Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 8



"Ada yang janjian nih kayanya!", sindir Viona saat Kanaya sedang memesan bakso.


Yuke dan Corry saling berpandangan karena tidak mengerti maksud dari sindiran Viona.


"Kalo janjian kenapa, kalo enggak kenapa? Kok lu yang sewot?", tanya Helen dengan ketus.


"Udah Vi... Diemin aja!", Kanaya menarik Viona.


Kanaya, Viona, Grace dan Lia memilih duduk di meja pojok setelah memesan bakso.


"Gua bingung sebenernya lu tuh apes apa beruntung sih?", bisik Yosi karena kejadian seperti ini selalu terjadi tanpa direncanain.


"Aduh!", Yosi menjerit saat aku menginjak kakinya.


"Kalian kenapa sih? Dari tadi kasak-kusuk terus?", Yuke bertanya karena melihat aku dan Yosi saling berbisik.


"Udah buruan makannya, lama-lama disini bisa perang nih!", bisik Jojo.


Tidak sampai 5 menit, aku Yosi, Jojo dan Billy sudah selesai makan. Jojo pun segera membayar bakso yang sudah dipesan kecuali punya Kanaya cs dan Helen cs.


"Buset, lu semua lidahnya anti panas?", tanya Corry yang melihat bakso di mangkok kami sudah habis.


"Kita duluan ya!", sahut Billy cepat.


"Mending kita main bola aja daripada ngeliatin cewek-cewek berantem!", usul Jojo.


"Setuju!", kami menjawab dengan kompak.


***


Sesampainya di rumah, aku mendapati papa dan mama sedang bertengkar. Ya, seperti biasalah masalah uang. Aku memilih untuk langsung masuk ke kamar.


Brak


Aku mendengar seperti suara lemari yang ditendang. Aku masih menahan diriku untuk tidak berteriak.


"Gak sekalian aja lu m*tiin gua!", mamaku berteriak.


Aku yang khawatir segera keluar kamar. Namun pemandangan yang kudapat sangat-sangat menyayat hatiku. Hingga tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Saat papa melayangkan tangannya aku segera memeluk mama. Pukulan yang keras mendarat di punggungku.


"Harus pake kekerasan?", aku menatap papa tajam.


Namun sepertinya papa sudah kerasukan setan. Entah setan mana yang sedang bercokol di dalam dirinya.


"Oh, lu udah berani nantang gua?", Papa sudah mencengkram kerah seragamku.


"Lu tuh masih kecil, gak usah ikut campur urusan orang tua!", bentaknya.


"Makanya tau diri jadi kepala keluarga, udah gak ngasih nafkah masih juga main judi!", entah keberanian dari mana tiba-tiba saja perkataan itu keluar dari mulutku.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Tidak sampai disitu, papa terus memukuliku. Entah wajah atau badan, semua tidak luput dari amukannya.


"Udaaahhhhhhh! Udaaaahh! Pukul gua aja!", mama berteriak histeris sambil bersimpuh memegangi kaki papa.


Papa menyingkirkan mama dari kakinya dengan kasar lalu pergi meninggalkan rumah.


"Ya Tuhan! Kamu gapapa?", mama mengusap bibirku yang sudah mengeluarkan darah.


"Mana yang sakit? Besok-besok enggak usah ikut atau ngebelain mama.", tanya mamaku cemas.


"Anak mana yang tega ngeliat mamanya dipukulin?"


Aku memeluk mama, membiarkan mama menangis sepuasnya. Setelahnya aku mengambil es batu di kulkas untuk mengompres mata mama yang kena tonjok papa tadi. Lalu mama mengompres ujung bibirku yang bengkak.


Keesokan harinya, aku memutuskan berangkat lebih pagi karena aku belum mengerjakan pe-er bahasa indonesia. Saat memasuki kelas, aku bertemu Kanaya di balkon kelas.


"Lu kenapa Van?", Kanaya tiba-tiba saja sudah duduk di kursinya Viona.


"Gua gapapa Nay!", aku mengeluarkan buku tugasku, aku tidak menghiraukan Kanaya.


"Seriusan? Lu abis berantem?", tanya Kanaya yang masih penasaran.


"Lu bisa cerita sama gua kok. Itu pun kalo lu mau.", ucap Kanaya.


"Makasih Nay, cuma buat sekarang gua lagi pengen sendiri!", jawabku dingin.


"Hmm... Yaudah maaf kalo gua ganggu lu!", Kanaya pun meninggalkanku.


"Maaf Nay!", ucapku dalam hati.


Beberapa saat kemudian, anak-anak mulai berdatangan. Jojo, Yosi, Billy semua menanyai keadaanku. Tapi aku tidak menjawab sepatah katapun. Aku tahu mereka semua khawatir melihatku. Namun aku tidak sanggup berbicara karena saat bicara air mataku akan tumpah. Entah kenapa suasana dibarisanku yang biasanya ramai menjadi hening.


"Van, makan yuk!", ajak Billy saat jam istirahat.


"Gua enggak laper Bil, lu makan aja sama yang lain!"


"Ayo Van, gak seru kalo gak ada elu!", sahut Jojo.


"Gua lagi gak pengen makan."


"Ya udah ikut aja, gak makan juga gapapa. Daripada disini lu bengong aja.", Yosi menarikku.


"Ayo, udah pokoknya lu harus ikut!", Jojo merangkul tubuhku, akhirnya aku mengalah dan ikut ke kantin.


"Nih, minum dulu! Biar seger.", Billy meletakkan segelas es jeruk di hadapanku.


"Lu sebenernya kenapa sih Van? Cerita dong, biasanya lu juga ngomong. Sepi tau kalo lu diem aja kaya gini.", tanya Jojo.


"Ya, kalo emang lu susah cerita buat sekarang-sekarang ini. Kita-kita cuma mau bilang, kapanpun lu butuh kita selalu ada buat lu!", Yosi dan Jojo merangkulku.


Aku hanya bisa meneteskan air mata, mendapat perlakuan seperti itu dari teman-temanku.


"Yah, jangan nangis dong Van! Jagoan masa nangis.", ucap Billy.


"Makasih ya!", ucapku pelan dengan menahan tangis.


"Udah jangan nangis lagi!", Jojo mengusap punggungku.


"Ya ampun Revan! Lu kenapa?", tanya Helen yang tiba-tiba sudah berdiri di depan meja yang kududuki di kantin.


"Minggir!", Viona langsung menggeser tubuh Helen dengan tubuhnya.


"Ih, apaan sih? Gua kan lagi ngomong sama Revan!", sahutnya kesal.


"Bisa gak, lu enggak usah ganggu Revan dulu!", kali ini Kanaya yang berbicara.


"Lho kenapa jadi lu yang ngatur-ngatur?", tanya Helen yang sudah mulai emosi.


"Enggak semua orang yang punya masalah bakalan langsung ngejawab saat lu tanya!", sahut Kanaya.


"Kalian kenapa sih? Malah bikin suasana jadi gerah aja!", tanyaku karena sudah merasa sangat kesal.


Semua terdiam, tidak ada yang menjawabku. Aku meninggalkan mereka semua. Entah apalagi yang diributkan, aku masih mendengar mereka bertengkar. Aku memilih menyendiri di perpustakaan hingga jam istirahat berakhir.