
"Dimana Hera?" tanya Eadline
Jam empat sore, tepat nya beberapa jam lagi waktu menjelang malam. Eadline sedang menunggu Hera di depan gerbang sekolah sambil memakan roti isi di tangan nya. Ia menunggu dan menunggu sampai mata nya menangkap sosok Hera yang sedang berlari dari ke jauhan.
"Madam!" sapa Hera dengan riang
"Huh... akhirnya!" Eadline menghela nafas
"Maaf aku terlambat keluar!" kata Hera
"Tidak masalah. ayo!, cepat lah masuk!" pinta eadline
"Baiklah!"
Hera berjalan masuk ke dalam kereta kuda di ikuti dengan eadline yang juga ikut masuk ke dalam kereta.
Di perjalanan pulang...
"Hera, kenapa kau tadi keluar lama sekali?. Apa kau terkena masalah di sekolah?" tanya Eadline dengan nada khawatir
"um..."
Hera sempat ragu-ragu menjawab nya, ia takut kalau madam eadline akan marah besar. Ia mengumpulkan keberanian kemudian ia menjawab pertanyaan tersebut dengan wajah tenang. berharap madam eadline tidak akan marah.
"Aku tadi mendapatkan teman baru. Tetapi anak itu tadi di hukum membersihkan aula karena dia tidak sengaja membuat ku menangis di dalam kelas. Aku berinisiatif untuk meminta maaf dengan membantu nya membersihkan aula. Kasihan dia sendirian, jadi karena itu lah aku terlambat keluar" tutur Hera dengan perasaan sedikit takut
Eadline terdiam saat mendengar penjelasan Hera. Ia mengunyah roti yang telah di makan nya sedari tadi. Eadline menelan roti tersebut kemudian ia menatap mata Hera.
"jadi begitu?" menatap mata Hera sambil bertanya
"a...um!" angguk hera
"Huh...kenapa kau kelihatan panik?. kalau kau terlambat karena membantu seseorang, kau seharus nya tetap tenang saat mengatakannya. aku tidak akan marah" tutur eadline sambil mengunyah roti isi yang baru saja ia buka
Hera menghela nafas senang karena madam eadline tidak marah kepadanya. Ia bersender santai di kursi sambil melirik ke arah jendela. Tak berapa lama kemudian, bola mata hera tak sengaja menangkap sebuah bungkusan barang yang sangat banyak di bawah tempat duduk yang madam eadline duduki. ia jadi keherenan, kenapa madam eadline membeli barang sebanyak itu. Hera melihat eadline yang sedang asik mengunyah roti isi dan langsung bertanya kepada nya.
"em...madam!"
"hm..." eadline melirik ke arah Hera
"Untuk apa semua barang ini?" tanya Hera sambil menunjuk ke bawah tempat duduk
Eadline menoleh ke arah tempat yang di tunjuk oleh Hera.
"Ohhh, ini?" tanya Eadline untuk memastikan
"um!"
"oh, ini adalah barang-barang baru untuk mendekorasi kamar!" ucap Eadline dengan sangat senang
"Mendekorasi kamar?" tanya Hera dengan polos
"Ya!, untuk mendekorasi kamar!" ucap Eadline sambil tersenyum
"ouuu..." Hera mengangguk
"memang nya madam eadline akan mengadakan pesta?"
tanya Hera lagi dengan wajah yang sangat polos dan imut. itu membuat madam eadline merasa gemas dan ingin sekali mencubit pipi nya.
"hahah, bukan sayang!. tetapi kita akan menyambut kedatangan seseorang yang spesial!" Ucap Eadline sambil meremas pipi Hera dengan sangat gemas
"Memang nya siapa yang akan datang?" tanya Hera
"Kau akan tau nanti!"
"Nona kita sudah sampai!" ucap pak kusir
Tak terasa waktu sudah berjalan dengan sangat cepat. Mereka berdua telah sampai di depan pintu gerbang rumah. Eadline dan Hera segera turun dari kereta kuda. Sebastian, nona Cloudet dan para maid lain semua nya berhamburan keluar mengambil semua barang bawaan yang telah di beli oleh madam eadline.
Madam eadline segera masuk ke dalam rumah sambil menenteng sebuah benda panjang berbalut kain merah di tangan nya. Sedangkan Hera, ia tetap diam mematung sambil memperhatikan para maid membawa barang-barang tersebut ke dalam rumah.
"Hm?, My lady?. kenapa lady tidak masuk ke dalam rumah?" tanya Sebastian sambil membawa kotak merah di tangan nya
"Ah!, Sebastian. itu...aku ingin membantu, tetapi sepertinya kalian semua tidak membutuhkan bantuan ku sama sekali" ungkap Hera
Sebastian memikirkan sebuah ide bagaimana cara nya lady Hera tetap bisa ikut membantu tanpa melakukan pekerjaan berat. Sebastian tersenyum kemudian mengajak lady Hera untuk ikut bersamanya.
"Baiklah lady, kalau begitu kau bisa membantu ku mencuci selimut dan sprei baru yang ada di dalam kotak ini!" kata sebastian
"benarkah?" tanya Hera dengan mata berbinar
"tentu saja my lady!, ayo!"
Hera berjalan mengikuti Sebastian. Sedangkan di balik belokan sayap kanan, lagi-lagi sosok hitam berjubah itu muncul. Kali ini sosok itu tidak bersembunyi di tempat yang sangat sulit di lihat oleh orang-orang. Ia lebih memilih mengintai di tempat yang lebih sedikit terbuka. Sepertinya pria berjubah hitam itu sudah kelelahan karena terlalu lama manyamar.
"!...kau..."
Muncul lah sosok cantik Eadline dari balik koridor. Sosok hitam itu menoleh dan terkejut mendapati seseorang telah mengetahui keberadaannya. Pria itu berusaha melarikan diri lewat jendela. Tetapi pria itu lupa bahwa eadline lebih kuat dan lebih cepat dari nya. Eadline lebih dulu sampai di depan jendela. ia menghadang langkah pria itu, Eadline mencengkram tangan nya kemudian menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap.
"(Eh?, aku tadi sepertinya melihat madam eadline lewat. Tapi dimana dia)" kata seorang pelayan
Klik (eadline menekan saklar)
Cahaya lampu pun menyala dan terlihat lebih jelas pula sosok pria tersebut dari jarak yang sangat dekat. Rambut nya berwarna putih bersih, bola matanya berwarna kuning dan bulu mata nya juga berwarna putih dan sangat lentik.
Eadline melepaskan cengkraman tangan nya, ia duduk di sebuah meja kerja di dekat jendela ruangan itu. Pria itu tidak bisa apa-apa sekarang, ia hanya bisa pasrah kemudian ia melepas masker dan tudung yang telah ia pakai di hadapan Eadline. Terlihat sangat jelas sekarang bagaimana rupa dari wajah sosok pria berjubah hitam tersebut. Ia berjalan mendekat kemudian terduduk ke bawah sambil menunduk hormat kepada eadline lalu meminta maaf sebesar-besarnya.
"Aku meminta maaf madam!"
...Christopher...
...(Christof)...
...Kakak Kedua dari Cloudet...
...Hellhound Putih...
...----------------...
Eadline hanya memperhatikannya sebentar kemudian ia bertanya kepada pria berambut putih itu.
"Berani-beraninya kau keluar sekarang. Kau seharusnya bersembunyi sampai masa pengasingan mu selesai"
ucap Eadline dengan nada santai tetapi masih ada nada mengintimidasi dari kalimat tersebut. Christof tau betul kesalahan apa yang telah ia perbuat, ia berusaha meminta maaf lagi tetapi eadline dengan santai nya memotong kalimat nya.
"Saya minta..."
"Sudah cukup!"
Christof terdiam kemudian ia berdiri.
"Christof, bisakah kau lebih bersabar?. Setelah kakak mu kembali, masa pengasingan mu akan selesai. Kau harus nya tau itu." kata eadline
"...aku tau, tapi..." christof menghentikan kalimat nya
"apa?" tanya eadline
"...aku sangat merindukan Cloudet" kata Christof dengan wajah sedih
Eadline sangat memahami dengan apa yang di katakan oleh Christof. Eadline ingin membuka mulut, tetapi percakapan mereka berdua di hentikan oleh suara ketukan pintu dari luar. Eadline terkejut kemudian ia menyuruh Christof untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Christof kau pergilah!" Pinta eadline
Christof mengangguk, ia memakai kembali semua penyamaran nya. Christopher segera berlari ke arah jendela yang terbuka kemudian ia segera melompat keluar melalui jendela tersebut.
Eadline berpura-pura menulis sesuatu di buku catatan nya kemudian ia segera menjawab panggilan dari luar ruangan.
"Masuk!"
Masuklah seorang pelayan wanita dari balik pintu, pelayan itu membawa nampan berisi kue dan roti ke sukaan eadline. Pelayan itu menaruh nampan itu di atas meja kemudian ia pamit undur diri kepada eadline.
"Saya permisi dulu madam" pelayan itu membungkuk hormat
"(hoshhh...hampir saja!)" eadline merasa lega