
"Yaelah, ini anak berdua malah pandang-pandangan!", sindir Viona yang menangkap basah aku dan Kanaya saling berpandangan.
"Apaan sih? Udah ah, minggir!", Kanaya terlihat salah tingkah.
Keesokan harinya, aku terbangun sekitar pukul 5 lewat karena aku mendengar suara di dapur.
"Mama masak banyak amat?", tanyaku ketika melihat 1 termos nasi uduk yang sudah matang.
"Mama mau nyoba jualan nasi uduk di depan rumah.", jawab mama.
"Kenapa mama nggak bangunin Revan, jadi Revan bisa bantu mama?"
"Udah, kamu siap-siap aja buat sekolah! Lagian ini juga udah jadi semua. Tinggal susun di meja aja. Aku dengan sigap membantu mama menyiapkan dagangan di meja yang sudah ada di depan rumah.
"Revan mandi dulu ya ma!"
Aku belum menanyakan apa alasan mama berjualan nasi uduk. Bagaimana dengan pekerjaannya jika mama berjualan? Ah, nanti malam saja baru kutanyakan pada mama.
"Ma, Revan berangkat dulu ya!", aku berpamitan pada mama.
"Ehhhh, tunggu Van!"
"Ini kamu bawa, buat sarapan kamu sama temen-temen kamu!", mama menyerahkan 1 kantong plastik berisi nasi uduk.
"Enggak usah ma, buat jualan aja!"
"Udah gapapa bawa aja, mama tadi sengaja masaknya lebihan kok!", mama tersenyum padaku.
"Makasih ya ma! Revan jalan ma!", aku melambaikan tanganku.
Aku memilih berjalan kaki karena sebenarnya jarak dari rumah ke sekolah tidak seberapa jauh. Sesampainya di kelas, aku segera membagikan nasi uduk yang ku bawa. Mama membawakanku 10 bungkus nasi uduk.
"Ini emak lu yang masak?", tanya Billy dengan mulutnya yang sibuk mengunyah makanan.
"Iya, emak gua sekarang kalo pagi jualan nasi uduk.", jawabku.
"Enak Van, besok bawain lagi dong!", pinta Jojo.
"Yehhhh, maunya gratisan aja lu!", celetuk Yosi.
"Gua bayar kok, kaga minta gratis lagi!", sahut Jojo.
"Gua juga mau dong!", sahut Viona.
"Iya, kan lumayan buat nambah pemasukan emak lu!", ucap Billy.
"Betul tuh!", jawab Viona.
"Jadi siapa aja nih yang besok mau beli nasi uduk?", tanyaku bersemangat dan ternyata sahabat-sahabatku minta dibawakan lagi.
Malam harinya...
"Kamu enggak malu sama teman-teman kamu?", mama bertanya setelah aku selesai bercerita.
"Ngapain malu ma, justru Revan seneng bisa bantu mama.", aku tersenyum.
"Ya udah, kamu makan dulu. Mama udah bikinin semur telor kesukaan kamu.", mama mengusap kepalaku.
"Makasih ya ma!", aku memeluk mama.
Semenjak hari itu, mama sudah tidak bekerja lagi. Mama fokus berjualan nasi uduk saja. Dagangan mama selalu laris dan habis. Sekarang setiap hari, aku bangun lebih pagi untuk membantu mama. Walaupun mama menolak untuk dibantu, aku tetap bersikeras membantu mama. Aku tidak tega membiarkan mama bekerja sendiri. Aku juga suka membawa beberapa nasi uduk untuk ku jual di sekolah.
"Van... besok-besok kalo kamu bawa nasi uduk ke sekolah. Uangnya kamu simpen aja buat uang jajan kamu!", ucap mama ketika aku sedang mengerjakan pe-er.
"Enggak usah ma, kan Revan tiap hari bawa bekel nasi uduk mama.", jawabku.
"Udah, kamu simpen aja. Mana tau kamu mau jajan yang lain, memangnya kamu enggak bosen makan nasi uduk terus? Atau pas temen-temen kamu ngajak pergi, kan enak kamu punya uang sendiri. Mama dari hasil jualan disini juga udah lebih dari cukup untuk biaya kita berdua. Selama ini juga kan mama jarang kasih kamu uang jajan.", mama berbicara panjang lebar.
"Revan enggak masalah kok makan nasi uduk tiap hari. Revan malah bersyukur, masih ada rezeki, masih ada makanan yang bisa dimakan. Masalah uang jajan juga, Revan enggak pernah permasalahin. Revan masih bisa makan di rumah kalo udah pulang sekolah."
"Ya, pokoknya sekarang uang hasil jualan kamu di sekolah buat kamu aja. Terserah kamu mau pake buat apa. Mau buat jajan atau kamu mau tabung itu udah jadi hak kamu."
"Makasih ya ma! Revan sayaaannggg banget sama mama!", aku mencium punggung tangan mamaku.
"Iya, mama juga sayaaaannnggg banget sama Revan!", mama mencium keningku.
Keesokan harinya...
"Revaaaannnn!", Helen melambaikan tangannya sambil berjalan mendekatiku.
"Eh, gua mau dong nasi uduknya!", pinta Helen.
"Gua pesen 3 ya!", pintanya lagi.
"Ok!", jawabku singkat.
Aku tahu sebenarnya Viona ingin sekali membalas sindirannya. Tetapi ia dan Kanaya sudah berjanji padaku untuk tidak terpancing saat Helen menyindirnya.
"Ih, sumpah ngeselin banget sih tuh anak!", ucap Viona kesal.
"Sabar Vi... Lu mau ngejajanin Revan lagi,gara-gara lu nyautin sindirannya Helen?", tanya Jojo.
"Ya, kagalah bisa tekor gua!", jawab Viona.
"Pelit!", celetukku pelan.
"Apa lu bilang?", Viona mencubit tanganku.
"Aduuuhhhhh sakit Vi! Iya iya kaga. Lu baik deh pokoknya!"
Akhirnya Viona melepaskan cubitannya. Aku menggosok-gosok tanganku yang tadi dicubit Viona karena masih terasa panas. Sedangkan teman-temanku yang lain menertawakan aku yang masih menggosok-gosok tanganku.
Keesokan harinya, aku mengantarkan nasi uduk pesanan Helen ke kelasnya. Setelah Helen membayar pesanannya, aku segera meninggalkan kelasnya.
"Kenapa lu? Kaya abis ketemu setan!", canda Billy.
"Abis nganter pesenan Helen.", jawabku.
"Ya, sebelum dia ngajak ngobrol mending gua kabur duluan.", aku terkekeh.
"Van, pinjem pe-er sejarah dong!", pinta Grace.
"Wah, pagi-pagi dah nyontek!", sahutku.
"Bawel, cepetan!", pintanya lagi tidak sabaran.
"Gua mau juga dong!", pinta Lia.
"Hedehhhh!", aku menghela nafas sambil memberikan buku pe-er sejarahku.
Teeeettttt...
Bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera dimulai.
"Keluarkan kertas ulangan kalian!", ucap Bu Endah.
"Pagi-pagi, ulangan mendadak pula!", gerutu Viona pelan.
Bu Endah pun mulai menuliskan soal-soal di papan tulis. Aku mulai menyalin soal-soal tersebut. Lalu mulai menuliskan jawabannya.
"Kerjakan masing-masing! Saya memang tidak melihat kalian mencontek tapi ingat Tuhan bisa melihat apa yang kalian lakukan!",, tegur Bu Endah ketika beberapa murid terlihat sedang kasak-kusuk untuk saling mencontek.
"Dia guru sejarah apa guru agama dah?", pertanyaan Viona berhasil membuatku cekikikan.
"Revan! Apa yang kamu ketawain?", tanya Bu Endah begitu mendengar aku cekikikan.
"Maaf bu!", aku menundukkan kepalaku.
"Yang sudah selesai, taruh kertas ulangan kalian di meja saya!", perintahnya.
Kanaya maju lebih dulu untuk menaruh kertas ulangannya di meja guru. Aku masih ada beberapa soal yang belum selesai kutulis jawabannya. Setelah selesai, aku memeriksa kembali jawabanku. Lalu berjalan ke meja guru untuk menaruh kertas ulanganku disana.
90 menit sudah berlalu, pelajaran sejarah pun berakhir. 5 menit kemudian Pak Arif memasuki kelas.
"Pagi!", ucapnya dengan penuh semangat seperti biasa.
"Pagiiiii paakk!", jawab anak-anak kompak.
"Kalian tahu hari ini hari apa?", tanya Pak Arif.
"Hari selasa pak!", jawab Grace.
"Betul, hari ini adalah hari selasa dan juga hari keberuntungan kalian!", ucapnya lagi.
"Perasaan gua mulai enggak enak nih!", bisik Jojo.
Pak Arif mengeluarkan 1 tumpuk kertas hvs dari dalam tasnya.
"Hari ini saya mengadakan ulangan dadakan. Nah... seperti yang saya bilang tadi, hari ini adalah hari keberuntungan kalian, jadi kalian tidak perlu menyalin soal, hanya tinggal menjawab saja. Karena semua soal-soal sudah saya print di kertas ini.", Pak Arif menyunggingkan senyumnya sambil membagikan kertas soal kepada murid-murid.
"Pak Arif pinter ngelawak sekarang!", celetuk Yosi pelan.
"Waktu kalian 45 menit sampai istirahat pertama, untuk mengerjakan soal-soal yang saya berikan!", ucap Pak Arif.
"Cepet ubanan gua, ulangan dadakan terus!", gerutu Yosi.
"Yosi!", panggil Pak Arif tiba-tiba.