Re Destruction

Re Destruction
Bab 33 - Re Destruction



Karena penekanannya yang sangat kuat, Karma tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya.


Hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, wakil komandan memaksakan diri untuk bangun dan mengucapkan sepatah kata.


"Kakek! Dia sama sepertiku!" lirihnya yang langsung kembali tak sadarkan diri.


Seorang pria tua dengan rambut putih dan mata merahnya melangkah mendekati Karma.


Karma merasa terancam hanya saja, penekanan tadi sudah hilang sepenuhnya.


Masih tetap waspada, pria tua itu mendekati Karma, melihat Karma dengan teliti tetap tidak dapat menemukan sesuatu yang dikatakan oleh wakil komandan.


"Apakah kamu benar-benar manusia-iblis sama seperti apa yang dikatakan olehnya?" tanya kakek tua itu penasaran.


Karma masih tidak mengerti, kenapa dirinya bisa dikatakan manusia-iblis oleh wakil komandan.


Jadi, Karma berterus terang dengan menceritakan kejadian sebelumnya kepada kakek tua itu.


Untungnya kakek tua itu percaya dengan apa yang diceritakan oleh Karma.


Kakek tua itu terkejut dengan Karma yang ternyata memiliki elemen yang sama seperti wakil komandan yang sudah dia anggap sebagai cucunya itu.


Tiba-tiba saja, kakek tua itu meminta Karma untuk segera pergi membawa wakil komandan.


"Kakek merasakan kehadiran sosok yang sangat kuat! Kakek bahkan tidak mampu melawannya, cepat bawa Physco pergi!" seru sang kakek yang menyebut nama wakil komandan yang ternyata bernama Physco.


"Apakah tidak ada kesempatan jika aku ikut membantumu melawannya?" tanya Karma yang merasa percaya diri.


"Tidak mungkin! Dia berada di puncak kekuatan! Aku bingung kenapa ada seorang yang sangat kuat mengarah kesini dengan cepat, jika demi mendapatkan sesuatu yang menarik, maka itu hanyalah Physco dan kau, Nak!" teriak kakek tua yang mulai merapalkan sihirnya.


"I-ini bagaimana?"


Karma bingung apa yang harus dia lakukan, tiba-tiba saja seorang wanita yang kuat langsung menyerang kakek tua itu dengan sangat kuat.


Kakek tua itu menahan dengan sekuat tenaga untuk melawan wanita itu.


"Cepat pergilah!" teriak kakek itu dengan melirik Karma.


"Eh? Sepertinya ada yang salah?" pikir wanita itu di dalam hatinya.


"Eh, tunggu dulu! Sebenernya kamu itu akan melukai muridku atau tidak?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Erra, guru terpaksa Karma.


"Guru Erra? Kenapa Guru bisa tahu aku berada disini?" tanya Karma yang penasaran akan kehadiran gurunya itu.


"Dasar Murid bodoh! Guru mu ini sangat hebat! Tentu saja aku bisa mengetahui keaadanmu dari jauh dan tadi apakah kamu yang membuatku menjadi khawatir tentang keadaan muridku?" jawabnya yang dilanjut pertanyaan kepada kakek tua itu.


"Maafkan aku, Nona!" jawab Kakek tua itu dengan tulus.


"Rupanya ada iblis di sini, jarang sekali aku melihat iblis akhir-akhir ini. Biasanya aku langsung membunuhnya!" seru Erra yang menakut-nakuti kakek tua itu.


"Jika begitu, seharusnya dengan kekuatan Nona, Nona pasti bisa merasakan perbedaan tubuh murid Nona bukan?" tanya kakek tua itu juga membalas Erra.


Erra langsung menatap dingin kepada iblis tua itu karena mengetahui ada keberadaan yang sangat aneh dari diri Karma.


Dengan tatapan dingin dari Erra, iblis tua itu merasa sangat ketakutan.


"Nona! Aku, aku bisa membimbing muridmu untuk menggunakan kekuatan iblisnya!" seru kakek iblis dengan mencoba sebuah peluang kecil agar dirinya tidak dibunuh.


Iblis tua itu meminta Erra agar dirinya bisa mengikutinya untuk masuk ke dalam gubuknya, setelah berada di dalam Erra diperlihatkan dengan sosok pria yang sedang terbaring di atas ranjang.


Melihat dengan seksama, Erra terkejut karena pria yang sedang tak sadarkan diri itu memiliki tubuh manusia-iblis, hanya saja berbeda dengan Karma yang memiliki struktur yang lebih rumit dari pria itu.


"Dia sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri, Nona!" ucap kakek tua dengan ramah.


"Baiklah, aku bisa mempercayaimu. Tapi, jika aku tahu kamu akan mengancam keberadaan muridku ini, bukan hanya kau yang ku bunuh, tapi aku akan melenyapkan ras iblis kalian!" ancam Erra dengan sangat percaya diri.


Karma yang mendengar percakapan mereka pun ikut terkejut, "Guru, apakah dia benar-benar berani akan melenyapkan ras iblis?" pikirnya bertanya-tanya.


"Aku masih ada urusan, belum sempat untuk mengajarimu. Setelah urusanku selesai, aku akan benar-benar merubahmu menjadi sosok yang sangat kuat!" seru Erra yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Erra, kakek tua itu menjatuhkan dirinya, lututnya berbenturan dengan lantai dengan kuat hanya saja dia tidak merasakan kesakitan sedikitpun.


Dia menghela nafas dalam-dalam dan bertanya," Dia gurumu? Apakah dia adalah dewi Bencana yang terkenal itu?"


Karma menggeleng-gelengkan kepalanya dan juga menjawab tidak tahu, Karma menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan gurunya itu.


Karma sangat beruntung memiliki seorang guru dengan kekuatannya yang sudah berada di tahap puncak kekuatan.


Memberikan air hangat ke mulut Phycso, menunggunya sadarkan diri dan Karma dengan kakek tua itu pergi ke halaman depan, di atas Altar.


Belum sempat mengetahui tentang tempat ini, kakek tua iblis itu menjelaskannya kepada Karma.


Dua ratus lima puluh meter di hutan ini, tidak ada yang bisa memasuki hutan ini hanya dengan mengandalkan sebuah kompas, peta maupun pembimbing arah. Karena belum ada yang bisa memasuki hutan ini, hanya teleportasilah jalan satu-satunya untuk bisa memasuki inti hutan ini.


Berbeda denga. Erra, dia dapat memasuki hutan ini dengan paksa karena kekuatannya berada di luar kemampuan unik dari hutan ini.


Dengan mengenali kesadaran muridnya, Karma. Erra mampu dengan mudah untuk mengetahui lokasi dimana muridnya itu berada.


***


Dua ekor kucing kecil memasuki vila Pasukan Ksatria Pedang Hitam, membuat para penghuninya penasaran karena kedua kucing itu sangat cantik dan menggemaskan.


Kehadiran dua kucing itu membuat para penghuni langsung ingin memeluknya. Hanya saja, kedua kucing itu sangatlah lincah tidak ada yang dapat menangkapnya.


Dengan ekspresi salah satu kucing yang memperlihatkan wajah kesalnya kepada salah seorang penghuni. Penghuni itu pun terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Yang awalnya dianggap cantik dan menggemaskan, sekarang kedua kucing itu menjadi menyebalkan hingga salah seorang gadis menarik perhatian kedua kucing itu.


Gadis itu masihlah muda, seumuran dengan Karma. Sangat cantik, kedua kucing itu pun melemparkan dirinya kepada gadis itu.


Digendongnya lah kedua kucing itu secara bersamaan oleh gadis itu.


"Kalian kenapa membuat keributan?" tanya gadis itu sambil mengelus bulu lembut dari kedua kucing.


Kedua kucing itu tidak lain dan tidak bukan adalah Maspro dan Aspro. Mereka sedang mencari tuannya, yaitu Karma.


Hanya saja, saat setelah sampai disini, mereka tidak mengetahui hawa keberadaan Karma yang menipis.


Maspro melemparkan dirinya keluar dari pelukan gadis itu, berjalan dengan santai membuka pintu wakil komandan dengan santai.


"I-itu pintu wakil komandan, jangan kesa—"