Pandemic

Pandemic
Jalan Panjang ke Moskow



"Haruskah kita tetap kesana?" tanya Claire. Kami berhasil kabur setelah Edgar mengorbankan satu-satunya granat asap yang tersisa. "Kau mau kendaraan? Disanalah tempatnya" jawabku.


"Makhluk itu ada belasan. Belum lagi yang bisa datang kalau kita membuat keributan. Kita harus cari jalan lain" kata Claire.


"Kita harus membunuh mereka tanpa menimbulkan suara. Atau tanpa terlihat oleh mereka yang lain" kata Anastasia. "Ugh! Kalian ini menyebalkan ya" umpat Claire.


Claire memasang suppressor pada Dragunov miliknya dan mengambil posisi menembak. "Kalau ini habis, aku hanya punya 4 magazin lagi. Jadi aku harap kalian temukan tambahannya" kata Claire.


Claire menarik pelatuknya, satu makhluk jatuh. Sebuah tembakan tepat di kepala dan membuat kepala makhluk itu pecah. "Dasar makhluk lemah!" umpat Claire.


Satu lagi jatuh, begitu seterusnya sampai amunisi Dragunov-nya habis. "Sisa satu. Kalian saja yang bunuh" kata Claire.


"Biar aku."


Anastasia segera menembak makhluk yang tersisa itu dan tepat menusuk jantungnya. Makhluk itu jatuh perlahan. Mati.


"Ayo pergi!"


Kali ini Edgar di depan dan kami mengikutinya dari belakang. Kami sampai di hotel, akhirnya. Sama dengan tempat-tempat lainnya, hotel ini berantakan. Seperti ada yang terjadi di hotel ini.


"Apa yang bisa kita temukan disini?" tanya Claire. "Aku hanya ingin cari kendaraan di tempat parkir. Aku yakin pasti masih ada yang berfungsi" jawabku.


"Lebih cepat kita temukan kendaraannya, lebih cepat kita pergi dari sini" kata Edgar.


Tempat parkir itu ada di basement dan ada beberapa ruangan yang perlu kami lewati. Tidak akan mudah sepertinya meningkat tempat ini berantakan bahkan ada beberapa meja di tengah-tengah jalan. Memasuki lobby hotel, keadaannya lebih berantakan. Bahkan ada melihat ada bercak darah dimana-mana.


"Siapkan senjata kalian! Mungkin ada lebih banyak makhluk aneh disini" kataku. "Kau gila! Kau menyuruh kami kesini dan kau bilang kalau ada makhluk menjijikan itu disini?" umpat Claire kesal.


Aku mengangguk. "Masa bodolah! Kalau makhluk itu muncul aku akan segera membunuhnya dengan tanganku sendiri" kata Claire.


Bulu kudukku berdiri, sedikit. Genggamanku pada AK-47 semakin kuat. Aku pertajam telingaku untuk berjaga-jaga. Mungkin mereka semua sama sepertiku.


Kami tidak menemukan apa-apa di lobby. Kami turun ke bawah, ke arah tempat parkir. Sayangnya, tempat menuju kesana sangat gelap. Lampunya mati jadi aku harus menyalakan senter saat aku turun kesana.


"Bau" kata Anastasia. Bau itu tidak asing bagiku, dan tentunya oleh yang lain. Bau itu, darah. Bau anyir memenuhi jalan ke tempat parkir. "Tidak ada bercak darah disini, tapi bau darah ada dimana-mana" kata Anastasia.


Tapi tetap saja kami tidak menemui apapun. Hanya bau darah saja. Bukan hanya di tempat itu saja, bau itu juga tercium saat kami sampai di tempat parkir.


Tanpa pikir panjang lagi, kami segera menuju ke mobil Volvo XC90 yang ada di depan kami. Pintunya terkunci, tentu saja. Edgar segera memecahkan kaca depan mobil itu dengan MP5 miliknya dan berhasil membuka pintu mobil dari dalam.


"Sayangnya tidak ada kunci mobilnya" kata Edgar. Aku mencoba kunci letter T yang biasa aku pakai untuk membobol lubang kunci kendaraan (sama seperti yang aku lakukan dengan dua kendaraan sebelumnya). Kali ini agak cukup susah membobolnya tapi aku berhasil. Mobil itu masih berfungsi.


"Bagus. Ayo kita segera..."


Belum selesai aku bicara, satu makhluk aneh itu muncul tak jauh di depan kami. Dengan cepat Edgar menembak makhluk itu. Butuh lima tembakan hingga makhluk itu jatuh dan mati di tanah.


"Lebih cepat kita pergi maka lebih baik" kata Edgar.


Kami berempat segera masuk ke mobil. Tancap gas, itu yang ada di pikiranku sekarang. Aku bahkan sampai melindas mayat makhluk itu sampai darahnya menyemprot ke kaca mobil.


"Yuri awas!!!!"


Tanpa aba-aba, aku segera menginjak rem dengan keras. Bahkan aku hampir terpentok kaca mobilnya. Di depan ku ada kumpulan makhluk aneh itu dan menatap ke arah kami.


"Pakai sabuk pengaman kalian teman-teman. Perjalanan ke Moskow tidak akan baik-baik saja" perintahku.


Segera aku injak gas sekuat-kuatnya dan menabrak kumpulan makhluk itu. Usaha itu berhasil, awalnya, sebelum akhirnya mereka semua mengejar kami.


"Ke arah tenggara, itu jalan tercepat ke Moskow!" kata Anastasia. Sementara aku fokus dengan jalan, Claire dan Edgar berusaha memecahkan kaca belakang mobil. Tujuannya hanya satu, mendapatkan ruang tembak untuk menghabisi makhluk-makhluk itu.


"Yuri, berikan AK-47 padaku sekarang!" pinta Claire. Aku memberikan senjata kesayanganku itu pada Claire. Aku lihat kaca belakang mobil sudah pecah dan mereka berdua sudah siap menembak.


"Ini seperti di Afghanistan. Benar kan?" celetuk Edgar. "Memang mirip. Hanya saja mereka bukan manusia lagi!" balas Claire.


Setelah percakapan singkat mereka, suara tembakan bersahutan di dalam mobil kami. Aku lihat beberapa makhluk tumbang oleh mereka berdua. Anggota Navy Seals itu memang benar-benar berguna.


"Yuri, amunisi!" teriak Claire. Aku langsung melempar tasku ke belakang. "Cari di dalam. Ingat, aku tidak punya banyak!" teriakku.


Claire mengacak-acak isi tasku dan dia menemukan apa yang dia cari. Kalau aku ingat, aku hanya punya sisa 3 magazin lagi. Terpakai satu oleh Claire sekarang, jadi sisa dua.


"Kau harus mencari lebih banyak lagi!" kata Claire.


Suara tembakan masih belum berhenti dan makhluk-makhluk itu masih saja mengejar kami. Aku menginjak gas lebih kuat lagi, berharap kecepatan kendaraan ini bisa membuat kita lepas dari kejaran makhluk menjijikan itu.


"Mereka masih mengejar kita?" tanyaku. "Entahlah sepertinya tidak" jawab Claire. "Atau mereka tertinggal di belakang" lanjutnya.


Hufftt...akhirnya. Untuk sementara kami bisa sedikit bernafas lega karena lepas dari makhluk aneh itu. Sekarang tujuan kami adalah Moskow.


"Anastasia, kau benar-benar tidak tahu kemana orangtuamu?" tanyaku. "Moskow dan hanya itu yang aku tahu. Mereka tidak bilang apa-apa lagi" jawabnya.


"Tapi, aku pikir ada yang aneh dengan semua ini" kata Edgar. "Maksudku, semua orang ke Moskow. Pasti ada satu hal yang menarik merekam semua kesana, bukan hanya soal Moskow tempat yang aman dari rudal. Aku juga tidak berpikir kalau Moskow adalah tempat yang aman" lanjutnya.


"Apa maksudmu?" tanyaku. "Orang-orang melarikan diri ke Moskow. Semua orang, baik itu yang sehat dan yang sakit. Coba bayangkan saat kedua kelompok orang itu memenuhi Moskow. Apa yang terjadi?" kata Edgar.


"Tidak ada yang sehat di Moskow" kata Anastasia. Edgar mengangguk. "Itu kemungkinan terburuknya. Semua orang, belum lagi orang-orang yang dari awal tinggal di Moskow. Apa kau yakin semua orang yang tinggal di Moskow adalah orang yang sehat? Tentu saja ada yang terkenal wabah ini di Moskow. Bahkan sejak awal wabah ini muncul" kata Edgar.


Aku memperlambat laju mobilku. Otakku penuh dengan pikiran sekarang. Kalau yang dikatakan Edgar itu benar, apakah kita sia-sia saja pergi ke Moskow? Semua jadi terasa serba salah sekarang.


"Meski begitu, aku tetap ingin kesana" kata Anastasia. "Aku yakin ada petunjuk kemana orangtuaku pergi. Aku harus ke Moskow apapun resikonya" lanjutnya.


"Dan Yuri. Kau pasti akan mengantarku kesana kan?" pinta Anastasia. "Keluargaku juga kesana. Tapi kalau di Moskow tidak ada apa-apa, aku tidak tahu harus kemana lagi" jawabku.


"Butuh 7 jam agar kita sampai ke Moskow. Kalau kita mau, kita bisa berhenti sebentar di Velikiy Novgorod dan mungkin bisa menemukan bahan bakar untuk mobil ini" kata Anastasia.


Aku mengangguk saja. Perjalanan ini jadi terasa sangat panjang dan lama. Claire dan Edgar tidur, sementara Anastasia seperti menahan kantuknya. Aku yakin dia juga ingin tidur, sebenarnya.


"Kau tidur saja" kataku. "Haa...aku tidak mengantuk. Aku hanya sedikit lelah saja" jawabnya.


"Makan! Kau makan sedikit sekali beberapa hari ini. Kita punya cukup persediaan. Nanti kita bisa cari lagi kan?" kataku. "Kau tahu, ini aneh. Aku tidak merasa lapar dan mengantuk. Aku hanya merasa lelah saja" jawabnya.


"Tidak. Kau tidak merasakannya karena kau tidak mau merasakannya. Kau ini lapar, haus, mengantuk, tapi kau menghiraukan itu semua" kataku. "Lalu kau mau aku melakukan apa?" tanya Anastasia.


"Makan dan tidur. Jangan lupa minum atau tubuhmu akan mengalami dehidrasi" kataku.


Anastasia akhirnya mengikuti kata-kataku. Meski tetap saja dia tidak makan banyak, setidaknya ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Anak itu masih terlalu muda untuk hidup dalam dunia sekeras ini, tapi harus aku akui kalau dia cukup kuat, bahkan sangat kuat untuk anak seusianya.


Tetap fokus. Mungkin sebentar lagi kami sampai di Velikiy. Jaraknya memang cukup jauh, 200km dari Saint Petersburg. Aku sudah menghabiskan satu botol air mineral dan beberapa potong roti kering. Meski perutku terisi, ada masalah lain pada diriku. Aku mulai mengantuk.


"Ohh sial! Ayo bertahan Yuri!"


Tidak, itu tidak cukup. Aku berhenti di tepi jalan. Mataku hampir tidak bisa diajak kompromi lagi.


"Uhh... kita sudah sampai?" tanya Edgar dengan suara berat khas orang bangun tidur. "Belum. Aku rasa tidak jauh lagi. Tapi aku sangat mengantuk" jawabku.


"Biarkan aku yang menyetir kawan. Kau bisa tidur di belakang" kata Edgar.


Itu ide bagus. Aku bertukar tempat dengan Edgar. Aku butuh tidur, benar-benar butuh. "Jalan saja lurus ke depan dan kita akan segera sampai di Velikiy" kataku. "Kalau kau bingung, ambil saja peta di tas Anastasia" lanjutku.


"Serahkan padaku kawan. Saat kau bangun nanti, kita sudah tiba di Velikiy" kata Edgar.


Mobil kembali berjalan dan semakin lama, mataku semakin berat. "Tidur saja kawan. Tidak ada apa-apa disini" kata Edgar.


.......................


25 September


"Uhh...dimana aku?"


"Velikiy Novgorod." Itu suara Claire. "Kau tidur lama juga ya" lanjutnya.


Aku masih di dalam mobil sedangkan Claire sedang mengiris-iris daging tikus. "Kau suka daging ini kan?" tanya Claire.


Aku keluar dari mobil dan duduk disampingnya. Seperti sebuah garasi, pikirku. "Untuk sekarang apapun akan aku makan" jawabku. "Ya, daging ini juga enak. Hanya saja dagingnya sangat sedikit" kata Claire.


"Kurasa kau sedang membandingkannya dengan daging sapi" kataku. "Aku lebih suka daging **** daripada daging sapi. Rasanya lebih enak" timpal Claire.


Aku mengambil botol air di tasku dan meminumnya sedikit. "Dimana Edgar dan Anastasia?" tanyaku. "Entah. Edgar hanya bilang akan mencari sesuatu di rumah ini. Biarkan saja" jawab Claire.


"Setelah ke Moskow, kau mau kemana?" tanyaku. "Sudah kubilang kalau aku mencari jalan pulang ke Amerika" jawab Claire.


"Bagaimana kalau tidak bisa?" tanyaku lagi. "Kalau tidak bisa? Hah mau bagaimana lagi? Aku akan tetap disini" jawab Claire.


"Kau sendiri bagaimana? Kau mau kemana kalau tidak menemukan keluargamu di Moskow?" tanya Claire. "Kalau itu terjadi, aku rasa aku tidak punya tujuan lain selain bertahan hidup" jawabku.


"Begitu ya. Sederhana sekali" kata Claire.


Tidak lama setelah itu, Edgar dan Anastasia muncul dari balik pintu di sebelahku. "Ohh, kau sudah bangun ya?" kata Edgar.


"Apa yang kalian dapat disini?" tanyaku. "Tidak banyak" jawab Edgar sambil membuka tasnya. "Aku hanya mengambil kompor ini. Dan untungnya masih ada dua kaleng gas yang masih penuh" lanjutnya sambil menunjukkan kompor gas portabel.


"Bagus. Kita bisa buat daging tikus panggang sekarang" kata Claire. Kami bertiga mengangguk. Kami sudah lama tidak makan daging panggang. Disaat seperti ini daging tikus pun sama enaknya dengan daging sapi maupun daging lainnya.


"Makanlah yang banyak! Perjalanan ke Moskow masih panjang" kata Edgar. "Tapi sebelum itu, aku harus menemukan bensin terlebih dahulu" lanjutnya.


Selesai makan, Edgar dan aku keluar untuk mencari barang-barang yang kami butuhkan, terutama bensin dan obat-obatan. Velikiy adalah salah satu kota tertua di Rusia.


Di suatu jalan kami melihat sebuah bangkai bus yang kondisinya cukup bagus. Aku dan Edgar segera membongkarnya dan ada sisa bensin yang cukup banyak, lebih dari kapasitas jerigen yang kami bawa.


"Lebih baik kita bawa mobil kita kesini daripada harus membawa bensin ini kesana" kataku. "Kau bawa bensin ini kesana! Biar aku yang jaga disini" kata Edgar.


Aku mengangguk. Jarak tempat kami tadi tidak terlalu jauh. 30 liter bensin dan masih ada sisa, jumlah yang bisa dibilang lebih dari cukup.


"Dimana Edgar?" tanya Claire. "Ada. Kita pergi sekarang" kataku.


Aku mengisi bensin mobil dan sepertinya hampir penuh. Aku menyuruh Claire dan Anastasia berkemas dan segera pergi ke tempat Edgar. Aku lihat Edgar sedang bersandar di bangkai bus itu sambil mengisap sebatang rokok.


Aku keluar dari mobil dan mendekatinya. "Kita pergi sekarang?" tanyaku. "Kita pergi setelah kita habiskan bensin kendaraan ini" kata Edgar.


Aku mengambil jerigen itu lagi dan mengisinya. Bensin bus itu habis, mungkin hanya ada 20 liter. Kami berdua masuk ke mobil dan mengarah ke Moskow. Kalau tidak ada hambatan mungkin kami sampai dalam waktu 5 sampai 6 jam. Yang jelas Moskow sepertinya bukan akhir dari perjalanan kami dan sekarang aku yakin, keadaannya bisa jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang lain.


"Kalau Moskow seperti yang kau bilang, maka makhluk mengerikan itu ada lebih banyak disana" kata Anastasia pada Edgar. "Mungkin saja. Sebelum itu, kita harus tahu kenapa virus itu bisa mengubah orang yang terinfeksi jadi ganas seperti itu" kata Edgar.


"Mereka manusia hidup tapi seperti dikendalikan oleh virus itu" kata Claire. "Sama seperti kasus siput zombie. Kau tahu itu kan?" kata Edgar.


"Siput zombie ya? Aku tahu tentang itu. Sebuah parasit akan masuk ke otak siput dan mengendalikan tubuh siput itu" timpalku. "Aku rasa virus itu melakukan hal yang sama sekarang" kata Edgar.


"Tapi bagaimana bisa? Virus itu bisa disembuhkan, benar kan? Lalu kenapa sekarang jadi sekuat itu?" kata Anastasia. "Itu yang harus kita cari tahu jawabannya" jawabku.


Pertanyaan baru muncul di masing-masing kepala kami. Kami harus mencari tahu kenapa virus itu jadi sangat kuat dan mungkin kita bisa menemukan cara untuk mengalahkannya, selain tujuan utama kami.


Bersambung...