
"Seharusnya dari dulu aku lenyapkan foto-foto ini!"
Cloudet berniat merobek foto itu, tetapi saat ia ingin melakukan nya. tiba-tiba, entah darimana telapak tangan nya telah di cekal oleh seseorang.
"..." Cloudet menoleh ke arah sosok yang menyentuh tangannya
"Kau!"
Berdirilah sesosok lelaki tampan di hadapannya. Pria itu berambut putih dan bermata kuning. Ciri-ciri pada pria tersebut sangat menambah kesan ketampanannya.
Pria itu segera merebut foto tersebut dari tangan Cloudet. Cloudet hanya diam membisu, kemudian ia menunduk ke bawah sambil memikirkan semua hal yang barusan ia lakukan tadi.
"Apa yang ingin kau lakukan Cloudet?!" Tanya Christof
"..."
Cloudet hanya diam sambil menunduk ke bawah. Mata nya sangat berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tetap tegar agar tidak menangis di hadapan pria tersebut.
"..."
Christof diam menatap Cloudet, ia membungkuk kemudian memeluk cloudet dengan sangat erat.
"Sudah ku bilang tahan lah sebentar lagi, Jangan lakukan hal-hal yang gegabah" Ucap Christof dengan lembut
"Hiks...tapi aku tidak ingin dia kembali" ucap Cloudet sambil menangis
Christof menyudahi pelukannya, ia mengulurkan tangannya kemudian menyentuh ke dua belah pipi Cloudet dengan sanfat lembut kemudian menatap nya.
"Jangan katakan itu, dia juga kakak mu. walaupun dia jahat, tetapi kita tetap harus menerima dia apa ada nya. aku yakin dia sudah berubah, jadi kau bisa tenang mulai sekarang" tutur Christof
Cloudet hanya bisa diam, Christof menyeka air mata nya kemudian ia berjalan pergi menuju jendela.
"Kau bereskan semua ini dan beristirahat lah. Kalau kau butuh aku, kau tau harus mencari ku dimana"
Christof membuka jendela dan dengan sekejap ia menghilang dari pandangan mata.
"..." Cloudet menatap ke arah jendela
Ke Esokan hari nya________
"Selamat pagi My lady!" sapa Sebastian
Di pagi hari yang cerah di koridor itu, Hera dengan riang nya bersiap-siap pergi ke sekolah dengan menenteng sebuah ransel kuning di pundak nya.
Hera yang sedang melihat ke arah jendela, menoleh kemudian ia menangkap senyum indah di wajah Sebastian. Hera ikut tersenyum kemudian membalas sapaan Sebastian dengan nada riang seperti biasanya.
"Sebastian selamat pagi, apa kau merasa baikan?" tanya Hera
"Ya my lady!, saya sudah merasa baikkan!" Ungkap Sebastian
"Baguslah!"
Dari arah sebaliknya, muncullah sosok Eadline yang sedang menenteng balutan merah di punggungnya.
"Ah!, Sebastian!. selamat pagi!" Sapa eadline
Sebastian berbalik kemudian membungkuk hormat kepada eadline.
"Selamat pagi juga untuk mu madam!" Ucap Sebastian
Eadline kemudian melihat ke arah Hera.
"Kau sudah siap?" tanya eadlien dengan riang
"UM!" angguk Hera
Mereka berdua pun berjalan turun melewati tangga, sembari berbincang dengan riang hingga mereka melupakan bahwa di belakang mereka berdiri Sebastian yang sedang menatap mereka dengan sangat kebingungan.
"(Tumben sekali)"
"Nah Hera, Aku akan kembali esok hari. kau berbaik-baiklah disini!. Cloudet dan sebastian akan menjagamu!" tutur Eadline
"UM!, baik madam!"
Eadline melambaikan tangan kemudian ia berjalan pergi menggunakan kereta kuda. Hera yang melihat itu, ia menoleh lalu menatap ke arah Cloudet.
"Eeee...nona Cloudet, ayo kita berangkat!" ajak Hera
"Kemana?" tanya Cloudet
"Tentu saja ke sekolah"
Hera menunjuk ke arah kereta kuda yang sedang menunggu mereka berdua untuk masuk ke dalam.
"oh!, iya!. Maaf nona"
Cloudet kemudian melangkah masuk di ikuti Hera yang melangkah masuk ke dalam kereta kuda.
Saat di perjalanan, suasananya begitu hening dan tegang. Itu karena Hera belum sepenuhnya bisa menerima atau terbiasa melihat penampilan Cloudet yang menyeramkan. Terlebih lagi Cloudet yang hanya diam terpaku menatap ke bawah, itu membuat Hera merasa seperti ia sedang di tatap di balik cadar hitam yang di kenakannya.
"?" Cloudet melirik ke arah Hera
"Ah!, tidak-tidak!. hanya saja..."
Cloudet tersenyum, ia menjulurkan tangan kemudian ia membuka setengah cadar yang ia pakai.
Dan memang benar apa yang telah di lihat Hera selama ini. ternyata Cloudet punya bekas jahitan di mulut nya, Hera terdiam kemudian Cloudet membuka suara di hadapannya.
"Pasti nona ketakutan karena ini kan? tenang saja!, nona tidak perlu takut lagi. Penampilan ku saja yang menyeramkan, walaupun aku adalah hellhound. Tetapi aku tidak akan menyerang nona" tutur Cloudet
Cloudet menyudahi kalimat nya.
"...tetapi, kenapa Nona Cloudet harus menutupi seluruh wajah nona dengan cadar?. Kenapa tidak di buka saja?" tanya Hera
Cloudet hanya tersenyum, kemudian ia menjawab pertanyaan tersebut.
"Daripada menutupi satu, lebih baik aku menutupi semua kesalahan ku"
Hera mengangguk, namun ia tidak mengerti apa yang Cloudet ucapkan. Lalu, Hera dengan santainya memberanikan diri untuk bertanya lagi kepada Cloudet.
"Nona Cloudet!"
"Ya?" Sahut Cloudet
"Madam bilang dia akan pulang dari suatu tempat esok hari"
"Lalu?" tanya Cloudet dengan nada sangat penasaran
"Madam mengatakan dia akan membawa seseorang yang sangat istimewa besok, kira-kira siapa dia ya?" hera dengan wajah polos nya
"Sebenarnya saya lebih suka untuk membicarakan hal itu" ucap Cloudet
"ou..." Hera terdiam
"Tetapi nona akan segera tau siapa orang yang sangat istimewa itu" ucap Cloudet
Kereta kuda tiba-tiba terhenti, itu membuat perhatian Hera teralihkan.
"Ah, ternyata sudah sampai"
Hera meraih tas nya kemudian ia buru-buru berlari keluar menuju gerbang sekolah.
"Hati-hati nona Hera!" ucap Cloudet sambil melambaikan tangan dari dalam kereta kuda
Hera berbalik kemudian membalas lambaian tangan tersebut.
"Baiklah!, sampai jumpa nanti siang!"
Kemudian si pak kusir menutupkan pintu untuk Cloudet. Keretapun melaju pergi menjauhi sekolah dengan perlahan.
Di dalam kereta kuda, suasana nya sangat berbeda dari sebelumnya. Cloudet mulai merasakan kecemasan yang sangat luar biasa. Jantung nya mulai berdegup kencang tak karuan, tubuh nya mulai mengeluarkan banyak cairan keringat yang membuat tubuh nya basah. Ia terjatuh kemudian Cloudet pingsan di dalam kereta.
"..."
Di samping itu______
"...!"
Al menoleh dan mendapati Hera sedang berjalan tepat di sebelah nya.
"Hera!" panggil Al
Hera menoleh dan mendapati sosok Al yang sedang melambaikan tangan ke arah dirinya.
"selamat pagi Al!" Saut Hera
"Ah!, pagi!" pipi Al mulai memerah
"Kau sendirian?" tanya Hera
"tidak, aku biasanya pergi bersama teman ku. tetapi hari ini, ia bangun lebih pagi untuk membantu guru dansa, jadi aku berangkat sekolah sendirian pagi ini" Ucap Al sambil mengusap-usap kepala nya
"Hehhhh!!, Kau tidak perlu khawatir sekarang Al"
"Maksudmu ?"
"Karena aku akan menjadi salah satu teman mu mulai sekarang" ucap Hera dengan nada riang
"..." Saat Al mendengar ucapan itu, wajah nya mulai panas dan memerah
Teng-Teng, suara bel terdengar
"Ayo kita masuk!"
Hera menggenggam tangan Al, kemudian ia menarik nya menuju gerbang sekolah.
"..." Al diam sambil berjalan mengikutinya
"(Ya tuhan!)" ucap batin Al dengan detak jantung berdebar-debar