
Namaku Revan Julian berumur 13 tahun. Kehidupan keluargaku? Entahlah... Papaku seorang yang gemar sekali selingkuh dan judi hingga membuat usaha yang diturunkan dari orangtuanya mengalami kebangkrutan. Memang setelah bangkrut, papaku tidak pernah bermain wanita lagi tetapi kebiasaannya bermain judi sudah mendarah daging dengannya. Hingga papaku menjadi seorang pengangguran sejati, dia tetap tidak bisa berhenti bermain judi.
Sebenarnya papa termasuk anak yang beruntung karena omahku yang berada di luar negeri sering mengirimi uang untuk membantu kehidupan kami sehari-hari. Tapi uang itu selalu habis di meja judi. Sehingga mama harus bekerja untuk biaya hidup sehari-hari.
Mama mendaftarkan aku di salah satu sekolah swasta yang mempunyai 4 lantai. Lantai dasar untuk sekolah SD. Lantai dua untuk sekolah SMP sedangkan lantai 3 dan 4 untuk sekolah SMA.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Pukul 6 pagi aku sudah berada di sekolahan. Aku langsung memasuki kelas dan memilih meja kedua dekat jendela. Sedikitpun aku tak berani beranjak dari kursiku. Hingga satu per satu murid-murid yang lain berdatangan. Mereka tampak akrab mungkin karena berasal dari SD yang berada di bawah.
Teeeetttttt
Bel masuk pun berbunyi.
"Eh gua duduk dimana nih?", tanya seorang siswi kebingungan.
"Tuh...!"" temannya melirik ke mejaku sebagai isyarat.
Siswi itu menggelengkan kepalanya cepat. Dia terlihat panik karena hanya mejaku yang masih kosong satu kursinya. Temannya yang tadi menertawakannya.
Karena merasa tidak tega akhirnya aku menggeser posisiku ke pojok jendela, membiarkan ia duduk semeja denganku. Dia duduk tepat bersamaan dengan ibu guru yang masuk ke kelasku.
"Pagi anak-anak!", sapanya ramah.
"Pagi Bu...!", jawab mereka serentak.
"Perkenalkan saya Ibu Helda, wali kelas kalian sekaligus mengajar mata pelajaran biologi!"
"Keluarkan buku catatan kalian!", titah Bu Helda.
Ia menuliskan jadwal mata pelajaran. 2x45 menit untuk 1 mata pelajaran. Semua anak-anak sibuk mencatat jadwal mata pelajaran yang diberikan.
Hari pertama sekolah hanya diisi dengan perkenalan dan pembagian jadwal mata pelajaran. Aku juga masih diam, belum berkenalan dengan murid-murid lain karena aku merasa minder karena sebagian besar mereka berasal dari SD bawah, belum lagi mereka terlihat berasal dari keluarga yang mampu.
***
Seminggu sudah aku sekolah disini. Aku sudah mulai mendapatkan teman baru.
"Sumpah gua pikir lu tuh bego!", tukas Viona teman semejaku.
"Kenapa lu bisa mikir gitu?", tanyaku penasaran.
"Abis lu suka bengong gitu trus lu diem aja kaya tiang listrik.", jawabnya ceplas ceplos.
"Ha ha ha ha ha...!", tawa teman-teman yang berada di sekitarku.
"Taunya si bego otaknya lebih tokcer dari gua!", ucapnya lagi.
"Lagi lu mah cakep doang tapi lemot!", sindir Lia yang duduk di meja yang bersebelahan dengan mejaku.
"Kayanya gua salah milih tempat duduk nih!", Batinku dalam hati.
Karena barisanku duduk berisi anak-anak yang berisik lalu kalau bicara suka asal ceplas ceplos. Di sebelahku persis itu Viona. Lalu Meja di depanku ada Billy dan Yuke. Sebelah kanan mejaku ada Lia dan Grace. Hanya belakang mejaku yang berisi anak cowok yaitu Yosi dan Jojo. Berbeda dengan barisan deretan sana yang kebanyakan berisi anak-anak alim dan pendiam.
Anak-anak sibuk mengobrol satu sama lain. Ternyata mereka tidak sesombong yang aku kira. Tiba-tiba suasana menjadi hening saat Bu Helda memasuki kelas.
"Hari ini pembagian pengurus kelas ya!", seru Bu Helda.
Setelah melakukan voting suara, Kanaya terpilih menjadi ketua kelas dan Yosi sebagai wakilnya. Lia sebagai bendahara. Dan Grace sebagai sekretaris.
Teeeetttttt
Bel istirahat berbunyi.
"Vi, lu mau makan apa?", tanya Grace.
"Makan popmi aja kali di kantin cici.", jawab Viona.
"Lu nggak makan Van?", tanya Viona padaku.
"Gua belum laper!", jawabku asal padahal aku tidak mempunyai uang saku untuk jajan.
"Ya udah capcus yuukk!", ajak Lia.
Aku memilih keluar kelas dan berdiri di balkon memperhatikan anak-anak yang sedang jajan di kantin.
5 menit sebelum istirahat berakhir tiba-tiba Viona menghampiriku yang masih asik berdiri di balkon kelas.
"Van, pe-er matematika udah ngerjain belom?"
"Udah kenapa?"
"Gua nyalin dong, gua lupa ngerjain soalnya."
"Lupa apa males lu?", tanyaku menyelidik.
"Suwer deh gua bener-bener lupa!"
"Lu baek deh! plissssss...!", Viona menangkupkan kedua telapak tangannya memohon padaku.
"Noh ambil di tas gua!"
"Makasih Revan... I lop yu pul deh!", Viona langsung berlari ke dalam.
Ya, anak-anak cewe seperti Lia, Grace dan Viona biasa menyalin pe-er punyaku. Bahkan saat ulangan Viona kerap meminta jawaban dariku.
Hingga suatu saat aku tidak memberikannya jawaban ketika ulangan. Viona yang merasa kesal mendiamkanku hingga pembagian hasil ulangan diberikan.
"65... Untung kaga jeblok nilai gua!"
"Nah kan lu tuh sebenernya bisa cuma lu males aja!", sahutku.
"Iyeee... maaf deh gua udah ngediemin lu!", Viona mengulurkan tangannya, aku pun menjabat tangannya.
Sebulan kemudian...
"Untuk memperingati Hari Kemerdekaan, kita akan melaksanakan lomba 17 an. Seperti biasa kita voting suara ya!", ucap Bu Helda.
"Lomba makan kerupuk anak perempuan siapa?"
"Lia aja Bu makannya banyak!", celetuk sebagian anak-anak serempak.
"Okeeeee...!", Bu Helda mencatat di papan tulis.
"Si Dodol kenapa gua sih?", protes Lia.
"Kan makan lu banyak trus cepet!", jawab Grace semangat.
"Lomba makan kerupuk Cowok siapa?"
"Revaaaannnnnnn Buuuu...!"
"Enggak Bu... jangan saya Bu!", aku berusaha menolaknya.
"Okeeeee...", Bu Helda tetap mencatat namaku di papan tulis.
"Mampus lu hahahaha!", Jojo menertawakanku.
Acara pemilihan berlangsung sangat ramai. Aku mendapatkan bagian lomba makan kerupuk, balap karung, dan tarik tambang. Anak-anak terlihat begitu antusias. Inilah kelasku yang terkenal ramai dan kompak.
Pulang sekolah aku, Yosi, Jojo, Billy, Kanaya, Viona, Grace dan Lia berkumpul di kelas untuk membicarakan tentang lomba peragaan busana menggunakan bahan dari koran.
"Gimana nih bikinnya?", tanya Yosi bingung.
"Ini juga lagi mikir!", jawabku.
Kami semua sedang berpikir keras. Karena tidak ada satupun yang bisa membuat pakaian berbahan dasar koran.
"Nahhhh...!", Tiba-tiba Kanaya berseru.
"Apaan?", tanya Viona seketika berhenti mondar-mandir.
"Kita bawa korannya trus kita ke tukang jahit minta dibikinin baju sama celananya.", usul Kanaya.
"Apa kaga rusak tuh koran dijahit?", tanyaku bingung.
"Ya makanya kita tanya sama tukang jahitnya gimana baiknya.", jawab Kanaya.
Akhirnya kita langsung berangkat menuju tukang jahit yang ada di dekat rumahnya Lia. Sesampainya disana Kanaya menjelaskan permintaan kami pada tukang jahit.
"Hmmm... Bisa sih tapi butuh banyak koran. Nanti pakai lem fox aja nggak dijahit!", jawab Si Bapak.
"Yaudah Pak nanti kita siapin korannya!", jawab Grace.
"Tapi kita lombanya 3 hari lagi Pak, keburu nggak?", tanya Yosi.
"Bisa... nanti Bapak usahain ngerjain punya kalian lebih dulu.", Jawab Si Bapak.
"Makasih Pak...!", ucap anak-anak berbarengan.
Keesokan harinya, hanya aku dan Kanaya yang pergi ke tukang jahit untuk mengantarkan koran-koran yang sudah dikumpulkan anak-anak.
Di dalam mikrolet Kanaya duduk persis disebelahku karna mikroletnya penuh kakiku bersentuhan dengan kaki Kanaya. Tubuhku terasa seperti terkena aliran listrik. Jantungku berdegup kencang, aku memang mengagumi Kanaya. Selain cantik ia juga pintar.
"Van, kira-kira kelas kita menang nggak ya lomba peragaan busananya?", tanya Kanaya.
"Menanglah kan kita bikin bajunya di tukang jahit.", jawabku optimis.
Setelah mengantar koran-koran tersebut. Aku berniat mengantarkan Kanaya pulang. Rumah Kanaya berada lebih jauh dari rumahku.
"Lho lu nggak turun Van?", tanya Kanaya ketika aku tidak memberhentikan mikrolet ditempat biasa aku turun.
"Ehm... Gua mau anterin lu dulu Nay!", jawabku malu-malu
Kanaya terdiam mendengar ucapanku tapi aku bisa melihat Kanaya tersenyum diam-diam
Kanaya memberhentikan mikrolet, aku mengikutinya turun. Aku dan Kanaya berjalan kaki menuju rumahnya. Sepanjang jalan kami mengobrol dan bercanda. Hingga akhirnya kita sampai di depan rumahnya.
"Mau mampir dulu Van?", Kanaya menawarkan aku mampir ke rumahnya.
"Ehmm... gua langsung pulang aja Nay!"
"Ohhhh... gitu ya...!", Kanaya terlihat kecewa karena aku tidak mau mampir ke rumahnya.
"Kapan-kapan aja gua main ke rumah lu!"
"Bener yaa...?", tanyanya penuh harap.
"Iyaaa...! Gua balik dulu ya!"
"Hati-hati lu!", teriaknya ketika aku sudah berjalan agak jauh meninggalkan rumahnya.