
Sringg
Karma tiba tepat waktu, menahan belati hitam itu dengan pedangnya. Seketika, Komandan Earl menjadi sangat terkejut, dia tidak menyangka kepekaan Karma lebih kuat daripada dirinya.
Bukan hanya kepekaannya saja, kecepatan Karma sangat tinggi membuat dirinya memiliki peluang yang sangat besar untuk keadaan tertentu.
Berbeda dengan Lancelot, dia sedang berlari mengejar sosok misterius yang menyerang Sena tadi.
Hanya saja, setelah sosok misterius itu memasuki kota. Lancelot tidak bisa merasakan kehadirannya karena banyaknya orang yang berada di sana.
Oleh karena itu, Lancelot kembali untuk melaporkan situasinya kepada Komandan Earl.
Ada
Komandan Earl hanya diam dan tidak memberikan tanggapan kepada Lancelot. Lancelot bukannya sakit hati, dia tahu dengan sifat dari komandannya itu.
Bukannya tidak memberikan tanggapan, tapi karena otak lemot milik komandannya, dia paham jika komandannya itu sedang memikirkan tentang sosok misterius tadi.
✨💥✨💥 my✨💥✨💥✨💥✨💥✨💥✨
Waktu berlalu, hari sudah malam. Sena berjalan keluar dari kamarnya. Melihat ke arah tulisan dari setiap pemilik kamar.
Saat setelah lamanya berkeliling, dia akhirnya menghentikan langkah kakinya.
Sena melihat nama yang terpampang di depan pintu kamar, dengan tulisan "Karma" dengan menyiapkan dirinya akhirnya Sena menutup matanya dan mulai mengetuk pintu.
Bukannya terdengar suara ketukan pintu, Sena bingung karena apa yang dia ketuk itu tidaklah keras seperti sebuah pintu yang terbuat dari kayu.
Karena penasaran, Sena kembali mengetuknya dan tetap rasa yang dia peroleh itu bukanlah rasa dari mengetuk sebuah pintu.
Sena pun membuka matanya, rona merah di pipinya menyebar dan menambahkan kesan kecantikan dalam diri Sena.
"Ka—Kau! Kenapa kau tidak—" baru saja Sena akan mengeluh dengan ucapannya yang terbata-bata.
Karma sudah pergi meninggalkan Sena disana seorang diri.
"Hei! Bukankah sangat tidak sopan, seorang Sena Van Wiliam diabaikan begitu saja!" keluh Sena di dalam hati dengan menahan perasaan malunya atas tindakan Karma.
Karma berjalan ke luar villa, duduk di kursi taman dengan menatap bintang-bintang di langit gelap dengan cahaya bulannya yang agak redup.
"Lylia.. " gumamnya yang ternyata terdengar oleh Sena.
"Lylia? Siapa itu? Apakah nama dari seorang gadis?" batin Sena dengan munculnya perasaan cemburu.
Meskipun Sena cemburu, tapi dia belum menyadarinya.
Karma melihat ke sekelilingnya dan tidak ada seorang pun yang ada disana untuk memperhatikannya. Karma kembali berdiri, berjalan meninggalkan taman ke belakang villa Pasukan Ksatria Pedang Hitam.
Sena yang sedari tadi bersembunyi itu menjadi lebih penasaran dengan Karma.
Dia berjalan dengan hati-hati dan mengikuti Karma secara sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba saja, Sena terkejut mendengar suara pertarungan pedang dari arah Karma pergi barusan.
Saat dilihatnya, Karma tengah bertarung dengan seseorang sosok misterius.
Flashback *****On*****
Sihir tingkat atas dari Sena akan menyerang para anggota pasukan ksatria pedang hitam. Dengan kemampuan dari komandan Earl, dia hanya perlu menebas sihir naga api itu dengan pedangnya untuk menyelamatkan semua anggota pasukannya.
Karma merasakan sosok dengan aura membunuh yang tipis, indra perasa Karma meningkat sebab Karma telah memiliki kemampuan sama seperti wyvern yang dia makan dagingnya saat di dungeon waktu itu.
Karena sangat jauh untuk menuju ke arah sosok misterius itu, Karma hanya melakukan pilihan keduanya yaitu menyelamatkan Sena dari belati itu.
Dengan usaha yang sedikit, Karma langsung sampai di depan Sena dan menangkis belati yang dilempar oleh sosok misterius yang langsung pergi melarikan diri itu.
Mungkin, sosok misterius itu sangat percaya diri karena telah berhasil melaksanakan tugasnya sehingga dia pergi tanpa melihat Sena yang terkena oleh serangannya itu.
Saat dilihat oleh Karma, ternyata terdapat aroma menyengat yang aneh.
Dan jejak auranya tertinggal di belati itu, Karma pun selesai sudah dengan dirinya yang saat ini menggendong Sena dan menidurkannya di ranjang kamar milik Sena.
Setelah selesai, Karma pergi ke kota dan membuat sedikit keributan disana.
Karma membeli makanan di pasar dan langsung menilainya pada saat itu juga.
"Ini sungguh tidak nikmat! Semua makanan disini rasanya biasa saja!" seru Karma yang membuat koki dan para pedagang disana tidak senang.
Saat setelah melihat pakaian yang dikenakan Karma menunjukkan bahwa dia berasal dari Pasukan Ksatria Pedang Hitam mereka menjadi risih dan memandang rendah Karma.
"Hehe rupanya seorang ksatria pedang hitam! Pantas saja kelakuannya seperti itu!" kata seseorang.
"Aku dengar putri Sena juga bergabung dengan pasukan yang lemah itu?" kata seseorang lainnya.
"Omong-omong tentang Putri Sena, apakah kalian mendengar kabar tentang Putri Sena yang dibunuh?" tanya seseorang lainnya dengan menyampaikan sebuah berita angin.
"Benarkah? Sejak kapan? Pantas saja pemuda itu membuat keributan, mungkin saja dia kesal karena salah satu rekannya mati karena terlalu lemah bukan?"
Karma tersenyum, rencananya yang barusan dia susul ternyata gagal. Hanya saja, rencana yang ada di depan matanya itu tidak mungkin dia lewatkan.
"Sejak kapan Sena mati? Maksudnya seorang pembunuh yang gagal membunuhnya karena tidak memiliki akurasi yang baik saat melempar belati itu?" tanya Karma dengan dibarengi fakta yang sedikit dipelesetkan.
Setelah itu Karma menghilang dalam sekejap meskipun dia belum membayar tagihan makanan yang dia beli barusan.
Karma menunggu waktu, saat setelah di malam hari. Karma bangun karena merasakan aura yang dia ingat, aura dari sosok misterius.
Ketika Karma keluar pintu kamarnya, keplanya diketuk oleh Sena yang sedang menutup matanya, karena ketukan Sena yang diulangi itu, Karma menganggap bahwa Sena sedang mengigau.
Karma berlalu mengabaikan Sena, pergi ke kursi taman dan duduk sebentar.
"Lylia..." gumamnya.
"Aku belum bisa menyelamatkanmu, saat ini aku akan berusaha menyelamatkan orang lain sebelum bisa menyelamatkanmu di kemudian hari!" lanjut Karma di dalam batinnya.
Karma berdiri karena telah merasakan kehadiran dari sosok misterius itu.
Saat setelah memasuki hutan di belakang Villa Pasukan Ksatria Pedang Hitam, Karma mengeluarkan pedangnya.
Dan mencegat sosok misterius itu.
Sosok misterius itu terkejut karena ada seseorang yang mencoba melawannya itu.
"Heh? Rupanya kamu yang memancingku kemari untuk memastikan kematian Putri Sena kan?" tanya sosok misterius itu.
"Hm? Dia memang belum mati, karena kemampuanmu dalam membunuh sangatlah kecil!" jawab Karma dengan nadanya yang meremehkan.
"Ck! Dasar anggota baru yang sok kuat! Kau harus melihat dunia dulu anak kecil!" serunya yang langsung mengeluarkan pedangnya.
Karma yang sedari tadi sudah mengeluarkan pedangnya itu, menunggu sosok misterius itu mendekat dan mulai menangkis serangannya.
Pertarungan pun dimulai, Sena hanya melihat dari kejauhan karena dirinya tidak pernah memiliki pengalaman dalam pertarungan yang sesungguhnya.