Revan & Kanaya

Revan & Kanaya
Bab 6



"Yaelah, ketemu lagi sama dia! Males banget!", celetuk Viona.


"Ssstttt, cepet tua lu ngedumel mulu!", sahut Jojo.


"Nih, tiketnya pegang sendiri-sendiri deh!", ucap Billy.


"Pintu teater 4 sudah dibuka, para penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki ruangan teater!"


"Nah... kita udah dipanggil sama mba teater tuh! Ayo dah masuk, kesianan dia nungguin kita!", ucap Yosi.


"Lu hari ini udah minum obat belom sih? Jangan kumat deh!", sahut Grace.


"He he he...", Yosi nyengir memperlihatkan barisan giginya.


"Gigi banyak spasinya aja pake nyengir!", ledek Grace.


"Tapi gua tetep ganteng kan?", tanya Yosi sambil menggerakan alisnya naik turun.


"Dih... pede banget lu! Lu sih kaga ada ganteng-gantengnya."


"Suwe lu!", sahut Yosi kesal.


Sepertinya Billy memang sengaja memilihkan aku tempat duduk disebelah Kanaya. Sedangkan Kanaya duduk di bangku paling pojok.


"Eh, kayanya ac nya dingin banget ya? Apa cuma gua yang ngerasain?", tanya Viona.


"Hooh deh kayanya lebih dingin dari biasanya.", sahut Kanaya.


"Lebay!", celetuk Helen yang ternyata duduk tepat di barisan bangku atasku.


Kanaya langsung melirik Helen dan menghela nafas kesal. Viona yang emosi mendengar itu seketika berdiri. Namun segera ditarik Yosi untuk kembali duduk.


"Jangan ribut disini! Malu tau!"


"Ya abisnya dia yang mulai duluan. Maksudnya apa coba pake ngomong lebay segala?", jawab Viona berapi-api.


"Ya, emang lebay!", Helen kembali menyahut.


"Sabar Viona... Sabar...!", Viona berbicara sendiri sambil mengelus dadanya.


Beberapa saat kemudian film pun mulai. Sepanjang film diputar, anak-anak cewek berteriak histeris. Kanaya berkali-kali menutup wajahnya dengan tangan.


"Bil, lain kali jangan nonton film setan ah! Jantungan di dalem kan kaga lucu ", pinta Viona.


"Kan sebelum nonton, kita udah rundingan mau nonton film apa. Trus lu juga iya-iya aja tadi.


"Kan gua kira enggak bakal se serem tadi.", jawab Viona.


"Bawel lu!", sahut Billy.


"Balik yuk! Gua belom ngerjain pe-er sejarah nih!", pinta Kanaya.


"Gini nih susahnya ngajak pergi lu. Masih sempet-sempetnya inget pe-er.", sahut Lia.


"Ya, abis gimana? Lu tau kan Bu Mike kalo ngasih tugas bejibun.", jawab Kanaya.


"Ya udah, kita balik aja. Lu pada naik taksi kan pulangnya?", tanya Jojo.


"Iya, anterin dong ke lobby!", pinta Viona.


"Manja bener sih!", sindir Helen sambil berjalan melewati aku dan yang lainnya.


"Heh, lu kenapa sih kayanya sensi bener sama gua?", Viona langsung menarik tangan Helen.


"Iya, lu terlalu lebay jadi cewek!", Helen menunjuk wajah Viona.


"Enggak usah nunjuk-nunjuk lu!"


"Udah Vi, ayo balik aja!", Kanaya menarik lengan Viona.


"Kenapa? Lu pada takut sama gua?"


"Gua bukannya takut, lu enggak malu apa diliatin orang-orang dari tadi teriak-teriak gitu? Kalo gua sih malu.", jawab Kanaya.


"Ooohhh... Lu mau bilang gua enggak punya malu?"


"Emang ada kalimat gua yang bilang lu enggak punya malu? Tapi bagus deh kalo lu ngerasa kaya gitu.", balas Kanaya.


"Kok lu jadi nyolot gitu?", Helen mendorong bahu Kanaya membuat Kanaya mundur beberapa langkah dan menabrak tubuhku yang berada di belakangnya.


"Udah! Jangan pada berantem deh!", kali ini aku yang bersuara karena banyak orang-orang yang memperhatikan keributan yang terjadi.


Dengan susah payah aku, Billy, Yosi dan Jojo menarik anak-anak cewek untuk segera meninggalkan Helen cs.


"Heran gua, tuh anak doyan banget nyari masalah!", ucap Viona yang masih kesal.


Aku dan Billy yang berjalan paling belakang hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ocehan Viona.


"Eh, itu celananya Kanaya kenapa dah?", Billy berbisik padaku.


Mataku langsung tertuju ke celana Kanaya. Ternyata ada noda merah yang cukup banyak.


"Gimana cara ngasih taunya?", Billy bertanya padaku.


Setelah berpikir sejenak, aku melepaskan sweater yang kupakai.


"Vi...!", aku memanggil Viona yang berjalan disamping Kanaya lalu memberi isyarat untuk mendekat padaku.


"Nih!", aku memberikan sweaterku pada Viona.


Aku menunjuk dengan mata ke arah Kanaya.


"Astaga!", seru Viona yang segera menghampiri Kanaya lalu mengikatkan sweaterku ke pinggangnya.


"Eh---", mungkin Kanaya terkejut dengan apa yang dilakukan Viona.


"Sssttt!", Viona memberi isyarat untuk diam.


Entah apa yang dibicarakan Kanaya dan anak-anak cewek yang lain karena mereka bicara dengan bisik-bisik.


"Kalian kalo mau balik, duluan aja!", ucap Viona ke anak-anak cowok.


"Ya, kan belom sampe lobby.", sahut Jojo.


"Kita-kita pada mau ke toilet dulu soalnya.", jawab Grace.


"Lu tau kan cewek kalo di toilet lama. Emang pada mau nungguin?", sahut Lia.


"Trus lu tau kan toilet cewek biasanya antriannya panjang kaga kaya toilet cowok.", Viona menambahkan.


"Gimana nih?", tanya Yosi.


"Ya udah deh, kita balik duluan aja!", jawab Billy.


Akhirnya rombongan kami berpisah dengan rombongan anak-anak cewek.


Keesokan harinya...


"Makasih ya!", ucap Kanaya sambil mengembalikan sweaterku.


"Udah gua cuci kok. Udah bersih.", ucapnya lagi.


"Hah? Cepet amat keringnya.", jawabku bingung.


"Ya kan dirumah gua nyucinya pake mesin trus udah ada pengeringnya. Jadi cepet deh.", jawab Kanaya.


"Ooohhhh gitu.", jawabku sedikit malu karena aku tidak mempunyai mesin cuci.


"Vi, temenin ke perpus yuk!", pinta Kanaya karena Grace dan Lia tidak ada.


"Ngapain?"


"Ya minjem buku lah, ya kali gua mandi di perpus.", jawab Kanaya lalu menarik tangan Viona.


"Iya iya eh buset deh main tarik aja!", Viona mengikuti Kanaya keluar kelas.


Tepat saat Kanaya dan Viona keluar, Helen cs masuk ke kelasku.


"Waduh!", Yosi menepuk keningnya saat melihat Helen cs berjalan ke arahku.


Yang lebih membuatku bingung Kanaya malah kembali ke mejanya.


"Nay, kaga jadi ke perpusnya?", seru Viona setengah berteriak.


"Entar aja deh Vi.", jawab Kanaya dengan raut wajah kesalnya melihat Helen.


"Van, lu hari ini ada pelajaran matematika gak?", tanya Helen.


"Ada, emang kenapa?"


"Gua pinjem buku boleh enggak? Buku gua ketinggalan soalnya habis ini pelajaran matematika. Lu tau kan Bu Vita gimana?"


"Halah, alesan aja!", sindir Viona yang sedang duduk bersama Kanaya.


"Yah, mulai perang lagi nih!", celetuk Jojo.


"Ya emang bener kok buku dia ketinggalan.", sahut Sheila.


"Yah, namanya temen sendiri mah pasti dibelain."


"Kok lu nyolot sih?", sahut Stella.


"Disini banyak kali yang punya buku matematika bukan cuma Revan aja. Itu Jojo ada, Yosi juga ada. Harus ya minjemnya ke Revan?"


"Masalah buku aja jadi ribut!", bisik Yosi.


"Ya, suka-suka gua lah mau minjem sama siapa. Kok jadi lu yang marah?"


"Boleh ya Van...! Lu baik deh.", pinta Helen dengan sedikit manja.


"Udah udah, pusing gua lu pada berantem mulu. Nih, bawa aja!", jawabku lalu memberikan buku pelajaran matematika ku pada Helen.


"Makasih Revan...!", ucap Helen tiba-tiba saja menarik tanganku dan menyalami tanganku sambil tersenyum melirik Kanaya dan Viona.


"Iya... iya...!", jawabku sambil menarik tanganku.


"Ayo guys, kita balik! Lama-lama disini bisa darah tinggi gua!", Helen menyindir Viona.


"Kenapa lu kasih pinjem?", tanya Viona yang sudah duduk di sampingku.


"Ya masa gak dikasih. Kan dia minjem bukannya minta.", jawabku bingung.


"Emang kenapa sih?", aku bertanya pada Viona.


"Ah gak tau deh! Kesel gua sama lu lama-lama!"