Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 5



"Ayo Van!", ajak Jojo.


"Iya buruan... kata lu tadi, lu belom ngerjain pe-er fisika.", kali ini Yosi yang menarikku.


"Sorry... gua duluan!", aku meninggalkan Helen dan Sheila.


"Piuuuhhh...! selamet selamet!", aku mengelus dadaku.


"Utang satu nyawa lu sama gua!", ucap Yosi.


Muuuuaaacchhhhh


Aku mencium kepalanya Yosi.


"Gila lu ya! tar dikira gua sama lu homreng dodol!", Yosi menoyor kepalaku.


"Gua jadi takut deket-deket lu Van.", ucap Jojo bergidik.


Lalu Yosi dan Jojo berlari meninggalkanku, aku segera mengejar Yosi dan Jojo. Ketika sampai di depan kelas aku berhasil menarik seragam Yosi dan Jojo dari belakang.


"Gua masih normal dodol! Lagian tadi tuh cuma sebagai tanda terimakasih aja!", ucapku.


"Buktinya apa kalo lu normal?", tanya Yosi, ia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Iyaaa gua masih doyan cewek!", jawabku.


"Hahahahaha...! Serius bener dah! udah kaya orang disidang aja.", ejek Jojo.


Teeeettttt


Bel berbunyi menandakan jam istirahat sudah habis. Aku, Yosi dan Jojo segera masuk kelas. Saat berjalan ke mejaku, aku melihat Kanaya tapi ia memalingkan wajahnya.


Sudah 15 menit menunggu tapi Pak Arif tidak juga memasuki kelas. Pak Arif adalah guru yang mengajar mata pelajaran Fisika. Beberapa menit kemudian Bu Christine memasuki kelasku. Beliau bertugas sebagai Guru Piket pada hari ini.


"Pagi anak-anak!", sapanya ramah.


"Pagiiii Buuu!", jawab anak-anak serentak.


"Pak Arif tidak bisa mengajar karena ada halangan yang menyebabkan Pak Arif tidak masuk hari ini. Sekarang kalian kerjakan soal latihan Bab 2!", tuturnya.


"Jangan ribut mengerjakannya, kalian bisa diskusi untuk mengerjakannya!", setelah memberikan tugas Bu Christine meninggalkan kelas kami.


"Cihuyyyy!", seru Billy senang lalu berjalan keluar kelas.


Anak-anak yang lain segera ngobrol-ngobrol atau bermain karena tidak ada guru. Aku memilih mengerjakan tugas yang diberikan terlebih dahulu.


"Van... kemaren kan Si Helen nyatet nomornya di buku lu. Gua bagi dong!", pinta Jojo.


"Udah gua sobek trus gua buang.", jawabku


"Dih oon kenapa lu buang?"


"Ya kan gua kaga punya hp."


"Trus kalo lu punya hp mau lu simpen nomornya?", celetuk Viona.


"Ya simpen aja emang kenapa? kan temen gua juga Si Helen.", jawabku.


"Nggak ngerti lagi deh gua!", Viona menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkanku dan menghampiri Kanaya.


"Nih...!", Billy mengeluarkan banyak permen dari saku celananya.


"Lu ke kantin?", tanyaku.


"Iya, gua ijinnya ke wc tadi sama Guru Piket.", jawabnya terkekeh.


"Bukannya beli ciki yang banyak. Makan permen mulu gigi gua ompong lama-lama!", celetuk Yosi.


"Dodol! Gimana gua bawanya kalo gua beli ciki. Masa gua taro di badan gua tar Bu Christine kaget lagi tiba-tiba gua punya t*t*."


"Hahahahahahahaha!", Aku, Yosi dan Jojo tertawa ngakak mendengar penuturan Billy.


"Besok temenin gua yuk!", ajak Billy karena besok adalah hari minggu.


"Mau kemana? lu mau ngelamar Silvi?", ejek Jojo.


Silvi adalah anak kelas 1B, ia memiliki badan yang sangat gemuk. Biasanya suka dipanggil ndut sama teman-temannya.


"Bacotnye enak bener kaya becak remnya blong!", Billy menonjok lengannya Jojo.


"Jadi lu diem-diem suka sama Si Silvi?", tanyaku sengaja.


"Jidat lu!", Billy menoyor kepalaku.


"Lu pada mau diem nggak? Jangan sampe gua copotin kaos kaki gua nih!", ancam Billy.


"Yaudah buru bilang temenin kemana?", tanyaku.


"Gua mau TA mau beli sesuatu.", jawab Billy.


"Beli k*nd*m ?", celetuk Jojo lagi.


"Udah dah ah cape gua nih kalo gini! Ngomong sama lu pada kaga ada yang beres!", Billy mulai terlihat kesal menanggapi Yosi, Jojo dan Aku.


"Ya lagi lu pake bilang beli sesuatu.", ucap Jojo.


"Yodeh yodeh besok otewe. Ngumpulnya dimana?", tanya Yosi.


"Ketemuan disana aja!"


"Gua nggak ikut deh! Gua be---"


"Lu harus ikut gua jemput lu!", Jojo memotong ucapanku sambil menunjuk wajahku.


"Udah kaya Bung Karno lu nunjuk-nunjuk!", aku menepis tangan Jojo.


"Hahahahahaha!", tawa anak-anak pun pecah.


Aku tahu jika sejak tadi Kanaya terus memperhatikanku yang sedang asik bercanda dengan Jojo, Billy dan Yosi. Tapi saat aku menatapnya, Kanaya langsung memalingkan wajahnya.


***


Keesokan harinya, Jojo menjemputku di sekolahan karena kemarin aku janjian disana dengan Jojo.


"Ayo katanya mau beli sesuatu!", aku mengajak Billy untuk beranjak dari situ.


"Kaga jadi Van... Sebenarnya gua sama anak-anak mau ngasih ini buat lu!", Billy menyodorkan 1 kantong plastik besar.


"Buka dong!", ucap Yosi bersemangat.


Aku mengambil dan melihat isi di dalam plastik tersebut. Ada 1 kotak sepatu dari merk terkenal.


"Becanda lu!", ucapku yang masih tidak percaya begitu melihat isi kotak tersebut memanglah sepatu mahal.


"Seriusan pea! Itu buat lu! Gua sama anak-anak patungan. Soalnya kita liat kemaren sepatu lu kaya mau jebol gitu." ucap Billy tulus.


Aku tidak bisa berkata-kata lagi, teman-temanku yang konyol bisa begitu memperhatikanku.


"Jehhhh malah diem!", ucap Jojo.


"Coba lu cek napasnya masih ada kaga?", kali ini Billy yang mengejekku.


"Sialan lu kira gua mati berdiri!", sahutku ketika Jojo menaruh telunjuknya di kedua lubang hidungku.


"Tapi ini seriusan? nih kan sepatu mahal." tanyaku karena masih tidak percaya.


"Beneran! Lu liat noh dibelakang lu!", jawab Billy.


Saat aku menoleh ke belakangku, aku melihat Viona, Grace, Lia dan Kanaya. Mereka semua tersenyum lalu ikut duduk bersama.


"Suka nggak?", tanya Kanaya.


"Lu udah nggak marah sama gua?", aku tidak menjawab pertanyaannya malah aku bertanya balik karena kemarin Kanaya masih mendiamkanku.


"Gua enggak marah kok, cuma lagi males ngomong aja!", jawabnya.


"Suka nggak?", tanyanya lagi.


"Suka! Makasih ya! Gua beruntung punya temen kaya lu semua.", ucapku tulus.


"Lu tau nggak yang milihin sepatunya Kanaya tau!", bisik Viona.


"Ciyeeeeee senyum-senyum gitu sih kaya orgil yang di Grogol!", sindir Lia yang melihatku tersenyum sendiri.


"Cobain dong! kan kalo nggak muat bisa dituker.", Grace memberikan usul lalu aku mencoba sepatunya.


"Pas!", jawabku sambil terus melihat ke sepatu yang kupakai.


"Kok lu tau ukuran sepatu gua?", tanyaku pada Kanaya.


"Feeling aja!"


"Aduh duh kalo udah pake feeling mah beraaaaatttt!", sindir Yosi.


"Ya udah makan yuk! Gua laper nih!", ajak Lia sambil mengusap-usap perutnya.


"Perut lu mah celamitan minta diisi mulu!", ejekku.


"Hahahahahahaha!", semua tertawa mendengar ejekanku.


"Udah udah becandaan mulu!", kali ini Kanaya yang bersuara.


"KFC yes?", tanya Jojo.


"Yeeesssssss!", seru anak-anak.


Aku hanya bisa mengikuti mereka karena aku memang tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Kali ini Jojo yang mentraktirku makan karena tadi saat di motor ia mengatakan padaku.


Begitu sampai anak-anak mulai mengantri untuk memesan makanan. Sementara aku disuruh mencari tempat duduk.


"Eh Jo ayam lu dada kiri apa kanan?", tanya Billy.


"Setelah dilihat diraba ditrawang kayanya ini dada kanan dah!", jawab Jojo sambil mengangkat dan mengeker dada ayamnya.


"Ada pentilnya kaga?", tanya Yosi.


"Bentar gua raba lagi!", jawab Jojo.


"Hahahahahahhaa!", anak-anak tertawa lagi mendengar jawaban Jojo.


"Woyyyyy! Dodol ayam mana punya ******!", sahut Lia.


"Udah ih berisik aja! diliatin orang-orang tau!", protes Grace.


"Nyobain ayam lu dong? rasanya sama nggak sama ayam gua?", tanyaku dengan tangan yang sudah terjulur ingin mengambil ayamnya Billy.


"Ihhh! Jangan becanda mulu dong!", Kanaya sudah melotot gemas padaku.


"Iya iya nggak!", aku menarik tanganku lagi.


Yosi dan Jojo terkekeh melihat aku yang langsung diam setelah ditegur Kanaya. Akhirnya anak-anak cowo selesai lebih dulu baru beberapa menit kemudian anak-anak cewe.


"Mau kemana lagi nih?", tanya Grace.


"Kita nonton aja gimana?", Kanaya memberikan usul.


"Ayolah udah lama juga kita kaga nonton kan!", sahut Lia.


"Hmmmm... Gua balik aja deh!", jawabku lesu karena untuk makan saja tadi sudah dibayarin Jojo, belum lagi mereka semua sudah patungan untuk membelikanku sepatu.


"Eitssss tidak bisa! Lu harus ikut!", ucap Yosi.


"Iya, kan kita udah pernah bilang susah seneng bareng-bareng!", sahut Jojo.


"Udah buruan! Duit bapak gua kagak bakal abis ketimbangan bayarin nonton doang!" ucap Billy.


"Somboonnggg!", teriak Viona dan Lia berbarengan.


"Udah buruan lama nih! mumpung dibayarin tau.", ucap Grace yang sudah tidak sabaran.


Semua berjalan menuju area bioskop. Setelah rundingan anak-anak memutuskan untuk menonton film setan. Billy yang memilih kursi karena dia yang membelikan tiket untuk kita semua.


"Eehhhhh, ternyata kalian disini juga!", tegur Helen yang sedang bersama Sheila dan Stella.


"Waduh, bisa perang nih!", Jojo berbisik padaku.