
Mobil melaju dengan kecepatan sedang kearah Kazan. Jalan ke Kazan sedikit lebih baik daripada tempat-tempat yang pernah kami lalui. Tidak banyak bangunan rusak, meski tidak orang sama sekali di jalan. Beberapa kilometer lagi, dan ketika aku sampai disana, aku akan mencari dalang dari semua peristiwa ini.
"Yuri, lihat!"
Aku menengok ke arah yang ditunjukan Edgar. Itu seseorang. Duduk di pinggir jalan ditemani motor tua, sejenis KALEC. Orang itu berpakaian khas Tatar sedang menghisap sebatang rokok.
Edgar memberhentikan mobil beberapa meter di depan orang itu. Segera aku turun dan menghampiri orang itu yang menatap tajam ke arahku.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan suara agak serak. "Aku hanya seorang penyintas" jawabku. "Bagaimana dengan dirimu sendiri?" Aku balik bertanya.
"Penyintas ya. Aku tidak mengira ada orang yang selamat dari barat" katanya tanpa menjawab pertayaanku. "Dan apa yang kalian inginkan dariku? Aku tidak punya apa-apa" lanjutnya.
Aku duduk disampingnya. "Tidak ada. Aku dan temanku hanya ingin pergi ke timur, ke Vladivostok. Seseorang yang aku kenal bilang kalau Rusia membangun ibukota baru di Vladivostok" kataku.
"Bukan ibukota, tapi sebuah negara baru" kata pria itu. "Apa maksudmu sebuah negara baru?" tanyaku.
Pria itu menghisap rokoknya sekali sebelum menjawab pertanyaanku,
"Sebuah negara baru. Rusia Baru, membentang Naukan hingga Abakan. Singkatnya, Rusia membangun negara baru di Timur Jauh, dengan ibukota di Vladivostok. Dan kau tahu kenapa Vladivostok?" kata orang itu.
Aku menggeleng. Pria itu kembali menghisap rokoknya lalu membuangnya jauh-jauh. "Vladivostok berbatasan langsung dengan Cina. Bahkan bisa dilihat langsung dari sana. Rusia membuat ibukota baru disana dengan tujuan mengintimidasi Cina. Kau tahu kan, Cina yang telah menyebarkan virus ini ke seluruh dunia. Membangun ibukota di Vladivostok sama seperti balas dendam ke Cina" kata pria itu.
"Kenapa kau bisa tahu semua ini?" tanyaku. "Aku bekerja untuk seorang pejabat GRU, Gregory Ivanoff. Sejujurnya, aku sempat membaca beberapa dokumen terlarang tentang apa yang sedang dilakukan Rusia. Seharusnya aku tidak melakukan itu. Kalau aku ketahuan, aku bisa digantung" jawabnya.
"Tapi kau masih hidup dan menceritakan semua ini padaku" kataku. "Kalau kau mau tahu soal semua ini, sebaiknya kau bertanya langsung dengannya. Itupun kalau dia mau menjawab pertanyaanmu nanti. Biasanya dia akan langsung menembak mati orang yang bertanya soal peristiwa ini" katanya.
"Dimana aku bisa menemukannya?" tanyaku. "Aku bisa mengantarmu. Tapi kau harus menemuinya sendiri. Yang terpenting, jangan katakan padanya kalau kau tahu soal rahasia yang barusan aku ceritakan. Aku masih mau hidup" jawabnya.
"Aku lupa memberitahumu. Namaku Ruslan, panggil saja begitu. Aku tinggal di Kazan. Ada sekitar 2500 orang yang sehat disana" katanya.
Ruslan bangkit dan menuju motornya. "Apa kau tahu sesuatu tentang Uborka?"
Ruslan terdiam sejenak lalu menatapku tajam. "Apa yang kau bilang tadi?" Dia balik bertanya. "Proyek Uborka. Pasti kau tahu soal proyek itu" kataku.
Ruslan tampak tidak ingin menjawab pertanyaannku.
"Aku tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu, seharusnya tidak ada yang selamat di barat setelah proyek itu diluncurkan. Itulah tujuannya. Membunuh semua orang di barat" kata Ruslan.
"Itu lucu. Selain mayat, aku melihat makhluk yang bermutasi karena di barat. Serigala sebesar Grizzly, manusia seperti zombie yang dikendalikan virus itu, tikus sebesar kucing, dan banyak lagi" balasku dengan nada sinis.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak tahu apa-apa soal proyek itu. Sekarang tutup mulutmu dan segera ikuti aku!"
Ruslan marah. Aku tahu dia pasti tahu banyak soal yang terjadi di Rusia, tapi dia tidak ingin buka mulut. Aku segera kembali ke mobil dan menyuruh Edgar mengikuti Ruslan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Anastasia. "Banyak hal. Dia tahu banyak soal peristiwa ini" jawabku.
"Sayangnya, dia lebih memilih tutup mulut soal Proyek Uborka. Tapi dia mengatakan sesuatu yang lebih penting lagi" kataku.
"Seperti apa? Apa itu berguna?" sahut Tanya. "Sesuatu seperti negara baru. Sebuah Rusia Baru, membentang dari Naukan hingga Abakan. Sebuah negara baru di Timur Jauh" jawabku.
"Dan mereka menghancurkan wilayah barat untuk membuat negara di wilayah timur" timpal Claire. "Tepat. Mereka menghancurkan setengah wilayah Rusia di barat" kataku.
"Lalu soal virus itu? Dia tidak bicara apapun?" tanya Edgar. "Dia tidak mau bicara soal virus itu. Tapi dia bicara banyak hal soal rencana pembangunan negara baru. Ada yang ditutup-tutupi soal virus itu" jawabku.
"Dan itu yang sangat ingin kau cari tahu sekarang. Bagaimana dengan tujuanmu sebelumnya?" tanya Claire. "Keluargaku seharusnya terkena Proyek Uborka itu, dan menurut Dokter Vladimir, ada beberapa yang selamat yang pergi diam-diam dari Moskow. Menurutku, seharusnya mereka pergi mengikuti arah militer pergi" jawabku.
"Mereka bisa pergi kemana saja" sahut Tanya. "Kalau kau mencari mereka, kau harus berkeliling Rusia untuk mencarinya. Itupun kalau keluargamu tidak mati ditengah jalan" lanjutnya.
"Apa kau juga bermaksud kalau aku harus berkeliling Rusia untuk mencari orangtuaku?" tanya Anastasia. "Kau tanya aku, maka jawabanku adalah iya" jawab Tanya.
"Tanpa petunjuk ya" gumam Anastasia pelan. "Bagaimana kalau ternyata keluargaku masih hidup di suatu tempat?" tanya Anastasia.
"Dalam situasi seperti ini, kadang mati jadi pilihan terbaik dibanding bertahan hidup" jawab Tanya.
"Bisakah kalian berhenti membahas soal keluarga kalian?"
Mata kami semua tertuju pada Claire,
"Kalian berdua pasti bisa menemukan keluarga kalian di suatu tempat. Paling tidak, kalau kalian tidak bisa bertemu mereka, orang yang kau bicarakan tadi, tahu sesuatu soal keluarga kalian" kata Claire.
"Kemungkinan terbaiknya, mereka berhasil selamat dari Moskow, tapi belum tentu mereka bertahan hidup. Kau tahu kan apa yang menimpa kami semua dalam perjalanan ini?" kata Claire.
Claire menghela nafasnya sebentar. "Kemungkinan terburuknya, meski ada yang selamat dari Moskow, keluarga kalian tidak selamat" kata Claire.
Aku dan Anastasia mendengarkan perkataan Claire dan aku pikir ada benarnya juga. Kami sudah berjalan jauh ke timur dan sama sekali tidak menemukan tanda-tanda kehidupan lain.
"Kalau mereka mati, aku harap aku bisa melihat makam mereka. Itu saja" kata Anastasia. "Soal itu, berharap saja. Sebagai seorang tentara yang melihat banyak sekali kematian, mungkin aku tidak bisa memahami perasaan kalian" kata Claire.
"Kalau begitu, tutup mulutmu dan diam. Kata-katamu tidak sebaik bidikanmu" kata Edgar. "Baiklah, aku akan diam" sahut Claire.
Setelah beberapa menit berkendara, Kazan terlihat di depan kami. Kota itu sepi, tapi syukurlah, aku melihat beberapa orang sehat di pinggir jalan. Sepertinya benar, masih banyak orang yang sehat disini, meski tidak banyak.
Kami terus mengikuti Ruslan sampai dia berhenti di sebuah gedung yang mirip seperti kantor (atau balai kota, entahlah). Kami keluar mobil dan mengikutinya ke dalam. Di dalam sana ada beberapa orang dengan AK-47 sedang duduk di lantai dan menatap kami semua.
Ruslan membawa kami ke sebuah ruangan yang penuh dengan tumpukan buku-buku. Dia mempersilahkan kami untuk duduk di bangku panjang sementara dia duduk di kursi di depan kami.
"Dengarkan aku. Aku bisa mempersilahkan kalian untuk tinggal disini asal kalian tidak bicara soal Uborka atau semacamnya" kata Ruslan.
"Tidak bisa. Aku tidak ingin tinggal disini. Aku mau kebenaran, kebenaran tentang semua yang telah terjadi selama ini yang punya andil atas menghilangnya keluargaku" kataku.
"Semua sudah terlambat. Bisa dibilang kalian adalah orang yang paling beruntung karena bisa selamat sampai sejauh ini. Lalu apa yang kalian pikirkan? Disini aman, bersih dari virus. Kalian bisa tinggal disini selama yang kalian mau" tawar Ruslan.
"Dengar ini. Katakan saja dimana orang itu berada sekarang! Setelah itu semua jadi urusanku" kataku. "Kawan, aku hanya ingin membantu kalian. Kalian tidak perlu berjalan lagi. Tidak jaminan kalian akan hidup sampai ke Vladivostok. Orang-orang disini juga. Mereka nyaman tinggal disini" kata Ruslan.
"Lalu kalau kita tinggal disini, siapa kita? Hidup ini tanah tak bertuan. Ini bukan wilayah Rusia dan tidak akan pernah lagi jadi wilayah Rusia. Kita juga tidak akan dianggap lagi jadi warga negara Rusia. Lalu apa yang mau kau lakukan? Mendirikan negara sendiri?" kataku.
Ruslan menghela nafasnya sejenak. "Apa gunanya warga negara sekarang? Yang penting adalah kita masih bisa hidup sekarang. Itu yang penting. Tidak peduli siapa kita sekarang, yang penting kita tetap hidup" kata Ruslan.
Ruslan bangkit dari duduknya. "Aku akan membawakan beberapa makanan untuk kalian. Setelah ini, aku akan membawa kalian ke tempat tinggal sementara kalian. Aku harap kalian tidak kemana-mana" katanya.
Ruslan meninggalkan kami sementara yang lainnya menatap ke arahku.
"Tenang, tidak ada yang menyalahkan ucapanmu barusan" kata Claire. "Kalau tinggal disini, aku juga tidak bisa pulang ke Amerika" lanjutnya.
"Tapi, kita harus bersabar agar orang itu mau membuka mulutnya. Sekarang, kita turuti kemauannya dulu. Mungkin dia bisa pikiran" kata Edgar.
"Hah.. baiklah. Dua hari. Kalau sampai dua hari dia tidak mau membawaku pada orang itu, aku yang akan memaksanya" kataku.
Mereka semua mengangguk, setuju dengan usulanku. Tidak lama, Ruslan kembali dan membawa lima piring berisi kentang tumbuk, brokoli, dan daging. Entah daging apa, tapi aku yakin itu bukan daging tikus.
"Makanlah. Kalian semua suka kentang kan?" kata Ruslan. "Daripada kentang, aku harap daging ini bukan daging tikus yang biasa kita makan" sahut Claire.
"Tentu saja bukan. Itu daging rusa, diternakan disini jadi kalian tidak perlu khawatir soal kualitasnya" kata Ruslan.
Ruslan meninggalkan kami semua disini. Aku lihat Anastasia dan Tanya sudah menghabiskan setengah dari makanannya. Aku coba makanan yang diberikan itu dan rasanya cukup enak. Lebih baik daripada daging kaleng yang biasa kami makan selama ini.
.................................................
"Jadi, kalian ingin tinggal?" tanya Ruslan. "Dua hari, atau tiga. Hanya selama itu lalu kami akan pergi lagi" jawab Edgar.
"Aku harap kalian tinggal selamanya disini. Tapi baiklah, terserah kalian. Aku akan mengantar kalian" kata Ruslan.
Kami keluar dari gedung itu, mengikuti Ruslan dan motornya. Tidak jauh, hanya beberapa blok dan dia berhenti di sebuah rumah yang cukup bagus kondisinya.
"Rumah ini kosong. Kalian bisa tinggal disini. Tenang saja, disini aman" kata Ruslan.
Ruslan pergi meninggalkan kami berlima disana. Kami berlima memasuki rumah itu. Di dalamnya cukup rapi dan bersih. Aku mencoba menyalakan lampunya dan berhasil. Masih ada listrik disini.
"Baguslah" sahut Claire. Claire berkeliling rumah ini, seperti sedang memeriksanya. "Aku rasa tidak ada yang aneh disini" katanya.
"Memang tidak ada. Kita hanya harus tinggal sementara disini" kataku.
"Kalau dalam dua hari kau tidak bisa membuatnya bicara, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tanya. "Seperti yang tadi aku bilang, aku akan pergi" jawabku.
"Memangnya kenapa? Kau akan tetap tinggal disini?" tanyaku. "Tidak tahu. Aku belum memikirkannya" jawab Tanya.
"Kau boleh ikut kami, atau tidak. Itu terserah padamu. Tapi apapun keputusanmu, jangan pernah sesali itu nanti" kataku.
...................................
Malam harinya....
"Akhirnya... aku bisa merasakan apa itu mandi..." kata Anastasia, rambutnya masih basah.
Memang, disini bisa dibilang keadaannya masih sangat baik. Listrik dan air masih berfungsi. Setelah perjalanan yang sangat panjang, kami semua bisa sedikit melepaskan beban kami dengan mandi. Tapi masih ada pekerjaan yang aku lakukan.
"Aku mau keluar. Kalian mau ikut?" tawarku. "Kemana?" tanya Anastasia.
"49 Ulitsa Butlerova. Alamat itu tertera di dokumen yang aku temukan kemarin" jawabku. "Kau tahu dimana itu?" tanya Tanya.
"Tidak, sejujurnya. Tapi kita bisa bertanya pada seseorang kan?" kataku. "Baiklah. Aku ikut" sahut Edgar.
Aku menatap Edgar dalam-dalam. "Kalau dengan Yuri, tidak akan jauh-jauh dari peluru. Biar aku saja yang ikut. Kalian tetap disini, jangan kemana-mana!" kata Edgar.
Segera aku dan Edgar pergi keluar, dengan mobil tentunya. Kami tidak tahu dimana tepatnya jalan itu, jadi kami berputar-putar saja, awalnya. Setelah sepuluh menit, kami melihat pemuda di pinggir jalan sedang merokok dengan santainya. Aku segera keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Apa yang kau inginkan?" pemuda itu langsung bertanya begitu menyadari kehadiranku. "49 Ulitsa Butlerova. Dimana itu?" kataku.
Pemuda itu tampak kaget dengan pertanyaanku. "Apa urusanmu?" tanya dia. "Katakan saja atau aku akan menembakmu sekarang!" jawabku sambil menodongkan AK-47 padanya.
Pemuda itu gemetar. Langsung saja dia memberitahu arah kesana. Aku pikir tidak terlalu jauh dari sini, aku bisa mengingatnya. Segera aku tinggalkan pemuda itu dan kembali ke mobil.
"Negosiasi yang bagus" kata Edgar. "Lebih cepat, lebih baik. Sekarang ayo jalan" kataku.
Mobil berjalan sesuai petunjuk yang tadi diberikan oleh pemuda itu. Ternyata, petunjuk itu mengarahkan kami ke Kazan State Medical University. Universitas itu beralamat di 49 Ulitsa Butlerova.
Universitas itu masih terawat, sangat terawat. Bahkan aku bisa lihat lampu-lampu didalamnya masih menyala. Kami turun dari mobil dan berjalan kesana. Sebelum kami masuk, kami dicegat oleh dua orang yang membawa AKS.
"Apa perlu apa?" tanya salah satu dari mereka. "Gregory Ivanoff. Kami ada perlu dengannya" jawabku.
"Siapa kalian? Dan kenapa kau bersama dengan orang Amerika?" tanya dia lagi. "Aku? Aku hanyalah penyintas dari Nikel, sedangkan temanku ini selamat dari Kola" jawabku.
Kedua orang itu tampak kaget dan mengizinkan kami masuk. Salah satu dari mereka bersama kami, membawa kami ke sebuah ruangan.
"Tuan Gregory ada di dalam. Aku akan meninggalkan kalian disini" katanya lalu pergi.
Tanpa mengetuk pintu, aku langsung membukanya. Pria yang ada di dalam sana tampak kaget awalnya, tapi sebentar saja rasa kagetnya itu sepertinya hilang. Pria yang ku taksir berumur 50 atau 60-an. Rambutnya putih dan bertubuh agak gemuk.
"Selamat datang. Duduklah!"
Kami berdua duduk di depannya. Dia menatap kami dengan tatapan mengintimidasi, tapi aku sama sekali tidak terpengaruh.
"Gregory Ivanoff. Aku tidak mau berlama-lama disini" kataku. "Santai saja. Aku tidak akan kemana-mana" jawabnya.
"Apa yang kau ketahui tentang kejadian ini?" tanyaku. "Sama seperti yang kau ketahui. Kau tidak menderita amnesia kan?" jawabnya.
"Apa yang kau ketahui tentang virus itu?" tanyaku. "Aku bukan dari Departemen Kesehatan. Aku ini pejabat GRU, awalnya. Virus itu bukan urusanku" jawabnya.
"Lalu begitu, apa yang kau ketahui tentang Proyek Uborka?" tanyaku lagi.
Gregory tampak terkejut dengan pertanyaanku yang terakhir itu. Dia menatapku tajam, seperti tidak percaya dengan pertanyaanku barusan.
"Bagaimana kau tahu tentang Uborka?" tanya Gregory. Aku segera membuka tas ku dan memberikan map yang aku temukan kemarin pada Gregory.
"Kau tidak perlu tahu apa-apa soal ini" kata Gregory. "Tentu saja aku harus tahu! Keluargaku terkena dengan proyek ini dan kau harus bertanggung jawab soal ini" kataku.
"Itu bukan urusanku. Proyek ini aku lakukan demi menyelamatkan Rusia dari virus dan sejauh ini semuanya baik-baik saja" kata Gregory. "Baik-baik saja? Kau menghancurkan setengah wilayah Rusia!" kataku.
"Ada yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan banyak orang disini. Lebih dari itu, aku melakukan ini demi negara ini. Kalau proyek ini tidak dijalankan, virus itu akan menyebar ke seluruh wilayah Rusia!" kata Gregory
Aku diam, dia benar-benar marah atas pertanyaanku tadi.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku sama sekali" kataku. "Tidak akan. Kau tidak boleh tahu apapun soal ini. Tidak peduli apakah itu untuk keluargamu, atau apapun. Aku tidak bisa membantumu" kata Gregory.
"Tapi mungkin kita bisa membuat kesepakatan" kata Gregory tiba-tiba. "Kesepakatan apa?" tanyaku.
Gregory mengambil salah satu map di laci mejanya, dan memberikan sebuah foto. Seekor serigala yang cukup besar, lebih besar dari yang pernah aku lihat di Petrozavodsk.
"Serigala ini seringkali terlihat disini, di Kazan. Awalnya hanya satu, tapi beberapa waktu lalu ada empat serigala yang terlihat. Aku yakin yang terbesar ini serigala betina, dan mengundang beberapa pejantan kesini" kata Gregory.
"Kami telah beberapa kali mengirim pasukan untuk memburu serigala-serigala ini tapi tidak pernah berhasil. Bahkan kami sudah kehilangan 5 orang dari 3 percobaan terakhir. Kalau kalian bisa membantu kami membunuh mereka, aku berjanji akan memberitahukan semuanya padamu" kata Gregory.
Lima orang terbunuh dari 3 kali percobaan, berarti resikonya cukup tinggi. Tapi menurutku, ini adalah penawaran yang cukup sepadan.
"Baiklah, kita sepakat" kataku. "Kalau begitu, aku akan beritahu Ruslan. Kita akan berburu besok malam. Aku harap kalian semua bisa memburu semua serigala itu" kata Gregory.
"Dan kalau kau mengingkari janjimu, akan aku buru kepalamu" kataku.
Setelah percakapan itu, kami berdua keluar dari ruangan Gregory. Lebih tepatnya keluar dari universitas itu.
"Aku tidak menyangka kau segila itu" kata Edgar. "Kalau kau tidak mau ikut, tidak masalah" kataku.
"Aku tidak masalah. Lagipula, sepertinya aku mulai menyukai serigala" kata Edgar. "Kalau begitu kita sepakat. Kau ikut denganku" kataku.
Bersambung...