Lu nggak jijik sama gua?" Kanaya mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaanku.
"Apaan sih nanyanya kok gitu?", Kanaya bertanya balik.
"Ya... gua kan cuma orang miskin yang beruntung bisa sekolah disini. Takutnya lu jijik sama orang miskin kaya gua!"
Entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Udah ah... gua nggak suka lu ngomong kaya gitu. Gua nggak ngerasa jijik atau apapun sama lu. Mana mungkin gua mau minum satu botol sama lu kalo gua ngerasa jijik sama elu!" tutur Kanaya sambil membereskan kotak bekal bekas aku dan Kanaya makan.
"Makasih ya Nay!", Aku tersenyum padanya.
"Ciyeeeeeeee!!!", seru Viona dan Grace berbarengan saat melihatku dengan Kanaya.
"Apaan---", belum selesai berbicara Viona sudah membekap mulutku.
"Gua udah tau lu pasti mau bilang 'Apaan dah' Ya kan?"
"Gua sampe apal kata-kata lu!"
Kanaya dan Grace tertawa melihat Viona yang sedang mengocehi aku. Walaupun aku cowok tapi aku dekat dengan Grace, Viona dan Lia karena mereka yang duduk di dekatku sekaligus mereka juga sahabatnya Kanaya.
Teeeettttt
Bel yang menandakan istirahat berakhir pun berbunyi.
"Saatnya Teletubbies berpisah... saatnya Teletubbies berpisah...!", seru Grace menirukan suara Teletubbies.
"Hahahahaha!", aku, Kanaya dan Viona tertawa ngakak.
Kanaya pun kembali ketempat duduknya, begitu juga dengan Grace. Aku sengaja mengerjai Viona dengan tidak menggeser posisiku.
"Ih geser cepetan! Lu kan di pojok duduknya.", Viona berusaha menggeser tubuhku. Aku semakin mengeraskan tubuhku agar tidak tergeser.
"Revan cepetan dong! Abis ini jamnya Bu Vita tau!"
Bu Vita adalah Wakil Kepala Sekolah yang juga mengajar matematika. Semua murid-murid dari kelas 1 sampai 3 merasa segan dengannya. Hanya dengan tatapan matanya saja bisa membuat nyali siapapun menjadi ciut.
"Lama yeeee...!!!", Viona menjewer kupingku.
Viona baru melepaskan jeweran nya setelah duduk. Yosi dan Jojo menertawaiku.
"Percuma Van, lawan cewek mah dua pasal!", celetuk Jojo.
"Apaan tuh?", tanya Viona.
"Pasal pertama cewek selalu benar! Pasal kedua balik lagi ke pasal pertama! Hahahahahaha!"
"Nah... tumben pinter!", Viona mengedipkan sebelah matanya ke Jojo.
"Aduh aduh tolooonggg! mata gua kelilipan nih!", Jojo pura-pura mengaduh sambil memegangi sebelah matanya karena dikedipin sama Viona.
"Yehhh pea lu!", Yosi menoyor kepalanya Jojo.
"Bu Vita! Bu Vita!", teriak Daniel yang berada di pintu sambil berlari ke kursinya.
Tak lama kemudian Bu Vita pun memasuki kelas kami. Seketika suasana menjadi hening dan mencekam.
"Keluarkan kertas ulangan kalian!", Bu Vita memberikan perintah.
"Mampus gua, ulangan dadakan lagi!", Bisik Viona.
Sebisa mungkin aku menahan tawa melihat Viona yang mulai gelisah.
Yosi dan Jojo pun kasak-kusuk entah meributkan apa. Bu Vita mulai menuliskan soal di papan tulis.
"Kerja sendiri-sendiri jangan gotong royong! Inget ini ulangan bukan kerja bakti!", sindir Bu Vita sambil menulis soal.
"Gile, kaya cenayang tuh guru! Baru gua mau nyontek lu!", bisik Viona, aku semakin menahan ketawaku mendengar bisikkannya.
"Revan! pindah ke meja saya!" titah Bu Vita.
Sepertinya ia mengetahui gelagat Viona yang kasak-kusuk ingin mencontek jawabanku. Aku segera berjalan menuju meja guru. Tak butuh waktu lama untukku menyelesaikan soal yang diberikan Bu Vita. Begitupun dengan Kanaya, aku melihatnya sudah membalikkan kertas ulangannya.
1 jam berlalu...
"Waktu kalian habis! Kumpulkan kertas kalian di meja saya!"
Anak-anak satu per satu mulai mengumpulkan kertas jawabannya di meja guru. Aku pun sudah kembali duduk di kursiku. Bu Vita segera memeriksa kertas jawaban.
"Daniel, tolong dibagikan!", panggil Bu Vita setelah selesai memeriksa dan memberikan nilai.
"Gua heran sama lu! padahal kalo guru lagi nerangin lu tuh suka nggak fokus, asik sendiri aja corat coret buku nggak jelas. Tapi kok bisa sih ulangan atau tugas lu dapet bagus mulu!", tutur Viona pas melihat hasil ulanganku yang mendapat nilai 95.
Aku mengedikkan bahuku lalu tertawa melihat Viona yang sedang menggaruk-garuk kepalanya.
"Mandi makanya jadi kaga kutuan!", ejekku.
"Sialan lu! Gua kaga kutuan cuma bingung aja sama lu!"
Tak lama kemudian bel istirahat kedua pun berbunyi. Grace dan Lia menghampiri mejaku.
"Gua kayanya jatuh cinta deh sama Bu Vita!", ucap Jojo.
Anak-anak serempak langsung menatap Jojo. Grace sampai memegang dahinya Jojo.
"Abisnya tiap ketemu dia jantung gua deg deg an trus gua gemeteran gitu!", ucapnya lagi.
"Dasar dodol, gua kira beneran! Itu mah lu parno liat dia!", Yosi menonjok lengan Jojo.
"Nay ke kantin yuukk!", ajak Lia.
"Ayo, gua juga mau beli minum!", sahut Kanaya.
"Ih ikut dong!", Grace dan Viona mengejar Lia dan Kanaya yang sudah berada di pintu kelas.
"Eh lu pada tau si Helen gak?", tanya Yosi.
"Tau dong... anak kelas sebelah yang t*t* nya gede.", sahut Jojo cepat.
"******! kalo yang kaya gitu aja cepet lu!", Yosi meraup wajahnya Jojo.
"Emang kenapa?", aku bertanya pada Yosi.
"Dia waktu itu nanyain nomor hp lu!", jawab Yosi.
"Ya gua bilang kalo lu gak pake hp tapi kayanya dia kaga percaya trus gua tawarin nomor gua ehhh dia kaga mau.", ucapnya lagi.
"Lu oon jangan dikredit kenapa! orang dia mintanya nomor Si Revan bukan nomornya lu! Ya jelas aja dia kaga mau.", sahut Jojo.
Aku terkadang iri ketika melihat teman-temanku yang dibelikan handphone oleh orangtua nya. Jangankan membelikanku handphone, uang saku aja aku jarang dikasih.
"Kayanya dia suka tuh sama lu Van..."
"Ssssttttt...!", Jojo memberi kode pada Yosi saat melihat Kanaya, Viona, Grace dan Lia berjalan memasuki kelas.
Kanaya berhenti sebentar lalu meletakan minuman kaleng di hadapanku.
"Dih, Revan doang yang dibeliin.", teriak Yosi.
"Beli sendiri!", sahut Kanaya sambil berjalan ke mejanya.
"Makasih Nay!" ucapku lalu dijawab dengan anggukan kepala.
Bukan hanya Kanaya yang suka membelikan jajanan untukku. Teman-teman yang lain juga suka membelikanku jajanan. Karena mereka tahu kehidupanku.
Saat sedang asik ngobrol, aku melihat Helen memasuki kelasku dan berjalan ke arahku.
"Van... gua minta nomor lu boleh?", tanya Helen tanpa basa-basi.
Aku bisa melihat Kanaya yang sedang memperhatikan aku dan Helen karena aku duduk bersandar ke tembok menghadap ke pintu kelas.
"Aduuuhhhhh geraaaaahhh nih gua!", Viona menyindir Kanaya.
"Sorry Len...! gua kaga punya hp."
"Sumpah lu?", tanyanya lagi.
"Kan kemaren gua--- aduhhhh!", Belum selesai ngomong, Jojo menginjak kakinya Yosi sebagai isyarat untuk diam.
"Gua lupa!", bisik Yosi sambil menepuk jidatnya.
"Iya serius... gua emang nggak pake hp.", jawabku.
Helen mengambil pulpen dan buku tulisku yang ada di atas meja lalu ia menuliskan sesuatu di buku yang kupunya.
"Nih nomor hp gua, kalo lu udah punya hp calling-calling gua ya!", Helen mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Bye Revan!", Helen melambaikan tangan padaku.
"Byeeee Helen!", balas Yosi dan Jojo melambaikan tangan juga.
Kulihat raut wajah Kanaya berubah. Saat aku menatapnya Kanaya memalingkan wajahnya.
"Lu liat gak tadi pas Kanaya ngeliatin si Helen? Beuhhh sinis bener! tatapannya setajam silet!", bisik Jojo.
Aku masih memperhatikan Kanaya tapi dia tetap memalingkan wajahnya. Viona yang sedang duduk disamping Kanaya mengacungkan bogemnya padaku.
"Mampus lu!", bisik Yosi.
"Huuuffftttt...!", Aku hanya bisa menghela nafas panjang.