Pandemic

Pandemic
Wanita dari Nizhny Novgorod



Belum jauh kami pergi dari tempat itu, mobil yang dikendarai Edgar berhenti di depan sebuah toserba. "Kalian keberatan kalau aku berhenti disini?" tanya Edgar.


"Tergantung. Untuk apa?" kata Claire. "Aku harap toko ini menjual beberapa gas kalengan agar aku bisa menunjukan kegunaannya" kata Edgar.


Aku menemani Edgar masuk ke dalam untuk berjaga-jaga. Seperti yang kami duga, toko ini berantakan dan kotor. Beberapa peluru berceceran di lantai, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan disini, kecuali kami berdua. Edgar dengan mudah mendapatkan barang yang dia cari, gas kalengan.


"Untuk apa?" tanyaku. "Benda ini bisa dijadikan sebagai bom dalam keadaan darurat seperti ini. Meski ledakannya tidak sebesar granat biasa, aku pikir cukup kalau untuk melawan mereka yang terinfeksi itu" jawab Edgar.


Aku mengangguk. Sambil menunggu Edgar selesai dengan pekerjaannya, aku berjalan ke lemari es dan mengambil sebotol Vodka. Sudah lama aku tidak minum Vodka dan rasanya tidak buruk juga.


"Kau mau bawa minuman itu?" tanya Edgar yang sekarang berdiri di belakangku. Aku menggeleng. Setelah itu aku habiskan isi botol itu. Ahh... Begini rasanya setelah hampir setahun aku tidak minum Vodka.


"Aku kira kau akan menyisakannya untukku" celoteh Edgar. "Aku kira orang Amerika tidak minum Vodka. Mereka lebih suka bir dan wiski kan?" kataku.


Edgar tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Kami berjalan keluar dari sana dan melanjutkan perjalanan kami.


"Yuri, mulutmu bau Vodka" kata Anastasia. "Yah.. satu botol Vodka tidak apa-apa kan?" kataku.


Tiba-tiba Anastasia merengut mendengar jawabanku. "Aku juga mau" sahutnya. "Vodka? Kau belum boleh minum seperti itu" kataku.


"Anak kecil minum air putih saja" timpal Claire dari depan. "Diam Claire! Aku tidak bicara padamu" sahut Anastasia kesal.


Tidak seperti biasanya, Claire langsung menutup mulutnya, tidak memperdulikan ucapan Anastasia tadi. Mungkin dia juga bosan berdebat dengan anak ini, atau tidak mau membuat kerusuhan seperti yang sudah-sudah. Bagaimanapun itu, keadaannya jadi sedikit lebih baik sekarang. Kita harus berjuang sebagai tim agar bisa bertahan hidup.


25 September, 17.00


"Kendaraan itu masih menyala."


Tepat di depan sebuah mall bernama Respublika, kami melihat sebuah kendaraan yang mirip dengan pickup menyala disana. Edgar membawa kami mendekat kesana. Dari dalam mobil aku lihat kalau kendaraan itu kosong, meski dalam kondisi menyala. Begitu mobil yang kami kendarai berhenti, aku segera turun dan mendekati pickup itu dan aku simpulkan satu hal.


"Ada seseorang yang baru saja kesini" kataku. Aku melempar pandanganku ke arah Respublika. Bisa aku pastikan kalau dia juga seorang penyintas seperti kami berempat.


"Apa? Kau mau masuk kesana?" tanya Claire. "Untuk mencari tahu siapa pemilik kendaraan ini, jawabannya iya" jawabku.


"Kita bisa tinggalkan dan pergi. Bisa saja mereka bandit atau semacamnya" lanjut Claire. "Tidak. Kendaraan ini sepertinya tidak bisa mengangkut lebih dari dua orang" kataku.


Aku tidak tahu pasti jenis dan merk kendaraan itu tapi yang jelas, itu adalah kendaraan modifikasi, hanya saja dengan modifikasi yang buruk.


"Dan kau mau kesana?" tanya Claire. "Ya. Sudah lama aku tidak pergi ke mall" jawabku agak sedikit bercanda.


"Humormu buruk" sahut Anastasia. "Kalau kau mengatakan lelucon lagi, aku tembak kepalamu" lanjutnya.


Tanpa menghiraukan ucapan Anastasia itu, aku melangkahkan kakiku menuju Respublika. Samar-samar aku seperti melihat jejak kaki di tanah, hanya sepasang. Semakin menuju ke mall, jejak kaki itu semakin jelas, hingga saat aku tiba di depan pintu masuk mall.


"Sudah kubilang kalau hanya satu orang yang datang kesini" kataku, dengan pandangan tertuju ke arah Claire. Claire hanya memutar matanya mendengar ucapanku lalu kami berempat masuk ke dalam mall itu. Di dalam, jejak kakinya semakin jelas. Dan dari bentuknya, sepertinya jejak kaki ini masih baru.


Meski mall ini agak gelap, kami masih bisa melihat dengan baik. Masih ada beberapa lampu yang masih menyala, disertai dengan atap yang sudah rusak dan beberapa pecahan kaca yang berserakan di lantai. Kami tidak mencari apa-apa di mall itu, kecuali pemilik jejak kaki ini. Jejak kaki ini mengarah ke sebuah toko retail yang letaknya cukup jauh dari pintu masuk. Semakin dekat dengan toko retail itu, aku melihat beberapa peluru di lantai. Tidak banyak, hanya beberapa butir yang kalau aku hitung mungkin kurang dari sepuluh.


"Baiklah, pemilik jejak kaki ini pasti ada disana."


Kami berempat sampai di tujuan pemilik jejak kaki itu. Sebuah toko retail yang entah apa namanya. Tulisannya sudah tidak bisa dibaca lagi karena rusak. Seperti bagian mall yang lainnya, hanya beberapa lampu yang menyala di dalam toko retail ini. Tapi sepertinya kami masih bisa melihat dengan jelas nanti di dalam sana.


"Yuri, lihat!"


Edgar menyorot senternya ke dalam sana dan terlihat ada banyak jejak kaki yang tidak beraturan bentuknya. Beberapa jejak kaki bahkan seperti bercampur darah. Kami berempat langsung menyadari hal yang sama.


"Makhluk itu lagi" kataku. "Kau mau masuk kesana?" tanya Claire. Aku mengarahkan pandanganku ke Claire untuk kedua kalinya di mall ini. "Sepertinya seseorang butuh pertolongan kita" jawabku.


Aku di depan, masuk paling pertama ke dalam toko itu. Keadaan di dalam sini cukup berantakan. Beberapa barang rusak dan sebagian lagi berserakan begitu saja di lantai. Kami tetap waspada karena bisa saja dibalik rak-rak tinggi ini makhluk aneh itu bersembunyi. Kami menyusuri salah satu floor berisi makanan. Rak yang setinggi 3 meter di kanan kiri kami agak menghalangi cahaya disini, sehingga aku harus menyalakan senter disini.


"Sial..."


Aku mengumpat setelah melihat jasad di depanku yang sudah bersimbah darah. Aku mendekati jasad itu, kepalanya sudah hancur. Sepertinya jasad ini masih baru karena darahnya terlihat masih segar. Bahkan aku bisa melihat otaknya.


"Tenang kawan. Dia sudah mati."


Aku bisa melihat Anastasia seperti menahan rasa mualnya. Tidak ada apa-apa disini, hanya mayat itu, dan makanan di kanan kiri kami. Tapi sepertinya tidak ada yang bisa kami bawa karena tas kami sudah penuh.


"Bisa kita segera pergi dari sini? Bisa saja jejak kaki itu adalah jejak kaki pria yang mati itu" kata Anastasia.


"Bukan. Jejak itu milikku."


Sebuah suara, datang dari depan. Aku menyorot senter kesana, hingga aku bisa melihat jelas siapa yang barusan bicara tadi. Seorang wanita dengan linggis di tangannya. Menurutku, umurnya mungkin sekitar 20 tahunan.


"Beruntung aku mendengar kalian bicara" kata wanita itu. "Siapa kau? Dan kenapa kau bisa ada disini?" tanyaku.


"Tanya Volodina. Aku datang dari Nizhny Novgorod" jawab Tanya. "Berarti kendaraan yang masih menyala itu milikmu kan?" tanyaku.


"Kau menanyakan suatu hal yang tidak penting" jawab Tanya. "Lagipula, sepertinya kalian tidak berasal dari sekitar sini. Dan.. dua orang Amerika... Jangan bilang kalau kalian datang dari Utara" lanjutnya.


"Tentu saja kami datang dari sana" kata Claire. "Kau kira darimana? Kami menempuh perjalanan yang sangat menyebalkan dari Utara, ke Saint Petersburg, lalu ke Moskow" terang Claire.


"Aku kira orang-orang disana sudah mati atau seperti pria itu" kata Tanya sambil menunjuk jasad pria itu. Jelas sekali kalau dia yang membunuhnya. "Apa kau mencoba bilang kalau semua orang yang tersisa berubah jadi makhluk aneh itu?" tanyaku.


"Tidak semua. Di Nizhny Novgorod ada beberapa orang yang selamat. Lebih baik kau ikut denganku" tawar Tanya. "Ya. Tawaran yang bagus. Tapi sebelum itu, sepertinya ada masalah yang harus kita selesaikan" kata Edgar.


Kami menengok ke arah yang di tunjukan Edgar dan melihat beberapa makhluk itu menatap kami. "Kau tahu, ini saat yang tepat untuk membuang peluru" kataku pada Edgar. "Aku tidak akan pernah membantah semua ucapanmu kawan" sahut Edgar.


Makhluk-makhluk itu mulai mendekati kami berempat. Bahkan beberapa dari mereka sudah mulai berlari.


"Lari!!!"


Claire, Anastasia, dan Tanya segera berlari keluar retail sedangkan aku dan Edgar menembaki makhluk-makhluk itu. Satu, dua, tiga makhluk itu mati, tapi sepertinya mereka terlalu banyak untuk kami berdua. Tak sampai 5 menit kami segera berlari keluar menyusul 3 wanita itu yang sudah mendahului kami.


Terus berlari keluar mall ini yang sekarang jadi lebih gelap daripada saat kami masuk, mungkin karena sudah malam. Tiga wanita itu sudah berlari agak jauh di depan kami, dan makhluk-makhluk itu juga tidak berlari secepat kami.


"Hei Yuri, kau mau tahu kegunaan kaleng gas itu?" tanya Edgar saat kami masih berusaha lolos dari kejaran makhluk-makhluk itu. "Sebaiknya kau tidak melakukan hal bodoh disini jika tidak ingin mati" jawabku.


Edgar berhenti berlari. Dia malah sibuk dengan tas nya, dan mengambil tiga kaleng gas dari dalam sana. Setelah menaruh kaleng-kaleng itu, Edgar menyuruhku lari menjauh dari sana. Tapi sepertinya dia memang tahu apa yang dia lakukan. Begitu makhluk itu mulai mendekat ke kaleng-kaleng gas itu, Edgar berbalik ke belakang dan menembak salah satu kaleng gasnya, menciptakan ledakan yang cukup besar untuk membunuh beberapa makhluk menjijikan itu.


"Itu tadi yang aku sebut dengan bom kaleng" kata Edgar.


Meski begitu, masih ada beberapa makhluk yang mengejar kami. Tidak ada waktu untuk bom kaleng lagi atau semacamnya. Kami terus berlari keluar mall, menuju mobil kami. Ternyata Claire, Anastasia, dan Tanya sudah menunggu kami disana.


"Aku dengar suara ledakan dari dalam. Ada apa?" tanya Claire. "Hanya sedikit dari percobaanku yang berhasil. Sekarang cepat masuk ke mobil!" jawab Edgar.


Kami semua segera masuk ke dalam mobil dan Edgar langsung tancap gas meninggalkan tempat ini. Aku yakin makhluk-makhluk itu tidak akan mengejar kami lagi jika sudah begini.


"Kita mau kemana?" tanya Edgar. "Nizhny Novgorod! Tetap mengarah ke timur dan kita akan sampai kurang dari satu jam" sergah Tanya.


Itu dia. Nizhny Novgorod. Tempat persinggahan kami selanjutnya dan kami membawa seseorang dari sana. Mungkin orang baru ini bisa membantu kami bertahan hidup.


"Ada berapa orang yang selamat disana?" tanyaku. "Tidak banyak. Mungkin kurang dari 100 orang, seingatku. Sisanya mati atau berubah jadi seperti makhluk-makhluk itu" jawab Tanya.


"Dari 1,3 juta orang disama dan hanya kurang dari 100 orang yang selamat. Virus ini gila" kata Anastasia. "Tidak semua. Sebagian besar dari mereka tidak mati karena virus, tapi mati karena Rusia" terang Tanya.


"Mereka pindah ke Moskow dan jadi korban dari pembantaian itu. Benar kan?" kataku. "Ya, aku tidak akan membantah itu. Dan kenapa kau bisa tahu kejadian tentang Pembantaian Moskow itu?" tanya Tanya.


"Kami bertemu dengan satu-satunya orang yang bertahan hidup di Moskow. Dia memberitahu kami segalanya, termasuk Pembantaian Moskow itu. Tapi setelah itu, dia langsung bunuh diri" jawabku.


"Sayang sekali. Padahal dia bisa berguna kalau dia ikut dengan kalian" kata Tanya.


Aku menghela nafasku saja. Ucapannya memang benar, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi.


19.15


Kami berhenti di sebuah rumah yang cukup besar, cukup jauh dari pusat kota Nizhny Novgorod. Tidak ada cahaya disini. Benar-benar gelap. Aku langsung bersiaga waktu keluar mobil karena di keadaan seperti ini, banyak hal buruk yang bisa terjadi.


"Ini rumahmu?" tanya Claire. "Tempat persembunyian, lebih tepatnya. Dua temanku ada disini" jawab Tanya.


Kami berempat mengikuti Tanya dan masuk ke dalam rumah ini. Tidak ada cahaya selain dari satu buah lilin yang berada di ruang tengah.


"Anton, Aleksey. Aku membawa beberapa teman untuk kita."


Tapi tidak ada jawaban. Tanya memeriksa satu per satu ruangan yang ada disini dan tidak ada tanda-tanda dari orang yang bernama Anton dan Aleksey itu.


"Mungkin mereka sedang keluar" kata Anastasia. "Tidak mungkin. Mereka ada disini..."


Sebuah suara datang dari dapur. Kami semua mengeratkan genggaman kami pada senjata-senjata kami, termasuk Tanya dengan linggisnya. Dalam kegelapan dapur, sesosok makhluk akhirnya muncul. Sosok yang tidak kami harapkan untuk bertemu lagi.


"Tidak. Tidak mungkin!"


Aku tidak tahu itu siapa, entah orang yang disebut Anton atau Aleksey. Tapi yang jelas, orang itu sudah terinfeksi virus dan berubah jadi makhluk mengerikan yang sudah kami temui selama ini.


"Sial!!"


Tanya menyerang makhluk itu dengan linggisnya tapi tanpa diduga makhluk itu bisa menahan serangan Tanya. Kami berempat membidik makhluk itu tapi posisi Tanya malah mempersulit kami untuk melepaskan satu tembakan pun.


"Menyingkir dari sana! Cepat!" teriak Claire. "Aku bisa menghadapi ini sendirian!" balas Tanya. Suaranya bergetar.


"Cepat menyingkir atau kau juga aku tembak!" ancam Claire.


Sial, aku berharap dia segera menyingkir agar aku bisa membunuh makhluk itu. Akhirnya, Tanya menurut dan lompat ke belakang, ke arah kami. Dengan cepat aku dan Claire menghujani makhluk itu dengan tembakan sampai makhluk itu mati. Mustahil makhluk itu bertahan setelah menerima serangan seperti itu dari dekat.


"Hah hah... Tidak mungkin..." kata Tanya pelan. "Satu orang tewas. Bagaimana dengan temanmu yang satunya lagi?" tanyaku.


Tanya berlari ke lantai atas. Aku mengikutinya disusul Claire. Dia menuju salah satu ruangan, sebuah kamar dan di dalam sana, ada seseorang di pojok kamar, sedang duduk menghadap ke dinding.


"Aleksey!"


Tanya mendekat ke arah pria itu tapi langkahnya terhenti begitu pria itu bergerak tiba-tiba. "Jangan... pergi!" kata pria itu.


"Apa.. apa maksudmu?" kata Tanya. "Pergilah! Aku sudah terjangkit virus itu" jawab Aleksey.


"Tidak, kau bohong. Aku membawakan teman dan mereka pasti bisa menolongmu!" kata Tanya.


Pria itu berdiri dan menghadap ke arah kami. Bukan main terkejutnya aku, begitu juga dengan Claire dan Tanya. Pria yang hampir setinggi 2 meter itu, setengah wajahnya sudah rusak dan salah satu matanya berwarna putih, sama seperti makhluk itu.


"Kalian harus membunuhku sekarang juga!"


Pria itu mendekat kearah kami. Kami bertiga mundur ke belakang sejenak. Anehnya, tidak satupun dari aku dan Claire yang berniat menembak pria malang itu. Mungkin karena pria itu masih setengah hidup dan berpikir kalau dia tidak bisa diselamatkan. Tapi begitu air liurnya menetas, sepertinya salah satu dari kami berubah pikiran.


"Baiklah, ini sudah cukup!"


Claire mengarahkan M153 miliknya ke kepala pria itu dan menarik pelatuknya. Seketika, kepala pria itu hancur, darahnya bersimbah kemana-mana, bahkan ada yang terciprat ke tembok. Tidak lama, pria itu ambruk, tapi aku sadar kalau dia masih bernafas. Benar-benar menjijikan apalagi aku masih bisa melihat otaknya.


"Ini membuatku muak!"


Claire menembak kepala pria itu beberapa kali lagi sampai benar-benar pecah. Monster itu sekarang sudah mati.


"Tidak ada gunanya menangisi orang itu. Kalau aku tidak menembaknya, kita semua pasti sudah mati" kata Claire. "Kau tidak tahu betapa berharganya mereka..." kata Tanya.


"Dengarkan aku!"


Claire menarik Tanya hingga wajah mereka saling berhadapan. "Aku ini seorang tentara. Aku sudah banyak melihat kematian di depan mataku, bahkan lebih banyak daripada yang kau lihat. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga. Jadi, tutup mulutmu dan berhenti menangis!"


Claire melepaskan Tanya dengan cukup kasar dan pergi ke bawah, bergabung dengan Anastasia dan Edgar. Sedangkan aku, masih disini dengan Tanya.


"Mungkin mereka memang berharga untukmu. Tapi setelah mereka terjangkit virus itu, tidak ada yang bisa kau lakukan selain membunuh mereka, atau mereka akan membunuhmu. Dengar ini, aku kehilangan keluargaku, istri dan anakku. Kalau salah satu dari mereka mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh dua temanmu itu, aku akan melakukan hal yang sama" kataku.


Beberapa saat kemudian tangisan Tanya mulai reda. Dia mulai tenang. Aku mengajaknya ke bawah, bergabung dengan yang lain. Aku lihat mereka bertiga sedang mengisi perut mereka. Bagus, aku juga mulai lapar. Aku tidak peduli lagi dengan mayat yang ada di dekat kami. Aku sudah sangat lapar, begitu pula dengan yang lainnya.


Bersambung...