Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 10



Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tibalah saatnya ulangan umum mid semester. Aku belajar dengan rajin, agar bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan. Ternyata benar, usaha tidak mengkhianati hasil. Aku berhasil mendapatkan ranking 2 di kelasku.


"Kamu mau pulang bareng mama?", tanya mama begitu keluar kelas.


"Revan mau main dulu ma!", jawabku.


"Ya udah, mama pulang duluan ya!"


"Iya ma!"


Aku menghampiri Kanaya yang sedang berdiri di balkon kelas menghadap ke lapangan.


"Lu hebat Nay!", aku memuji Kanaya ketika mengetahui Kanaya mendapatkan ranking 1.


"Ciyeeeee... berduaan aja nih!", sindiran Viona mampu membuatku dan Kanaya salah tingkah.


"Vi, plis deh!", ucap Kanaya gemas.


"Becanda Nay! Ke kantin yuk! Anak-anak udah pada di kantin tau.", Viona menggandeng lengan Kanaya.


"Van, ayo!", Kanaya menoleh ke Revan.


Sesampainya di kantin aku langsung memesan nasi goreng karena aku tidak sarapan tadi pagi.


"Buset, laper pak?", celetuk Grace melihatku makan dengan lahapnya.


"Emang gak sarapan tadi pagi?", tanya Kanaya yang duduk di sebelahku.


"Tadi kesiangan bangunnya.", jawabku.


Dari jauh aku melihat Helen dan Sheila berjalan ke arah kantin. Jojo menendang pelan kakiku seakan memberi isyarat.


"Dia lagi... dia lagi....!", celetuk Viona pelan.


"Mang es jeruk 3, yang 2 di gelas plastik aja. Yang minum sini bikinin duluan ya!", pinta Helen.


"Nih!", Helen memberikan segelas es jeruk untukku.


"Gak usah Len, gua bisa beli nanti!", aku menolak secara halus.


"Ini sebagai tanda terimakasih gua karna waktu itu lu minjemin gua buku.", jawab Helen.


"Hmm... Oke deh! Makasih ya!"


"Ayo, Vi!", Kanaya tiba-tiba mengajak Viona.


"Ayo, gua gerah juga lama-lama disini!", Viona sengaja mengeraskan suaranya.


"Mau kemana?", aku bertanya pada Kanaya.


"Ke Kelas!", jawab Kanaya dingin lalu meninggalkan kantin bersama Viona.


"Kenapa sih?", aku bertanya pada Jojo.


"Haduh, Kanaya tuh cemburu!", jawab Yosi.


"Gara-gara es jeruk?", tanyaku penasaran.


"Udah tau masih nanya.", sahut Jojo.


"Yailah, kemaren buku sekarang es jeruk. Pusing gua lama-lama."


"Buat gua aja!", pinta Billy.


"Tuh minum aja!"


"Eehhhhh... mau kemana lu?", Jojo menarik seragamku.


"Bentaran!", aku segera berlari pelan meninggalkan kantin.


Sesampainya di kelas aku melihat Kanaya yang sedang ngobrol dengan Viona. Entah apa yang dibicarakan Kanaya dan Viona, namun setelah berbisik Viona meninggalkan Kanaya. Aku pun berjalan menghampiri Kanaya. Lalu duduk di sebelahnya.


"Lu marah sama gua Nay?"


"Enggak!"


"Enggak marah tapi jutek gitu!"


"Kalo emang lu marah sama gua, ngomong aja gapapa kok."


"Gua enggak marah, cuma...", Kanaya terlihat ragu meneruskan kata-katanya.


"Cuma apa Nay?", tanyaku penasaran.


"Hmm... Gak tau kenapa, gua gak suka aja kalo Helen deket-deket sama lu! Tapi gua sadar, gua enggak ada hak buat ngelarang lu!", jawab Kanaya.


Aku terdiam mendengar jawaban Kanaya. Aku terkejut karena tidak menyangka Kanaya akan berbicara sejujur itu padaku.


"Harusnya lu bilang dari kemarin-kemarin, kalo emang lu gak suka, Helen deket-deket sama gua. Jadi gua enggak bingung sama sikap lu yang tiba-tiba aneh."


"Ya udah, mulai sekarang gua enggak deket-deket lagi sama dia! Jangan bete lagi ya!", aku mengacak pelan rambut Kanaya.


"Ke kantin lagi yuk!", aku mengajak Kanaya.


"Ayo!", jawab Kanaya semangat.


***


Dua minggu kemudian...


Hari yang sangat aku tunggu adalah kembali masuk sekolah. Aku begitu merindukan teman-temanku. Namun entah mengapa, aku lebih merindukan untuk bertemu dengan Kanaya.


"Iiiihhhh, kangen deh gua sama elu!", Viona mencubit pipiku.


"Aduh, sakit Vi!"


"Iye, gua kangen sama dia, kangen berantemnya doang. Abis dirumah kaga ada yang bisa gua ajak berantem!"


"Suwe lu!", gerutuku.


"Vionaaaaaa!"


Seketika aku langsung menoleh ke sumber suara yang menanggil Viona. Tanpa sadar aku tersenyum ketika melihat Kanaya berlari menghampiri dan memeluk Viona.


"Kangen gua Vi, bete tau dirumah!", ucap Kanaya.


"Emang kalo kangen trus ketemu harus pelukan ya?", tanyaku dengan gaya orang yang sedang berpikir.


"Ya iyalah harus itu!", jawab Viona.


"Kata lu tadi, lu kangen sama gua tapi tadi lu malah nyubit pipi gua bukannya meluk gua!"


"Iya beda lah Zainuddin!", jawab Viona kesal.


"Nama dia bukan Zainuddin Vi!", protes Kanaya.


"Tau lu nama gua main ganti aja!", sahutku.


"Gak usah banyak protes!"


"Awas, copot tuh mata!", sindir Grace yang melihatku terus menatap Kanaya.


Mendengar sindiran Grace, aku langsung mengalihkan pandanganku karena aku tidak ingin Kanaya tahu aku memperhatikannya.


Teeeeeetttttt


Bel berbunyi menandakan pelajaran pertama akan dimulai.


"Eh, pelajaran pertama siapa ya?", tanya Viona.


"Bu Vita.", jawabku santai.


"Mampus! Hari pertama, pagi-pagi pula!", Viona menepuk keningnya.


Sedetik kemudian Bu Vita pun memasuki kelas. Ia memberikan tugas yang begitu banyak. Tak lupa memberikan oleh-oleh pe-er yang tak kalah banyaknya.


"Buset deh! Baru masuk udah digempur aja!", celetuk Jojo.


"Iya, kasih santai dikit kek!", sahut Viona.


"Ya kan emang kewajiban kita buat menyelesaikan tugas yang dikasih guru.", sahutku.


"Lu mah enak, merem juga selesai tugas lu! Lah, gua coba bisa semedi di goa dulu baru kelar tugas gua."


"Makanya belajar, jadi lu kaga perlu semedi di goa!", sahutku santai.


"Pagi...!", sapa Bu Endah saat memasuki kelas.


"Pagiiiiiiiii Buuuu...!", jawab murid-murid kompak.


"Keluarkan buku catatan kalian!", perintahnya.


"What? Bisa keriting jari gua nih!", Viona kembali menggerutu.


Jojo dan Yosi cekikikan mendengar gerutuan Viona. Dengan malas Viona mengeluarkan buku catatannya. Ternyata Bu Endah cukup banyak memberikan rangkuman. Aku sendiri merasakan jariku mulai terasa pegal.


Teeetttttttttt


"Akhirnya istirahat juga!", ucap Jojo.


"Lu enggak ke kantin!", tanya Jojo yang melihat aku masih merangkum.


"Lu duluan aja deh, tanggung nih!", jawabku tanpa menoleh sedikitpun.


"Cocok lu berdua!", Lia menunjuk Kanaya yang masih merangkum juga.


Namun setelah yang lain meninggalkan kelas, Kanaya menghampiriku dan meletakkan dua kotak bekal di mejaku.


"Nih!", Kanaya memberikan 1 kotak bekalnya padaku.


"Apa nih?"


"Buka aja!"


Aku membuka kotak bekal tersebut ternyata isinya 2 potong sandwich.


"Makasih ya!"


Aku makan sambil melanjutkan menulis rangkuman yang diberikan Bu Endah.


"Rangkuman lu udah selesai?", aku bertanya pada Kanaya.


"Belom sih abisnya banyak banget, pegel jari gua. Boleh pinjem rangkuman lu enggak?", pinta Kanaya.


"Boleh-boleh aja, ini bentar lagi juga selesai."


"Tapi tulisannya agak acak-acakan gapapa?"


"Tulisan lu termasuk rapi kok!", puji Kanaya.


"Lu belom liat aja tulisan gua kalo lagi acak-acakan. Beuh... apoteker aja kaga bisa baca!"


"Jaaahhhh, lu bisa ngelawak juga Nay?", Kanaya tertawa mendengar pertanyaanku.


"Bisa lah, kan belajar dari lu semua yang pada suka ngelawak!"


"Ciyeeeee, berduaan aja nih!", sindir Viona saat kembali ke kelas.


"Ooohhhh, jangan-jangan lu berdua sengaja pura-pura masih nyatet biar bisa berduaan ya?", Viona menatap aku dan Kanaya dengan penuh kecurigaan.