
Walaupun kau sakiti ku.
Aku akan selalu perduli padamu.
Karna kita Pintar berawal dari Pengalaman.
Queen.
Sampai di Mansionnya, Aldi langsung membawa Queen masuk ke kamar Queen.
"Lo apain Queen?"tanya Aleen.
"Gak gue apa-apain ****!"jawab gue.
"Terus, kenapa Queen bisa kaya gitu itu sekian kalinya?"tanya Aleen.
"Gue aja gak tahu. Tiba-tiba dia ada di Clubnya, dengan minum-minuman. Tapi, tidak seperti biasahnya dia sampai kek gini? Apa mungkin dia emang sudah mabuk ya? Sebelum ke Club?"tanya Aldi.
"Sepertinya iya. Queen kita gak akan cepat mabuk, seberapa dia minum."jawab Aleen.
"Udah, biarin Queen istirahat, kita keluar saja dari kamarnya,"ucap Aldi yang dianggukin Aleen.
Setelah menutup pintu, kita melanjutkan pembicaraan tentang Queen, setelah sepakat buat dibahas lagi kalo Queen sudah bangun.
"Kita tidur aja, sebaiknya."ujar Aldi.
"Ok Al,"jawabnya, langsung masuk ke kamarnya dan Aldi sama juga masuk ke kamarnya.
Sinar pagi masuk ke celah-celah kamar seorang perempuan, ternyata tak mampu membangunkan sang perempuan yang masih asyik dengan mimpinya. Entah. Dia mimpi apa? Tapi kelihatan dari rautnya yang berseri-seri mungkin dia mimpi bertemu dengan pangeran berkuda putih seperti di cerita-cerita anak-anak.
"Queen, bangun,"ujar seseorang didepan pintu dengan mengetok pintunya.
Karna tidak ada suara dari dalam kamar, akhirnya seseorang itu yang tak lain abangnya sendiri, Aldi.
"Queen, bangun,"ujarnya pelan dengan mengusap kepalanya.
"Bentar bang,"jawabnya pelan.
"5 menit ya Queen,"ujarnya lagi yang hanya dapat balasan deheman dari Queen.
Ternyata Aldi tidak keluar setelah mendengar jawaban dari Queen, melaikan melihat-lihat kamar Queen. Setelah dirasa 5 menit berlalu. Akhirnya Aldi membangunkan Queen.
"Bangun Queen, udah lewat waktunya."ujar Aldi.
"Iya bang,"jawabnya dengan mata setengah terbuka dan melangkah ke kamar mandi.
Dugh
"Aduhh, abang! Siapa yang masang tembok disini?"tanya gue dengan tangan yang mengusap jidat gue, karna nabrak tembok.
"Haha, udah dari dulu kali, tuh tembok udah disitu."jawabnya dengan tertawa terbahak-bahak.
Ternyata membuat gue kesal dan Brakk. Pintu kamar mandi gue tutup dengan sangat keras. Ya, gue banting. Udah tau sakit malah di ketawaiin kan kesel jadinya. Karna bantingan pintu, bang Aldi berhenti tertawa, selanjutnya yang gue denger, dia teriak meminta maaf yang gua abaikan. Lebih baik gue mandi. Selesai mandi, gue langsung turun kebawah.
"Hay bang,"ucap gue.
"Hay juga Queen, gimana? Udah enakan?"tanya mereka serempak.
"Udahlah bang, lupakan saja."jawab gue.
Hanya ada bunyi dentingan sendok dan makan. Masa iya, dentingan pedang. Kaga mungkin lah. Selesai makan, tiba-tiba bang Aldi tanya.
"Queen, tadi malam, kenapa kamu bisa seperti itu?"tanya bang Aldi.
"Please bang, jangan dibahas."jawab gue.
"No. Kita harus tau Queen, kita gak mau kamu kenapa-napa Queen, kamu adek kecil kita. Meski dudukan kamu lebih tinggi dari kita."ujar bang Aleen.
Huhh, kalo sudah pake aku kamu. Itu tandanya mereka sudah marah besar ke gue.
"Baiklah, kalo kalian maksa. Bang, Queen di khianatin sama orang yang Queen sayang,"ujar gue pelan.
"Siapa?"jawab mereka.
"Kalian ingatkan? Queen pernah deket sama cowok dan disuruh nunggu dia, waktu dia berobat karna nolongin Queen. Itu dia bang dan sahabat Queen,"ujar gue dengan meneteskan air mata.
Gimana gak nangis! Mereka orang yang berharga dihidup gue. Dengan beraninya mereka menusuk gue dibelakang.
"Siapa? Sahabat kamu yang berkhianat Queen?"tanya bang Aleen.
"Dia bukan berkhianat bang, cuman dia disuruh sama orang tuanya, dia diancam akan sama orang tuanya jika tidak menuruti semua perintah orang tuanya bang."ucap gue dan gue langsung meluk bang Aldi karna dia paling dekat duduknya sama gue.
" Apa Jk Queen, orangnya."tiba-tiba bang Aleen ngomong gitu yang bikin gue tambah nangis dan meluk kencang bang Aldi.
"Apa benar Queen? Yang di omongkan sama bang Aleen?"tanya bang Aldi.
"Iya bang,"jawab gue pelan.
"Udah bang, jangan bahas tentang itu lagi. Queen mohon,"ucap gue dengan tegas dan langsung melangkah pergi dari meja makan.
Meskipun dia sudah jahat kepada gua,tapi dia sahabat gue, pernah main bareng, bercanda bareng, melakukan misi bareng. Gak mungkin gue bales semuanya. Apalagi, dia melindungi orang yang dia sayangi, tapi kenapa? Dia gak pernah cerita kalo dia punya beban seperti itu, dia menganggap gue apa? Yang penting gue harus menyelesaikan masalah dia baru gue bicarakan sama dia.
Sampai dikamar, gue langsung siap-siap. Gue mau balik ke rumah soalnya.
Drdrdrdtt
"Halo, Queen, lo dimana?" tanya di seberang telvond. Siapa lagi kalo bukan kembaran gue, si Ano.
"Hm. Bentar lagi, gue otw."
Gue langsung mutusin sambungan telvond nya bodo amat lah, dia mau marah atau gimana. Yang penting gue harus pulang.
"Bang! Gue balik ya,"ucap gue.
"Hati-hati Queen,"ucap mereka yang gue jawab dengan jempol tangan yang artinya siip.
Setelah mengendarai mobil dengan kencangnya, akhirnya sampai juga di Mansion Viviant, yap! Mansion keluarga gue bukan Mansion gue.
"Assalamualaikum, penghuni Mansion. Queen came back oi!"teriak gue setelah buka pintu dan saat telah terbuka, gue kaget banget ternyata, di ruang tamu banyak temen abang gue dan sobat gue sendiri, jadi malu gue nya. Astaga.
"Kenapa lo Queen?"Tanya Lala.
"Hehe, gue malu ****. Gua kira sepi, taunya banyak orang disini,"jawab gue dengan cengiran khasnya,yang bikin cute.
"Anjaiii, cantik banget kalo ketawa begitu,"batin seseorang.
"Iya, gue tau. Gue emang cantik dari lahir."jawab gue dengan mengibaskan rambut gue kebelakang.
"Bagaimana dia tau? Kalo gue ngomong dia cantik?"tanya dia pada diri sendiri.
"Ya tau lah."ucap gue santai.
"Gue ke atas ya, capek."ujar gue dan melangkah ke atas ya ke kamar gue lah.
"Kita ikut Queen,"ujar sobat gue.
Setelah Queen dan sobat-sobatnya ke kamar Queen, akhirnya yang dibawah hanya ada para cogan Ahs.
"Woy! Kenapa lo?"tanya Bian.
Yang ditanya langsung jadi tatapan semua sahabatnya.
"Eeeh, gak kok. Gak kenapa-napa."jawab Alfi.
"Bohong ya lo?"tuding Yodan.
"Hooh. Dia bohong. Eh tapi, tadi yang dibicarain sama Queen siapa ya? Yang katanya ngatain Queen cantik?" cerocos Bian.
"Itu gue,"ujar Alfi pelan dan muka dia langsung memerah menahan malu.
Yang langsung ditertawakan teman-temannya. Hello!! Seorang Prince Ice, malu? Itu sangat mengejutkan bagi siapapun dan bisa jadi bahan pembicaraan di sekolah, dengan judul seorang Prince Ice Malu.
"Udah-udah kenapa."ujar Alfi.
"Hahaha, eh hahaa, iyaya kita diem. Jadi? Lo yang ngomong Queen cantik?"tanya Ano.
"Hms."jawab Alfi pelan yang langsung ditertawakan lagi.
Hari yang bahagia kan bagi mereka. Mentertawakan sahabatnya.
Sedangkan di kamar Queen, mereka membicarakan hal yang berkaitan dengan Mafia. Ya, tentu saja. Mereka kan memang seorang Mavia.
"Queen, apa ada masalah dengan Mafia?"tanya Putri.
"Maksud lo?"tanya balik gue.
"Ya, tentang pengkhianat? Atau tentang musuh lo gitu?" ujar Putri.
Gua berasa Putri seperti tau sesuatu. Apa dia udah curiga dengan gerak gerik gue atau dia memang sudah tau tentang semuanya. Tapi masih diam saja batin gue.
Ya! Meskipun gue bisa baca pikiran orang. Tapi gak selamanya gue pakai buat baca pikiran orang kan? Apalagi tentang sahabat sendiri, meskipun begitu tapi gue menghargai mereka dan gue akan mencari sendiri penyebabnya.
"Hms, ada. Dan dia sudah mulai bergerak."ujar gue santai.
"Kenapa lo kek santai banget Queen?"tanya Della.
"Terus, gue harus gila gitu?"tanya gue balik.
"Iya sih,"ujarnya.
#Udah ada Versi Ebook nya