
Merekapun berpisah dikarenakan bidang studi mereka tidak sama, Hari ini Al ada kelas sastra sedangkan dirinya ada kelas menari.
Iapun pergi berlari keruang ganti bersama para Exorcistta yang lain.
Pakaian hari ini sangat tidak bermutu baginya, pakaian tari yang di sediakan sangat terbuka.
pakaian tersebut terdiri dari bra berlengan transparan, lalu selendang dan celana putri jasmine. semuanya didominasi dengan warna hijau tosca yang sangat indah.
"Pakaian ini sangat terbuka, bagaimana para penari nyaman memakai ini?"
Kelas Pun di mulai, mereka berada di posisi masing-masing sesuai dengan aturan dari guru menari.
"Baiklah, bersiap-siap musik akan di mainkan"
"Baik nyonya!"
...(----)...
Mentor memberikan aba-aba kepada para instrumen yang berada di kelas dansa tersebut, sebuah alunan musik yang sangat indah bergema di ruangan itu.
Mentor langsung mengajarkan mereka beberapa gerakan tarian yang sangat indah, mereka semuapun bergerak mengikuti gerakan mentor dengan sangat baik.
"Ayo anak-anak, gerakan pinggul kalian!"
"..."
Mereka semua membentuk gerakan yang indah, ruangan dansa itu seakan-akan bersinar di sinari oleh gaun menari yang sedang mereka pakai.
Mentor mulai menari-nari sendiri, mengikuti alunan musik yang di mainkan. Saat asyik menari, matanya tertuju pada satu anak di tengah-tengah barisan
"(wah!, gerakan nya sangat meliuk-liuk dan indah. Ayo kita lihat apa dia bisa mengimbangi Xana)"
Hera sedang fokus menari di tengah barisan, ia menari sangat indah badan nya sangat lentur. Dirinya dengan mudah meniru gerakan yang mentor ajarkan,
"Baiklah!, ikuti gerakan ku selanjut nya nona-nona!"
"Baik nyonya!"
Mentor menunjukkan sebuah gerakan, gerakan tersebut mengunakan lengan bagian kanan yang di ayunkan ke bawah sambil membungkuk lalu berputar di imbangi dengan lompatan. Gerakan itu terlihat sangat mudah di mata Hera, tetapi tidak dengan siswa wanita yang lain.
"(Ternyata menari itu sangat mudah!, sepertinya aku akan menggemari tari mulai sekarang)"
"Bagus sekali anak-anak! Yang belum bisa melakukan gerakannya maju ke depan!, yang lainnya sambung gerakan yang ku ajarkan di belakang!"
"Baik!"
"(anak ini sepertinya akan menjadi seorang penari yang sangat hebat, anak manusia memang tidak bisa di remehkan)"
Sementara di barisan belakang, Hera sedang sibuk-sibuk nya menari bersama dengan kelompok yang lainnya. Ia melakukan gerakan tari dengan sangat baik, sampai pada saat gerakan memutar dan berganti posisi. matanya tertuju pada seorang gadis yang gerakan nya lebih lincah dan lebih indah di bandingkan dengan siswi-siswi lain di kelas itu.
"(Wah anak ini sangat cantik dan gerakan nya juga sangat lemah gemulai)"
Dan secara tiba-tiba saja anak tersebut juga melirik ke arah dirinya.
"..." anak berambut ungu itu tersenyum
"(Ya ampun!, apa dia melihatku?)" Hera segera berpaling
"..." anak itu hanya tersenyum
Mereka tetap fokus melakukan gerakan, hingga nyonya Hemine menyuruh mereka berhenti bergerak pada saat itu juga.
"Baiklah, kalian melakukannya dengan sangat baik!. Kelas telah berahir dan sampai jumpa di pertemuan selanjut nya"
"Sampai jumpa nyonya Hemine!!"
"See you!! ><"
...(----)...
Para siswi berjalan keluar dari ruangan sambil berbincang-bincang riang dan lagi-lagi hanya dirinya siswi yang selalu berdiam diri.
"(Aku ingin tau, Apa yang sedang di lakukan Al di kelas?)"
di kelas Sastra____
"(Huhuhu!!, Sejarah dari era mana ini?. Aku sama sekali tidak mengerti jalan cerita nya!)"
"Al tolong jelaskan!" Printah sang guru
"°□°"
"(Pasti dia sedang bersenang-senang disana)" pikir hera
Dari arah belakang, seseorang menepuk pundak nya. Hera dengan spontan berbalik dan betapa terkejutnya ia mendapati sesosok wanita yang sedang berdiri di belakangnya.
"Halo!"
"Kau gadis yang menari di hadapan ku tadikan!?" tanya anak tersebut dengan nada riang
"Eh!... i...i...iya heheh maaf tadi aku menatapmu dengan aneh. Gerakan mu sangat indah di bandingkan dengan para gadis yang lainnya, aku jadi tidak sanggup untuk berpaling" ungkap Hera
"Wahh!, kau menyukai gerakan ku!?"
"ya tentu saja!"
"Kalau begitu!, Kau adalah siswi pertama yang memuji ku!" anak itu tersenyum riang
"Apa!, benarkah?. Hanya aku?!"
"Ya!"
"Kenapa hanya aku?!, Apa siswi lain tidak memuji-muji dirimu. Gerakan mu sangat indah, mana mungkin orang lain mengagumi dirimu!" ucap hera
Anak itu memasang senyuman, tetapi Hera bisa melihat kesedihan di wajah nya. dengan cepat anak itu menyembunyikan ekspresinya dan kembali tersenyum riang seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi.
"Ah sudahlah!, Oh ya..."
Anak itu melompat dan berdiri di hadapannya, suara gelang kaki yang ia pakai bergemerincing merdu di telinga hera. Dengan riang nya ia bertanya,
"Siapa namamu?!"
"Oh ya aku lupa memperkenalkan diriku, nama ku adalah Hera"
"..." anak itu terdiam
"Ada yang salah?"
"eh tidak-tidak!,aku hanya melamun saja. heheh..."
"..."
"Namamu Hera ya?!, salam kenal!. Aku Roxana, panggil saja Roxa"
"Baiklah Roxa!"
Sembari berjalan di koridor, Roxa menatap jam yang ada di dinding (08.30) .
"apa mata pelajaran mu selanjut nya Hera?!"
"eh!... emmm... oh ya!, Ilmu sihir (Wizard)"
"Wahhh!, artinya kita berada di kelas yang sama!"
"benarkah?!"
"iya!, kalau begitu ayo kita pergi!. tiga puluh menit lagi kelas akan di mulai!"
"..."
Mereka berdua berlari di koridor sambil tertawa riang dan berbincang satu sama lain.
..._____...
"Kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Sebastian
pak kusir berdiri gemetar, ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada pelayan di rumah itu.
"Sa...saya tidak mengetahuinya tuan!. Saat sa..saya membukakan pintu, nona Cloudet sudah terbaring lemas seperti itu!"
Di atas tempat tidur, terbaringlah tubuh Cloudet yang sedang tak sadarkan diri. Wajah nya kelihatan pucat dan sangat lemas. Pak kusir benar-benar tidak tau harus berbuat apa. ia ketakutan, tak ada pilihan lain selain memberitahukan hal ini kepada kepala pelayan di rumah itu.
Disisi lain dokter sedang memeriksa keadaannya, dokter itu memeriksa saluran pernapasan dan denyut nadi nya dengan sangat serius. Sebastian sibuk memperhatikan langkah pengobatan dokter tersebut, sedangkan si pak kusir terdiam sambil memanjatkan doa di dalam hati nya.
"(Ya Tuhan, semoga nona Cloudet tidak kenapa-napa)"
"..." akhirnya Sang dokter selesai memeriksa
"Bagaimana dokter?" Tanya Sebastian
"Dia baik-baik saja!, nona ini hanya kelelahan karena terlalu banyak beban pikiran. Mungkin beberapa saat lagi ia akan segera sadar, aku akan meresepkan obat-obatan penenang untuk nya" ucap dokter tersebut
sang dokter mulai menuliskan sesuatu di atas kertas dan mulai meracikan sebuah cairan obat untuk Cloudet.
Set....
Mata Sebastian menangkap siluet bayangan hitam dari balik jendela.
"hm..."
Sebastian berbalik dan berjalan keluar dengan perlahan tanpa ada siapapun yang menyadarinya. ia membuka pintu kemudian mendorong pintu tersebut dengan sangat perlahan agar tak ada siapapun yang mendengarnya.
Ia berbalik dan betapa terkejutnya ia mendapati sesosok pria berjubah hitam sedang berdiri memperhatikan diri nya.
"Mau apa kau kemari?" tanya sebastian