
Setelah selesai makan malam, Hera turun dari kursi kemudian pergi ke kamarnya.
"(hmm, aku belum ngantuk. apa yang harus ku lakukan?)"
Hera membuka pintu kamar kemudian ia menarik kotak mainan yang ada di tempat tidur.
"Sebaiknya apa yang akan ku mainkan?" tanya Hera
Ia menggeledah kotak mainan itu. setelah beberapa saat mencari akhirnya ada satu mainan yang menarik perhatiannya. Benda itu adalah bola kaca yang sangat indah, di dalam nya terdapat sebuah miniatur rumah yang sangat imut. Hera kelihatan sangat gembira kemudian ia menggoyang-goyangkan bola kaca tersebut dan kemudian...
Kling-kling-kling
Bola kaca itu bersinar dan membuat hati Hera semakin senang saat melihatnya.
"Wah, indah sekali!. aku akan membawa dan menunjukkan benda ini kepada Al dan Roxa nanti"
Tanpa di sadari Hera, ternyata ada seseorang yang sedang mengintip nya dari balik jendela. Christopher tersenyum saat melihat Hera bergembira dengan mainan yang baru ia temukan. Christopher lalu duduk di pinggir jendela memikirkan suatu hal sambil melihat ke arah langit yang penuh bintang.
"(Dulu Claudet sangat menyukai mainan itu, untunglah Lady Hera menemukannya. setidaknya seseorang akan menjaga bola itu mulai sekarang)"
Christopher melompat turun kemudian menghilang di rimbunan kegelapan.
Sementara itu,
"Mmmm...mmmm..."
Claudet berusaha melepaskan cengkraman tangan seseorang dari mulutnya. ia berusaha memberontak, tetapi semakin ia memberontak semakin orang itu menguatkan cengkramannya. tubuh nya di tekankan ke pintu kemudian sosok tersebut membisikkan sesuatu di telinga nya dan seketika orang itu membuat Claudet langsung diam terpaku.
"Shtttt..." Cornellion mengisyaratkan Claudet untuk diam
"..."
Claudet langsung terdiam karena tidak berani melawan. Tubuh nya terasa lemas, Cornellion tersenyum kemudian ia melepaskan cengkramannya.
"Akhirnya aku bisa melihat mu lagi. Berapa lama kita tidak bertemu?, 1 tahun ?, 2 tahun?..."
"..."
"Kau tidak berubah ya...tunggu!"
"(Deg!)"
"Apa yang ada di wajah mu ini?"
Mata Cornellion tertuju pada Cadar yang di pakai Claudet.
"Apa yang kau pakai ini?"
nada suara nya langsung berubah menjadi datar dan sangat menyeramkan. Cornellion menarik cadar tersebut dan tampaklah wajah cantik bersinar yang di miliki Claudet. Cornellion melepaskan cadar itu dan kemudian cadar itu terbakar dengan sendirinya.
"Begini lebih baik!, aku jadi bisa melihat wajah mu yang cantik itu"
Tangan cornellion membelai wajah cantik tersebut. Cornellion begitu menikmati pemandangan yang berada tepat di depan mata nya. Tetapi tidak dengan Claudet, orang yang berada tepat di hadapan nya ini adalah kakak pertama nya yang bertingkah selayak nya lelaki bejat. Tepat nya adalah kakak tiri yang dulu nya tidak pernah menyukainya sama sekali. Claudet semakin ketakutan ketika Cornellion mendekatkan wajah nya. Wajah mereka sangat dekat ketika tiba-tiba seseorang mengganggu hal bejat yang akan di lakukan Cornellion.
"Cornellion!, apa yang kau lakukan?"
Cornellion berbalik dan mendapati seorang lelaki telah menyusup masuk ke dalam kamar nya.
"(Christof!)" Batin Claudet
Claudet mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. tetapi Cornellion lebih cepat, ia menarik tangan Claudet kemudian merangkul leher nya dengan sangat kuat. Christof yang melihat itu, ia langsung panik dan kemudian mencoba memperingatkan Cornellion agar tidak berbuat macam-macam kepada Claudet.
"Lepaskan dia!, Kalau tidak..."
"Kalau tidak?!"
"(akh!)"
"Kumohon lepaskan dia!" Teriak Christof sambil memohon
"seperti biasa Kau sudah melakukan sebuah kelancangan dengan masuk ke kamar ini tanpa seizin ku. sekarang aku ingin tau apa yang akan kau lakukan?" Tanya Cornell dengan nad mengejek
"Aku tau kalau aku sudah lancang masuk kemari!, tapi ku mohon jangan lakukan hal yang buruk kepada Claudet!. aku janji, lain kali aku tidak akan mengganggumu lagi!"
Cornellion tersenyum mendengar itu. ia melepaskan rangkulannya kemudian Claudet menggunakan kesempatan itu untuk kabur sambil terisak tangis.
"Heheh, lihat!. kau sudah membuat adik kecil mu menangis. sekarang pergilah sebelum aku bertambah kesal!" Ucap nya dengan tatapan tajam
Dengan sekejap Christof menghilang dari tempat itu meninggalkan Cornellion sendirian.
"Ahhhh, tidak seru!. padahal aku hampir berhasil tadi"
Cornellion berjalan mendekati kasur kemudian ia berbaring sambil menatap ke arah langit-langit kamar.
"snif...snif... (mengendus)"
Dari luar kamar Christof mengendus sesuatu yang membuat selera makan nya bangkit. ia berlari ke arah pintu. saat ia di luar, ia mendapati sebuah nampan0 berisi makanan tergeletak di atas meja nakas. Ia mengambil nampan itu kemudian membawanya masuk ke dalam kamar.
"Setidaknya ini akan mengendalikan Rasa haus ku untuk sementara waktu"
Pagi Hari nya
"Sebastian!"
Hera berlari ke bawah sambil memanggil-manggil Sebastian.
"Ya my lady?"
Entah dari mana, Sebastian tiba-tiba muncul tanpa suara. seakan-akan ia sudah menunggu kedatangan. Hera sedari tadi.
"Sebastian!, hari ini kan libur. bisakah kau membawa ku keluar?" tanya Hera
"hmmm... bagaimana ya?"
"Ouu...ayo lah Sebastian!" bujuk Hera sambil menunjukkan wajah imut nya
"Haha, baiklah my lady. Kau bisa ikut aku pergi ke Galatas (pasar) membeli bahan makanan"
"Horee!. baiklah, ayo pergi Sebastian!" ajak Hera
Sebastian pun berjalan mengikuti Lady kecil nya itu. Mereka pun pergi ke pasar menaiki Kereta kuda yang biasa mengantar Hera pergi ke sekolah.
Sesampainya di pasar,
"Wah!, ayo my lady!"
Sebastian mengajaknya pergi ke sebuah kedai roti di pinggir jalan, bapak pemilik roti itu tersenyum dan langsung mengenali Sebastian dari kejauhan.
"Ah, akhirnya Tuan datang juga. bagaimana kabar mu Tuan?" tanya tukang roti itu
"Aku baik pak, maaf akhir-akhir ini aku jarang kemari. ada sesuatu yang harus aku urus dalam Minggu ini" jawab Sebastian sambil tersenyum
"Dan siapa ini?, kau membawa seorang gadis cantik bersama mu?"
"Haha, ini adalah gadis kecil yang sering ku ceritakan padamu" kata Sebastian sambil tersenyum ramah
"Kau benar, dia memang cantik sekali, kalau begitu sampai jumpa lagi sebastian!"
Sebastian pergi dari tempat itu dan kemudian pergi ke bagian pasar dimana sayur-sayuran di jual. Saat mereka tiba, Sebastian dan seorang pelayan yang di bawa bersama mereka mulai membantu Sebastian memilih sayuran segar di kedai itu. Hera bosan menunggu, ia dengan iseng mencoba berkeliling sebentar di sekitaran tempat si penjual sayur. Tetapi rasa bosan nya tak kunjung hilang. Perhatian nya teralihkan saat ia melihat seekor kupu-kupu yang sedang terbang di dekat sebuah kios kosong. ia mencoba menangkap kupu-kupu itu hingga ia tak sengaja menabrak seseorang. Orang itu terjatuh, dan tanpa sengaja tangan nya tergores hingga mengeluarkan darah.
"Ah!"