
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di sekolah Zalior. para junior yang lain berjalan memasuki sekolah sambil berbincang-bincang ceria, Hera takjub dengan suasana disini. banyak pohon peri dan pohon sakura yang belum mekar disini, cuacanya sangat cerah dan Gedung sekolah nya sangat megah dan juga indah.
"Pergilah Hera, aku akan menjemput mu nanti siang"
"Baiklah!, sampai jumpa Madam!"
Ia mengambil ransel kuning nya, kemudian ia turun dari kereta kuda lalu berlari menuju gerbang sekolah sambil melambaikan tangan ke arah Eadline. Eadline membalas lambaian tangannya dari dalam kereta kuda. Lalu pak kusir menutup pintu nya dari luar kemudian kereta kuda itu melaju cepat pergi meninggalkan gerbang sekolah.
Di dalam sekolah, semua junior termasuk dirinya di giring ke sebuah ruangan untuk menerima pengarahan dari para guru. Merekapun berbaris di aula yang sangat luas tersebut. Mereka di perintahkan duduk di lantai, kemudian seorang guru laki-laki berkacamata naik ke atas mimbar di ikuti para guru yang lainnya.
Guru itupun memberitahu tentang peraturan dan apapun tentang sekolah ini. Ia mendengarkan dengan seksama, apa yang sedang di katakan oleh guru tersebut sampai-sampai dirinya teralihkan oleh dua orang junior wanita yang sedang berbisik-bisik tentang dirinya.
"Lihat!, ada anak manusia di sini!"
"iya!, aku dengar kepala keluarga kuarts yang kaya raya itu mengadopsi seorang anak manusia dan anak itu bersekolah juga disini. Mungkin anak manusia yang dimaksud itu adalah dia!"
"apa iya?"
"Mungkin, lihat di atas kepalanya"
Hera perlahan menyentuh Hairpin yang ia kenakan,
"(apa mereka yang maksud adalah ini?")
"itukan barang yang sangat mahal"
"Mungkin itu imitasi"
"Menurutku tidak mungkin itu imitasi"
"mungkin dia mencurinya"
"penjagaan keluarga Kuarts sangat ketat, pencuri bahkan tidak bisa keluar lagi jika sudah memasuki rumah itu. Apa lagi anak manusia seperti dia. pasti akan langsung di bunuh!"
"Wah beruntung sekali dia!, aku jadi iri"
Hera terkejut mendengar pembicaraan mereka, ternyata hairpin yang di kenakannya ini bukan barang sembarangan ternyata hairpin ini adalah barang yang sangat mahal. Ia tidak mengerti kenapa sebastian memberikan barang semahal ini kepadanya dan dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli benda ini. ia melepaskan haipin itu dari kepala nya bermaksud, untuk memasukkan hairpin itu kedalam tas ransel nya agar barang itu tidak menghilang. ia berencana mengembalikan hairpin itu kepada sebastian saat ia pulang sekolah nanti. Tetapi, ia tiba-tiba teringat dengan kata-kata madam eadline.
"(Hera, Jika kau menerima pemberian dari seseorang. Itu artinya orang itu telah menghargai keberadaan dirimu sebagai sahabat ataupun keluarganya. Jadi kau harus menghargai pemberian orang tersebut sepenuh hatimu, jangan sampai di kembalikan atau menghilangkan barang pemberian tersebut. rawatlah dengan baik barang itu, Kau mengerti?)"
"(Baik Madam!)
Hera mengurungkan niatnya, ia memakai kembali hairpin tersebut. Nasehat madam benar-benar berpengaruh di dalam hidup nya, Hera lebih bersyukur sekarang karena ia di pertemukan dengan orang-orang yang sangat baik seperti madam eadline dan sebastian. Bisa-bisanya ia tidak menghargai pemberian tersebut,
"(Ternyata sebastian sangat menghargai diriku sebagai keluarganya, aku akan merawat hairpin ini dengan baik mulai sekarang sampai aku tiada sekalipun)" dalam hati Hera sangat berterima kasih
Pengarahanpun selesai, mereka semua diberikan sebuah notebook kecil berwarna biru bertuliskan nama mereka masing-masing. Hera membuka notebook tersebut, di awal lembaran awal tertera sebuah tabel berisi jadwal pelajaran dari senin sampai jumat dan juga lokasi kelasnya di kertas tersebut.
"(Kelas I Bintang, oke. apa mata pelajaran pertama hari ini?)"
Lalu ia membaca tabel pelajaran tersebut, tertulis sebuah mata pelajaran bernama "combat (Mate Bela Diri)" di tabel tersebut.
"Ou!, tidak terlalu buruk"
Perhatian mereka semua teralihkan saat suara bel berbunyi. itu menandakan, bahwa kelas akan segera di mulai. Mereka semua pun pergi ke kelas masing-masing sesuai jadwal mata pelajaran yang telah di atur. Begitu juga dengan Hera, dengan semangat membara ia pergi menuju kelas nya. tak lupa ia menyimpan notebook di dalam ransel nya kemudian ia melepaskan hairpin yang di pakai nya itu. Karena ini adalah mata pelajaran bela diri, ia harus menyimpan hairpin tersebut karena dilarang menggunakan aksesoris apapun di mata kelas ini.
Di dalam kelas, para junior sedang menunggu sensei datang. Dengan kesempatan tersebut, Hera segera masuk ke kelas lalu merapikan pakaian bela dirinya. Dengan cepat ia mengenakan sarung tangan khusus bela diri yang telah ia selipkan ke dalam kantung bajunya saat berlari dari ruang ganti tadi.
"(untunglah sensei belum datang, aku selamat kali ini)".
Saat Di ruang ganti, para junior wanita berdesak-desakan karena ruangan lumayan kecil. jadi mau tidak mau ia harus mendapatkan antrian paling terahir untuk berganti pakaian, sedangkan kelas akan segera di mulai sebentar lagi. jadi setelah ia memakai pakaian. Hera menyelipkan sarung tangan hitam bela diri ke dalam saku nya kemudian ia berlari bersama para junior wanita yang telat masuk kelas bersama diri nya tadi.
"(untunglah)" Hera merasa lega
Yang lain sibuk berbincang satu sama lain, hanya dia sendiri yang tidak memiliki teman disana. Dia sibuk dengan dunia nya sendiri, Hera menunggu seseorang untuk mengajaknya berbincang. Tetapi suasana disana seakan-akan sedang mengucilkan dirinya.
"(kira-kira apakah aku akan mendapatkan sahabat baik di kelas ini?)" Hera merasa Bosan
Pintu ruangan tiba-tiba bergeser dan masuklah seorang pria dewasa dengan rambut perak yang sangat elegan. ternyata itu adalah sensei mereka, sensei berpenampilan sangat maskulin dan keren. ia memakai pakaian bela diri berwana putih dan kalung salib di leher nya. tubuhnya sangat tinggi dan tegap. Kulitnya berwarna coklat dan memakai anting salib di sebelah kiri telinganya. Penampilan sensei itu membuat beberapa junior wanita tertarik dan jatuh cinta kepadanya.
"wahhh, sensei ternyata sangat keren!"
sensei tersebut bernama Zaliza, ia biasa dipanggil Zal. Dia adalah keturunan demon dari keluarga kesatria, pantas saja ia menjadi guru bela diri di sekolah ini.
"Halo anak-anak!, namaku adalah Zaliza. kalian bisa memanggil ku dengan Zal" Ia berbicara dengan suara bariton nya yang khas
para murid perempuan bersorak riang, mereka semua mulai mengerumuni sensei kecuali aku.
"(Huh!, dengan situasi seperti ini tidak mungkin aku akan mendapatkan teman)"
Gadis-gadis di kelas tersebut bersorak Heboh, saat seorang anak laki-laki berambut merah masuk kekelas mereka. Ia berjalan dihadapan mereka, kemudian berdiri di sebelah sensei. Mereka bilang dia sangat tampan dan gagah. tetapi aku tidak bisa melihatnya karena pengelihatan ku terhalang oleh junior laki-laki bertubuh besar di depanku. aku mencoba meloncat-loncat untuk melihat anak tersebut. Tetapi hal yang ku lakukan sama sekali tidak berhasil.
"(Sial!, tubuh anak ini terlalu besar!)" Hera Menggerutu
sensei pun maju ke tengah-tengah ruangan lalu ia memperkenalkan anak laki-laki tersebut dengan nada suara yang sangat bangga.
"Baiklah, pada kesempatan pertemuan ini. aku akan memperkenalkan seseorang yang sangat sepesial. Al, perkenalkan dirimu"
anak itu maju selangkah, kemudian ia memperkenalkan dirinya.
"Namaku Almatara, kalian bisa memanggil ku Al. Senang bertemu dengan kalian"
Yang ku dengar hanyalah suara anak itu, Hera penasaran bagaimana wajah nya.
"(Uh!, aku tidak bisa melihatnya sama sekali)"
...---------------------------------------...
Sensei menunjukkan sebuah jurus sekaligus sebuah gerakan bela diri yang sangat unik. ia menghajar sebuah boneka tinju sampai hancur. hanya dengan satu pukulan saja. Pukulan itu bahkan tidak mengenai tubuh boneka tinju tersebut. Itu sangat luar biasa, para junior bertepuk tangan menyaksikan gerakan bela diri sensei yang sangat sempurna
Sensei menggunakan kekuatan sihirnya untuk memunculkan banyak boneka tinju di ruangan olahraga, masing masing siswa mendapatkan satu boneka tinju untuk memperaktekkan jurus yang telah ia ajarkan. Sensei memberikan instruksi bagaimana cara untuk menguasai jurus tersebut dengan sangat sempurna, sensei bilang kalian harus rileks dan mengumpulkan kekuatan di satu titik lengan yaitu, kepalan.
Mereka semua mengangguk paham, para junior mulai memperaktekan jurus tersebut. Hera mencoba untuk fokus lalu mengumpulkan kekuatan di kepalan tangannya, ia mencoba memukul boneka tersebut. Tetapi boneka itu hanya bergeser sedikit ke belakang
"(wah!, aku berhasil)"
Anak-anak yang lain kebanyakan belum ada yang berhasil melakukannya, Sedangkan, anak berambut merah di di depan nya sudah berhasil melakukannya. Boneka miliknya meledak, lalu beberapa bulu berhamburan keluar. Semua orang bertepuk tangan.
"Bagus sekali Al!" puji sensei
Hera takjub dengan kemampuannya, Ia mencoba fokus lagi. Dan gerakan kedua membuat boneka itu bergeser beberapa senti ke depan.
"(Baiklah!!, kali ini ada perubahan)"
Hera mencobanya lagi, lagi dan lagi. Dan hasilnya tetap sama saja.
"(Sialan!)"
Ia sangat kesal, lalu ia mengulangi nya lagi. Al, si murid bintang melirik ke arah boneka tinju yang ada di belakang tubuh nya. Ia melihat boneka tinju tersebut dengan tatapan aneh. boneka itu sesekali bergeser kemudian hanya bergoyang ke depan-ke belakang.
Al yang merasa jika orang yang sedang memukul boneka di hadapannya ini sangat membutuhkan bantuan. ia maju perlahan dan mencoba menawarkan diri untuk membantunya dan akhir nya...
"(Huh!, apa anak manusia ini butuh bantuan?) Hei!, Apa kau butuh...."
Al melangkah ke depan tetapi, saat ia mendekat. Hera berhasil melakukan gerakan bela tersebut. Al melangkah di saat-saat yang sangat tidak tepat dan akhirnya terjadilah hal yang tidak ia inginkan.
"(Baiklah!, Kali ini pasti berhasil !)"
Hera memukul boneka tersebut dengan kekuatan penuh, tangan nya seperti pusaran angin yang menerjang lautan dengan sangat kuat. Boneka itu terpental, kemudian meledak. Tetapi hal tak di sangka terjadi, Al malah ikut terpental bersamaan dengan sobekan boneka tersebut.
"akh!..."
"(Oh tidak!)"
Al terjatuh ke lantai, untunglah ia tidak kenapa-napa. Tetapi karena Al adalah orang yang emosian, Dia memarahi hera di depan semua orang. semua orang hanya sekilas memperhatikan mereka berdua, kemudian mereka melanjutkan latihan tanpa memperdulikan mereka berdua sama sekali. Yang mereka pikirkan hanyalah kecelakaan biasa yang tak perlu di hiraukan.
"Uh!!!!, Kau ini!, Hati-Hati dong!!. Dasar anak manusia!"
Semua bulu-bulu yang berterbangan di langit jatuh perlahan-lahan kebawah, Wajah hera sekilas terlihat di mata Al. Al tiba-tiba terpaku, saat ia melihat kecantikan wajah hera yang luar biasa.
"....... (Dia Cantik sekali!)"
Tetapi Hera yang merasa bersalah, malah menangis di hadapannya. Al langsung tersadar dari bayangan indah nya. Ia berusaha menenangkan Hera agar sensei zal tidak dapat mendengar suara tangisannya. tetapi yang di lakukan nya hanyalah hal yang sia-sia, Hera tetap menangis dan sensei Zal sudah mendengar suara tangisan tersebut.
"Oh!, tidak tidak tidak, jangan menangis!. Aku hanya bercanda!"
Tetapi hera tidak berhenti menangis, ia malah menangis sejadi-jadinya. Sensei yang mendengar suara tersebut, langsung pergi mencari darimana asal suara itu di hasilkan.
"Ada apa!?"
"hiiiii!!..."
Seseorang menyentuh dan menepuk pundak Al dengan sangat kuat, Al merasa sangat merinding. Ia merasakan aura mencekam yang luar biasa di balik tubuhnya. ia berbalik dan mendapati sensei Zal sudah berdiri di belakang nya dengan wajah yang sangat mengerikan.
"Al!... ayo minta maaf!"