Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 2



Akhirnya hari perlombaan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua murid-murid SMP dari kelas 1 sampai kelas 3 berkumpul di lapangan basket.


"Kaki lu masih bisulan?", tanya Glen yang melihatku berjalan pincang.


"Masih nih!"


Sudah 2 hari ini telapak kaki kananku bisulan. Terlihat Glen yang sedang berbicara dengan Bu Helda. Lalu Bu Helda menghampiriku.


"Kaki kamu bisulan Van? Coba Ibu lihat!"


"Iya Bu", jawabku lalu mencopot sepatu yang kukenakan dan menunjukkan telapak kakiku yang bisulan.


"Kamu bisa enggak nanti lomba balap karung kan pasti lompat-lompatan?", tanyanya cemas.


"Apa mau digantiin aja?", tanyanya lagi.


"Udah Bu gapapa... enggak usah diganti. Saya bisa Bu!", aku berusaha meyakinkan Bu Helda.


"Hmmm... Yaudah kalau kamu yakin. Semangaaattt Van!", Ucap Bu Helda menyemangatiku.


Lomba pertama yang dimulai adalah lomba memindahkan kacang dengan sumpit. Kanaya berhasil memenangkan perlombaan mewakilkan anak putri. Billy sebagai perwakilan anak putra juga berhasil memenangkan pertandingan. Mereka sama-sama juara pertama.


Lomba kedua adalah lomba makan kerupuk. Tapi lomba makan kerupuk ini berbeda dengan lomba makan kerupuk pada umumnya.


"Peserta lomba makan kerupuk silahkan maju ke lapangan!", ucap salah satu juri.


Aku membayangkan betapa seretnya harus menghabiskan 4 kerupuk yang diletakkan di atas piring dan harus memegang kerupuk menggunakan sumpit.


"Semangat Van...!", teman-temanku bersorak memberikanku semangat.


"SIAP!"


"TIGA..."


"DUA..."


"SATU..."


"MULAI!!!"


Aku bergegas mengambil kerupuk dan mulai memakannya dengan cepat diiringi sorak-sorai murid-murid yang memberikan semangat untuk masing-masing peserta. Disampingku ada Glen dan Bu Helda yang terus berteriak memberikan aku semangat.


"Ayo Van cepat cepat!", teriak Bu Helda disaat aku sudah menghabiskan 2 kerupuk.


Aku segera memakan kerupuk ketiga. Walaupun tenggorokanku sudah terasa kering. Hingga aku memakan kerupuk terakhir, teman-temanku dan Bu Helda semakin histeris berteriak.


Bu Helda langsung mengangkat tanganku begitu aku menghabiskan kerupuk terakhir. Terlihat raut wajahnya yang begitu senang. Riuh tepuk tangan terdengar dari para murid yang menonton. Glen langsung mengangkat tubuhku karena aku memenangkan lomba.


"Gila cepet banget lu makannya! Lu liat noh yang lain aja masih makan kerupuk kedua.", Seru Glen, aku melihat peserta lainnya yang masih berjuang.


Aku mengelus-elus tenggorokanku memberikan isyarat pada Glen bahwa aku butuh air. Entah dia mengambil bekal minum punya siapa, aku langsung menenggak air yang ada di botol tersebut.


"Ngomong dong kalo haus!", Glen menepuk punggungku.


"Lu aja kaga peka dodol! Gua makan kerupuk segitu banyak kaga lu kasih air.", Glen dan anak-anak menertawaiku.


Aku duduk menunggu peserta lainnya selesai. Lalu dilanjutkan dengan lomba makan kerupuk anak putri. Lia sudah berdiri di tengah lapangan dengan peserta lainnya.


"Lia! Lia! Lia!", teriak Grace dan Viona.


"Gila Si Lia makannya cepet juga ya! udah kaya vacum cleanernya Teletubbies.", ucap Jojo.


"Hahahahaha! Lu suka nonton Teletubbies Jo?", ejek Yosi.


"Adek gua suka nonton di kamar gua.", jawab Jojo.


"Haaalllaaahhh ngeles aja lu kaya kang bajaj!", celetukku.


Lia akhirnya memenangkan pertandingan di posisi pertama. Viona dan Grace menghampiri Lia, mereka bertiga berpelukan dan berteriak histeris.


Aku bersiap-siap untuk lomba balap karung. Terlihat Kanaya berjalan menghampiriku.


"Van... lu yakin mau lomba balap karung? Trus entar bisul lu gimana?", tanyanya cemas.


"Udah tenang aja! Amaaann!", aku berusaha meyakinkan Kanaya.


Tak lama kemudian Bu Helda memanggilku untuk bersiap. Aku segera memakai karung.


"Kalau susah kamu lari pelan aja enggak usah lompat-lompat!", bisik Bu Helda.


Aku tertawa mendengar bisikannya. Aku merasa senang karna wali kelasku berbeda dengan wali kelas yang lainnya. Bu Helda selalu ikut menemani dan menyemangati setiap muridnya yang berlomba. Sedangkan wali kelas yang lain hanya duduk di pinggir lapangan.


"BERSEDIA!"


"SIAP!"


"MULAI"


Aku segera berjalan cepat, namun aku kalah cepat dengan peserta lain yang sibuk berlompat ria. Aku tidak memperdulikan lagi kakiku yang terasa sakit. Aku segera melompat untuk mengejar ketinggalanku. Aku bisa mendengar Bu Helda dan teman-temanku berteriak.


"Revan! Revan! Revan!"


"Ayo Van! Kamu pasti bisa!"


Aku kalah cepat dan berada di posisi kedua saat di garis finish. Bu Helda dan teman-temanku langsung menghampiriku. Aku melepaskan karung yang kupakai lalu melepaskan sepatuku.


"Yaahhhhh!", seruku.


"Kenapa kenapa?", tanya Viona.


"Pecah bisul gua!"


"Buuaaahahahaha!", semua menertawaiku termasuk Bu Helda.


"Ih jahat lu tertawa diatas penderitaannya Revan!", ucap Grace tetapi sedetik kemudian dia tertawa ngakak.


"Udah udah kesian tuh kaga liat mukanya udah nggak karuan bentuknya!", ucap Jojo.


"Hahahahahaha...!", anak-anak tertawa semakin keras.


Sakit yang kurasakan dikaki akibat bisulku pecah seketika hilang dan ikut tertawa bersama mereka. Aku bahagia berada disini bersama teman-temanku.


"Masih sakit nggak?", tanya Kanaya begitu aku duduk di pinggir lapangan.


"Hmmm... udah nggak Nay!"


"Nih minum dulu, lu pasti haus!", Kanaya memberikan sebotol air mineral dingin padaku.


Jariku bersentuhan dengan jarinya tepat saat aku mengambil botol yang diberikannya. Aku pun menjadi grogi dibuatnya.


Sekarang giliran Corry mewakilkan anak putri di kelasku mengikuti lomba balap karung.


"Awas nyungsep lu!", ejek Yuke.


"Kalo gua menang, bayarin gua makan bakso seminggu ye!", Corry menantang Yuke.


"Iyeeee gua beliin sama abang-abang nya sekalian."


"Hahahahaha!", Anak-anak tertawa mendengar ucapan Yuke.


Corry membuktikan ucapannya, dia memenangkan lomba di posisi pertama. Dia pun menghampiri Yuke.


"Inget bakso gua jangan lupa!"


"Iyeeee bawellll!", sahut Yuke gemas.


"Woy! ngapain lu berdua disini?", Yosi berteriak mengagetkanku dan Kanaya.


"Apaan dah?", tanyaku pura-pura bego sedangkan Kanaya langsung meninggalkanku dan Yosi.


"Noh dicariin! anak-anak udah pada siap-siap mau lomba tarik tambang."


Aku dan Yosi segera menghampiri teman-teman yang sudah siap di tengah lapangan. Aku mengambil posisi paling belakang.


"Wooooooo....", terdengar riuh teriakan anak-anak yang lainnya.


"Kita pasti menang! Liat tuh anak 1B badannya ceking-ceking banget kaya lidi.", Teriak Billy yang berada di tengah.


"Huuuuuuu...!", anak-anak cewek dari kelas 1B bersorak mendengar ejekannya Billy.


Saat lomba dimulai aku dan yang lainnya segera menarik tambang dengan kuat. Terlihat anak 1B berusaha menahan karena mulai ketarik.


"Tariiiikkkkkkk teeerrrruusssss!", teriak Jojo yang berada di posisi paling depan.


Akhirnya anak-anak 1B tak bisa menahan lagi, mereka pun kalah pada akhirnya. Tarik tambang selanjutnya kami harus bertemu dengan kelas 2A. Ternyata kelas 2A lebih mudah dikalahkan daripada kelas 1B tadi. Dan finalnya kelasku bertemu dengan kelas 3C.


"Wah... Gila ini sih! Liat noh badannya gede-gede banget!", seru Daniel.


"Semangat! Apapun hasilnya kita harus berjuang sampe keringat terakhir!", teriak Billy.


Kali ini Yosi yang berada di posisi paling depan karena badannya yang lebih besar dari yang lainnya. Sedangkan aku tetap pada posisi paling belakang.


"Siap Van?", Jojo berteriak.


"Sssiiiiaaapppp!", teriakku.


Begitu lomba dimulai kami langsung ketarik oleh anak-anak kelas 3B. Kami berusaha menahan sekuat tenaga bahkan tanganku sampai terasa lemas.


"1A 1A 1A Ayooooo 1A pasti bisa!", terdengar anak-anak cewek berteriak memberikan semangat.


"Jojoooooo...! Aku padamu...!", terdengar teriakan Grace di pinggir lapangan.


Entah sepertinya anak kelas 3B juga sudah merasa lelah. Disaat pertahanan mereka mengendur, kami mulai semangat lagi.


"Taaarrrriiikkkkkk", teriak Yosi.


"Tarik tarik tarik!"" teriakan anak-anak yang lainnya mulai ramai terdengar.


"Taaarrriiikkk Vaaannn!", teriak Jojo.


Aku memutar badanku, sehingga tali tambang berada dipundakku. Aku terus maju ke belakang menarik tambang kuat-kuat. Sampai akhirnya anak-anak 3B ikut ketarik dan menyerah.


Aku dan teman-temanku langsung tergeletak di tengah lapangan. Bu Helda berlari menghampiri kami.


"Lho gimana sih? menang tapi pada tepar begini."


"Lemessss Bu...", kami menjawab hampir bersamaan.


Bu Helda tertawa mendengar teriakan kami. Akhirnya aku dan yang lainnya segera duduk di pinggir lapangan.


"Gila gila gila!", seru Viona.


"Emang dah 1A mah nggak ada obatnya.", celetuk Lia.


"Kalian puas kami lemas!", sahut Jojo.


"Jehhh udah kaya tukang ac aja lu pake iklan segala!", kali ini Grace yang nyeletuk.


"Hahahahaha!", anak-anak kembali tertawa.


Lomba terakhir yang diadakan adalah lomba peragaan busana koran. Kanaya dan Yosi terpilih sebagai perwakilan dari kelas kami.


"Anjir susah banget nih jalannya! Mana gatel lagi pantat gua!", Seru Yosi lalu dia mempraktekkan jalannya yang seperti robot.


"Awas aja kalo sampe sobek!", ucap Grace yang sudah melotot sambil berkacak pinggang.


"Punya 1A bagus banget bajunya!", terdengar komentar anak kelas 3A yang sedang lewat.


Untuk lomba peragaan busana pemenangnya tidak langsung diumumkan. Pemenangnya nanti diumumkan saat upacara hari senin sekaligus dengan pembagian hadiah. Acara berakhir sore hari. Aku merasakan sekujur tubuhku lemas karena lomba tarik tambang tadi.


"Makan yuk laper nih gua!", Yosi mengajak makan.


"Ayo dah gua juga laper nih!", sahut Viona.


"Gua langsung balik aja deh! gua cape banget!", jawabku mencari alasan karena aku tidak mempunyai uang untuk ikut makan bersama yang lainnya.


"Jehhhh udah ikut aja!", sahut Billy.


"Gua bayarin!", Billy berbisik di telingaku.


"Come on!", Billy menarik tanganku.


Akhirnya aku ikut bersama mereka. Cukup ramai juga yang ikut. Ada Billy, jojo, Yosi, Grace, Lia, Kanaya, Daniel, Kevin dan Viona. Kami berjalan berurutan.


"Buset! gua udah kaya lagi ngangon anak bebek.", celetuk Daniel saat melihat kebelakang.


"Sialan lu!", sahut Grace kesal.


"Tungguin...", teriak Kanaya yang berada di belakangku, aku menoleh kebelakang karena tidak menyadari Kanaya tertinggal.


"Perasaan gua yang paling belakang deh, kok bisa dia dibelakang gua?", batinku.


Jalannya cepet amat sih nggak inget sama gua!", protes Kanaya.


"Maaf... gua pikir lu jalan di depan."


"Gua mau jalan bareng sama lu!", Jawaban Kanaya berhasil membuatku salah tingkah dan tersenyum sendiri.