Pandemic

Pandemic
Makhluk Aneh dari Saint Petersburg



20.15


Kami sampai di Saint Petersburg. Tidak seperti kota-kota yang lain, kota ini tampaknya tidak mati. Lampu-lampu jalan masih menyala. Meski begitu, kami tidak melihat siapapun di jalan.


"Hei, kau masih ingat apa yang kau cari disini kan?" teriak Claire dari belakang. "Tentu. 5-Ya Sovetskaya Ullitsa, dekat Pyaterochka. Rumah ibuku ada disana" jawabku.


"Aku rasa masih ada yang hidup disini" kata Edgar. "Kau bisa anggap itu sebagai keuntungan, atau ancaman. Bisa saja orang-orang disini juga mengincar barang-barang kita seperti yang sudah-sudah" kata Claire sinis.


"Ucapanmu itu terdengar seperti merendahkan orang Rusia, Claire. Bisa kau sedikit melembutkan ucapanmu itu?" kata Edgar. "Dan kenapa kau masih bisa bersikap seperti itu setelah kejadian di Kola? Aku kehilangan teman-temanku disana" kata Claire.


"Teman-teman kita. Bukan hanya temanmu saja yang mati, tapi temanku juga. Tapi untukku, itu tidak masalah. Kita semua juga nanti akan mati" kata Edgar.


"Kalian para tentara bisa bertengkar juga ya" celetukku. "Kalau kalian teriak-teriak begitu, kalian bisa mengganggu anak kecil ini" lanjutku.


Ya. Aku tidak ingin Anastasia terganggu hanya karena umpatan-umpatan mereka berdua. Aneh, aku tidak merasa berat atau sakit di punggungku. Mungkin karena sering membawa banyak barang membuat tubuhku terbiasa.


"Itu Pyaterochka?" tanya Claire sambil menunjuk sebuah toko. "Ya, itu Pyaterochka. Tapi kelihatannya tidak terawat. Ini aneh" kataku.


Toko itu seperti bangunan tidak terawat. Ini aneh. Padahal aku yakin kalau masih ada orang di tempat ini. Jalan-jalannya masih terang karena lampu jalan, bahkan beberapa lampu gedung masih menyala.


"Perasaanku mulai tidak enak. Lebih baik ke rumah ibumu sekarang!" kata Edgar.


Hanya perlu satu belokan dan kami sampai di rumah ibuku. Kelihatannya masih terawat, ya masih terawat. Edgar maju lebih dulu untuk mencoba pintunya. Tapi, sial, terkunci.


"Kau yakin mereka ada di dalam kan?" kata Edgar. "Tentu. Rumah ini masih terawat, tidak seperti toko tadi. Berarti keluargaku ada disana" jawabku.


"Tapi masalahnya...pintunya terkunci" kata Edgar terus berusaha membuka pintunya.


"Minggir!"


Aku mengetuk pintunya perlahan. "Nina! Ini aku sayang. Ayo buka pintunya!" kataku. Tapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Nina itu nama istrimu?" tanya Nina Akhatova. Wanita dari Nikel. Ya, dia istriku" jawabku.


Aku terus memanggil nama istriku. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. Usahaku itu malah membangunkan Anastasia.


"Kita dimana?" tanya dia. "Saint Petersburg. Kita sampai di Saint Petersburg" jawabku.


Anastasia memintaku untuk menurunkannya. Aku melakukannya dengan perlahan, kuingat kakinya yang terluka itu.


"Kurasa kita harus mendobrak pintunya" kata Edgar. Tanpa menunggu persetujuanku Edgar menendang pintu rumah dengan sangat keras. Pintunya terbuka tapi aku tidak melihat siapapun di dalam.


"Rumah ini kosong" kata Edgar. "Kau benar-benar yakin ini rumahmu kan?" lanjutnya. "Aku sangat yakin ini rumahku" kataku.


"Mungkin keluargamu sudah pergi dari sini" kata Claire.


Mendengar ucapan Claire, aku segera menelusuri semua ruangan disini. Aku mulai dari kamar orangtuaku. Tidak dikunci, tapi kosong. Tidak ada catatan atau petunjuk kemana mereka pergi. Hanya saja kamar orang tuaku sangat rapih. Bahkan pakaian bantal dan gulingnya saja masih tersusun. Tapi begitulah, tidak ada petunjuk disini.


Aku pindah ke kamar yang biasa dipakai oleh istriku saat menginap disini. Kondisinya sama, rapih. Selain foto-foto keluarga kami, aku menemukan satu buku di meja rias. Aku membukanya. Beberapa halaman pertama penuh dengan gambar-gambar tidak jelas dari pulpen. Ohh ini pasti dibuat oleh anakku. Setelah membalik halaman cukup banyak, ada satu catatan yang cukup panjang.


"Anakku menangis mendengarnya. Mataku sendiri tidak percaya saat melihatnya. Siang hari tadi, belasan pesawat jet tempur terbang di langit Saint Petersburg hari ini. Mereka datang dari arah utara, tapi ini aneh karena pangkalan militer ada di Moskow.


Tapi berita malam hari membuatku kaget. Rusia membom Semenanjung Kola. Ada apa ini? Aku kira hanya kota-kota yang terinfeksi saja yang dibom. Tapi ternyata tidak."


Catatan ini pasti ditulis tanggal 15 atau 16 Januari, pikirku. Tidak ada catatan lagi. Hanya ada halaman kosong. Tapi kemana keluargaku pergi?


Aku keluar dari kamar dan bergabung dengan Edgar, Claire, dan Anastasia. Mereka duduk di ruang depan. Lampu rumah ini masih berfungsi baik.


"Tidak ada yang kau temukan?" tanya Edgar. "Hanya catatan istriku yang menceritakan pengeboman Kola. Pesawat-pesawat yang membom kalian, terbang melewati kota ini" jawabku.


"Itu tidak penting. Itu sudah lama terjadi, hampir satu tahun. Tidak ada gunanya" kata Claire. "Apa tidak ada ruangan lain yang mungkin menyimpan petunjuk?" tanya Edgar.


"Rumah ini punya ruang bawah tanah. Haruskah aku memeriksanya juga?" tanyaku. "Kau tahu, kadang ada yang bisa kau ditemukan di ruang bawah tanah" jawab Edgar.


Aku setuju. Kali ini aku ditemani Edgar ke ruang bawah tanah. Lampu depannya masih menyala dan beda dengan dua kamar tadi, ruang bawah tanah tidak terkunci. Pintu kayunya sedikit terbuka. Tapi lampunya mati jadi aku harus menyalakan senter saat masuk kesana.


"Ini berantakan" kataku. Ruangan ini benar-benar berantakan. Aku lihat beberapa botol bekas dan bekas kaleng makanan berserakan di lantai. "Sepertinya keluargamu sempat bersembunyi disini" kata Edgar.


Aku menelusuri ruang kecil ini. Aku menemukan beberapa lembar kertas di atas meja. Salah satunya ada catatan...


"Ini mengerikan. Kolpino dibom. Itu kurang 30km dari sini. Sepertinya aku harus pergi ke Moskow. Aku harap suamiku membaca surat ini, dia akan tahu kemana kami pergi."


"Menemukan sesuatu?" tanya Edgar. "Keluargaku pergi ke Moskow. Sama seperti catatan Dokter Aleksander, semua orang pergi ke Moskow, kecuali sebagian kecil" jawabku.


"Kau tidak tahu apa yang di Moskow?" tanya Edgar. "Tidak. Sama sekali tidak. Yang aku tahu, Moskow adalah tempat darimana rudal-rudal itu berasal" jawabku.


"Mungkin orang-orang yang pergi kesana berharap mereka selamat dari rudal itu" kata Edgar. "Ya, kau benar. Kita harus ke Moskow" kataku.


Sebelum kami keluar dari ruang bawah tanah, Edgar memeriksa bawah kolong meja dan menemuka M153. Itu milik kakekku, pasti.


"Keluargamu punya senjata yang bagus ya" kata Edgar. "Aku kira senjata itu tidak ada disini" kataku.


Kami berdua keluar dari sana dan menjumpai Claire dan Anastasia di dapur. "Masih ada makanannya?" tanyaku.


"Seharusnya kau mengecek ini dulu sebelum masuk ke bawah sana" kata Anastasia. "Beberapa kotak teh, kornet, sarden. Hey, bagaimana caranya kita memasak sarden nanti?" kata Claire.


"Ambil saja yang kalian dapatkan! Nanti juga ada gunanya" kata Edgar. "Baiklah baiklah. Aku hanya bertanya saja" kata Claire.


Aku mencoba menyalakan kompor dan ternyata masih berfungsi. Rumah ku benar-benar terawat, bahkan tidak ada yang rusak (kecuali pintu ruang bawah tanah). "Kau bisa memasak sarden sekarang" kataku pada Claire.


"Dan sebaiknya kita istirahat malam ini. Besok kita ke Moskow, dengan berjalan kaki" kataku. "Apa keluargamu kesana juga?" tanya Anastasia.


"Ya. Sama seperti catatan Dokter Aleksander waktu itu. Hampir semua orang pergi ke Moskow. Kita harus kesana juga. Mungkin aku bisa menemukan keluargaku dan kau bisa bertemu orangtuamu" kataku.


"Kalau kita berjalan kaki, kita berangkat sekarang saja. Terlalu lama kalau menunggu besok pagi" kata Anastasia. "Tidak. Kalian butuh istirahat. Kita tunggu sampai besok pagi" kataku.


Anastasia merengut kesal. Aku tahu dia sangat ingin bertemu orangtuanya tapi kita semua butuh istirahat. Setelah perjalanan tanpa henti dari Petrozavodsk, istirahat adalah satu-satunya hal yang kami butuhkan.


"Baiklah. Aku akan tidur lagi, kalau aku bisa tidur" kata Anastasia. "Setidaknya kau harus mengistirahatkan kakimu itu. Kakimu terluka kan? Kalau dipaksakan berjalan, kakimu bisa lebih buruk lagi" kata Edgar.


"Kalau Moskow masih bertahan, mungkin aku bisa pulang" kata Claire. "Berharap saja begitu. Meski Moskow bertahan, bukan berarti segala hal disana baik-baik saja" kataku.


"Yang penting aku bisa kembali ke Amerika bagaimanapun caranya" kata Claire. "Tapi Rusia bukan tempat yang buruk untuk mati" sahut Edgar.


Claire menatap tajam ke arah Edgar. "Kalau kau mau mati disini, mati sendiri saja. Aku tidak mau" kata Claire. "Hentikan! Lebih baik kalian tidur daripada terus bertengkar seperti itu!" kataku.


Edgar dan Claire kompak menatapku. Aku meninggalkan mereka berdua, menuju ke kamarku. Aku lihat foto istri dan anakku. Aku merindukan mereka berdua. Aku harus menemukan mereka, ya itu harus. Bagaimanapun caranya. Selama ada petunjuk, aku yakin bisa menemukan mereka.


.........................


Sialnya, aku tidak bisa tidur. Aku terus terjaga, memikirkan anak dan istriku. Mungkin sekarang sudah tanggal 25 September. Aku keluar kamar, melihat Edgar, Claire, dan Anastasia yang kompak tidur di ruang depan. Aneh, padahal masih ada satu kamar lagi yang kosong.


"Kau tidak tidur lagi ya?"


Tiba-tiba Anastasia terbangun. "Kau menyuruh kami untuk tidur tapi kau sendiri tidak tidur. Itu curang" katanya. "Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur" kataku.


"Lalu apa yang mau kau lakukan?" tanya Anastasia. "Aku berpikir untuk berkeliling sekitar sini. Mungkin ada orang yang masih selamat, atau mungkin aku bisa menemukan beberapa barang berguna disini" jawabku.


"Kalau kau mau melakukannya, aku ikut" kata Anastasia. "Kalau kakimu tidak terluka begitu pasti sudah aku ajak" kataku.


"Ayolah! Ini kan hanya luka kecil" protes Anastasia. "Kau ini kadang berlebihan ya!" lanjutnya.


"Huh...baiklah, kau boleh ikut. Bawa tas kosong dan jangan lupa busurmu itu" kataku. Anastasia langsung melompat dari sofa dan mengambil tas dan busurnya. Sebelum kami keluar rumah, dia mengisi penuh busurnya untuk berjaga-jaga. Sedangkan aku meninggalkan AK-47 di rumah, hanya membawa pistol tipe Glock.


Tujuan pertama kami adalah Pyaterochka. Pintunya agak terbuka. Aku menendang pintunya dengan keras dan usahaku berhasil. Kami mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Toserba seperti ini kadang jadi seperti surga bagi penyintas seperti kami. Aku menemukan banyak sekali air mineral, tapi aku hanya mengambil sampai setengah isi tas ku. Selanjutnya beberapa makanan kaleng, sereal, dan beberapa bungkus mie instan. Anastasia sendiri mengambil beberapa baterai dan obat-obatan (tentunya obat-obatan yang masih bisa digunakan).


"Sudah lebih dari cukup" kataku. "Kita sisakan untuk mereka berdua" lanjutku.


Saat kami hendak keluar dari toko itu, mata ku melihat sesuatu yang tidak asing. Ya, tidak salah lagi. Itu manusia, masih bernafas. Jarakku dengan orang itu tidak terlalu jauh, kurang dari 10 meter. Aku tidak berani mendekat, bisa saja dia bandit.


"Hei, kau baik-baik saja?"


Orang itu tidak menjawab. Aku mengambil senter yang ada di saku celanaku dan mengarahkan ke orang itu. Lusuh, sama seperti kita berdua.


"Kau baik-baik saja tuan?"


Orang itu berdiri. Sejenak ada rasa lega di hatiku karena akhirnya aku menemui orang lain di Saint Petersburg. Tapi, itu hanya sebentar. Ketika orang itu membalikkan wajahnya, semua jadi bencana...


"Tuhan! Makhluk apa lagi ini?"


Wajah orang itu penuh luka, dengan mata yang seluruhnya berwarna putih. Bentuk tangannya berbeda, dengan jari yang lebih panjang dengan kuku tangan yang panjang juga. Orang itu lebih mirip zombie daripada manusia hidup.


Aku dan Anastasia mundur perlahan. Makhluk itu hanya menatap kami. Aku lihat tangannya seperti meraba-raba saku celananya. Itu pisau. Dia mengambil pisau yang agak karatan dari saku celananya.


"Kau bisa lari kan?" bisikku pada Anastasia. "Mungkin. Akan aku paksa kalau memang harus berlari" jawabnya.


Makhluk itu berjalan mendekati kami. Mulutnya terbuka dan mengeluarkan air liur, tapi berwarna hijau. Aku yakin dia sama seperti serigala yang kutemui di Petrozavodsk, dan bermutasi karena virus itu.


GRAAAA!!!!!


Makhluk itu berteriak dan berlari ke arah kami. Beruntung kami berdua berhasil menghindar dari serangan pisaunya. Makhluk itu melihat kearah ku, bersiap untuk serangan berikutnya.


TUUSS!!!


Belum sempat dia berjalan kearah ku, satu anak panah menembus tepat leher makhluk itu. Darah segera mengucur dari lehernya, bercampur nanah yang hampir membuatku muntah saat melihatnya.


Tapi, makhluk itu tidak mati. Dia malah berbalik dan berjalan ke arah Anastasia. Dengan cepat aku menembak kepala makhluk itu, tapi dia tetap tidak mati. Anastasia juga menembak makhluk itu dengan busur silangnya, tapi makhluk itu terus berjalan kearah gadis itu dan hampir membuatnya terpojok.


DOOORR!!!


Dengan tepat aku mengenai leher makhluk itu. Usahaku berhasil. Makhluk itu terjatuh dan mengeluarkan darah sangat banyak. Aku segera berlari kearah Anastasia dan menariknya keluar dari toko itu. Aku bisa lihat wajahnya pucat, sangat pucat.


"Kau baik-baik saja kan?" tanyaku. Anastasia mengangguk. Aku menyodorkan sebotol air padanya. Anastasia menghabiskannya, satu botol, sekali minum. "Makhluk apa itu tadi?" tanya Anastasia, suaranya agak bergetar.


"Aku tidak tahu. Yang jelas, makhluk itu sama seperti kita, manusia. Infeksi virus itu mungkin membuat mereka jadi sesuatu yang lain" kataku. "Yang jelas, kita harus segera pergi dari sini!" lanjutku.


Anastasia mengangguk. Dengan cepat kami berlari ke rumahku, dan tanpa sengaja mendobrak pintunya, hingga membuat Edgar dan Claire bangun.


"Apa-apaan kalian ini?" teriak Claire. "Kita harus pergi! Sekarang!" kataku.


Claire melongok keluar rumah dan dengan cepat menutup pintu rumah. "Makhluk apa itu?" tanya Claire. Dia juga panik. "Entah. Mungkin sama seperti serigala itu, mutasi" jawabku.


"Itu lebih mirip zombie daripada manusia hidup" kata Claire. "Tidak. Mereka manusia hidup. Infeksi virus membuat mereka jadi seperti itu" kataku.


"Apapun itu, kita harus melawan mereka dan pergi dari sini" kata Edgar. MP5 sudah siap di tangannya. "Dan cari kendaraan. Kita butuh itu" lanjut Edgar.


"Ada hotel di dekat sini. Kita bisa berlindung disana" kataku. "Kalau begitu, ayo kita lakukan. Claire, kau bisa gunakan M153 kan?" tanya Edgar.


Claire mendecak cukup keras. "Berikan saja senjatanya dan biarkan aku lakukan sisanya" kata Claire.


Edgar melempar M153 ke Claire. Dengan hati-hati kami berempat keluar dari rumah. Grand Hotel Emerald hanya berbeda satu jalan. Ada beberapa makhluk aneh itu di jalan.


"Kalau kita tidak berisik, kita bisa selamat dari makhluk itu" kata Anastasia. "Claire, kau lari depan. Yuri dan Anastasia ikuti Claire dan aku akan melindungi kalian dari belakang" kata Edgar.


Aku mengangguk. Aku dan Anastasia berlari di belakang Claire diikuti Edgar di belakang. Kami berusaha tidak membuat suara agar makhluk aneh itu tidak menyadari keberadaan kami.


Kami berhasil. Tinggal beberapa langkah lagi kami sampai di tujuan kami. Namun, hal yang tidak kami inginkan terjadi juga.


"Kawan, sepertinya hotel kita sudah dipesan."


Tepat di depan hotel itu, ada lebih dari satu lusin makhluk aneh itu. Mereka semua menyadari keberadaan kami dan seperti ingin memakan kami.


"Kita harus berperang sekarang, Yuri."


Bersambung...