Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 12



"Gila ya si Helen berani juga!", ucap Jojo ketika di kantin.


"Emang kenapa?", tanyaku penasaran.


"Inget enggak kejadian, waktu kemaren di lapangan?", tanya Jojo.


"Iya, kenapa?"


"Ternyata Helen bilang ke Kanaya kalo dia suka sama elu! Trus minta Kanaya buat jauhin elu!", jawab Jojo.


"Lu tau darimana?", tanya Yosi.


"Viona yang kasih tau gua tadi pagi.", jawab Jojo.


"Ciyeeeeee, Revan!", Billy menggodaku.


"Lu pilih yang mana Van?", tanya Yosi.


"Gua milih belajar!", jawabku singkat.


"Ya udah, berarti Kanaya buat gua aja yak?", tanya Billy yang duduk di sebelahku.


Pertanyaan Billy membuatku tanpa sadar menginjak kakinya.


"Aduh! Sakit tau!", Billy berpura-pura kesakitan.


"Hahahahaha! Itu tandanya lu suka sama Kanaya!", celetuk Jojo.


"Udan Van, ngaku aja deh! Lu suka kan sama Kan---"


Yosi yang melihat Kanaya dan yang lainnya berjalan ke kantin, segera membekap mulut Jojo.


"Ada orangnya!", bisik Yosi.


"Kenapa semuanya pada diem? Bukannya tadi lagi pada asik ngobrol ya?", Kanaya menatap kami satu per satu.


"Eh- Enggak kok! Lu salah liat kali!", jawab Billy.


"Enggak ah, gua enggak salah liat. Lu juga liat kan Vi, mereka semua tadi lagi pada asik ngobrol!", Kanaya masih terlihat penasaran.


"Iya, gua liat kok! Trus pas kita sampe sini, langsung pada diem semua kaya orang abis liat setan aja!", jawab Viona.


"A--- njiiirrrrrr!", Jojo terlihat shock ketika melihat Helen cs baru saja tiba di kantin.


Seketika kita semua menoleh karena penasaran siapa yang diliatnya.


"Haduhhhhh, kayanya ada yang budeg nih!", sindir Helen ketika melewati Kanaya.


"Kalo berani enggak usah pake nyindir-nyindir!", tantang Viona.


"Gua enggak ngomong sama elu!", Helen berhenti, berbalik, dan menunjuk wajah Viona.


"Songong ye, pake nunjuk-nunjuk segala!", Viona menepis tangan Helen.


"Bisa gak sih lu enggak nyari ribut terus?", tanya Kanaya.


"Kenapa sih kalo ketemu kalian selalu ribut?", tanyaku kesal.


"Ya, dia duluan!", Viona membela diri.


Aku meninggalkan kantin karena tidak ingin perdebatan terus berlanjut. Aku merasa penyebab keributan mereka adalah aku. Jadi aku memutuskan untuk beranjak dari sana.


"Van, tunggu!", Billy berlari mengejarku.


"Maen jalan aja, bukannya nungguin kita!", protes Billy.


"Males aja liat mereka ribut terus!", jawabku.


"Ya, namanya cewek ya kaya gitu!", Billy menepuk pundakku.


"Eh, tapi lu sebenernya suka enggak sama Kanaya? Kan tadi belom lu jawab.", tanya Billy yang masih penasaran.


"Ehm... Itu...!", aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal memperlihatkan aku yang sedang salah tingkah.


"Kenapa lu jadi gagap gitu? Bener kan lu suka sama Kanaya?"


"Enggak tau! Buat saat ini, gua enggak mau pacaran dulu!", jawabku.


Saat sedang asik ngobrol dengan Billy di kelas, Viona masuk dan menghampiriku.


"Van, sorry ya!", pintanya dengan wajah yang dibuat melas sambil menyodorkan sekaleng Coca-Cola.


"Diem lu! Gua lagi ngomong sama Revan!", sahut Viona ketus.


"Van, plissss maafin gua ya!", Viona menangkupkan kedua tangannya tetapi aku tetap tidak menjawab atau berbicara apapun.


"Minggir Bil!", Viona menarik tubuh Billy agar segera bangun dari kursinya.


"Buset, gua udah kaya rolling door aja maen geser aja!", celetuk Billy, namun Viona tidak menanggapi celetukan Billy. Entah kenapa terlintas dipikiranku untuk mengerjai Viona.


"Van, lu seriusan kaga mau maafin gua?", tanya Viona, aku tetap diam tidak menanggapi pertanyaan Viona.


Hingga esok harinya, aku masih tetap mendiamkan Viona. Hingga jam istirahat, aku tidak ikut ke kantin. Namun ternyata Kanaya juga tidak pergi ke kantin bersama yang lainnya.


"Van, lu marah juga sama gua?", tanya Kanaya yang sudah duduk di sebelahku.


"Gua enggak marah. Setelah gua pikir-pikir, kayanya gua penyebab kalian jadi suka ribut kalo ketemu.", jawabku.


"Kok, gara-gara lu?", tanya Kanaya bingung


"Iya, gua tau kok apa yang dibisikkin Helen waktu kemaren di lapangan.", jawabku.


"Hmm, maaf ya Van. Gua sebenernya enggak mau ngeladenin dia tapi kuping gua rasanya gatel aja denger sindiran dia. Lagian gua juga enggak tau kenapa, gua enggak suka aja waktu dia bilang suka sama elu!", sahut Kanaya.


"Ya, dia suka sama gua itu hak dia kan? Lagian dia atau elu enggak ada yang tau isi hati gua. Kalo dia mancing-mancing ngajak debat, ya lu enggak usah kepancing. Gua enggak suka!"


"Ya udah, gua janji enggak kaya gitu lagi!", Kanaya menunjukkan kelingkingnya, aku tersenyum lalu menautkan kelingkingku pada kelingkingnya.


"Trus sama Viona? Lu beneran marah?"


"Hmm... enggak sih cuma mau ngerjain aja!"


"Kesian tau!"


"Biarin aja! Siapa suruh pada bikin kesel gua?", jawabku.


Beberapa saat kemudian, Viona memasuki kelas menenteng satu kantong jajanan. Lalu ia menggeser Kanaya sehingga Kanaya berada diantara aku dan Viona.


"Aduh... sempit tau!", protes Kanaya.


"Ih, sebentar doang sih!", sahut Viona.


"Van, maafin gua ya! Nih, ada Coca-Cola, ada roti, ada chiki, ada biskuit. Semua buat elu deh tapi maafin gua ya!"


"Apa mau gua traktir makan? Lu mau makan apa? Mi goreng dobel? Nasi goreng? Bakso? Mi ayam? Kalo perlu seminggu ini deh, gua traktir lu makan.", ucapnya lagi.


"Hahahaha! Guys, jadi saksi ya!", pintaku sambil tertawa.


"SIAP!", jawab Jojo, Yosi dan Billy bersamaan.


"Ih, ngeselin kan lu! Jadi lu ngerjain gua?", tanya Viona baru yang sadar.


"Eittssss, mau dibawa kemana?", tanyaku ketika Viona memasukkan kembali jajanan yang tadi diletakkan di meja.


"Kan udah gua traktir seminggu, jadi jajanannya gua bawa lagi lah!", jawab Viona.


"Oooooo... tidak bisa! Semua yang sudah diberi, tidak boleh diambil lagi.", aku menarik kantong yang dipegang Viona.


"Udah sih taro aja buat makan bareng-bareng!", pinta Billy.


"Tau gini tadi, gua enggak mau beli jajanan segini banyak!", Viona ngedumel.


Semua tertawa melihat Viona yang sedang ngedumel dengan wajahnya yang manyun. Mataku tertuju pada Kanaya. Aku senang melihatnya saat ia sedang tertawa lepas seperti sekarang.


"Apa iya gua suka sama dia? Kalo gua suka sama dia, apa dia juga suka sama gua? Enggak mungkin... enggak mungkin... Udah Van... Fokus belajar... Fokus!"


Aku yang berbicara sendiri di dalam hati tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Lu kenapa Van?", Kanaya menatapku.


"Eh- kenapa apanya?", tanyaku gugup. Bagaimana tidak gugup ditatap dengan jarak yang begitu dekat.


"Iya itu lu kenapa geleng-geleng sendiri? Pusing? Sakit kepala?", tanya Kanaya.


"Enggak kok, gua gapapa Nay!", jawabku.


"Mau ke uks, Van?", Jojo mengejekku.


"Yeeee, pea!", Aku menoyor kepalanya Jojo.


Saat mereka kembali tertawa, tanpa sengaja kaki Kanaya menyentuh kakiku. Seketika Aku dan Kanaya terdiam dan saling berpandangan.