Pandemic

Pandemic
Para Penyintas dari Utara



23 September 2021


"Yuri, bangun..."


Begitu mataku terbuka, dua wanita yang ada di depanku tiba-tiba tersenyum. Kepalaku terasa sangat sakit, rasanya seperti habis dipukul dengan benda atau sesuatu dengan sangat keras.


"Akhirnya kamu sadar juga" seru wanita berambut pirang sebahu. "Berapa lama aku pingsan?" tanyaku.


Wanita tadi mengangkat tiga jarinya. Hah? Tiga hari? "Aku pingsan selama tiga hari ya.." kataku pelan. "Bukan tiga hari bodoh, hanya tiga jam" wanita itu buru-buru menyela ucapanku barusan.


Tiga jam dan rasanya seperti tidur yang sangat lama. Apa yang terjadi padaku sebenarnya? "Ohh Anastasia, kau harus sedikit mengurangi sifat menyebalkan itu" kata wanita yang satunya lagi.


"Ayolah Claire, tidak bisakah kau sedikit santai? Sedikit candaan bisa meredakan ketegangan otot" bela Anastasia. "Tapi tidak disaat seperti ini" jawab Claire ketus.


"Sudahlah!" aku melerai mereka. "Mendengar kalian berteriak begitu membuat kepalaku jadi makin sakit."


"Mau aku buatkan teh? Aku dapat beberapa kotak teh tadi. Aku juga dapat beberapa daging kaleng. Kau mau?" tawar Anastasia. "Teh saja. Aku tidak lapar" jawabku pelan.


Anastasia kemudian pergi sambil melempar senyuman. Claire pergi dari hadapanku, mengisi amunisi Makarov kesayangannya. Aku ingat semua yang terjadi sebelum aku pingsan. Ledakan itu, ledakan dari senjata tipe RPG yang ditembakkan oleh beberapa bandit sebelum mereka kabur.


"Kau yakin tidak lapar? Kita punya banyak daging kalengan" kata Claire tanpa menatapku. "Yah aku yakin tidak lapar. Aku makan nanti malam saja" jawabku.


"Ohh ayolah Yuri, kau sudah tiga hari ini kurang makan. Lihat badanmu itu yang jadi semakin kurus" kata Anastasia tiba-tiba sambil membawa segelas teh hangat. "Segelas teh sudah cukup untuk sekarang" kataku.


Teh hangat itu rasanya enak, cukup manis, meski disaat bersamaan rasanya jadi sedikit aneh karena wadah teh itu, kaleng bekas yang agak berkarat. Tidak apa-apa, aku belum pernah keracunan saat minum teh meski dalam wadah berkarat sekalipun. Justru teh pernah membuat keracunan makananku hilang.


"Dimana Edgar? Apa dia selamat dari serangan itu?" tanyaku. "Edgar? Dia baik-baik saja. Dia hanya terlempar beberapa meter. Dia sedang mencari sesuatu diluar. Doakan saja dia bisa kembali" jawab Claire datar.


"Nada bicaramu itu terdengar menyebalkan. Tidak bisakah kau membuat sedikit keceriaan di rumah tua ini?" protes Anastasia. "Terserah apa yang mau kau katakan. Aku mau istirahat di belakang!" balas Claire ketus.


Claire meninggalkan kami berdua. Rumah ini terdiri dari dua lantai yang beruntung masih bisa bertahan dari bencana itu. Claire biasa tidur dilantai dua, sekaligus bisa berjaga-jaga kalau ada bandit yang datang dari jauh. Senapan Dragunov miliknya selalu dalam kondisi penuh.


"Maafkan dia. Dia jadi begitu setelah satu lusin susu kalengnya dicuri oleh bandit" kata Anastasia. "Dan kau sendiri kadang seperti menggoda dia agar marah" timpalku.


Anastasia tertawa kecil mendengarnya. Jujur, gadis itu memang sedikit kekanak-kanakan di umurnya yang sudah 16 tahun. Tapi hanya dia yang bisa mencairkan suasana, apalagi saat tegang. Aku bertemu dengannya di sebuah apartemen di Murmansk, sedang memasak mie. Dia tidak curiga atau takut padaku dan malah membuat satu porsi lagi untukku. Saat itu aku belum bertemu dengan Claire dan Edgar.


"Ohh iya, terlepas dari senjata RPG itu, bandit tadi itu sangat bodoh. Mereka meninggalkan semua barang mereka. Aku bahkan menemukan banyak sekali peluru untuk AK47 kesayanganmu itu" terang Anastasia. "Lalu juga ada beberapa granat, 5 daging kaleng, 4 sereal kaleng, dua toples acar dan banyak lagi. Mereka sangat kaya sebelum kabur dari kita."


"Itu bagus. Aku sudah lama tidak makan acar setelah pergi dari Apatity" kataku. "Kita hanya kurang daging segar saja untuk membuat steak."


Anastasia mengangguk. Selama dua jam setelah itu aku sibuk mengisi amunisi AK47 milikku, sedangkan Anastasia juga membuat beberapa anak panah untuk busur silangnya. Hanya itu senjata yang dia kuasai. Mungkin besok aku harus mengajarinya menggunakan AKS.


Menjelang malam, aku membuat api unggun untuk penghangat. Edgar masih belum juga pulang. Kami bertiga jadi sedikit khawatir dengannya. Aku bahkan sampai tidak menyentuh sup kentalku.


"Makanlah. Jangan pikirkan Edgar!" kata Claire. "Edgar pasti kembali. Dia juga sudah pernah pergi sampai dua hari kan? Selain itu, aku rasa tidak ada bandit tersisa di kota ini" sambung Anastasia.


Aku mengangguk, tanpa menjawab perkataan mereka. Mereka terdengar begitu santai saat mengucapkan itu semua. Sebenarnya, aku juga kadang bersikap seperti itu. Tidak punya hati, tapi baru-baru ini saja nuraniku kembali.


Edgar dan Claire adalah anggota Navy Seals, grup militer elit asal AS. Malang bagi mereka, ketika pemerintah Rusia mengadakan latihan militer ditengah berlangsungnya pandemi, satu rudal balistik meluncur tepat ke Semenanjung Kola, membuat banyak anggota militer baik Rusia maupun AS tewas sia-sia. Edgar dan Claire beruntung bisa selamat, dengan beberapa orang lainnya. Hanya saja setelah itu, hanya mereka yang tersisa. Sebagian tentara AS tewas karena hipotermia, sementara itu yang tersisa dari tentara Rusia justru malah bunuh diri.


Sementara itu aku bertemu Anastasia di Murmansk. Saat pertama kali datang ke kota itu, aku terkejut karena kota itu benar-benar rapih. Tidak banyak bangunan hancur. Mungkin Murmansk selamat dari pengeboman besar-besaran yang dilakukan pemerintah Rusia. Tapi sama seperti Nikel, kota lamaku, Murmansk kosong. Yang aku temukan hanya sisa-sisa mayat yang sudah jadi tengkorak saja. Mungkin Anastasia adalah satu-satunya orang yang tinggal disana.


"Hei, kalau kau bengong terus begitu, supnya bisa-bisa sudah dingin sebelum kamu makan" ketus Claire memecahkan lamunanku.


Segera aku makan sup kentalku dan menghabiskannya dengan cepat. Adanya api unggun membuat rumah ini dari sedikit lebih terang dan hangat. Api juga mengusir hewan-hewan pengganggu seperti tikus dan ular yang jadi sedikit lebih besar dan menjijikan karena efek bom yang dijatuhkan pemerintah Rusia. Meski begitu, sudah dua hari ini kami di Segezha dan belum bertemu hewan-hewan itu. Yang kami temukan hanya bandit dan perampok.


"Apa tujuan kalian setelah ini?" tanyaku. "Aku? Aku akan cari jalan pulang ke Amerika. Tapi sebelum itu aku akan membunuh semua orang dalam militer, atau apapun yang meluncurkan rudal ke Kola. Sialan mereka!" jawab Claire ketus.


"Itu artinya sama seperti kau ingin membunuh orang Rusia kan?" tanya Anastasia. "Bukan bodoh! Aku hanya ingin membunuh orang-orang di pemerintahan saja. Asal kau tahu, yang mati bukan cuma Navy Seals, tapi juga banyak tentara Rusia" jawab Claire.


"Baiklah Claire, mungkin kau bisa menemukan beberapa orang di Moskow, kalau kota itu belum hancur. Satu tahun ini sudah tidak ada lagi rudal yang meluncur. Semua rudal itu berasal dari Moskow. Jumlah rudal milik Rusia terlalu banyak untuk mengebom negara ini sendiri" terangku.


"Kau tahu, kalau tidak ada embel-embel New Normal seperti yang digaungkan WHO, mungkin dunia tidak jadi seburuk ini. Aku juga pesimis masih ada yang bertahan, terutama setelah tanggal 20 Januari 2021" kataku.


Ya, aku ingat semua dan tanggal-tanggal itu. Akhir tahun 2019, sebuah virus berbahaya muncul di Wuhan dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Mereka menyebut virus itu dengan COVID-19, atau Corona. Segera virus itu jadi pandemi, hampir tidak ada yang lolos.


Awal tahun 2020, virus itu mulai mereda karena PBB mengeluarkan kebijakan karantina. Penyebaran virus jadi terhambat dan mulai banyak orang sembuh, meski sebenarnya kebijakan ini agak terlambat bagi beberapa negara. Itali keburu kehilangan lebih dari 20.000 warganya yang tewas karena virus ini.


Tapi hal bodoh segera terjadi pertengahan tahun 2020. Kebijakan karantina mulai melonggar. Penyebaran virusnya memang terhambat, tapi bukan berarti tidak ada yang terinfeksi. WHO melakukan kebijakan New Normal yang akhirnya malah menyebabkan gelombang kedua penyebaran virus itu. Rusia jadi negara yang paling cepat penyebarannya, terutama di wilayah barat. Di Nikel, hampir tidak ada yang tidak terjangkit virus itu.


Awal Desember 2020, rudal pertama jatuh di Severodinsk. Bodohnya, target utama mereka adalah rumah sakit dan pusat-pusat karantina lainnya. Mereka berpikir kalau para dokter bisa terpapar wabah, karena itu mereka juga membunuh para dokter.


Tapi mereka salah...


Membom rumah sakit adalah tindakan bodoh. Keesokan harinya aku ingat kalau tidak ada lagi yang sehat di Severodinsk. Rumah sakit hancur, tidak ada dokter, segera mayat-mayat memenuhi Severodinsk. Tapi pemerintah Rusia seakan tutup mata. Mengetahui keadaan yang ada, rudal lainnya kembali menghantam Severodinsk, dan kota itu benar-benar hancur.


Setelah itu kota-kota lain mulai menyusul. Krasnodar adalah kota kedua yang dibom, lalu Pechenga. Januari 2021, rudal nuklir pertama jatuh di Yekaterinburg, dan rudal kedua jatuh di Stalingrad. Semakin hari semakin banyak rudal balistik dan nuklir yang jatuh di Rusia, terutama di wilayah barat dan utara. Nikel sendiri dibom pada awal Februari 2021.


"Kalau kau sendiri, apa tujuanmu?" tanya Claire padaku. "Aku? Mencari anak dan istriku. Terakhir kali aku melihat mereka pada bulan Desember 2020. Saat itu mereka ingin pergi ke Saint Petersburg. Entah mereka masih hidup atau tidak, yang jelas aku belum mendengar kalau kota itu dibom" jawabku.


"Kita beruntung kalau bisa sampai lebih ke selatan. Kurasa wilayah selatan jauh lebih aman sekarang" kata Anastasia. "Tapi yang perlu kau ingat adalah banyak orang-orang yang pergi ke perbatasan lewat selatan, dan bisa saja mereka membawa virus. Tidak ada jaminan kalau wilayah di selatan aman dari virus. Tapi setidaknya, kota-kota di selatan mungkin masih berdiri" timpalku.


"Ada jalan lurus menuju Saint Petersburg dari sini. Kita bisa sampai kesana dalam 2-3 hari kalau kita punya kendaraan" kata Anastasia. "Aku belum memeriksa semua kota ini, terlalu besar. Tapi mungkin ada kendaraan yang bisa kita gunakan. Itupun kalau bahan bakarnya masih ada" kata Claire.


"Biar aku saja yang cari besok. Malam-malam seperti ini berbahaya kalau kita keluar. Amunisi AK47 milikku hanya tersisa 60, dan anak panahmu juga tinggal sedikit kan?" kataku sambil menunjuk ke arah Anastasia. "Yah... tinggal 50. Kalau ada bandit mungkin tidak akan cukup" jawabnya.


Mendengar ucapanku itu, Anastasia langsung merebahkan badannya. Mungkin dia lelah, atau senang karena aku tidak mengajaknya pergi keluar malam-malam begini. Aku menyuruh Claire untuk tidur. Aku sama sekali tidak mengantuk. Jadi aku habiskan malam ini untuk berjaga.


Bersambung....