Reincarnation The Exorcist (The Reincarnation Appears)

Reincarnation The Exorcist (The Reincarnation Appears)
Ada Apa Dengan Dia



Di Pagi Hari Nya,


"Hoammmm"


Hera turun dari tempat tidur dan mengambil handuk. Kemudian ia masuk ke kamar mandi dan mulai melakukan rutinitas nya.


Sementara itu,


"Semuanya harus segera rapi, Madam akan sampai siang ini!"


Di ruang makan, terdengar suara riuh dari para pelayan yang berlarian kesana kemari sambil membawa beberapa barang di tangan mereka. Mereka semua harus menyelesaikan semuanya sebelum madam eadline sampai di mansion tengah hari nanti. Hera yang telah selesai membersihkan diri, perhatian nya teralihkan saat mendengar suara kegaduhan dari bawah. Tanpa pikir panjang, ia segera turun dan melihat apa yang sedang di kerjakan para pelayan di ruang perjamuan.


"...woah"


Saat sampai di ruang perjamuan, Hera terkagum melihat suasana yang begitu indah dan mewah. Tidak biasanya ruangan itu di hias seperti ini (pikir Hera).


"...!, My Lady?" Tanya Sebastian sambil mengalihkan pandangannya ke arah Hera


"My Lady sedang apa disini?, bukan kah lady harus pergi ke sekolah?" Tanya Sebastian


"Ah...um...aku tadi mendengar suara kegaduhan dari atas, jadi aku berlari kemari untuk memeriksa keadaan" jawab Hera


"oh... kalau begitu mari saya antar ke depan my lady" ajak Sebastian


Hera mengikuti langkah Sebastian dari belakang. Mata nya masih tertuju pada ruang perjamuan yang sedang di hias sedemikian rupa dengan tanda tanya terbenak di hati nya.


"(Sebenarnya siapa tamu misterius yang di maksud Madam Eadline?, aku jadi penasaran)"


Di halaman belakang sekolah, Hera melakukan praktek ilmu sihir bersama master liumin dan para siswa lainnya. Para murid dan termasuk dia, di ajarkan berbagai macam tehnik sihir dan mantra yang luar biasa Seperti es, api, angin dll.


Kali ini mereka di ajarkan sebuah mantra bernama weerligskok (kejutan petir),


"Anak-anak!, perhatikan baik-baik bagaimana cara ku melakukannya!"


Master liumin mengulurkan tangan nya ke depan, Lalu membacakan sebuah mantra dengan suara lantang.


"weerlig an lupis ta!"


Sebuah lingkaran sihir kecil muncul dari telapak tangannya. Lingkaran sihir tersebut menembakkan sebuah sambaran petir yang sangat dashyat, petir tersebut menumbangkan sebuah pohon hingga terbakar. Para siswa bertepuk tangan dengan meriah menyaksikan hal yang sangat luar biasa tersebut.


pok!pok!pok!pok!


"Baiklah!, kita akan memperaktekkannya hari ini!. Snow kau di luan, tunjukkan kepada teman-teman mu bagaimana cara melakukan tehnik sihir yang benar!"


Snow melangkahkan kaki ke depan, ia mengulurkan tangannya dan membidik sebuah pohon yang ada di hadapan nya. Ia membacakan mantra dengan nada rendah, lalu sebuah tembakan petir dahsyat keluar dari lingkaran tersebut. Petir itu menumbangkan beberapa pohon sekaligus, para siswa bertepuk tangan dengan sangat meriah menyaksikan kemampuan snow yang amat luar biasa.


"Wahhh!, snow itu menakjubkan!" Teriak para siswa perempuan di halaman belakang itu


"Bagus sekali snow!, aku bangga padamu!"


Semua anak-anak sibuk bersorak gembira sambil memberikan banyak pujian kepada snow. sedangkan Al, ia sibuk menggerutu di belakang kerumunan bersama Hera. Al merasa kepopulerannya sangat tersaingi, ia menggerutu sebal sambil mencurahkan isi pikirannya kepada Hera


"Apa-apaan itu tadi?!, kenapa mereka semua bersorak?!. aku lebih baik dari pada si anak lelaki feminim itu!"


Hera tertawa mendengar gerutuannya,


"Hahaha... iya!, aku percaya kalau kau lebih baik dari pada nya Al!" Hera tersenyum riang


"Benarkan!, aku lebih kuat dan lebih gagah dari pada dirinya !" Al merasa bangga dengan diri nya sendiri


"Ayolah Al!, tahun lalu dia mengalahkan mu di kompetisi sihir!" Kata Roxa


Roxa keluar dari kerumunan siswa dan pergi menghampiri mereka berdua.


"Ah!, Roxa!" Sapa Hera dengan nada terkejut


"Hi Hera!" Sapa Roxa


"Loh!, kalian saling kenal?" Tanya Al


"Tentu!, kami adalah..."


"Kami teman!, hehehh" Sahut Roxa sambil memeluk Hera


"hah!, sejak kapan orang cerewet seperti mu punya teman...AU!"


Roxa memukul kepala Al dengan sangat kuat sampai-sampai Al meringis kesakitan.


"untuk apa itu?!" Teriak Al sambil meringis


"Sudahlah Hera, jangan dengarkan dia. dia memang anak yang sulit di atur" ucap Roxa dengan nada bercanda


"Hei!, aku dengar itu!"


"Baiklah anak-anak, kelas hari ini sudah berakhir. kalian silahkan beristirahat sambil menunggu bel pulang berbunyi" Ucap master liumin


Master liumin kemudian pergi meninggalkan tempat itu. di ikuti dengan para siswa yang berjalan di belakang nya sambil memasuki gedung sekolah.


"Apa kalian haus?" tanya Hera


"Ya, aku haus. Mari kita membeli minuman di kantin" Ajak Roxa


"Hahaha, ok. bagaimana dengan mu Al?" Tanya Hera


"Eh, eh...um. ok, aku ikut!" kata Al sambil tersipu malu


"Baiklah!, ayo!"


Sesampainya di kantin,


"Ini Hera!" Roxa memberikan 1 botol susu coklat kepada hera


"Terimakasih Roxa"


Hera menyedu susu itu dengan perlahan, sambil menikmati rasa yang sangat enak dari susu coklat tersebut.


"Susu ini enak sekali seperti biasa" Kata Hera


"..."


"!, Al!. Kau tidak membeli sesuatu?" Tanya Roxa


"..." Al hanya diam


"..., ah aku tau"


Hera memberikan satu susu strawberry kepada Al.



"Ini Al!"


"eh?!, bagaimana kau tau aku suka..."


Roxa yang menyadari ada sesuatu hal di antara mereka berdua. ia berbalik dan berpura-pura harus pergi mengurus sesuatu bersama guru dansa.


"Hera!, Al!. Aku pergi dulu ya, aku ingat kalau Nyonya Ling-Ling memanggilku. Sampai jumpa!"


Dengan cepat Roda berlarieninggalkan mereka berdua sendirian di koridor. Hera yang melihat itu langsung keheranan sambil menatap Roda yang perlahan menghilang di balik koridor.


"Roxa pasti sangat sibuk, iya kan Al?" Tanya Hera sambil tersenyum ke arah Al


"e...em..iya. ngomong-ngomong terimakasih untuk susu nya" ucap Al malu


"Sama-sama!"


"hehe, kau sudah Dewasa Al!" Kata Sensei Zal dari balik pintu salah satu ruangan


Jam pulang pun tiba, Hera segera pergi menuju gerbang sekolah dimana kereta kuda sudah menunggunya. Tak lupa ia melambaikan tangan kepada Al sebelum masuk. Tak lupa Al juga melambaikan tangan nya kepada Hera. Hera pun masuk ke dalam kereta kuda. Sedangkan Al masih melambaikan tangan nya sambil melihat kereta kuda yang di naiki Hera mulai menjauh dari posisi nya.


"..."


"Al!" Roxa memeluk Al dari belakang


"Apa?!" Teriak Al


"Ada yang jatuh Cinta!" Ucap Roxa dengan gembira


"Tidak!, aku tidak suka pada nya!" Ucap Al


"Kau bohong!"


Roxa berlari sambil menggandeng tas Al di tangannya.


"Hei itu Tas ku!"


Sesampainya di mansion,


"Huh, hari yang menyenangkan!"


Hera melangkah masuk kemudian para pelayan membukakan pintu untuknya.


"My Lady!"


Sebastian segera menyeret Hera dari depan pintu.


"Ada apa Sebastian?!" tanya Hera


Sebastian membungkuk dan mengisyaratkan Hera untuk diam.


"Shuttt!" Kode Sebastian sambil meniup Jari telunjuknya


"..."


Sebastian kemudian membawa Hera masuk ke dalam sebuah ruangan, kemudian ia memerintahkan Hera untuk diam di dalam rungan itu sampai ia kembali menjemput nya.


"My lady, tolong tetap diam di ruangan ini sampai saya kembali. Lady mengerti?" tanya Sebastian sambil tersenyum


"Tapi kenapa Sebastian?" Tanya Hera dengan Polos


"Tidak apa-apa my lady, anggap saja kita bermain game. My lady tetap diam disini, dan my lady akan menang" kata Sebastian sambil tersenyum


"ohhh, ok!" angguk Hera


Sebastian tersenyum kemudian ia menutup pintu.


"Sebenarnya ada apa dengan Sebastian?"


Hera dengan sengaja membuka sedikit pintu ruangan tersebut. terlihat dari dalam, Sebastian dan para pelayan lainnya sedang berbaris di dekat pintu dengan rapi seakan-akan mereka sedang menunggu kedatangan seseorang dari balik pintu.


Beberapa saat kemudian, Muncullah madam Eadline di ikuti seorang pria berbadan tinggi memakai jubah hitam muncul dari balik pintu. Semua membungkuk hormat kepada mereka. Tetapi tidak dengan nona Cloudet, ia hanya mengintip dari balik koridor yang menghubungkan rumah para pelayan senior dengan rumah utama mansion tersebut sambil meremas sebuah gelas di tangann nya hingga gelas tersebut pecah dan melukai tangan nya.


"..." Cloudet mengerut kesal