Pandemic

Pandemic
Kebenaran



Hari ini aku bangun tepat saat matahari terbit di Kazan. Semua masih tidur, hanya aku yang sudah bangun. Sinar matahari yang tembus dari jendela dan ventilasi tidak mampu membangunkan mereka, hanya aku yang bangun. Meski kemarin aku merasa sangat lelah, pagi ini tubuhku benar-benar segar.


Aku keluar rumah, duduk di tanah dan menikmati pagi yang terlalu cerah di Kazan. Jika kota ini sedikit lebih ramai saja, mungkin aku lupa kalau Rusia sudah hancur. Begitu aku bernafas, aku bisa melihat asap keluar dari mulutku. Sebentar lagi bulan November, mulai masuk musim dingin.


Baru sebentar menikmati pagi ini, pikiranku mulai kembali ke arah yang sebenarnya. Aku tidak boleh lupa tujuanku, meski aku rasa sekarang ini aku juga sudah melenceng dari tujuan awalku. Tidak ada petunjuk jelas dimana keluargaku. Vladimir bilang kalau ada beberapa orang yang berhasil selamat dari Moskow saat Uborka tapi Ruslan, selaku orang dalam dari proyek biadab itu sangat yakin kalau tidak ada orang yang selamat dari Uborka.


“Ohh, kau disini ya...”


Itu Claire. Dia duduk disampingku. Wajahnya masih tampak lelah karena perburuan kemarin, tapi aku yakin kalau dia sama leganya denganku. Aku harap tidak ada serigala atau makhluk aneh lain yang akan kita temui. Segala hal seperti itu membuatku sangat muak.


“Bagaimana tidurmu?” tanyaku, basa-basi.


“Hmm? Rasanya sama saja seperti tidur di barak”


“Yah.. mudah tidur seperti itu karena kau sudah terbiasa”


“Kau sendiri? Apa orang Rusia terbiasa tidur di sofa seperti itu?”


Ahh iya. Itu bodohnya kami. Karena terlalu lelah, kami semua tidur di lantai ruang tengah. Padahal ada kamar lengkap dengan ranjang disini. Rumah singgah ini bisa dibilang adalah tempat paling mewah yang pernah kami kunjungi. Air, listrik, gas. Semua tersedia.


“Saat kau terlalu lelah, kau bisa tidur dimana saja” jawabku.


“Tenang kawan, aku tidak bermaksud menertawai cara tidurmu semalam”


“Aku juga tidak keberatan kalau kau menertawainya”


“Cih.. aku kira orang Rusia adalah orang kaku yang tidak bisa diajak bercanda”


“Tergantung siapa yang kau temui”


Claire tersenyum sinis mendengar jawabanku. Aku lihat dia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dengan santai Claire membakar satu batang dan mulai merokok. Wanita ini sudah biasa merokok.


“Kau mau?” Claire menyodorkan bungkus rokoknya padaku.


“Aku tidak mau merusak pagi indah setahun sekali ini”


“Ayolah bung! Kau berlebihan. Kau bisa dapatkan pagi yang lebih indah lagi”


Apa katanya tadi?


“Tidak biasanya kau menghiburku begini” Aku menerima tawaran rokoknya.


“Kau kira tentara Amerika tidak punya sisi baik bung?”


Aku ikut merokok dengan Claire. Yah, meski pagiku terganggu oleh bau rokok, tapi aku merasa lebih rileks dan tenang. Sambil melihat beberapa orang lalu lalang, rokok kami habis. Aku memastikan kalau puntungnya benar-benar mati sebelum membuangnya ke sembarang tempat. Rokok Claire sudah habis sebelumnya. Kini dia tengah menikmati rokoknya yang kedua.


“Tidak mau lagi?”


“Tidak. Satu batang sudah cukup” jawabku. “Aku mau mandi”


Aku meninggalkan Claire sendirian. Di dalam, dua orang gadis masih tidur sedangkan Edgar duduk di meja makan dengan segelas teh.


“Aku menemukan beberapa kotak teh dan kopi di lemari makan. Kau mau?”


“Tidak. Aku mau mandi saja. Aku juga tidak lapar. Tidak untuk sekarang”


Edgar mengangguk, mengerti keadaanku. Aku mengambil satu handuk yang tersisa, masuk ke kamar mandi, membuka pakaianku dan mandi, membersihkan semua kotoran dari tubuhku. Beberapa kotoran itu ada yang sangat sulit dibersihkan, seperti menempel erat di kulitku. Noda darah adalah yang paling sulit dibersihkan.


Air bekas mandiku juga sedikit berwarna merah. Aku tidak menyangka ada begitu banyak noda darah yang ada di tubuhku. Aku pikir awalnya percuma juga mandi kalau aku menggunakan pakaian yang sama. Tetap saja tubuhku akan kotor lagi. Tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


“Jadi, apa rencanamu hari ini?” Edgar menyodorkan secangkir teh padaku.


“Sudah jelas kan? Menemui Gregory lalu pergi dari sini”


“Kau tidak mau istirahat? Sedikit lebih lama lagi. Ya, sedikit”


Aku menyeruput teh yang masih panas itu. “Tidak. Aku sudah cukup istirahat”


“Bukan hanya kau. Tapi mereka berdua”


Edgar menunjuk ke arah Anastasia dan Tanya yang masih tidur pulas di ruang depan.


“Bagaimana dengan mereka berdua? Terlebih Anastasia. Dia masih 16 tahun”


“Dia terlalu kuat untuk anak seusianya”


“Tapi dia tetap butuh istirahat. Paling tidak satu hari. Kau tidak kasihan dengannya?”


“Sejujurnya, iya. Tapi dia tidak pernah kelihatan keberatan”


“Bukan, dia seperti tidak pernah menunjukkannya. Dia sudah mencapai batas dan memaksakan dirinya. Aku ini tentara dan aku paham tanda-tandanya”


Edgar meminum tehnya sampai habis setelah mengatakan hal itu.


“Kalau kau masuk bertemu dengan Gregory sekarang, itu tidak masalah. Aku ikut”


“Asal jangan pergi hari ini juga. Begitu kan maksudmu?” tanyaku.


“Ya, seperti itu. Kalau kau tahu kemana akan pergi,pergi besok pun tidak jadi masalah. Kita semua berjalan dari utara sampai ke timur kurang dari satu bulan. Kita berjalan tanpa henti, merasa kalau kita kuat melakukannya. Dan itu memang benar, kita kuat, tapi kita lupa kalau kita punya batasan”


Aku mengerti. Aku meminum tehku yang sudah agak dingin, maksudnya sudah berkurang panasnya. Sementara teh milik Edgar sudah habis.


“Claire masih diluar?”


“Ya, merokok. Dia sudah menghabiskan dua batang. Mungkin sekarang sudah lebih”


“Wanita itu tidak bisa dikontrol kalau merokok. Dia bawa satu bungkus kan?”


“Ya. Satu bungkus rokok, penuh”


“Kalau begitu, dia bisa menghabiskannya”


Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak pernah menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari tapi menurut Edgar tadi, sepertinya Claire bisa menghabiskan satu bungkus rokok hanya dalam beberapa jam.


Edgar meninggalkanku di ruang makan, menuju kamar mandi. Sendirian disini membuatku jadi memikirkan kata-kata Edgar tadi. Mungkin benar, kita butuh istirahat satu hari disini. Kalau hanya aku, mungkin aku akan terus berjalan tiap hari, tanpa memikirkan rasa lelah. Tapi tidak semua orang bisa begitu disini, terutama Anastasia dan Tanya.


...........................................................................................................


“Mau apa kau kesini?”


Edgar malah mengarahkan mobil ke balai kota kemarin, tempat pertama yang kita kunjungi di Kazan.


“Mungkin aku bisa menemukan Ruslan disini”


“Kau masih dendam dengannya ya? Sayang sekali kau tidak bisa mengencingi wajahnya”


“Aku masih bisa meludahinya”


Sayangnya, begitu kami masuk, ruangannya kosong. Tidak ada orang, tidak ada Ruslan. Aku bisa lihat kalau Edgar sangat kesal. Dia segera keluar dari ruangan ini dan saat matanya melihat seseorang, dia hampiri orang itu, masih dengan perasaan kesal.


“Kau lihat Ruslan?”


“Ada perlu apa antara kau dan Ruslan?” tanya orang itu.


“Jawab saja pertanyaanku! Dimana Ruslan?”


“Kalau kau tidak berkepentingan, aku tidak akan memberitahumu” jawabnya.


Edgar menarik kerah baju orang itu, aku hanya melihat dari jauh karena ini bukan masalahku.


“Dengar, kau tidak ikut perburuan serigala kemarin kan?”


“Aku tidak pernah melakukannya. Aku hanya orang bagian arsip”


“Kalau begitu dimana Ruslan? Orang licik itu pergi begitu saja kemarin”


“Sudah kubilang kalau aku tidak mau memberitahumu!”


Kesabaran Edgar sudah habis. Dengan sekuat tenaga, Edgar mengangkat orang itu lalu membantingnya ke lantai dengan sekuat tenaganya. Sebelum orang itu berdiri, Edgar menginjak kepala orang itu dengan sepatu boot tentaranya.


“Katakan atau wajahmu hancur”


“Ba... baiklah. Aku akan mengatakanya!”


Edgar mengangkat kakinya. Tapi langsung mengincar bagian lain. Kali ini tulang kering orang itu yang jadi sasaran Edgar. Edgar seperti tahu kalau orang itu akan melarikan diri dan dia sudah bisa mengantisipasinya.


“Katakan dimana!”


“Ruslan... dia pergi ke tempat Gregory. Sejak pagi dia sudah pergi kesana”


Edgar menginjak tulang kering pria itu lebih dalam, membuat pria itu berteriak kesakitan. Setelah puas, Edgar mengangkat kakinya, tidak lagi menginjak tulang kering pria itu.


“Terima kasih atas kerjasamanya”


Edgar memberi isyarat padaku untuk segera pergi dari tempat ini. Kami menuju ke mobil dan tancap gas menuju tempat Gregory. Tidak terlalu jauh. Kami sampai dalam waktu kurang dari 40 menit.


Kami disambut lima orang lengkap dengan AK-47. Salah seorang dari mereka adalah penjaga yang waktu itu, aku ingat wajahnya. Orang itu memberi isyarat pada rekannya untuk mundur dan membiarkan kami masuk.


Kami segera menuju ke ruangan Gregory, tanpa ada satu pun penjaga yang mengawasi kami. Mungkin karena kami berdua tidak membawa senjata apapun, mereka membiarkan kami berdua masuk dengan bebas.


Aku membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk sekalipun. Di dalam, seperti dugaanku, ada Gregpry dan Ruslan. Edgar segera berjalan ke arah Ruslan dan menarik kerah bajunya, tapi tidak ada wajah panik di waha Ruslan.


“Dimana kau kemarin?”


“Santai kawan. Kenapa kau tidak duduk dulu?”


Aku menepuk bahu Edgar. Dia mengerti maksudku dan dengan setengah hati, Edgar melepaskan Ruslan.


“Duduklah! Kita bicara santai disini” Kata-kata Gregory ini membuatku muak.


“Santai? Baiklah. Sesuai maumu”


Aku duduk di sofa yang ada di ruangan ini. Aku menuruti kata-kata Gregory karena aku pikir akan lebih mudah untuk menurutinya.


“Sekarang, waktunya kesepakatan kan?” Gregory membakar cerutunya dan mulai merokok.


“Aku harap kau tidak mengingkari kata-katamu kemarin” kata Edgar.


“Tenang, kami orang Rusia tidak suka ingkar janji seperti orang Amerika kebanyakan”


Aku yakin kalimat itu membuat Edgar makin kesal. Kalau dia membawa pistol, mungkin sudah ada dua lubang rapih di dahi Gregory dan Ruslan.


“Baiklah, aku akan memberitahu semua yang aku tahu”


Gregory menghisap cerutunya dalam-dalam lalu menaruhnya begitu saja di asbak.


“Aku mulai dari akhir tahun 2019. Virus berbahaya menyebar di China, tepatnya di Wuhan. Awalnya tidak ada yang menganggap kalau virus itu berbahaya, semua orang masih santai waktu itu. Tapi, diketahui kalau virus itu masuk kesini pada awal tahun 2020. Virus yang sama dengan yang terjadi di Wuhan. Sayang sekali, meski ilmuwan kami berusaha menemukan vaksin yang tepat, semua itu sudah terlambat. Virus itu menyebar dengan cepat di barat. Penyebarannya begitu cepat sampai satu kota bisa terinfeksi dalam waktu kurang dari satu bulan. Mereka menyebar lewat udara dan menempel di berbagai benda. Bisa dibilang, virus ini bermutasi dan jadi lebih kuat dan berbahaya”


Gregory memotong kalimatnya hanya untuk minum seteguk air.


“Aku lanjutkan. Karena penyebaran virus itu sangat cepat dan hampir tidak tertangani oleh semua jenis obat, GRU mencanangkan sebuah program khusus bernama Uborka. Singkatnya adalah, bagaimana cara menghentikan virus itu dengan cepat. Meski berasal dari China, virus itu sama sekali tidak menjangkiti wilayah timur Rusia, dan itu prioritas kami. Bagaimana caranya agar virus itu tidak sampai ke timur. Awalnya, kami membangun tembok perbatasan di timur. Tidak boleh ada orang yang masuk ke timur dari perbatasan. Rencana ini sangat efektif. Tidak ada pendatang ke timur. Semua orang timur sehat”


“Lalu bagaimana dengan barat?” tanyaku. “Ketika timur dirasa stabil, dimulailah Uborka. Mungkin terdengar kejam dan tidak masuk akal, tapi rencana seperti itu disetujui oleh semua orang di pemerintahan. Presiden, legislatif, militer, semua setuju. Alasannya sederhana, tidak ada dokter yang tersisa di barat, dan tidak ada relawan yang mau kesana. Jadi, kami mulai mengebom kota-kota di barat. Nikel, Murmansk, Kondopoga, semuanya. Kami bahkan membuang dua rudal nuklir untuk wilayah yang paling parah. Satu kota yang kami sisakan adalah Moskow. Kau bilang keluargamu pergi kesana kan?


Aku mengangguk. Apapun yang dia katakan nanti, aku yakin bukan hal yang bagus.


“Setelah membom kota-kota itu, kami menyerukan semua orang itu pergi ke Moskow. Dan rencana kami sukses, meski tidak semua orang datang ke Moskow. Populasi di Moskow mendadak penuh kurang dari sebulan. Karena itu, kami yakin untuk menjalankan tahap akhir dari Uborka. Kami cabut status darurat dan karantina. Kami perintahkan semua orang berkumpul di Lapangan Merah, di lapangan Basilika Santo Petrus. Kami katakan pada mereka kalau akhir penderitaan sudah dekat. Tidak akan ada lagi virus, tidak akan ada lagi penyakit. Kita semua akan sembuh. Dan propaganda itu berjalan sukses”


Aku menggeram. Aku tahu seperti apa akhirnya.


“Dan saat mereka berkumpul, rencananya dimulai. Militer mulai mengepung kerumunan orang. Lalu mulai menembaki semua orang yang ada disana, tanpa terkecuali. Siapa yang bisa membedakan mana yang sehat dan sakit disaat seperti itu? Yang jelas, setelah itu Moskow jadi seperti “Manusia memburu Manusia”. Semua yang berhasil kabur dari sana akan dikejar kemana pun juga. Tank-tank dikerahkan di jalan, menembaki rumah, gedung, atau apapun. Kami memastikan semua warga sipil yang datang mati disana. Dan begitulah. Selama seminggu, Moskow dibersihkan. Yang hidup hanya pasukan militer. Mayat ada dimana-mana. Tidak ada yang tersisa, aku yakin. Uborka sukses dijalankan.


Sukses ya? Memang benar...


“Ya, kalian sukses membunuh semua orang Rusia” kataku. “Tidak. Tidak semua. Kami melakukan ini agar virus itu tidak berkembang lebih jauh. Dan kami berhasil. Setelah Pembersihan Moskow, kami sepakat meninggalkan wilayah barat. Kami hapus wilayah itu dari peta. Rusia Baru membentang di Timur. Itulah Rusia yang sekarang. Aku sendiri memilih tinggal di Kazan dengan orang-orang yang tersisa. Meski aku yang mencanangkan Uborka, tapi bagiku, Rusia sudah tamat. Yang mereka bangun pasti berbeda dengan Rusia yang dulu dan aku tidak menyukainya.”


Begitu ya... jadi itu alasan kenapa Gregory lebih memilih tinggal di Kazan.


“Kalau begitu, harusnya kau tidak melaksanakan proyek kejam semacam itu” kata Edgar. “Tidakkah kau sadar berapa juta orang yang kau bunuh hanya demi menyelamatkan setengah wilayah Timur Rusia yang aku tahu kalau wilayah ini sangat kosong dan tidak ada apa-apa disana” lanjutnya.


Gregory tersenyum, tertawa kecil. Begitu juga dengan Ruslan.


“Kau bilang kami ini kejam? Lalu bagaimana dengan yang negaramu lakukan 75 tahun yang lalu? Kau menggunakan nuklir, membunu ratusan juta orang dalam waktu kurang dari seminggu hanya demi menghentikan perang. Negaramu menjatuhkan nuklir di tengah-tengah kota dimana banya warga sipil disana, bukan ke wilayah militer. Belum lagi kejahatan yang kalian lakukan di Timur Tengah. Menurutmu, lebih kejam yang mana?”


Edgar diam. Ucapannya itu malah jadi bumerang baginya.


“Dan kau, sebagai orang Rusia, seharusnya kau membenarkan semua hal ini. Kalau hal seperti ini tidak kami lakukan, tidak ada lagi Rusia” kata Gregory.


“Setelah kau membunuh keluargaku, kenapa aku harus ada di pihak kalian?”


Gregory mengangguk mendengar kalimatku. Aku yakin sedang ada yang dia rencanakan sekarang. Entah apa itu, aku rasa bukan sesuatu yang baik.


“Baiklah. Kalian boleh pergi dari Kazan kalau kalian mau”


“Kami akan pergi. Kami tidak akan tinggal disini” kataku.


“Padahal aku harap kalian akan tinggal disini. Tidak ada jaminan kalian akan bertahan hidup diluar sana”


“Aku lebih baik mati di jalan dibanding hidup satu kota dengan orang sepertimu!”


Aku dan Edgar bangkit dari sofa lalu keluar dari ruangan Gregory. Semua ini sudah jelas. Tidak ada harapan lagi untuk menemukan keluargaku, atau keluarga Anastasia. Aku percaya sekarang kalau tidak ada yang selamat dari Moskow. Tidak ada yang akan selamat dari genosida seperti itu. Kini tujuan kami adalah Timur Jauh. Bagaimanapun caranya, kami harus sampai disana, secepat mungkin. Ibukota Rusia, Vladivostok. Itu tujuan kami selanjutnya.


Bersambung...